
Dua bulan kemudian.
"Terdakwa atas nama Erlina Kenes Umbara, terbukti secara hukum melakukan Tindak Pidana Pembunuhan Berencana terhadap Rossane Opalina Umbara. Mempertimbangkan sifat pembunuhan yang tidak dapat dibenarkan, dampak sosial yang akan ditimbulkannya, kekejaman kejahatan, dan pengabaian ekstrim yang telah kau tunjukan untuk kehidupan manusia. Maka, terdakwa dihukum 20 tahun penjara tanpa pembebasan bersyarat!" ketukan palu terdengar menggema memenuhi ruangan sidang.
Suara helaan napas terdengar dari para pengunjung sidang. Bu Ida yang turut hadir menyaksikan jalannya persidangan, menangis di pelukan Dini.
Erlina berdiri dari kursi pesakitannya. Ia meraung dan berteriak pada hakim untuk meringankan hukuman tersebut. Pengacaranya berusaha menenangkan wanita paruh baya itu, tetapi Erlina malah menampar dan meludahi wajah sang pengacara.
"Pengacara brengsek! Tidak becus!" hardik Erlina keras.
Arion memandang datar wanita itu. Ia sama sekali tidak terlihat menyesali perbuatannya. Meski kecewa, pria itu mau tak mau harus berpuas hati akan putusan Hakim. Padahal, ia berharap tuntutan Jaksa yang meminta hukuman penjara seumur hidup terhadap Erlina, dapat dikabulkan.
Sekar yang duduk di sebelah Arion, hanya bisa menggenggam tangan pria itu, guna menenangkan dirinya.
Dikawal dua orang petugas, Erlina diseret paksa keluar dari ruang sidang. Wanita paruh baya itu menatap Arion dan Sekar dengan pandangan yang tak dapat diartikan.
Sekar tak lagi menangis. Gadis itu malah dengan berani mengangkat dagunya dan membalas tatapan Erlina dingin.
Sementara itu, sidang Davina sendiri sudah dilaksanakan dua minggu sebelumnya. Wanita itu bahkan mendapatkan vonis seumur hidup karena telah menghilangkan dua nyawa sekaligus. Sebelumnya, pada sidang Davina, Erlina juga dikenakan hukuman 5 tahun kurungan penjara karena terbukti secara tidak langsung, membantu memfasilitasi rencana pembunuhan yang dilakukan oleh Davina.
Itu artinya, Erlina harus mendekam di balik jeruji besi selama 25 tahun, tanpa kesempatan bebas sama sekali. Sementara untuk Adhisty, dibebaskan dari segala tuduhan karena tidak terbukti ikut melakukan kejahatan yang dilakukan ibunya.
Beberapa orang kerabat dan keluarga Arion yang hadir, mendekati pria itu guna memberinya kekuatan. Mereka berbincang sejenak sembari sesekali memeluk Arion.
Tak ingin mengganggu keintiman keluarga tersebut, Sekar memilih mundur selangkah. Gadis itu menoleh ke arah pintu masuk ruang sidang.
Matanya menelisik pada seorang wanita berpakaian sederhana, yang tengah duduk sendirian di kursi paling belakang, dekat pintu masuk. Wajahnya yang tertutup topi baseball, menyulitkan Sekar untuk mengenalinya.
Tak berapa lama, si wanita misterius itu berdiri dari tempat duduknya lalu keluar dari ruang sidang. Melihat itu, Sekar bergegas mengikutinya dari belakang agar tidak kehilangan jejak.
Adhisty mempercepat langkahnya. Ia tak ingin ada satu orang pun yang memergoki dirinya di sana. Sebisa mungkin ia harus menjauh dari kehidupan Arion dan mulai berdiri sendiri. Tanpa sang ibu, dan tanpa kekasih hatinya. Bagi Adhisty, ini adalah konsekuensi yang harus ia ambil selain hukuman penjara, yang tidak didapatkannya.
"Kak Adhisty!"
Panggilan seseorang membuat Adhisty berhenti melangkah selama sekian detik. Tanpa berani menoleh, ia kembali melanjutkan langkahnya.
Suara derap kaki yang tengah berlari kecil terdengar persis di belakang wanita itu. Dengan gerakan cepat, Sekar berhasil mengambil tangan Adhisty dan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kak Adhisty," panggil Sekar lembut.
"Maaf, Anda salah orang!" tegas Adhisty sembari membenarkan topi yang dipakainya.
Sekar tersenyum. "Aku tidak salah orang. Meski kita tidak pernah bertemu, tetapi aku sangat tahu bagaimana rupamu," kata gadis itu.
Adhisty mengangkat kepalanya sedikit. Senyum manis tersungging di bibir tipis Sekar. Tak ada raut kebencian di wajah cantiknya. Semua beban yang pernah terlihat, seolah sudah terangkat dari pundak kecilnya begitu saja.
"Terima kasih karena sudah bersedia datang kemari." Sekar melepaskan tautan tangannya pada Adhisty. "Sekarang Kakak tinggal di mana? Seharusnya Kakak tetap tinggal bersama Arion. Dia–"
"Kesendirian ini adalah bentuk lain dari hukuman yang seharusnya aku terima. Jadi, aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah itu. Aku berjanji tidak akan pernah mengganggu ketentraman keluarga Umbara." Suara Adhisty terdengar sedikit bergetar saat mengatakan demikian.
Sekar terdiam. Ia paham bagaimana perasaan Adhisty saat ini, dan ia tidak berhak ikut campur dalam perjalanan hidup yang kini dipilih oleh wanita itu.
"Di mana pun Kakak berada, kuharap, suatu saat nanti Kakak mau mengunjungi Arion," pinta Sekar.
