
Arion dan Davina tiba di salah satu restaurant mewah bernuansa klasik. Wanita itu turun dan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet yang telah bersiaga.
Keduanya langsung diantar oleh salah seorang waitress ke ruang makan private yang disewa Baskoro, ayah Davina, setelah wanita itu memberitahukan namanya.
Pintu ruangan terbuka. Terlihat sudah ada seorang pria berbadan tegap berisi, yang duduk di meja makan seorang diri. Di belakang pria tersebut berdiri seorang wanita anggun yang merupakan asisten pribadinya.
"Tuan Arion, Nona Davina," sapa Bianca, sang asisten. Arion mengangguk sembari mengulas senyum. Setelah itu, Bianca meminta undur diri guna memberikan ketiganya privasi.
Arion kemudian menghampiri Baskoro yang sudah berdiri, bersiap menyambutnya.
Baskoro memeluk hangat Arion dan menanyakan kabarnya. "Sudah lama sekali kau tidak berkunjung ke rumah," kata pria berusia 64 tahun itu.
"Maaf, Dad, aku sangat sibuk," jawab Arion. Sedari dulu Arion memang memanggil orang tua Davina demikian.
"Ya, ya, aku tahu. Proyek Earlene, bukan? Kudengar sempat ada masalah, bagaimana sekarang?" tanya Baskoro.
"Semua berjalan seperti yang diharapkan." Jawab Arion percaya diri.
"G**ood. Jika butuh sesuatu, kau bisa menghubungi Daddy," Arion hanya menganggukan kepalanya. Baskoro lalu menyuruh mereka untuk duduk dan menyantap makan siang yang telah dihidangkan di atas meja.
...***...
Sekar tampak melamun. Ia merasa sangat sulit menelan makanannya saat ini, kendati perutnya meronta-ronta minta diisi. Yang ada dipikiran gadis itu sekarang adalah keberadaan Arion dan apa yang sedang dilakukan kekasihnya tersebut bersama Davina.
"Sekar?" panggil Rani. Sekar tidak menggubris. Ia sibuk melamun seraya mengaduk-aduk asal bekal makan siangnya.
"Sekar?" kali ini Rani meninggikan sedikit suaranya. Ia juga menyentuh lutut temannya itu.
Sekar tersentak. "Eh! Maaf, Ran," ujarnya sembari cengengesan.
"Kenapa melamun? Makanannya sampai dianggurin begitu." Kata Rani seraya melirik makanan Sekar yang masih utuh dan sedikit berantakan.
Sekar menggelengkan kepalanya. "Hanya memikirkan pekerjaan. Kok, rasanya hari ini lelah sekali badanku," jawab Sekar setengah berbohong. Ia memang merasa keletihan juga, entah itu pengaruh dari moodnya atau bukan.
"Hari ini memang pekerjaan kita sedang banyak, maka dari itu kau harus makan. Jangan melamun terus." Kata Rani.
Sekar mengangguk dan kembali memasukan makanannya ke mulut. Meski rasanya terasa hambar, ia tetap mencoba menelannya.
Rani tahu, mungkin Sekar sedang berbohong. Terlihat sekali moodnya jelek selepas kembali dari tangga darurat. Mungkin ia sedang bertengkar dengan Karyawan Umbara yang sering menemuinya saat jam makan siang. Makanya? ia tidak jadi makan siang bersama karyawan tersebut di sana.
Rani mengangkat bahunya. Ia yang tidak ingin ikut campur memilih diam dan mengiyakan saja apa kata Sekar. Meski satu pertanyaan selalu timbul di permukaan, setiap ia bertemu dengan gadis itu. Yaitu, soal hubungannya dengan Arion, mengingat beberapa waktu lalu, atasan mereka dengan suka rela membopong Sekar ke klinik.
__ADS_1
Rani tidak dapat melupakan, bagaimana raut wajah penuh kekhawatiran Bosnya tersebut.
...***...
"Jadi, bagaimana hubungan kalian berdua?" tanya Baskoro pada Arion dan Davina, selepas menghabiskan makan siang mereka.
Davina melirik Arion yang tengah mengelap bibirnya. "Kami baik-baik saja." Arion sengaja menjawab pertanyaan Baskoro demikian.
"Kau tahu maksud Daddy, bukan?" tanya Baskoro. "Kalian sudah sama-sama dewasa dan masih lajang. Jadi buat apa mencari pasangan di luar sana, jika kalian berdua bisa menikah?" sambung pria itu.
Arion menghela napas pelan. Inilah yang membuatnya enggan bertemu Baskoro sesering mungkin.
"Kami hanya berteman baik, Dad," jawab Arion kalem. "Aku ...," matanya melirik ke arah Davina yang terlihat gugup. "tidak punya keinginan sama sekali untuk menjalin hubungan dengan Davina. Maafkan aku," sambung Arion tegas.
