Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Cracking!


__ADS_3

Pagi ini Kantor Umbara Corporation tengah dilanda kepanikan. Sistem komputer pada proyek mobil pintar yang sedang mereka kerjakan tiba-tiba mengalami cracking.


Sejak semalam Arion dan Tim Earlene, nama tim yang diberikan oleh Danu, Pemimpin tim 5 sekaligus penggagas awal proyek ini, harus rela begadang di kantor demi mengatasi masalah tersebut. Tetapi sampai siang hari ini tidak ada perubahan yang signifikan. Virus yang tertanam pada komputer merupakan virus yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bahkan, ahli IT Umbara pun kewalahan menangani hal tersebut.


"Pak, semakin keras kita mencoba menyingkirkan virus ini, maka semakin banyak ia menyalin diri dan menyisipkan salinan dirinya ke dalam program lain. Jika terus-terusan seperti ini, saya takut virus ini akan berhasil menyerang seluruh sistem kantor kita," kata Ben, salah satu IT support.


Danu mengerang frustrasi. Ia mengacak-acak rambutnya kasar. Matanya sudah memerah karena semalaman tidak tidur.


Ini adalah proyek besar pertama miliknya. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Danu sampai ia berani mengajukan proposal kepada Arion beberapa bulan lalu. Bahkan kini proyek Earlene sudah rampung 90%.


Namun apa yang terjadi sekarang? Sebuah virus tak dikenal tiba-tiba menyerang sistem komputer mereka dan mencoba menghancurkan AI buatan Danu. Padahal ia sudah membuat perlindungan yang sangat ketat dan maksimal.


Arion datang menghampiri Danu dan menepuk pundaknya ringan. Kendati dalam hati ia tak kalah panik, tetapi ia tidak ingin memperlihatkannya. Sebagai pemimpin, Arion tak boleh terlihat lemah dan putus asa.


"Lalu, apa saranmu?" tanya Arion pada Ben.


Ben terdiam sejenak. Matanya memandang Danu ragu sebelum menjawab, "Emm ... terpaksa kita harus menghancurkan Earlene. Dengan begitu semua akan kembali normal."


Danu terperanjat, kontan ia berteriak, "Tidak!"


Matanya beralih pada sebuah layar monitor yang menampilkan AI berjenis kelamin wanita, Earlene. Ia adalah kecerdasan buatan yang dirancang oleh mendiang istrinya, yang merupakan seorang ahli IT juga. Danu menyempurnakan apa yang dikerjakan istrinya dengan memberikan fisik dan suara menyerupai mendiang. Bahkan ia juga menamai AI tersebut dengan namanya, Earlene.


Danu bergegas kembali ke mejanya. Ia tak ingin kehilangan Earlene untuk kedua kalinya. Pria itu mulai sibuk mengutak-atik komputer miliknya lagi seraya memanggil-manggil AI tersebut agar mau merespon.


"Earlene, kau dengar aku?"


"Earlene, come on!"


Hanya ada suara dengungan yang terdengar dari sana.


Beberapa orang menatap Danu dengan pandangan iba. Jelas mereka tahu apa arti proyek ini bagi pria berusia 45 tahun itu.


Arion bergegas membantu Danu. Ia mengambil alih salah satu komputer yang dipakai bawahannya.


Melihat pemimpin mereka ikut turun tangan, para anggota tim beserta ahli IT lainnya menjadi sedikit bersemangat.

__ADS_1


"Ayo, kita tak punya banyak waktu!" seru Damian, salah seorang anggota Tim Earlene.


...***...


Sekar memegang ponselnya dengan cemas. Kabar soal cracking yang menyerang sistem komputer pada proyek yang sedang dikerjakan Arion dan teman-temannya menyebar seantero Kantor.


Setengah jam yang lalu Arion mengabari, bahwa ia masih ada di kantor. Sejak semalam pria itu belum juga pulang ke rumah.


Ingin sekali Sekar menerobos masuk ke lantai tiga puluh, tetapi Bu Anita dengan tegas melarang Sekar untuk naik ke lantai dua puluh lima keatas.


"Kau tahu betul, kalau kau dilarang naik ke sana, bukan?" tukas Bu Anita, saat ia meminta ijin tadi pagi.


Entahlah, ia punya salah apa sehingga CEO mereka melarangnya untuk naik. Mengingat hal itu, Sekar kembali jengkel.


Padahal kalau saja boleh, Sekar ingin membawakan makanan untuk Arion. Pria itu pasti tidak makan dengan teratur hari ini.


