
Temaram senja menembus kisi-kisi jendela kamar itu. Seorang pria berjas putih bersama tiga orang wanita berpakaian senada, masuk ke dalamnya untuk menenangkan si penghuni kamar yang tengah menjerit-jerit ketakutan.
"Adhisty," panggil pria tersebut. "Bisa dengar saya? Bisa kenal saya, Dokter Immanuel Sanders?" tanyanya. Dibantu para perawat, ia memegangi kedua tangan Adhisty agar tidak menjambaki rambutnya sendiri.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin! Itu bukan salahku!" seolah tidak mendengar, Adhisty sibuk meracau sambil terus berusaha menarik rambutnya. Helaian-helaian yang berhasil tercabut, berserakan di atas tempat tidur besar milik gadis itu.
"Tenanglah, Dhis." Dokter Immanuel menahan sekuat tenaga tangan Adhisty dan mematikan aliran infus, agar darah tidak semakin banyak keluar.
"Nona Adhisty," salah seorang perawat yang ada di sana ikut memanggil-manggil namanya dengan suara selembut mungkin. Namun, Adshity tetap tidak menghiraukan panggilan itu. Dia malah semakin mengeraskan jeritannya dan berusaha menggapai gelas kaca yang berada di atas nakas.
"Sus, Benzodiazepin 20mg," titah Dokter Immanuel.
"Baik, dok." Perawat tersebut menganggukan kepalanya lalu mengambil obat penenang yang dimaksud sang dokter. Dibantu dua orang teman sejawatnya, ia menyuntikkan obat itu pada Adhisty.
Berangsur-angsur kemudian, Adhisty mulai berhenti berteriak. Ia tidak lagi berusaha menjambak rambutnya sendiri. Dokter Immanuel lalu membantu Adhisty untuk berbaring di ranjangnya kembali.
"Dok," ucap gadis itu lirih.
"Iya, saya ada di sini. Tenang ya?" Dokter Immanuel tersenyum. Ia memasang lagi selimut Adhisty yang tercecer di lantai, dan mengusap lembut kepalanya.
Adhisty mengangguk pelan. Rasa kantuk perlahan-lahan mulai mengambil alih dirinya. Penglihatan gadis itu kian samar. Wajah Dokter Immanuel tidak lagi setegas tadi. Sebelum benar-benar jatuh tertidur, ia menoleh ke arah pintu kamar, tempat dimana seorang wanita tengah berdiri sembari melipat kedua tangannya.
"Ma," ucapnya nyaris tak terdengar, sebelum akhirnya terlelap sempurna.
...*...
Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Namun mata Adhisty masih enggan terpejam lagi setelah terbangun dari tidurnya. Ia hanya terduduk mematung di sudut ranjang, sembari memeluk kedua lututnya rapat-rapat.
Air mata nampak memenuhi sudut mata wanita itu, sebelum akhirnya jatuh membasahi wajah cantiknya.
Batinnya kini tengah bergejolak. Sebab, selama tiga hari berturut-turut ia selalu memimpikan kecelakaan itu hingga terbangun di jam yang sama. Bahkan kini, bukan hanya kecelakaan itu saja yang datang ke dalam mimpinya, tetapi juga sebuah potongan mimpi lain saat dirinya masih belia.
Adhisty tidak mengerti, mengapa akhir-akhir ini ia selalu memimpikan hal-hal mengerikan tersebut. Berbagai macam pertanyaan mulai memenuhi isi kepalanya.
Siapakah orang yang ada di dalam mobil sedan hitam itu? Bagaimana bisa Erlina begitu tega membunuhnya di mimpi tersebut? Lalu, siapa Dokter Immanuel Sanders? Dan, mengapa ia bisa diopname di dalam kamarnya yang dulu?
Adhisty benar-benar merasa frustrasi karena tidak menemukan jawabannya. Mencoba menghubungi Erlina pun tidak bisa. Wanita itu pasti sedang sibuk menyembunyikan diri agar tidak terendus pihak kepolisian, dan Adhisty tak ingin repot-repot mengkhawatirkannya.
Adhisty mengusap kasar air mata yang masih terus mengalir membasahi wajahnya. Entah mengapa, jauh di dalam lubuk hatinya, Adhisty ingin sekali menangis terisak-isak. Ia bisa merasakan sebuah kepedihan yang amat sangat mendalam.
...***...
Berbekal sebuah nama yang muncul dalam mimpinya, Adhisty mulai mencari tahu identitas Dokter Immanuel Sanders dan di mana dia berada saat ini.
Setelah hampir tiga jam berkeliling, wanita itu berhenti di depan sebuah Klinik Rehabilitasi Mental. Ia mengernyitkan dahinya dan mencoba mengecek kembali alamat yang tertera pada layar ponselnya.
__ADS_1
Benar. Alamat itu memang merujuk pada klinik berlantai tiga itu.
Ragu-ragu Adhisty turun dari mobil dan masuk ke dalam klinik tersebut.
