
Adhisty tidak dapat membendung air matanya lagi, ketika mendengar semua penjelasan Immanuel tentang dirinya di masa lalu. Semula pria itu enggan bercerita, tetapi Adhisty bersikeras memohon. Ia berkata, bahwa selama beberapa hari ini mimpi-mimpi aneh mulai datang menghantuinya, tepat setelah mendengar perkataan Erlina perihal dosa masa lalu. Dari mimpi itulah nama Immanuel tersemat.
Melihat raut putus asa Adhisty, ditambah lingkar matanya yang menghitam, Immanuel akhirnya membuka sebuah cerita yang sudah ia simpan rapat-rapat selama belasan tahun. Dalam hati, pria itu meminta maaf pada Erlina, karena tidak menepati janjinya untuk membawa cerita itu hingga mati.
Semua bermula dari 13 tahun yang lalu, saat Adhisty berusia 21 tahun. Suatu hari, Erlina menghubungi Immanuel dan memintanya untuk datang ke rumah mereka.
Di sana ia mendapati kondisi Adhisty yang sangat memprihatinkan. Gadis belia itu tengah menjerit-jerit histeris sambil meronta-ronta.
Erlina berkata, bahwa Adhisty mengalami hal tersebut selepas kematian kakek dan neneknya. Ia lalu meminta Immanuel untuk membantu Adhisty melewati mengatasi traumanya.
Rupanya, trauma hebat yang dialami Adhisty membuat kondisi psikis gadis itu terguncang, hingga menyebabkan sebagian memorinya hilang, atau bisa disebut Amnesia Disosiatif.
Setelah melakukan beberapa kali terapi, dan memastikan kondisi Adhisty normal. Erlina menyuruh Immanuel untuk menyimpan cerita ini rapat-rapat sampai mati. Erlina bahkan sampai memutus komunikasi dengannya agar mereka tidak bisa lagi bertemu. Namun siapa sangka, sang anak lah yang malah datang menemuinya sendiri.
Adhisty sendiri tidak pernah menyangka, bahwa ia pernah melewati masa-masa sulit seperti itu. Pasalnya, ia sama sekali tidak pernah ingat akan pertemuannya dengan Immanuel.
Tak ingin berlarut-larut dalam ketidaktahuan, ia pun meminta bantuan Immanuel untuk mengembalikan ingatannya yang hilang.
"Saya mohon, dok," pinta Adhisty lirih. Matanya menatap Immanuel putus asa.
Immanuel termangu. Permintaan Adhisty terbilang sedikit berat. Menggali kembali ingatan masa lalu yang telah hilang tentu saja dapat memicu ketidakstabilan emosi. Belum lagi resiko lain yang akan di hadapi Adhisty.
"Apa kau benar-benar yakin?" tanyanya memastikan. "Ingatan itu mungkin saja merupakan kenangan paling pahit bagimu, Dhis." Matanya menatap Adhisty dalam-dalam.
Adhisty memainkan kedua tangannya gugup. Kendati memiliki ketakutan, tetapi rasa penasaran akan apa yang telah terjadi di masa lalu mengalahkan segalanya. Ia sudah bertekad untuk menggali semua ini lebih dalam, meski harus mengorbankan dirinya sendiri.
Adhisty menjawab pertanyaan Immanuel dengan penuh keteguhan. Walau berurai air mata, Immanuel dapat melihat kesungguhan dalam diri wanita itu.
Pria berdarah Jerman-Indonesia itu menarik napasnya yang terasa berat. "Baiklah. Tapi kau harus ingat untuk tidak memaksakan diri. Oke?"
Adhisty menganggukan kepalanya.
...***...
Suara bel pintu apartemen menghentikan langkah Erlina seketika. Wanita itu mengangkat kopernya dengan sangat hati-hati dan meletakkan koper tersebut di sudut ruang makan. Keringat dingin mulai mengucur membasahi wajah Erlina saat mengintip door viewer dan mendapati beberapa orang pria berbadan tegap berdiri di depan apartemennya.