Adhisty menatap gadis itu lama. "Kau gadis yang baik, Sekar. Arion beruntung memiliki dirimu. Tolong, jangan sia-siakan seluruh perjuangan serta pengorbanannya."
Setelah berkata demikian, Adhisty kembali menunduk dan menutup wajahnya dengan kupluk jaket yang ia kenakan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Adhisty pergi meninggalkan Sekar.
"Dia juga beruntung memiliki Kakak yang baik seperti dirimu," ujar Sekar. Meski suaranya tidak keras, tetapi ia yakin Adhisty mendengar jelas perkataannya.
"Di sini rupanya. Aku mencarimu ke mana-mana." Sekar membalikkan tubuhnya. Arion sudah ada di belakang gadis itu.
"Aku sedang mencari udara segar," kata Sekar.
"Bisa ikut aku sebentar?" ajak pria itu.
Sekar mengernyit keheranan. "Ke mana?"
"Tadi kau pergi begitu saja, padahal aku belum memperkenalkan dirimu pada keluargaku." Tanpa menunggu jawaban Sekar, Arion sudah menariknya ke arah kerumunan orang-orang berpakaian mewah, yang sebelumnya menemani Arion di dalam ruang sidang.
Sekar berdiri gugup di hadapan mereka. Beberapa pasang mata mulai menatap dirinya.
"Ini pasti Sekar," ujar salah seorang pria bertubuh kekar dan berwajah tampan.
"Ini Ben, adik sepupu ayahku, yang juga membantuku mengurus kantor utama." Arion memperkenalkan Ben pada gadis itu.
__ADS_1
Ben dengan ramah mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Sekar menyambut uluran tangan Ben dengan sangat canggung. Ia pun bergantian menyalami satu persatu keluarga Arion.
Dari pihak keluarga Rossane, hadir kedua adiknya di sana. Mereka adalah John dan Adelle. Keduanya, bersama dengan pasangan masing-masing tinggal di Los Angeles dan Boston. Sedangkan dari pihak keluarga Dewandaru, ada Ben, kakak kandung Ben bernama Leo (beserta istrinya), yang kini tinggal di Munich, German, dan Marissa, sepupu jauh Arion.
Sementara itu, orang tua Daniel yang merupakan adik kandung Dewandaru, tak dapat menghadiri persidangan karena masalah kesehatan. Daniel sendiri turut menemani sang Ibu di rumah sakit.
"Setelah ini, kalian harus hidup bahagia, dan ... ahh, aku akan sangat marah kalau kau tidak melibatkan aku lagi, Ryon!" seru Leo. Pria itu masih merasa kesal karena tidak mengetahui perihal masalah yang menimpa keponakan dan mendiang adik sepupunya tersebut.
"Benar!" Marissa, menimpali perkataan Leo. "Jangan pernah sungkan untuk menghubungi kami kalau butuh sesuatu. Kita ini keluarga. Kau tidak boleh hidup menyendiri dan menghilangkan kami begitu saja. Mengerti!" tukasnya galak.
"Benar! Kau tidak boleh seperti ini lagi, Ryon!" sahut Adelle.
Arion meringis dan mengangguk kaku. Ia sama sekali tidak bermaksud demikian. Arion hanya tak ingin membuat keluarganya khawatir saja.
"Sekar, kami titip pria itu padamu. Tolong, kau awasi. Oke," ujar Marissa kemudian.
Sekar tertawa kecil. Rasa gugup yang tadi sempat ia rasakan, menguap begitu saja. Ia pikir, keluarga Arion akan sangat angkuh dan memandangnya sebelah mata. Apa lagi saat melihat penampilan mereka yang sangat berkelas. Ia sampai membandingkan dirinya sendiri, yang hanya datang dengan dress sederhana, dan sepatu flat murah yang dibelinya di toko pinggir jalan.
Namun, ternyata dugaan gadis itu salah. Keluarga Arion merupakan keluarga yang sangat ramah. Arion bahkan tak canggung menggandeng tangannya di depan mereka.
Setelah mengobrol ringan sejenak. Mereka pun akhirnya berpisah di tempat parkir. Leo, John dan Adelle harus segera pulang ke negara masing-masing, karena sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan.
"Besok aku akan mengambil penerbangan pagi." Ben menyerahkan kunci brankas pada Arion. Mereka akan kembali bertukar posisi seperti semula. Saat ini kantor sudah dalam keadaan damai. Beberapa petinggi yang memihak Erlina sebelumnya, kini sepenuhnya beralih pada Arion.
"Terima kasih, Mas," ucap Arion tulus.
"Tidak masalah." Jawab Ben. Ia menepuk-nepuk pundak keponakannya itu. Matanya kemudian beralih pada Sekar. "Tolong jaga dia untuk kami, ya? Dan jaga dirimu juga." Ben mengelus kepala Sekar bak seorang anak kecil.
Perlakuan manis Ben membuat Sekar sedikit tersipu. "Anda juga. Jaga diri Anda baik-baik."
Ben kontan tertawa mendengar sebutan Sekar padanya. "Kau lucu sekali. Jangan terlalu kaku padaku," pintanya.
Sekar tersenyum malu.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Ben pergi menuju ke mobilnya. Tak lupa ia menepuk pundak Aiden juga untuk berpamitan.
Dini dan Bu Ida datang menyusul mereka. Rupanya, Dini menemani Bu Ida menangis di toilet.
__ADS_1
Arion memeluk erat Bu Ida. "Ini air mata terakhir ya, Bu," pinta Arion pada wanita paruh baya itu.
Bu Ida menganggukan kepalanya dalam dekapan hangat sang anak.