Davina tercekat. Biasanya, jika sang Ayah mulai bertanya hal demikian, Arion akan menjawab dengan jawaban klise seperti, "biarkan mengalir saja, Dad," atau "lihat saja nanti." tetapi kini, Arion benar-benar menolaknya, di depan Ayahnya sendiri.
Tenggorokan Davina terasa sangat kering. Lidahnya pun kelu. Sebilah pisau tak kasat mata seperti sedang mengiris-iris hatinya saat ini.
Rasa sakit sontak menjalar ke sekujur tubuh Davina.
Baskoro melirik ke arah sang anak. Ia tahu betul, saat ini Davina sedang mencoba terlihat baik-baik saja. Pria itu sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hubungan keduanya. Ia bukan orang tua yang sudi menjodoh-jodohkan anak-anaknya, apa lagi demi keuntungan semata. Namun melihat bagaimana Davina menyukai Arion sejak dulu, ia memutuskan membantu putrinya sedikit.
Baskoro menghela napas. Terbersit rasa kecewa tatkala mendengar ucapan Arion, sebab pria itu kini dengan tegas menolak putrinya, alih-alih memberikan jawaban ambigu seperti biasa. "Baiklah, tetapi Daddy harap, suatu saat pemikiranmu bisa berubah. Davina adalah satu-satunya gadis yang cocok mendampingi dirimu, Rion," ujar pria itu bijaksana.
Sehormat apapun ia pada Baskoro, jika menyangkut soal perasaan, Arion tidak akan menurut. Ia sudah punya pilihannya sendiri sekarang. Kendatipun Sekar tak ada dan ia masih lajang, ia tidak akan pernah sudi memilih wanita seperti Davina.
Anggap saja ini sebagai balasan atas apa yang Davina lakukan pada Sekar tempo hari.
...***...
Sekar baru saja turun dari ojeknya. "Terima kasih, Pak," ucap gadis itu sembari memberikan uang duapuluh lima ribu rupiah. Ingin cepat sampai di rumah membuat Sekar memilih pulang naik ojek online.
Ia membuka pintu pagar. Suasana rumah terlihat sepi. Dini mungkin baru saja berangkat kerja, karena ia mendapat shift sore hari ini. Sedangkan Bi Ida tadi sudah meneleponnya, bahwa Beliau akan pulang habis isya.
Sekar membuka pintu rumah menggunakan kunci cadangan yang diberikan Bi Ida. Tepat setelah pintu rumah terbuka, seseorang tiba-tiba menarik tubuhnya dan mendekapnya erat.
"Maafkan aku," ucap Arion.
Sekar memejamkan matanya. Gadis itu sontak membalas pelukan Arion dan membenamkan kepalanya dalam-dalam ke dada pria itu.
...***...
__ADS_1
Davina tak dapat membendung air matanya lagi. Di pelukan Erlina, wanita itu menangis sejadi-jadinya. Davina menceritakan semua yang terjadi siang tadi pada Ibu tiri Arion, teemasuk soal pertemuannya dengan Sekar tempo hari.
Erlina menepuk-nepuk punggung Davina penuh sayang. Ia melepas pelukan wanita itu dan menghapus air matanya. "Tenang sayang, tenang, Mama akan mencari cara agar gadis kampungan itu pergi jauh dari Rion."
"Aku tidak sudi kalah oleh gadis kampungan itu, Ma!" pekik Davina.
Erlina kembali menenangkan Davina. "Tenang sayang, kita pasti bisa menyingkirkannya,"
"Bagaimana caranya, Ma?" tanya Davina tak sabar. "Ahh, apa kita ungkap saja identitas Arion yang sebenarnya? Dengan begitu dia akan sakit hati karena telah dibohongi,"
Erlina menggeleng. "Jangan sayang! Justru bisa-bisa gadis kampungan itu tidak akan sudi melepaskan Rion, jika tahu siapa dia sebenarnya. Itu malah akan jadi kesempatan besar baginya, bukan?"
Davina termangu. Benar juga apa yang dikatakan Erlina. Kebohongan Arion bukanlah kebohongan yang merugikan. Jadi sudah pasti gadis itu malah akan senang, jika tahu bahwa Arion adalah anak dari pemilik Umbara Corporation. Sekar pasti akan makin sulit melepaskan Arion, dan Davina tidak ingin hal itu sampai terjadi.
"Lalu bagaimana, Ma?" Davina menuntut jawaban.
"Kau tak perlu repot-repot memikirkan hal ini, biar Mama saja,"
Davina mengangguk dan kembali memeluk Erlina.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hi, kakak-kakak semua.
Terima kasih telah membaca cerita recehanku ini. Jangan lupa dukungannya ya kakak-kakak, like, komen dan vote, biar aku makin semangat melanjutkan tiap babnya ... hehehe๐๐
Sekalian aku mau mempromosikan karya salah satu temanku. Yuk, yang lagi butuh penyegaran habis baca cerita Sekar dan Arion yang mulai serius. Ini ada yang bikin mengocok perut.๐ค
__ADS_1