"Sial!" umpat Erlina. Wanita itu bergegas lari menuju balkon apartemen. Namun nahas, apartemennya yang berada di lantai 11 menyulitkan Erlina untuk kabur melalui balkon.
Sementara itu, di luar uni apartemen Erlina, para polisi terus meminta wanita itu untuk membukakan pintu. Selain menekan belnya terus menerus, mereka juga menggedor-gedor pintu apartemen. Menurut keterangan beberapa penghuni di sana, Erlina sama sekali tidak terlihat ke luar rumah selama beberapa hari terakhir ini. Jadi, bisa dipastikan kalau ia ada di dalam sekarang.
Tidak ada tanda-tanda jawaban dari dalam, para polisi tersebut akhirnya saling memberi kode. Mereka mundur beberapa langkah, sebelum salah satu anggota polisi menembak smart door yang terpasang pada pintu apartemen Erlina hingga rusak.
Mendengar suara tembakan tersebut, Erlina bergegas lari menuju lantai dua untuk bersembunyi. Namun, para polisi yang berhasil masuk, dengan cepat menangkap wanita itu dan membawanya turun.
"Ada apa ini? Kalian lancang sekali masuk ke apartemenku!" teriak Erlina sembari berusaha melepaskan diri.
"Pak," salah seorang anggota polisi berhasil menemukan koper yang disembunyikan Erlina. Melihat itu, Erlina tampak sangat gugup.
"Anda jelas lebih tahu, Nyonya Erlina," ujar polisi lainnya sembari memborgol tangan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Nyonya Erlina Kenes Umbara, Anda ditangkap atas tuduhan membantu dan memfasilitasi kejahatan yang berujung pada tindak pembunuhan berencana. Anda memiliki hak untuk tetap diam. Apa pun yang Anda katakan dapat dan akan digunakan untuk melawan Anda di pengadilan. Anda memiliki hak untuk berbicara dengan seorang pengacara, dan memiliki seorang pengacara yang hadir selama interogasi. Jika Anda tidak mampu membayar pengacara, satu akan disediakan untuk Anda dengan biaya pemerintah!"
Erlina sontak membelalakkan matanya. "Apa maksud kalian!? Aku tidak melakukan apapun! Aku tidak tahu apapun! Lepaskan aku!"
Tanpa menghiraukan teriakan wanita itu, dua orang polisi menyeretnya keluar dari apartemen. Diiringi tatapan mata dari seluruh penghuni apartemen, Erlina di bawa masuk ke dalam mobil polisi.
Air mata mengalir deras membasahi wajah Erlina. Sekilas, bayangan akan wajah anak satu-satunya terlintas di benak wanita 54 tahun itu.
...***...
Arion menghela napas lega, ketika mengingat lagi, bahwa polisi telah berhasil menangkap Erlina. Namun, pihak kepolisian membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menginterogasi Erlina, sebab mereka harus mengumpulkan lebih banyak bukti akan keterkaitan wanita itu dengan Davina.
Sementara itu, Adhisty sepertinya tidak lagi terlihat tinggal di apartemen Erlina. Saat di tangkap, polisi tidak menemukan keberadaannya. Arion pun tidak dapat menghubungi wanita itu. Sampai sekarang, ia masih berusaha menelepon kakak tirinya tersebut.
"Apa apa?" tanya Sekar lembut. Ia datang sembari membawa nampan berisi segelas teh jahe dan cookies buatan Dini.
Lastri, Ningsih, Rani, Dimas dan Jalu baru saja pulang ke Jakarta kemarin sore. Mereka merasa tidak enak mengambil cuti terlalu lama, meski Arion sebenarnya masih mengijinkan mereka untuk menemani Sekar.
