Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Arion kembali bertindak


__ADS_3

Mobil Erlina memasuki halaman rumah utama. Benar saja apa yang dikatakan Jane tadi. Rumah tersebut kini telah ramai oleh beberapa orang pria bertubuh tinggi tegap yang sedang sibuk mengeluarkan semua barang-barang miliknya dan Adhisty. Para maid yang turut menyaksikan hanya bisa terdiam, tidak mampu berbuat lebih. Bi Ida yang sepertinya mencoba mengajak mereka bicara bahkan tidak digubris sama sekali.


"Tolong, setidaknya jangan dilempar, Mas," pinta Bi Ida dengan suara seraknya, sembari sesekali menghapus air mata yang keluar, menggunakan apron yang sedang ia pakai. Walau Erlina dan Adhisty tidak pernah berlaku baik padanya, tetapi tetap saja ia tidak tega melihat keduanya diperlakukan demikian.


Para pria bertubuh besar itu sama sekali tidak menghiraukan perkataan Bi Ida. Mereka terus saja melempar koper-koper dan kardus-kardus berisi koleksi-koleksi Erlina ke halaman rumah, tanpa memperdulikan kerusakannya.


Erlina yang melihat hal tersebut bergegas turun dari mobil dan menghadang para pria itu. "HENTIKAN! MAU KALIAN APAKAN BARANG-BARANGKU, HAH!" teriaknya sembari memukul-mukul tubuh besar mereka. Namun mereka sama sekali tidak menggubris tingkah Erlina. Jane yang juga mencoba membantu wanita itu dengan menghajar salah satu di antaranya, bahkan berhasil ditekuk.


Mengetahui usahanya sia-sia, tidak membuat Erlina putus asa. Ia kini berhasil mencabik pakaian salah seorang pria hingga terkoyak. Namun pria tersebut tampaknya tidak memperdulikan apa yang terjadi pada pakaiannya. Dia terus saja mengeluarkan semua barang-barang kedua wanita itu.


"JANGAN SENTUH BARANG-BARANGKU, SI4LAAAAAAN!" teriak Erlina sampai suaranya serak. Wajah wanita itu sudah bersimbah keringat dan air mata. Bi Ida yang melihat kondisi majikannya itu, hanya bisa menatap prihatin. Beliau tidak berusaha menenangkannya, sebab ia tahu bagaimana sifat Erlina yang pantang dikasihani.


Baru saja Erlina hendak melangkah masuk ke dalam rumah, Aiden muncul dari sana bersama Adhisty yang tengah menangis sesenggukan. Wanita muda itu sesekali merespon perkataan Aiden dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


Melihat ibu tiri bosnya datang, Aiden membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Erlina menatap pria itu bengis. Ia melangkah lebar-lebar menghampiri Aiden dan menarik kuat-kuat dasinya. "B4jingan lakn4t! Apa yang sudah kalian lakukan padaku, hah?"


Aiden dengan tanpa ekspresi berarti, mencengkram erat tangan Erlina yang sedang menarik dasinya, hingga wanita itu kesakitan. Refleks Erlina pun melepaskan cengkramannya.


"Maaf, Nyonya, mulai sekarang Anda dan Nona Adhisty harus keluar dari rumah ini dan tidak diperkenankan datang ke sini lagi," ucap Aiden santun. "Kalian bisa tinggal di manapun yang kalian mau. Ini adalah perintah dari Bapak Arion, selaku ahli waris rumah ini." Sambungnya seraya menatap datar Erlina.


"Ahh! Tenang saja, tidak ada satupun barang-barang milik kalian yang tertinggal di dalam. Bahkan seluruh barang yang kalian beli menggunakan uang keluarga, tetap bisa kalian bawa. Tetapi kami mohon maaf, jika menempatkan barang-barang mahal kalian di dalam kardus bekas yang ditemukan di gudang. Kami tidak dapat menemukan tempat yang layak untuk itu," Aiden kembali membungkukkan badannya.

__ADS_1


Wajah Erlina yang mendengar perkataan Aiden semakin memerah. Jelas-jelas, asisten Arion itu sedang menghinanya. Wanita itu kontan berteriak kembali. "KURANG AJAR KAU, B4NGSAT! AKU TIDAK AKAN PERNAH MELANGKAHKAN KAKI KELUAR DARI RUMAH INI!"


