Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Arion kembali ke Jakarta


__ADS_3

"Sudah merasa lebih baik?" Arion melepas pelukannya dan bertanya lembut. Sekar mengangguk. Gadis itu tidak lagi menangis sesenggukan, kendati sisa-sisa air mata masih terlihat mengalir.


Mengetahui keadaan Sekar yang tengah sedih, Arion jadi gamang untuk mengutarakan niatnya pulang ke Jakarta. Pria itu tidak tega meninggalkan sang kekasih dalam keadaan demikian, tetapi urusan Erlina juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika ia lebih lama meninggalkan kantor, Erlina pasti akan semakin menjadi-jadi.


Melihat Arion diam, Sekar menegurnya, "Ada apa, Mas?" tanya gadis itu.


Arion menghembuskan napasnya pelan. "Aku harus kembali ke Jakarta sekarang. Ada sedikit masalah terjadi di kantor. Namun aku juga memikirkanmu di sini."


"Masalah besar, kah?" tanya Sekar khawatir.


Arion menggeleng. "Bukan. Hanya masalah kecil tetapi tidak bisa aku abaikan. Mereka butuh bantuanku di sana." Jawabnya.


"Kalau begitu, pergilah. Aku tidak apa-apa di sini. Lagi pula tidak seharusnya kau berada di tempat ini lebih lama. Aku sudah banyak merepotkan." Sekar tersenyum maklum dan sedikit merasa tak enak hati.


"Aku tidak pernah merasa direpotkan." Jawab Arion lugas. "Lalu, bagaimana denganmu?" pria itu sedikit gusar.


"Aku baik-baik saja. Nanti aku akan sering-sering menghubungi Mas." Sekar menggenggam tangan Arion guna meyakinkannya.


"Baiklah. Kabari aku kalau ada apa-apa, ya?" titah Arion seraya mengusap lembut surai hitam Sekar.


Sekar mengangguk. Gadis itu kemudian mengajak Arion masuk ke dalam untuk berpamitan dengan keluarganya.


...***...


Suasana di laboratorium tempat proyek Earlene berlangsung mengalami sedikit ketidaknyamanan, akibat kedatangan Erlina yang memaksa masuk ke sana.


Sebelumnya, wanita itu sempat dilarang masuk oleh Danu. Namun bukannya menurut, Erlina malah menghardik dan menampar Danu sambil berkata, bahwa ia adalah istri sah dari pemilik perusahaan ini. Jadi ia punya hak mengetahui apapun soal kantor.


"Semua yang ada di dalam Perusahaan ini aku berhak mengetahuinya. Selain Perusahaan ini adalah milik suamiku, tak lama lagi aku juga akan segera memiliki saham di sini!" teriaknya.


Mendiang Dewandaru memang pernah berwasiat pada tim pengacaranya, bahwa Erlina berhak memiliki saham sebesar 5 persen di Umbara, jika Arion sudah menikah. Itulah salah satu sebab sebenarnya, mengapa Erlina begitu menginginkan Davina menjadi menantu keluarga Umbara. Itu semua tak lebih demi mendongkrak perusahaan mereka agar nilai saham perusahaan milik sang suami bisa naik.


"Baru mau saja, sudah sombong!" cibir salah seorang anggota tim Danu dengan suara sangat rendah. Beberapa orang di antara mereka saling berbisik, menanyakan bagaimana bisa Tuan Dewandaru yang dikenal dermawan, menikahi seorang wanita seperti Erlina, yang bahkan seujung kukunya pun tidak pantas disandingkan dengan Nyonya Rossane, mendiang istri Dewandaru terdahulu.


Danu memijit keningnya. Proyek mereka sebentar lagi akan rampung, tinggal 5 persen saja. Jadi dia tidak ingin ada keributan yang dapat mengganggu konsentrasi dirinya dan semua anggota tim yang terlibat. Maka Danu akhirnya mengalah. Ia membiarkan Erlina masuk ke dalam dengan syarat, hanya duduk diam di kursi yang telah tersedia, tanpa berkomentar apa lagi sampai menyentuh barang-barang di sana.


"Kalau bukan karena proyek ini, sudah kupecat kau, br3ngsek!" umpat Erlina sembari berjalan melewati Danu.

__ADS_1


Danu menatap Erlina dingin. Ia mengelus pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan wanita gil4 itu.


...***...


"Terima kasih sudah mau menemani kami, Nak Rion," ucap Bude Gayatri. Wanita paruh baya itu mengambil tangan Arion dan menggenggamnya. "Maafkan Bude, sebab selama kau di sini, Bude jarang sekali memperhatikanmu karena terlalu fokus mengurus Mbah. Kita bahkan belum mengobrol banyak. Kapan-kapan berkunjunglah kemari lagi, Bude ingin mengetahui lebih dalam soal Sekar dan tempat kerjanya."