"Semoga masalahnya bisa segera teratasi," gumam Sekar penuh harap.


...***...


"Maaf, boleh minta waktunya sebentar," kata Abiyan dengan gestur canggung.


"Sebelumnya, maaf jika saya lancang. Saya sudah mendengar kabar soal sistem komputer Earlene yang terkena cracking. Jika anda semua berkenan, bolehkah saya ikut membantu memeriksa?" ujar Abiyan menawarkan diri. "Saya punya pengalaman di bidang ini," sambung pria itu.


Arion berdiri dari tempat duduknya. "Orang lain dilarang masuk ke tempat ini, tanpa terkecuali."


Abiyan tertegun, ia lalu memasang ekspresi malu seraya menggaruk tengkuknya. "Ahh, ma–maaf kalau begitu. Saya hanya ingin mencoba membantu. Jika memang benar dugaan saya, mungkin virus ini lah yang menyerang perusahaan tempat saya bekerja dulu." Terang Abiyan.


"Tetapi karena saya bukan bagian dari tim ini, jadi lebih baik saya permisi. Maaf, jika kehadiran saya telah mengganggu." Abiyan membungkukkan badannya lalu berbalik pergi. Ia berjalan perlahan keluar pintu.


Danu berdiri dan memanggil Abiyan. Seringai samar muncul di bibir pria itu tanpa sepengetahuan mereka.


"Jadi, apa yang kau tahu tentang virus ini?" tanya Danu.


Abiyan berjalan menghampiri Danu. Pria itu meminta ijin untuk mengutak-atik sebentar komputer Danu.

__ADS_1


Benar saja dugaannya, virus itu adalah virus yang pernah menyerang perusahaannya dulu.


Abiyan menjelaskan dengan gamblang, bahwa virus ini tidak bisa dilemahkan dengan cara di serang dari luar. Ia harus dibiarkan menyusup terlebih dahulu. Tetapi sebelum itu terjadi, mereka harus segera membuat salinan data terlebih dahulu. Karena jika virus sudah terlanjur masuk sebelum mereka berhasil membuat salinannya, maka satu-satunya cara yang tersisa adalah menghapus sebagian memori yang sudah ditanam ke dalam sistem. Dengan begitu virus bisa dilumpuhkan sebelum sempat membelah diri. Tetapi resikonya, sebagian memori pada sistem komputer Earlene akan hilang dan mereka harus memulainya lagi dari awal. Karena proyek mereka hampir rampung 90%, maksimal mereka hanya bisa memulainya lagi dari 45%.


"Gila!" pekik beberapa anggota tim. Mereka sudah menghabiskan banyak waktu selama ini. Jika harus memulai dari angka itu, maka proyek baru akan rampung dalam waktu empat bulan kedepan. Apa yang harus mereka katakan pada para investor yang sudah menggelontorkan dana fantastis untuk proyek ini?


Danu bergeming. Ia meminta pendapat Arion sebagai pimpinan mereka.


"Apa benar yang kau katakan?" tanya Arion.


Abiyan mengangguk yakin.


Arion menggigit bagian dalam pipinya. Ia tak ingin Abiyan ikut campur dalam proyeknya, tetapi Abiyan sepertinya lebih tahu apa yang harus dilakukan.


"Lebih baik kita mulai dari 45%, dari pada Earlene hilang begitu saja. Soal para investor, biar itu menjadi urusanku," kata Arion penuh keyakinan. Beberapa orang langsung menyetujui perkataannya. Meski lelah, itu adalah pilihan yang jauh lebih baik.


Abiyan tersenyum. Bergegas ia menuju meja Danu dan mengoperasikan sebuah sandi yang rumit. "Come on, girl, you can do it," gumam Abiyan ketika melihat gambar Earlene dalam keadaan statis.


...***...


Erlina yang tengah berbaring santai di ranjang sontak tertawa terbahak-bahak, seraya menendang-nendang kakinya ke udara. Wanita itu baru saja mendapat telepon dari Adhisty perihal permasalahan yang terjadi di Umbara Corporation.


"Brilliant sekali kau, Abiyan," gumam Erlina yang kembali tertawa terbahak-bahak.


Wanita itu menyeringai tatkala membayangkan betapa frustrasinya Arion. Ia yakin seratus persen, Arion pasti akan menerima Abiyan masuk ke dalam timnya, setelah berhasil menyelamatkan proyek tersebut.


"Dasar bodoh kau, Arion! Hahahaha ...!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2