Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Kedatangan Nimas


__ADS_3

Sekar menatap Bude Gayatri khawatir. Keduanya kini sedang melakukan perdebatan kecil di sela-sela waktu tidur Mbah Bhanuwati, perihal keengganan Sekar meninggalkan rumah sakit karena harus kembali ke Jakarta. Dua hari lagi cuti gadis itu akan segera berakhir. Bu Anita juga sudah mengingatkan Sekar melalui pesan singkat untuk masuk tepat waktu, sebanyak tiga kali. Jadi, minimal ia harus berangkat dari terminal sore ini.


Sekar tahu, ia masih memiliki kewajiban lain yang tidak bisa diabaikan. Sudah untung Bu Anita masih mau menyetujui cuti dadakannya, padahal ia belum genap setahun bekerja di sana. Tetapi tetap saja, ia merasa sangat berat jika harus membiarkan budenya menjaga sang nenek seorang diri di tempat ini.


"Bude benar, tidak apa-apa menjaga Mbah sendirian?" ini adalah kali keempat Sekar menanyakan hal yang sama, dalam waktu kurang dari duapuluh menit.


Bude Gayatri menghembuskan napasnya lalu tertawa kecil. "Kalau kamu nanya terus, sementara berbenah saja belum ... tahu-tahu sudah ketinggalan bus, Nduk."


Sekar tersenyum malu. "Tapi kalau ada apa-apa, Bude harus segera mengabariku, ya? Apapun itu, Bude harus langsung telepon. Aku tidak mau dengar dari orang lain." Katanya menegaskan.


Bude Gayatri mengangguk. Sekar pun berdiri dan melangkah menuju lemari pakaian, guna merapikan beberapa barang pribadinya yang akan dibawa ke Jakarta.


Selesai merapikan seluruh barang bawaannya, Sekar berniat mencari makan terlebih dahulu di luar. Bosan rasanya setiap hari harus makan makanan restaurant selama di rumah sakit. Ia rindu makanan pinggir jalan.


"Aku mau cari makan di luar, Bude. Bude mau titip makanan juga?" tanya Sekar sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Mbah Bhanuwati.


"Tidak, Nduk." Jawab Bude Gayatri. Wanita itu sibuk merapikan rambut ibunya yang sedikit mencuat.


"Ada sesuatu yang mau dibeli tidak, Bude? Popok Mbah sudah habis belum?" tanya gadis itu lagi.


"Tidak. Semua persediaan masih banyak dan lengkap."


Sekar mengangguk. Ia pun pamit keluar dari sana.


Sesampainya di lobi, Sekar tiba-tiba didatangi seorang gadis bertubuh semok yang sangat familiar. Gadis itu mempercepat langkahnya begitu melihat sosok Sekar.


"Nimas? Sudah pulang rupanya." Batin Sekar.


"Heh, Sekar!" seru sang gadis seraya berkacak pinggang. Matanya menatap Sekar bengis, dari atas ke bawah. "Mana Mas Dino? Aku dengar, dia lagi rajin menemanimu di sini? Sudah dilarang orang tuanya masih saja gatal deketin Mas-ku. Nggak tahu malu banget, sih!" sambung gadis itu marah-marah.


Sekar yang sudah hafal di luar kepala akan tabiat Nimas, hanya bisa menghembuskan napasnya. Setiap kali bertemu dengan gadis itu, sudah pasti mereka akan selalu perang mulut.


"Sudah pulang, Mbak?" bukannya menjawab, Sekar malah balik bertanya.


"Eh, ditanya bukannya jawab! Tidak usah sok akrab kamu!" jawab Nimas sembari menunjuk-nunjuk wajah Sekar. Mata gadis itu kini mendelik sinis, nampak siap menerkam Sekar kalau-kalau mereka harus kembali adu fisik seperti tempo dulu.


Sekar memutar bola matanya. "Mas Dino tidak ada di sini, Mbak. Dan tolong, ini rumah sakit, aku sedang tidak mood berantem sama Mbak." Sekar menanggapi ogah-ogahan ocehan Nimas.


Nimas memang senang sekali cari onar dengannya. Maklum, ia sudah lama mengejar cinta Dino, jauh sebelum pria itu menikah. Saat masih duduk di bangku SMA, Dino adalah kakak kelas Nimas. Oleh sebab itu, hingga usianya menginjak 35 tahun, Nimas masih enggan menikah dan setia menunggu Dino, padahal jelas-jelas Dino sudah berulang kali menolaknya.


Nimas bisa dibilang salah seorang primadona di kampung ini. Keluarganya menggeluti bisnis orkes dangdut yang sudah cukup dikenal dari kampung ke kampung. Kendati demikian, ia memilih bekerja sebagai TKW di Negeri Jiran.

__ADS_1


Setiap dua tahun sekali, Nimas baru akan pulang ke kampung dan menghabiskan waktunya di sana selama sebulan penuh.


Selama di kampung pun, yang lebih sering dilakukan Nimas adalah mengekori Dino kemanapun ia pergi, lalu mengajak Sekar berduel acap kali mereka bertemu.


Jujur, Sekar tidak pernah menanggapi serius genderang perang yang ditabuh Nimas. Ia terkadang malah menikmati momen keributan yang diciptakan Nimas sebagai penghilang kejenuhan. Beberapa kali mereka memang pernah benar-benar saling hajar, itu pun karena Nimas sudah kelewat batas.


