
Sudah beberapa detik Rani enggan melepaskan pandangannya dari Sekar. Pasalnya gadis itu ngotot sekali ingin ikut bekerja. "Kakimu belum sembuh benar, Ar," keluh Rani. Menghadapi sikap keras kepala sahabatnya itu benar-benar sangat melelahkan. Ia seperti memiliki dua adik kecil di rumah ini.
"Sudah, kok!" Sekar mengetuk-ngetuk kakinya ke lantai guna membuktikan pada Rani, bahwa kakinya kini telah baik-baik saja. Walau masih merasa sedikit nyeri, sekar bisa mengatasinya dengan baik.
Mau bagaimana lagi, terlalu lama berdiam diri di rumah membuat Sekar jenuh. Terlebih dia juga merasa tidak enak pada Rani.
"Aku hanya harus berhati-hati agar tidak kelepasan berlari," ujar gadis itu meyakinkan.
"Tapi kau itu seperti kelinci yang tidak bisa diam, Ar!" sahut Rani. Sekar kontan tertawa kecil.
"Ya sudah, yuk, kita berangkat. Tapi jangan nyesel kalau di sana kau mengalami kesulitan?" ujar gadis itu. "Kau tahu kesulitan apa yang aku maksud, kan?" sambungnya.
Sekar terdiam sejenak. "Ya. Hari ini aku juga akan menemui Bu Anita untuk meminta dipindahkan ke gedung lain."
Rani tersenyum kecut. Meski dia tidak senang dengan keputusan Sekar, tetapi Rani tidak bisa berbuat apapun. Gadis itu mungkin saja akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Sekar.
"Baiklah. Kita berangkat!"
...***...
"Pertemuan dengan PT. Pembangunan Sejahtera sudah dimajukan, Pak. Kita akan bertemu saat jam makan siang di Golden Mountain Restaurant," lapor Aiden seraya memeriksa buku catatannya.
"Ok. Oh, soal pindahan, bagaimana?" kini Arion menanyakan soal kepindahannya ke rumah utama hari ini. Sebelum berangkat ke kantor ia sudah memerintahkan orang-orang suruhannya, untuk memindahkan semua barang-barang yang diperlukan, di bawah pengawasan Dini.
Pintu lift terbuka. Keduanya masuk ke dalam lift yang kebetulan sedang kosong. "semua hampir selesai, Pak," jawab Aiden.
Arion menganggukan kepalanya. Suasana hening sejenak, sampai pria itu menoleh tajam ke arah Aiden. "Lalu, bagaimana dengan barang-barangmu?" tanyanya.
"Saya berencana akan memindahkan semua pakaian saya nanti malam, Pak," Aiden tersenyum kecil.
"Sudah sejak kemarin-kemarin aku menyuruhmu melakukannya, bukan?" Arion memicing sinis.
"Maaf, Pak," Aiden menahan diri untuk tidak meringis. Kendati pria itu sering menginap di rumah Arion, bukan berarti ia sudah terbiasa. Aiden tetap merasa tak enak hati.
...***...
__ADS_1
Sekar dan Rani tiba di kantor Umbara tepat pukul setengah tujuh pagi. Beberapa sahabat baiknya langsung mengerubungi gadis itu dan memeluknya erat. Walau mereka sudah bertemu di rumah Rani beberapa waktu yang lalu, tetap saja rasanya berbeda dengan kehadiran gadis itu di tempat kerja.
"Kakimu benar sudah baik-baik saja, Ar?" tanya Ningsih khawatir. Begitupun dengan yang lainnya.
"Baik. Aku sangat baik," jawab Sekar sumringah. Bisa kembali bekerja dan bertemu para sahabatnya di sana membuat semangat Sekar bertambah dua ratus persen.
"Alhamdulillah. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya," sahut Lastri. Meski terlihat senang, mata sendu gadis itu tidak dapat berbohong. Ia seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Pasti." Sekar merangkul Lastri penuh sayang.
Mereka mengobrol santai sejenak di depan ruang ganti. Ningsih betul-betul tidak melewatkan waktu luang untuk memulai gosip pagi ini. Ia menceritakan secara singkat keadaan kantor yang sudah kembali seperti semula, padahal mereka sudah pernah membicarakannya waktu di rumah Rani.
"Ning, sudah waktunya kita kerja," tegur Rani sembari memutar bola matanya.
Ningsih menutup mulutnya dan tertawa keras. "Maaf, maaf,"
"Semangat semua! Sampai jumpa saat jam makan siang," Lastri memisahkan diri terlebih dahulu. Gadis itu berjalan santai menuju posnya.
BRUUK!
"Eh, Intan, apa kabar?" sapa Sekar ketika berpapasan dengan sang OG yang menabrak bahu Lastri.