Bagai orang kesetanan, ia menampar Aiden dengan kuku-kuku panjangnya hingga meninggalkan bekas di pipi kiri pria itu. Mendapat perlakuan kasar seperti itu, Aiden sama sekali tidak bereaksi. Ia malah melirik dua orang suruhan Arion, yang telah selesai mengeluarkan seluruh barang-barang, dan meminta mereka untuk mengantar Erlina dan Adhisty ke mobil.


"Perlakukan mereka dengan baik!" titah Aiden.


"Baik, Pak," jawab keduanya serentak. Mereka lantas meminta ibu dan anak itu untuk meninggalkan tempat.


"SUDAH KUBILANG, AKU TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN TEMPAT INI! LANGKAHI M4YATKU DULU KALAU KALIAN BERANI!" tolak Erlina keras. Ia berusaha menghindari tangan kedua orang suruhan Arion.


Kedua orang suruhan itu melirik Aiden. Seolah mengerti, Aiden menganggukan kepalanya pada mereka. Tanpa pikir panjang, tubuh Erlina di gendong bak karung beras, lalu dimasukan ke dalam mobil. Jane sontak berlari mengikuti dari belakang, sembari meneriaki mereka untuk tidak kurang ajar pada bosnya.


Adhisty yang melihat ibunya diperlakukan demikian tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita muda itu hanya bisa menangis sesenggukan.


Aiden melepas kepergian keduanya, sembari memegang pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan mau Erlina.


...***...


Di dalam mobil Erlina menumpahkan kekesalannya dengan berteriak-teriak histeris. Adhisty yang duduk di sebelahnya hanya bisa memeluk sang ibu erat-erat. Di satu sisi ia memang sakit hati mendapati beliau diperlakukan demikian hina. Namun di sisi lain, dia memahami bahwa Arion tidak akan berlaku seperti ini, jika Erlina mau menepati janjinya untuk berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apapun. Terlebih, sampai mengacau di tempat kerjanya.


Entahlah, kadang dia mendukung perbuatan Erlina, tetapi kadang juga sebaliknya.

__ADS_1


"Sudah, Ma, jangan menangis." Adhisty menghapus air mata Erlina yang masih mengalir deras.


"Aarrrggh! Mama terhina sekali, Dhis! Dia sudah menginjak-injak kepala Mama!" seru Erlina terisak-isak. Adhisty tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan lagi pelukannya.


Melihat kedua bosnya begitu menderita, Jane yang duduk di kursi depan memukul dashboard mobil dengan keras. Wanita itu merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri, karena tidak berhasil melindungi Erlina.


Ia ikut merasakan hinaan tersebut. Akan tetapi untuk unjuk gigi melawan langsung, Jane tentu tidak memiliki keberanian. Arion benar-benar sangat mengerikan. Dia akan langsung bertindak setiap mereka berbuat ulah, tanpa pikir panjang.


...***...


Aiden tiba di rumah Arion sehabis maghrib. Ia langsung memberi laporan perihal kondisi rumah yang kini telah kosong. Aiden juga sudah memberi pesan pada para maid untuk tetap bekerja seperti biasa, karena rencananya Arion akan menempati rumah itu lagi.


Arion memiringkan kepalanya. "Ada apa dengan pipimu?" tanya pria itu, saat melihat ada bekas tamparan dan goresan di pipi kiri Aiden.


Aiden refleks memegang pipinya. "Ahh, ini hanya luka kecil yang saya dapat dari Nyonya Erlina," jawabnya enteng.


"Dia benar-benar wanita mengerikan." Arion menatap tajam ke arah kolam renangnya.


"Minggu depan urus kepindahanku, begitu juga denganmu. Kita akan tinggal di rumah utama!" titah Arion.


Baru saja Aiden hendak menolak, namun Arion segera berkata, "aku tidak menerima penolakan! Minta Dini dan Ibu untuk pindah ke sana juga. Aku butuh teman. Rumah ini biar di urus oleh maid lain."

__ADS_1


Aiden mau tidak mau mengiyakan perintah Arion.


__ADS_2