
Selesai makan malam, Arion mengajak Sekar berbincang di depan rumah Bi Ida, sementara Bi Ida beristirahat di dalam kamar dan Dini belajar. Besok ada jam kuliah dari pagi sampai sore, baru setelahnya Dini pergi ke rumah Arion untuk membersihkan rumah pria itu. Dini yang biasanya hanya datang ketika Arion sedang dinas ke Luar Kota, kini memutuskan untuk datang setiap hari, sebagai balas budi atas kebaikan Arion yang telah membiayai kuliahnya.
Semula Arion menentang keras. Ia hanya ingin Dini fokus pada pendidikannya. Namun bukannya menurut, Dini malah sempat mogok kuliah. Pusing dengan sikap adiknya, Arion akhirnya mengalah dan membiarkan Dini melakukan apapun sesuka hati, asalkan ia tidak lupa kewajibannya sebagai seorang Mahasiswi.
"Jadi, aku ingin menagih jawabanmu," ucap Arion tiba-tiba.
Sekar mengerutkan keningnya. "Jawaban apa? Dari tadi kita hanya mengobrol tentang tanaman yg Ibumu budidayakan." Jawab Sekar sembari menunjuk sederetan pohon aglaonema yang berjejer rapi di pekarangan mini rumah tersebut.
"Kau pura-pura tidak ingat atau pura-pura lupa?" tanya Arion.
"Sama saja, Mas," jawab Sekar jengkel. "Payah bener candaannya." Sambung gadis itu. Arion benar-benar tidak cocok menjadi seorang pelawak.
Arion tertawa kecil. Pria itu kemudian memutar kursinya menghadap Sekar. Ditatapnya wajah gadis itu dalam-dalam, membuat Sekar sedikit salah tingkah.
"Jadi pacarku, ya?"
Mendengar nada bicara Arion yang datar dan lucu, seharusnya Sekar tertawa terbahak-bahak. Namun, ingatan soal siapa Arion membuat gadis itu menundukan kepalanya lesu.
"Kenapa?" tanya Arion.
"Mas," Sekar mengangkat kepalanya dan menatap Arion serius. "aku ini cuma orang kampung yang miskin. Aku juga anak yatim piatu. Hidupku susah. Dulu, untuk bisa makan sehari saja aku harus menjadi buruh cuci di tiga rumah. Aku pun hanya hidup berdua dengan Mbah dan Bude. Nenekku sudah lama mengidap alzheimer, sedangkan Budeku, sampai usianya menginjak kepala lima, ia masih lajang." Terang Sekar panjang lebar. Gadis itu kemudian tertawa kecil, meski sorot matanya tidak demikian.
"Wajar saja, siapa juga yang mau menikah dengan anak dari keluarga paling miskin di desa, seperti kami," katanya miris.
"Hei," Arion menginterupsi. "siapa yang bilang seperti itu? Mengapa setiap orang selalu menilai sesuatu dengan uang dan kedudukan? Kau pikir, tujuan kita hidup di dunia adalah hidup mewah dengan pangkat yang tinggi? Tidak. Kau pikir, akhir hidup yang bahagia adalah memiliki segalanya? Tentu saja tidak."
"Jadi tolong, buang jauh-jauh pikiranmu itu," ucap Arion sembari menggenggam erat tangan Sekar.
Sekar bergeming. Ia tak tahu harus berkata apa.
"Aku tahu, kau bukan orang yang mudah berkecil hati, Sekar," tutur Arion.
"Aku hanya tak percaya diri. Mas bukan karyawan sembarangan. Mas tahu, beberapa karyawan pernah memergoki Mas keluar dari tangga darurat. Meski tidak jelas terlihat, tetapi mereka tahu, bahwa Mas bukan karyawan sembarangan." Ungkap Sekar. Arion kontan berdehem demi menyamarkan keterkejutannya.
"Aku tidak tahu bahwa ada sistem level-levelan seperti itu di Kantor." Sambung Sekar.
Arion menggertakan giginya diam-diam. Kalau bukan karena celetukan Kakak sepupunya, Daniel, saat seminar di Kantor dulu, mungkin saja sistem level-levelan itu tidak akan pernah ada. Meski hanya candaan semata, tetap saja para karyawan jadi terbawa hingga sekarang.
"Aku tidak ingin kau jadi bahan gunjingan seantero Kantor."
__ADS_1
Mendengar kalimat Sekar barusan, Arion menghembuskan napasnya.
"Tidak akan ada yang menggunjingkan kita." Kata Arion dengan raut wajah penuh keyakinan. "Kalau kau mau, kita bisa terus seperti biasanya. Tak perlu ada yang tahu."
"Kalau begitu, kenapa harus berpacaran kalau kau ingin seperti biasa. Aku nyaman-nyaman saja seperti ini," tukas Sekar.