Selepas kepergian para sahabatnya, Arion meminta Dini dan Bu Ida untuk datang ke sana demi menemani Sekar. Demi menghindari perdebatan, Sekar mengiyakan saja kemauan Arion.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Jawab Arion setelah menyeruput sedikit teh jahenya. Ia meletakkan kembali teh tersebut di atas meja.
Sekar terdiam. Saat ini, pria itu pasti tengah memikirkan keluarganya. Ia sudah mengetahui soal perkembangan kasus Davina, termasuk keterlibatan Erlina di dalamnya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa semua ini terjadi akibat ulah ibu tiri Arion.
Marah? Tentu saja. Saat Arion memberitahukan berita itu, Sekar nyaris saja kehilangan kendali. Namun, ia tak mungkin melampiaskannya pada Arion. Pria itu secara tidak langsung juga merupakan korban dari kejahatan mereka. Selama ini, ia pasti berat menjalani kehidupan bersama wanita jahat itu.
"Maafkan, aku," ucap Arion.
"Untuk apa?" tanya Sekar.
"Segalanya. Hidupmu berantakan setelah mengenal diriku. Andai aku tahu ini semua akan terjadi, aku pasti tidak akan bersikeras menyusulmu ke sini ... ahh, tidak! Seandainya saja kita tidak saling mengenal, hidupmu tidak akan mungkin begini." Arion tertunduk, enggan menatap lawan bicaranya.
Sekar dapat merasakan kesedihan pada diri pria yang dicintainya itu. "Artinya, kau menyesal bertemu denganku?"
Pertanyaan Sekar berhasil membuat Arion menatapnya. "Bukan itu maksudku!" seru Arion tegas.
Sekar tersenyum simpul. "Aku tahu." Ia mengubah posisi duduknya, menghadap Arion. "Tanpamu pun, jika Allah memang menghendaki ini semua, aku pasti akan tetap mengalaminya."
Arion terdiam. Dirinya sibuk mencerna kata-kata Sekar.
"Hari sudah malam, sebaiknya kita tidur." Sekar berdiri dari kursi. Malam ini, ia memang menyuruh Arion dan Aiden untuk tidur di sana.
Sekar mengulurkan tangannya pada Arion yang masih duduk di kursi. Senyum teduh yang terpatri pada wajah cantik Sekar membuat rasa bersalah pada diri Arion berkembang dua kali lipat.
Ragu-ragu Arion menyambut uluran tangan Sekar dan berdiri. Sekar menarik lembut tangan pria itu.
Tepat sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam rumah, Arion secara tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang.
"Maaf," ucap Arion sekali lagi, seraya menyembunyikan wajahnya di leher gadis itu.
__ADS_1
Sekar mengusap lembut kedua tangan Arion yang melingkari pinggangnya. Ia membiarkan Arion berada dalam posisi tersebut selama beberapa saat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note:
Amnesia disosiatif sangat mungkin terjadi ketika seseorang mengalami suatu kejadian traumatis. Akibatnya, ia jadi tidak bisa mengingat apa pun dengan baik.
Jenis amnesia ini memblokir informasi tertentu dari kejadian traumatis tersebut. Akhirnya, orang yang mengalaminya akan merasa "blank" dan sulit menemukan apa yang ingin ia ingat.
Gangguan amnesia disosiatif bisa dibilang sebagai level hilang ingatan yang lebih tinggi atau parah. Segala hal yang bersifat traumatis biasanya akan hilang begitu saja dari ingatan.
Pada amnesia disosiatif, ingatan sebenarnya masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran dan tidak dapat diingat. **** begitu, ingatan tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu oleh sesuatu yang ada di sekitar.
(Sumber: Halodoc)
.
.
.
.
.
Terima kasih, Kakak-kakak, karena sudah membaca sampai sini. Jangan lupa untuk terus mendukungku dengan cara tinggalkan jejak like, komen, atau gift ya .... 😁😍
Satu lagi, favoritkan juga novel ini bagi yang belum, agar tidak ketinggalan ceritanya.
Salam sayang,
Kim O ❤️❤️❤️
__ADS_1