Intan yang biasanya baik pada Sekar, kini hanya membalas sapaan gadis itu dengan tatapan sinis sambil berkata, "minggir, dong! Masuk bukannya kerja malah ngerumpi!"
Sekar yang menerima perlakuan demikian dari Intan tentu saja terkejut. Ia reflek menoleh ke arah teman-temannya, meminta penjelasan.
Mendapat tatapan menuntut dari Sekar, Rani dan Ningsih saling sikut-menyikut. Lastri pun yang berdiri tak jauh dari mereka memilih pura-pura tidak mendengar.
"Ada apa, sih?" tanya Sekar tak sabar.
Ningsih berdeham sebelum akhirnya berjanji pada Sekar akan membicarakan hal ini saat jam makan siang nanti.
Sekar yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa mengiyakan saja.
...***...
__ADS_1
Para orang suruhan Arion baru saja selesai memasukan barang-barang pria itu ke dalam kamarnya, yang berada di lantai dua. Dini sudah berpesan pada para maid untuk tidak membereskan barang-barang tersebut, selain hanya dirinya dan sang ibu.
Walk-in closet yang semula digunakan Erlina untuk menyimpan koleksi-koleksinya, juga sudah beralih fungsi menjadi kantor pribadi Arion. Ia sebenarnya bisa saja menggunakan ruangan kantor milik sang ayah. Namun Arion enggan melakukan hal tersebut. Karena di sanalah satu-satunya tempat yang kondisinya masih tetap sama, seperti saat ditinggalkan terakhir.
Arion ingin tetap menjaga keberadaan ayah dan ibunya di sana.
"Rasanya rumah kembali seperti dulu ya, Bu?" ujar Dini pada sang ibu yang sedang sibuk memasukan pakaian-pakaian Arion ke dalam lemari.
"Tapi Ibu kasihan sama Nyonya Erlina dan Nona Adhisty, Nak," sahut Bi Ida. Beliau paham kelakuan mereka sudah sangat keterlaluan, tetapi tetap saja ada rasa kasihan membelenggu dirinya.
"Pak Arion tidak akan sejahat itu pada mereka, kalau mereka nggak ngelunjak, Bu!" seru Dini sedikit ketus. Kadang menjengkelkan mengetahui kelembutan hati ibunya, padahal beliau juga sering disakiti oleh dua wanita ular itu.
...***...
Jam istirahat makan siang telah tiba. Seperti janjinya tadi pagi pada Sekar. Ningsih, Lastri, Rani dan Dimas, yang ikut bergabung, mengajak gadis itu makan siang di gudang lantai satu. Tempat itulah yang menurut Ningsih aman dari para penghuni kantor.
Ningsih menghela napasnya terlebih dahulu sebelum memulai cerita. Dengan sangat hati-hati ia mulai menceritakan secara detail soal rumor yang berkembang, seiring pemecatan Ningrum. Rumor yang mengatakan bahwa Sekar gencar mengejar-ngejar Arion dan terobsesi padanya. Itulah mengapa Arion bisa begitu marah ketika Ningrum berbuat jahat pada gadis itu.
"Bahkan mereka juga mengetahui identitas pria yang sering kau temui di tangga darurat." Lastri menambahi.
"Kami sampai ditanyai beberapa karyawan soal kebenaran itu, dan tentu saja kami menutupinya rapat-rapat." Ningsih melanjutkan perkataannya.
Sekar melotot tak percaya. "Kalian kenapa tidak memberitahuku soal ini, saat kita kumpul di rumah Rani?" ujarnya kesal.
"Maaf, Ar, kami bingung harus bagaimana mengatakannya," ucap Rani penuh penyesalan.
"Lalu, apa lagi yang kalian dengar? Aku rasa bukan hanya soal itu, kan?" tanya Sekar meninggi.
Ningsih, Rani, Lastri dan Dimas saling bertukar pandang. Raut wajah mereka yang kentara sekali tengah takut dan bingung, membuat Sekar makin penasaran.
"Sudah, bilang saja!" desak Sekar tak sabar.
"Mmm ... mereka juga menyebarkan rumor soal kau yang berhasil merayu Pak Arion di tempat tidur," cicit Rani, tak berani menatap Sekar.
Sekar terbelalak. Matanya sontak berkaca-kaca. Itu adalah rumor paling jahat yang dia dengar. Memang sebesar apa dosa seorang OG yang memiliki hubungan dekat dengan bosnya? Lagi pula, tahu apa mereka soal hubungan ini? Sekar benar-benar tidak habis pikir. Dia kira setelah Ningrum dipecat, hidupnya bisa kembali seperti sediakala.
__ADS_1
Sekar menghela napas pasrah. "Baiklah, aku akan menemui Bu Anita sekarang juga!" tanpa menunggu tanggapan dari sahabat-sahabatnya, Sekar segera pamit keluar dari gudang.