Arion tersenyum dan mengangguk. "Baik, Bude. Tolong jaga kesehatan dan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku jika butuh apa-apa." Balas Arion.


Bude Gayatri tersenyum lembut. Ia menarik Arion ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggung pria itu seperti anaknya sendiri.


Arion sedikit terkejut, namun ia segera membalas perlakuan bude dari kekasihnya itu. Setelah beberapa saat, Bude Gayatri melepaskan pelukannya. "Aduh! Maaf ya, padahal tubuh Bude kotor, tapi lancang sekali memeluk Nak Rion."


"Jangan begitu, Bude." Arion memeluk Bude Gayatri sekali lagi dan mencium tangan beliau, sebelum kemudian berpamitan pada Mbah Bhanuwati yang sedang duduk di ranjang sembari termenung.


"Mbah, Rion pulang dulu, ya? Nanti Rion datang lagi," pamit Arion. Dengan berhati-hati ia mengambil tangan Mbah Bhanuwati dan menciumnya.


Saat Arion hendak melepaskan, Mbah Bhanuwati malah menahan tangannya. Arion yang terkejut lantas memandangi Sekar dan Bude Gayatri. Raut wajahnya terlihat bingung dan takut. Takut jika ternyata Mbah Bhanuwati merasa terganggu dengan kehadirannya sebagai orang asing di sana.


Namun perkiraan Arion salah. Wanita berusia 70 tahunan itu malah menepuk-nepuk tangannya sembari berkata, "yang sabar, cah bagus. Hidup memang terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan."


Arion mengernyit bingung. Reaksinya tak jauh berbeda dengan Bude Gayatri dan Sekar.


Ketiga orang tersebut masih menatap Mbah Bhanuwati keheranan. Pasalnya semenjak menderita alzheimer, beliau tidak pernah mengatakan hal apapun selain perihal mendiang orang tua Sekar dan Sekar kecil.


Entah Sekar harus merasa senang atau tidak, mengetahui sang nenek dapat mengatakan hal lainnya, karena yang barusan beliau katakan terdengar sedikit menakutkan.


"Cobaan apa, Mbah?" Sekar yang penasaran mencoba menanyakan apa maksud perkataan sang nenek.


Mbah Bhanuwati bergeming. Bukannya menjawab, beliau malah mengalihkan pandangannya ke arah jendala. Ia sama sekali tidak mengindahkan pertanyaan Sekar.


"Mbah?" tidak ingin menyerah begitu saja, Sekar kembali bersuara.


"Mbah?" panggil Sekar dengan suara agak dikeraskan. Gadis itu duduk dan mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajah Mbah Bhanuwati. Matanya kini sudah berembun.


Arion hendak memegang tangan Sekar, namun gadis itu keburu mengangkat tangannya untuk menghapus air mata yang mulai mengalir.


Mbah Bhanuwati menoleh dan menatap Sekar dalam-dalam, lalu berkata. "Aku lapar, arep mangan." Mendengar itu, Sekar tertunduk. Sepertinya akan butuh waktu yang sangat lama bagi beliau, untuk mengingat dirinya.

__ADS_1


Arion kemudian mengajak Sekar keluar dari ruangan. "Kudengar, ini adalah Rumah Sakit terbaik di Kota. Yakinlah, Mbah akan segera sembuh. Beliau akan kembali mengingatmu sebagai cucu kecilnya yang telah dewasa."


Sekar mengangguk. "Kuharap seperti itu."


Mereka berdua berjalan menuju lobi rumah sakit. Sebuah taksi online yang sebelumnya di pesan Arion sudah menunggu di sana.


"Hati-hati, Mas. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai di rumah." Pesan Sekar.


"Kau juga, jangan lupa untuk selalu mengabariku." Arion menatap lembut kekasihnya. "Aku akan sangat merindukanmu," ucapnya.


"Aku juga." Sekar tertunduk malu.


Arion tersenyum simpul. Ia mengangkat wajah Sekar dan mencium keningnya lama, sebelum masuk ke dalam taksi dan pergi dari sana.


Wajah Sekar kontan menghangat. Gadis itu bahkan enggan melepas pandangannya sampai taksi tersebut hilang, menuju jalan raya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mudah-mudahan di bab ini, feel-nya bisa sedikit terasa. Jika masih kurang? Maafkan saya.😢


Jangan lupa vote, like, komen dan bintang 5 nya ya, Kakak-kakak.


Sembari menunggu Sekar up lagi. Ada rekomendasi cerita yang ga kalah menarik dari salah satu temanku.

__ADS_1


Terima kasih, 🤗



__ADS_2