Matanya menatap sekeliling klinik yang tampak bersih dan wangi. Tempat itu juga tidak terlalu ramai. Hanya ada segelintir orang saja yang sepertinya tengah mendaftar di meja resepsionis dan langsung dipersilakan naik ke lantai atas. Seorang resepsionis lain yang melihat kedatangan Adhisty, segera menyapa wanita itu. Adhisty pun melangkah menghampirinya.
"Ada janji dengan dokter siapa, Ibu?" tanya sang resepsionis ramah.
Adhisty menggeleng.
"Oh, baru pertama kali ke sini, ya? Kalau begitu silakan isi formulir pendaftaran dulu ya, Bu." Resepsionis tersebut memberikan secarik kertas berukuran besar pada Adhisty.
"Maaf, Mbak, saya bukan ingin berobat. Saya hanya ingin bertanya," ungkap Adhisty.
Kedua resepsionis itu saling melempar pandangan sejenak. "Iya, Bu, mau tanya apa?"
"Apa benar Dokter Immanuel Sanders praktik di sini?" tanya wanita itu kemudian. Matanya melirik selembar poster yang terpajang di belakang meja resepsionis. Di sana tergambar seorang pria paruh baya berbadan tegap dan berkaca mata.
"Benar, Ibu. Beliau adalah pemilik klinik ini." Jawab salah seorang resepsionis.
Adhisty segera mengalihkan pandangannya, lalu kembali bertanya. "Bisakah saya bertemu dengannya?"
"Maaf, Ibu, hari ini jam praktik beliau sudah habis. Silakan kembali esok hari di jam sembilan pagi sampai jam dua belas siang."
Setelah berkata demikian, seorang pria paruh baya turun dari tangga. Sebuah tas hitam tersampir di bahu pria itu. Perawakannya persis seperti yang dilihat Adhisty di poster.
"Saya pulang duluan, ya?" pamit si pria pada kedua resepsionis tersebut.
"Mmm ... dok," salah seorang resepsionis memanggilnya. Ia mengerling pada Adhisty yang ternyata tengah sibuk memperhatikan pria itu dengan seksama.
"Dokter Immanuel?" panggil Adhisty.
"Iya, benar." Jawab dokter itu. "Maaf, jam praktik saya sudah seleβ"
"Saya Adhisty Prastita Abraham. Dokter kenal saya?" tanya Adhisty kemudian. Ia sengaja memakai nama ayah kandungnya di belakang namanya.
Immanuel menelisik penampilan Adhisty dari ujung kepala sampai kaki. "Dhisty? Putri dari Erlina?" tanya pria itu dengan raut wajah terkejut.
Adhisty terbelalak. Bukan hanya mengenal dirinya, Dokter Immanuel ternyata juga mengenal sang ibu. "Iya, benar."
"Ya, Tuhan, kau sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik, Dhis." Pria itu tersenyum sumringah. Ia bergegas menghampiri Adhisty dan memegang kedua bahunya erat.
"Dokter mengenal saya?" mengetahui kenyataan bahwa mereka rupanya saling mengenal, Adhisty tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Sudah pasti." Jawab Immanuel. "Bagaimana kabar Ibumu? Kondisimu sendiri bagaimana? Kau bisa menemuiku, berarti semua baik-baik saja, bukan?"
__ADS_1
Adhisty kontan mengernyitkan dahinya saat mendengar pertanyaan sang dokter. Baik-baik saja? Memangnya dia kenapa?
Melihat raut wajah kebingungan Adhisty, Immanuel berhenti tertawa. Jangan-jangan kondisi putri dari sahabatnya itu masih sama? Tetapi, mengapa dia berhasil menemui dirinya?
"Lebih baik kita bicara di atas supaya lebih nyaman dan leluasa." Immanuel pun mengajak Adhisty naik ke ruangan praktiknya di lantai dua.
...***...
"Sialan kau, Davina! Sialaaan!" umpat Erlina sembari memasukkan asal beberapa pakaiannya ke dalam koper. Orang suruhannya yang bertugas memata-matai perkembangan kasus Davina baru saja mengabari, bahwa polisi kini tengah mengendus keberadaan dirinya setelah Davina membeberkan semua.
Media sengaja dibungkam keras agar tidak memberitakan hal tersebut, untuk menghindari pelarian yang mungkin saja dia lakukan.
"Wanita ****** tidak tahu terima kasih!" hardiknya. Setelah memastikan seluruh pakaian dan uang yang dimilikinya terbawa, wanita itu bergegas meninggalkan apartemen.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf jika ceritanya makin ke sini makin kurang greget atau membosankan. Saya harap kakak-kakak sekalian masih tetap sudi membaca novel recehan saya ini. Jangan lupa untuk terus memberi dukungan, karena sekecil apapun dukungan yang kalian berikan akan sangat berharga bagi saya. π€π€π€
Oh iya, satu lagi. Silakan Favoritkan novel ini bagi yang belum, ya? ππβ€οΈ
__ADS_1