
Erlina masih sibuk mematut diri di cermin. Ia dan Adhisty sudah siap menghadiri acara besar Umbara Corporation. Akan ada banyak pejabat dan orang penting yang hadir di sana. Bahkan, utusan Presiden pun rencananya akan datang memenuhi undangan. Maka dari itu, Arion tidak bisa mengesampingkan kehadiran Erlina, sebab bagaimanapun, wanita itu dikenal luas sebagai istri mendiang Dewandaru dari pernikahannya yang kedua.
Keharmonisan keluarga di depan publik adalah hal mutlak yang harus Arion perlihatkan. Ia tidak ingin khalayak menyadari kecacatan keluarganya, sebab itu bisa menjadi sasaran empuk bagi para pesaing Umbara di luar sana untuk menjatuhkan mereka.
"Ma, yakin rencana kita akan sukses?" tanya Adhisty yang sedang memakai anting berliannya, sebagai sentuhan terakhir dari keseluruhan penampilan wanita itu.
"Kau harus percaya pada Abiyan. Mama yakin sekali dia akan berhasil mempermalukan Arion." Jawab Erlina percaya diri. Mata wanita itu menatap sinis pantulan dirinya di kaca, sementara bibirnya tersenyum bagai serigala betina yang siap menerkam mangsanya.
"Tapi, kalau memang itu terjadi, saham Umbara bisa anjlok dan Arion bisa bangkrut, Ma. Bukankah ada saham Mama juga di sana, walaupun tidak seberapa?" Adhisty tentu tidak bisa mengabaikan kekhawatirannya akan hal itu.
"Kau meremehkan Mamamu sendiri? Mama ini punya banyak koneksi dan sudah memiliki rencana soal itu." Erlina mengalihkan pandangannya pada Adhisty. "Jadi, untuk saat ini yang Mama inginkan hanyalah rasa malu bocah tengik itu. Rasa malu yang jauh lebih dalam dari apa yang pernah Mama rasakan!" sahut Erlina sinis.
Mendengar jawaban sang ibu, Adhisty tidak bisa berkata apa-apa lagi. Wanita itu tahu betul bagaimana perangai ibunya. Tak ada yang bisa menghentikan rencana beliau.
"Sebaiknya kita berangkat. Mama tidak ingin terlambat menyaksikannya. Pasti menyenangkan sekali melihat wajah pucat pasi Arion." Erlina tertawa kecil sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar terlebih dahulu.
...***...
Arion baru saja menutup sambungan teleponnya pada Sekar. Gadis itu rupanya tengah ngambek karena tidak bisa menonton televisi, akibat ulah tikus yang menggigiti kabel hingga putus. Sekar mengakui bahwa hari ini adalah hari apesnya. Sudah kaki cedera, televisi rusak, undangan pun tidak punya.
"Kok seperti ada yang menghalang-halangi aku gini ya, Mas? Habisnya, semua terjadi di hari yang sama!" Arion masih mengingat betul apa yang Sekar katakan tadi.
"Itu hanya perasaanmu saja. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu. Istirahat saja yang banyak. Pulang dari sini, aku akan langsung ke rumah." Hanya itu yang bisa Arion sampaikan pada Sekar.
Arion berjanji, hari ini adalah kebohongannya yang terakhir. Setelah acara selesai, ia akan langsung mengatakan semuanya pada Sekar.
"Tunggulah sebentar lagi. Aku akan mengakui segalanya padamu," gumam Arion dengan penuh keyakinan.
...***...
Suasana di kantor Umbara terlihat lebih ramai dari biasanya. Beberapa pejabat daerah sudah mulai berdatangan demi memenuhi undangan. Banyak pula wajah-wajah familiar yang sering menghiasi layar kaca, turut hadir di sana.
Pengamanan ekstra dilakukan pihak Umbara Corporation untuk menjaga para tamu penting, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti walkthrough metal detector yang dipasang di setiap pintu masuk, dan juga xray security scanner untuk memindai barang bawaan mereka secara terpisah.
Sesampainya di depan pintu aula pun, pihak keamanan akan melakukan scanning pada iris mata mereka, guna mengetahui identitas si tamu undangan sebelum akhirnya dipersilakan masuk.
Suasana di dalam aula tak kalah ramai oleh para awak media yang sudah bersiap mengambil gambar.
__ADS_1
Sebuah layar besar yang terdapat di atas panggung menampilkan gambar sesosok wanita cantik, yang menjadi maskot proyek ini, Earlene.
Danu yang berada di belakang panggung mengintip keluar sedikit. Jantungnya berdegup kencang saat mendapati aula sudah penuh dengan para tamu undangan dan awak media.