"Itu kau, tidak denganku. Aku butuh kejelasan Sekar."
Bibir Sekar terkatup rapat-rapat.
"Bagaimana?" Arion menuntut jawaban.
"Kau memang pria pemaksa."
"Jadi ...?"
Malu-malu Sekar menganggukan kepalanya.
Arion tersenyum sumringah. Ia kontan berdiri dari tempat duduknya, hendak memeluk Sekar.
Tetapi, baru saja ia memeluk gadis itu beberapa detik, sebuah motor berhenti tepat di depan rumah Bi Ida.
"Assalamualaikum," Candra masuk ke dalam rumah dengan wajah riang gembira. Di pundaknya tersampir tas punggung berukuran sedang.
"Mbak Sekar?" Candra menghentikan langkahnya begitu mendapati Sekar berdiri di samping Arion.
"Loh, Candra,"
Arion membelalakan matanya. Dia lupa jika Candra sering berkunjung kemari. Pria itu juga tidak menyangka, bahwa kekasih Dini tersebut mengenal Sekar.
"Loh, kok di sini, Mbak?" tanya Candra kebingungan. Wajahnya melirik ke arah Arion yang tiba-tiba memelototi dirinya.
"Kenapa, Pa–"
"Din! Ada Candra, Din!" buru-buru Arion berteriak memanggil Dini. Suaranya yang cukup keras membuat Dini keluar tergopoh-gopoh. "Kenapa, Mas?"
Begitu melihat Candra, Dini langsung meringis. Dari cara Sekar menatap Candra, ia bisa tahu bahwa mereka saling mengenal. "
Aduh!" batin gadis itu. Sepertinya, Candra harus dibriefing jg.
__ADS_1
"Mereka kenapa, Mas?" tanya Sekar ketika melihat Dini dengan kasar menarik Candra ke dalam rumah.
"Jangan dipikirkan." Jawab Arion sembari tersenyum simpul.
...***...
"Sulit, Ma, Arion benar-benar tidak memberikan celah pada siapapun untuk ikut dalam proyeknya, selain hanya orang-orang yang memang sedari awal terlibat." Ungkap Abiyan.
Erlina mendengkus. Anak tunggal mendiang suaminya itu memang pria cerdas. Ia tahu betul proyek ini adalah proyek besar. Jika berhasil, tentu saja nama Perusahaan mereka kembali terpampang sebagai salah satu Perusahaan terbaik di Negeri ini. Oleh sebab itu, Arion sangat berhati-hati mengerjakan proyek tersebut, termasuk tidak membiarkan orang lain yang bukan anggota tim awal untuk turut andil didalamnya.
Erlina tidak suka itu. Ia harus membuat perhitungan pada Arion. Setidaknya, ia ingin Arion dipermalukan di depan para bawahannya, seperti yang ia rasakan tempo hari.
"Kalau begitu, buat anggota timnya terkesan. Dengan begitu, mereka akan memintamu bergabung dalam proyek mereka. Arion pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa kalau mereka sendiri yang memintamu bergabung."
Erlina yakin Abiyan dapat melakukannya. Abiyan adalah pria pintar. Ketamakannya saja yang membuat hidup calon menantunya itu sedikit amburadul.
Abiyan dan Adhisty membelalakan matanya.
Benar juga apa kata Erlina. Mengapa sampai tak terpikirkan olehnya?
"Akan kucoba." Jawab Abiyan sembari tertawa senang.
...***...
Arion mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan Candra. Rupanya, beberapa kali Candra pernah membantunya membawakan galon air mineral sampai ke gerbang kost Sekar. Ia juga pernah mengantar Sekar ke tempat kerja. Namun, Candra tidak menyangka bahwa Sekar adalah orang terdekat Arion.
Sekarang ia tahu alasan Arion membeli motor bututnya dengan harga mahal.
"Kenapa tidak jujur saja, sih?" tanya Candra saat ia mengobrol dengan Dini tadi.
"Mana kutahu! Ikuti saja kalau mau aman. Nanti motormu diambil lagi, loh," ancam Dini.
"Beneran, yank?" Candra melirik takut-takut.
"Iya! Kamu mau ke Kampus sama ke rumahku jalan kaki?" Dini menahan diri untuk tidak tertawa. Mana mungkin Arion sejahat itu. Itu hanya ancaman pura-pura sang gadis.
"Ogah amat, yank!"
Karena kedatangan Candra, malam ini pun dihabiskan Arion untuk mengobrol dengan mereka, sembari mengajari beberapa tugas kuliah Candra dan Dini. Meski tidak sesuai harapan, setidaknya ia telah mengetahui jawaban Sekar.
__ADS_1