Sebenarnya, bagi Sekar, ribut dengan Nimas adalah sesuatu hal yang sia-sia. Sebab ia tidak pernah menyukai Dino. Pria itu lah yang menolak Nimas mentah-mentah. Tetapi Nimas selalu beranggapan, bahwa kehadirannya merupakan penyebab utama mengapa Dino sampai berlaku demikian.


Kendati hubungan mereka seperti itu, namun baik Nimas mau pun Sekar, sama-sama saling menghormati orang tua lawan mereka. Nimas bahkan suka mengantar Mbah Bhanuwati pulang, jika beliau tersasar dan ditemukan olehnya.


"Aku juga ogah berantem sama kamu! Mas Dino tidak ada di rumah, makanya aku ke sini. Cerita soal Mas Dino yang hampir setiap hari ke sini tuh, sudah menyebar tahu! Untung saja Pakde dan Bude Jiman masih melihat Mbahmu yang sakit." Nimas menatap sinis Sekar.


Tuh, kan! Padahal ia sudah melarang keras Dino agar tidak kemari lagi. Bisa runyam kalau Bude Jiman, ibu Dino, kembali melabraknya.


"Aku mana tahu, Mbak. Lagi pula Mas Dino sudah dewasa, terserah dia mau pergi ke mana. Masa mau kau buntuti terus," sahut Sekar tak mau kalah.


Mendengar sahutan Sekar, Nimas kontan mendekat. "Kamu itu benar-benar tidak punya sopan santun sama yang lebih tua! Sayang sih, aku lagi nyari Mas-ku, kalau tidak, sudah ta' jambak bibirmu!" setelah berkata demikian, Nimas pun berbalik pergi.


"Mbak, tidak mampir ke Mbah?" tanya Sekar begitu jarak mereka agak berjauhan.


Nimas sontak menoleh. "Nggak, ahh! Nunggu kamu pergi saja. Aku malas lihat wajahmu lama-lama!"


Sekar menahan senyumnya. "Lah, memangnya kenapa kalau ada aku? Kan kita sudah lama tidak ketemu. Memang Mbak tidak kangen aku, opo?" tanya Sekar lagi dengan nada gurauan.


Sekar mengangkat bahunya, lalu berjalan pergi berlawanan arah dari Nimas.


...***...


Arion menatap puas hasil kerja Tim Earlene. Jika semua berjalan lancar, akhir bulan ini mobil canggih tersebut akan siap diperkenalkan ke khalayak ramai.


Estiana sendiri sudah sibuk dengan beberapa stasiun televisi dan media streaming online yang telah menghubunginya, guna meminta hak siar proyek Earlene.


Sedikit demi sedikit beban di pundak Arion terangkat, kecuali satu, soal kebohongannya pada Sekar.


Selama berpisah dari Sekar, Arion sudah memikirkannya masak-masak, bahwa ia akan jujur setelah proyek ini selesai. Pria itu tak ingin berlarut-larut menjalani hubungan asmara yang dibumbui kebohongan seperti ini.


...***...


Sekar berangkat menuju terminal seorang diri. Sejak kejadian tempo hari, Dino kentara sekali menjaga jarak darinya. Ia memang sempat datang lagi dan meminta maaf pada Sekar. Sekar pun sudah melupakan kejadian tersebut. Sebab bagaimanapun juga, Dino adalah sosok kakak yang tidak pernah dimilikinya.


πŸ“© Mas Dino

__ADS_1


Maaf, aku tidak bisa mengantarmu. Tidak perlu khawatir akan Mbah dan Bude. Hati-hati di jalan.


Itulah sebaris pesan yang dikirimkan Dino pada Sekar, sesaat sebelum berangkat. Walaupun kedekatan mereka kini terasa canggung, Sekar berusaha memakluminya.


πŸ“© Sekar❀️


Tidak apa-apa, Mas. Aku berangkat, ya? Tolong, lupakan hal kemarin. Aku tak ingin persahabatan yang sudah kita jalin lama, hancur begitu saja.


Dino meremas ponselnya. Membaca sederet kalimat yang Sekar kirim membuat hati pria itu semakin pilu sekaligus mendidih. Sekar benar-benar tidak pernah menganggap dirinya lebih dari seorang sahabat dan kakak.


Ingatan soal Arion yang memeluk Sekar tempo hari begitu membekas di kepala Dino. Dan yang paling membuat hati Dino panas adalah kenyataan, bahwa Sekar lah yang lebih dulu memeluk pria itu.


Sementara dia sendiri? Gadis itu malah memberontak, ketika ia mencoba memeluknya hari itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih telah sudi membaca sampai sini, Kakak-kakak. Maaf jika feel-nya masih terasa kurang. Saya selalu dan selalu akan berusaha semaksimal mungkin.


Maka dari itu, biar saya makin semangat, jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya, Kakak-kakak. Karena 1 like atau komen dari kalian benar-benar sangat berarti bagiku, apa lagi gift.πŸ˜πŸ€—


Selagi menunggu Sekar update lagi, ada rekomendasi cerita yang tak kalah bagus milik salah satu temanku. Kalian pasti suka.

__ADS_1


Terima kasih, πŸ€—



__ADS_2