
Sekar sibuk membersihkan seluruh bagian rumahnya seorang diri. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci semua pakaian kotor yang ada, menyikat kamar mandi, dan juga membakar sampah. Setelah selesai melakukan tugas-tugas tersebut, Sekar berkutat di dapur. Sebagian ubi dan singkong yang didapatkannya dari para tetangga, dikukus olehnya. Tak lupa, ia juga memanaskan kembali Rendang dari Bi Ida untuk dirinya makan.
Matanya berbinar senang, kala melihat rumahnya sudah kembali rapi. Bau debu tidak lagi tercium dari sana. "Saatnya mandi," gumam gadis itu sembari melesat ke kamar mandi.
Kondisi kamar mandi rumah Sekar juga tidak jauh berbeda. Dindingnya terbuat dari bata tanpa plester yang memiliki tinggi hanya dua meter. Tidak sampai menyentuh langit-langit rumah. Sementara pintunya terbuat dari kayu dan seng yang dimodifikasi sedemikian rupa. Di dalam kamar mandi, terdapat sumur timba yang telah ditutup permanen, dan mesin air yang dipasang mendiang ayahnya dulu.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Sekar kembali ke dapur. Gadis itu mengambil sepotong ubi manis yang masih mengepul, meniup-niupnya sebentar, lalu memasukannya ke dalam mulut.
"Hhmmm ...," rasa manis dari ubi langsung menyebar ke seluruh bagian dalam mulut Sekar. "Alhamdulillah. Sudah lama aku tidak merasakan makanan seperti ini lagi," gumamnya senang.
"Assalamualaikum," Sekar menoleh ke pintu depan yang ia biarkan terbuka lebar. Senyumnya merekah, tatkala Dino berdiri di ambang pintu rumah seraya membawa bungkusan plastik. Pria itu mengayun-ayunkan plastik tersebut ke arah Sekar. "Sudah hampir sore, kau pasti belum makan," katanya.
Sekar bergegas melangkah menghampiri Dino. "Mas Dino, kok tahu kalau aku pulang?" tanya Sekar setelah mencium tangan pria itu.
"Bagaimana aku tidak tahu, kalau semua tetangga yang kau lewati, disinggahi satu persatu," jawabnya jenaka.
Sekar tertawa kecil. "Aku tidak bisa menolak panggilan mereka,"
"Ya sudah, ambil piring sana, kita makan dulu!" titahnya pada Sekar. Tanpa diminta dua kali, Sekar segera mengambil dua buah mangkok kosong, air minum dan juga sepiring rendang. Tak lupa, ubi dan singkong pun dibawanya.
"Ini mau kau makan semua?" tanya Dino heran.
"Berdua sama Mas," jawabnya terkekeh.
Dino menggeleng-gelengkan kepalanya. Aroma bakso malang langsung menguar ketika Sekar menuangkannya ke dalam mangkok. Membuat perut gadis itu seketika bergemuruh kencang. Maklum, tenaganya habis setelah hampir seharian membereskan rumah seorang diri.
Dino yang mendengar suara gemuruh perut Sekar, kontan tertawa keras. "Sudah tidak makan berapa lama kamu?"
"Tenagaku habis terkuras setelah membersihkan rumah, tahu!" seru Sekar dengan ekspresi judes yang dibuat-buat. Mereka pun tertawa, sebelum kemudian Dino mempersilakannya makan.
"Kamu akan lama di sini?" tanya Dino di sela-sela makan mereka. Jujur saja, Dino sedikit curiga padanya karena kembali ke sini dengan membawa seluruh barang-barang yang dia miliki. Dino mengetahui hal tersebut dari para tetangga yang ditemui Sekar.
"Iya. Aku dipindahkan ke gedung baru. Gedung itu belum selesai dibangun. Jadi, sembari menunggu aku diperbolehkan cuti dulu." Jawab Sekar santai.
Dino terdiam sejenak. "Tumben sekali ada Perusahaan seperti itu. Biasanya, sembari menunggu karyawan tetap diperkenankan bekerja di gedung yang lama."
Mendengar perkataan Dino, Sekar menelan baksonya dengan susah payah. Pria itu memang sangat sulit sekali ditipu daya olehnya.
"Itu kan Perusahaan lain, bukan Perusahaan tempatku bekerja. Kalau di sana, seperti itu peraturannya." Sekar mencoba memberikan jawaban yang meyakinkan pada Dino.
"Oh!" jawab Dino seraya mengangguk-anggukan kepalanya. "Baguslah, kau jadi bisa berlama-lama di sini," sambungnya.
"Mas sendiri, sudah tidak marah padaku?" tanya Sekar. Demi meluruskan segalanya, dia merasa harus membahas kerenggangan mereka juga.