Pria itu menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali, guna meminimalisir kegugupan yang mulai melanda dirinya.
"Do'akan aku, sayang," gumam Danu merujuk pada mendiang istri tercintanya, Earlene.
...***...
Tak ingin mati kebosanan, Sekar memutuskan ke dapur untuk membuat beberapa makanan dengan bahan seadanya.
Setelah sekian lama berkutat di dapur, dua porsi seblak sederhana dan telur gulung akhirnya siap untuk disantap. Sekar menatanya di atas meja sembari menunggu kedatangan Dini yang katanya sedang membeli kabel di toko listrik.
Seakan ingat, bahwa sedari tadi ia tidak membawa ponselnya. Sekar bergegas mengambilnya di kamar.
Sudah ada empat panggilan tak terjawab dari dua orang temannya, Lastri dan Rani.
Sekar memutuskan menelepon balik salah satu dari mereka, karena takut telepon itu penting hingga membuat keduanya mencoba menelepon berulang kali.
"Assalamualaikum, Ran," sapa Sekar duluan, begitu Rani mengangkat telepon darinya. "Maaf, ponsel aku tinggal di kamar."
"Sudah jauh lebih baik, walaupun terkadang masih terasa ngilu." Jawab Sekar.
"Oh, syukurlah. Andai kau tidak sakit, kita bisa menonton acara peluncuran mobil pintar ini bersama-sama," ujar Rani. Nadanya bicaranya terdengar sangat sedih.
"Iya. Sayang sekali aku pun tidak mendapat undangan, Ran. Memangnya kau dapat, ya?" raut wajah Sekar berubah lesu. Dia iri dengan Rani.
"Undangan?" suara Rani berubah bingung. "Undangan apa?" tanya gadis itu.
"Undangan untuk menghadiri acara itu." Jawab Sekar.
Rani terdiam senejak. Ia mencoba menelaah jawaban Sekar. "Kalau yang kau maksud undangan yang seperti itu, memang ada, tetapi itu hanya diperuntukkan untuk para tamu-tamu dari luar. Sedangkan kita tidak memerlukannya, Ar." Rani tertawa kecil.
Sekar sedikit terperanjat setelah mendengar penjelasan gadis itu.
"Ya sudah, kau istirahat saja, ya? Nanti akan aku kirimkan foto kekasihmu itu saat naik ke atas stage. Pasti tampan sekali!" goda Rani sembari terkikik geli.
__ADS_1
Sekar mengernyit keheranan. Buat apa Arion naik ke atas stage? Memang perannya sebesar apa? Bukankah ia hanya sekedar tenaga bantuan saja?
"Buat apa dia ikut naik ke stage?" tanya Sekar.
"Ya untuk presentasi lah, Sekar. Kau ini bagaimana, kekasihmu itu kanβ"
"Kalian semua cepat berkumpul di sini!" suara Anita yang memanggil para anak buahnya, terdengar nyaring sampai ke telinga Sekar. Rani buru-buru berpamitan pada gadis itu dan berjanji akan berkunjung ke rumah bersama yang lainnya setelah acara selesai.
Rasa penasaran benar-benar menggerogoti hati Sekar. Terutama soal surat undangan yang ternyata hanya ditujukan untuk para tamu luar.
Sekar tidak ingin banyak berspekulasi. Ia memilih pergi ke kantor untuk meminta penjelasan secara langsung dari mulut Arion, tanpa memperdulikan keadaan kakinya yang belum sembuh benar.
...***...
Arion terlihat mondar-mandir di ruangannya, sembari sesekali meniup kedua telapak tangannya yang berkeringat. Saat ini ia tengah gugup. Namun bukan gugup karena akan tampil secara langsung di layar kaca, melainkan menunggu pesan dari sang adik yang sedang ia mintai tolong.
Drrt ... Drrt ...
π© Dini
Mission Completed!
Raut kelegaan terpancar jelas di wajah tampan Arion. Bagai penyejuk hati, dua kata yang baru saja dikirimkan Dini membuat segaris senyum simpul terbit di bibir pria itu.
Arion segera mengetik balasan untuk Dini.
"Pak," Aiden memanggilnya dari ambang pintu ruangan.
Arion mengangguk lalu mematikan ponselnya, sebelum berjalan dengan percaya diri menuju aula kantor.
...***...
π© Pak Arion.
Terima kasih, adikku. Sekarang, tolong jangan pergi ke mana-mana. Jaga dia agar tidak keluar rumah.
Dini yang saat ini sedang duduk di depan minimarket, membaca sebaris kalimat balasan dari Arion.
__ADS_1
"Mbak Sekar juga tidak akan ke mana-mana dengan kondisi seperti itu, Pak," gumam Dini frustasi.