"Siapa yang marah? Aku tidak marah," kilah Dino. Ekspresinya memang terlihat cuek, namun getaran pada pita suara Dino tidak dapat membohongi Sekar. Pria itu tersentil dengan yang dia ajukan.
"Mulutmu boleh mengatakan demikian, tapi tidak dengan tingkah lakumu, Mas. Aku sudah mengenalmu lama sekali ... ahh, tidak! Orang awam pun sadar jika diperlakukan demikian." Sekar menatap Dino serius.
__ADS_1
Dino meminum air putih yang Sekar sediakan, lalu menghembuskan napasnya dengan berat. "Maaf, tak seharusnya aku bersikap demikian. Sejujurnya, setelah pertengkaran kita di rumah sakit waktu itu, tidak pernah sekali pun aku bisa berhenti memikirkanmu. Rasa bersalah benar-benar membuatku terpenjara, namun egoku juga turut andil, Sekar. Maka dari itu, aku enggan menghadapimu."
Sekar tampak fokus mendengarkan penjelasan Dino.
"Tapi akhirnya aku sadar, tak bisa terus-terusan seperti ini. Meski bingung harus memulainya dari mana, aku berniat ingin meminta maaf padamu. Syukurlah, ternyata kau pulang ke rumah ini. Jadi aku memutuskan menemuimu." Dino menatap hamparan rumput di depan rumah Sekar yang sudah menjulang tinggi.
Sekar tersenyum lembut, lalu menyentuh ujung jari Dino. "Kita lupakan saja semuanya, ya?"
Melihat reaksi Sekar, pria itu tersenyum bahagia. Beban berat seolah terangkat dari pundaknya. Begitu pula dengan Sekar. Biar bagaimana pun, Dino termasuk orang spesial dihidupnya. Jadi sangat sulit bagi Sekar untuk bertengkar dengan Dino.
Setelah selesai makan, Sekar menghidangkan secangkir kopi hitam untuk Dino.
"Terima kasih," ucap Dino.
"Sama-sama." Sekar tersenyum, kemudian ikut duduk di samping pria itu. Mereka menikmati angin sore di pelataran kecil rumah Sekar.
Dino menyesap sedikit kopinya. "Sudah sangat sore, tidak perlu ke rumah sakit. Besok saja sekalian kita jemput Mbah. Kebetulan, ada orang yang menggadaikan mobilnya padaku. Jadi kita tidak perlu bersusah payah naik kendaraan umum."
"Tidak usah, Mas. Aku bisa sendiri," tolak Sekar buru-buru. Gadis itu tidak ingin merepotkan Dino lagi.
"Aku bukan ingin mengantarmu, melainkan menjemput Mbah. Jadi, jangan coba-coba melarang!" seru Dino galak.
"Aku sudah terlalu banyak merepotkan," gumam Sekar lirih.
"Kau tahu benar, aku tidak menyukai kata-katamu itu." Dino melirik Sekar yang duduk di sampingnya.
Sekar menggigit bibirnya. "Biasa saja." Jawab gadis itu singkat.
"Aku menonton acara peluncuran mobil Earlene Fe di televisi. Awalnya kupikir, aku salah lihat. Tetapi ternyata tidak. Pria yang ada di televisi, yang menjabat sebagai CEO tempatmu bekerja adalah Rion, bukan?" tanya Dino lagi, guna memastikan kebenarannya.
Sekar menghela napasnya terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan Dino. "Ya."
"Dari raut wajahmu, dan ingatan sewaktu kalian datang, sepertinya kau tidak mengetahui hal tersebut. Ada apa sebenarnya?" Dino tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Panjang ceritanya. Aku tidak ingin membicarakan hal itu dulu, Mas. Maaf," Sekar tertunduk lesu. Dia sibuk memilin jari-jari lentiknya.
Dino bergeming. Ia yakin telah terjadi sesuatu di antara keduanya. Semula Dino merasa tebakannya soal hubungan mereka mungkin saja meleset. Namun begitu melihat perubahan raut wajah Sekar, ia yakin sekali bahwa itu semua adalah benar.
Arion mungkin telah mempermainkan perasaan gadis itu!
Rasa kesal tiba-tiba mendera batin Dino. Tanpa sadar tangannya terkepal kuat. Andai saja Arion ada di hadapannya kini.
"Jika memungkinkan, berhentilah dari sana. Aku akan meminta Bapak menjadikanmu karyawan di pabriknya," ujar Dino kemudian.
"Tidak perlu, Mas. Aku tidak ingin ada ribut-ribut lagi." Sekar menatap Dino sendu. Sudah cukup dia dilabrak ibunda Dino karena kesalahpahaman, dulu. Beliau memang sangat membenci Sekar.
"Aku akan pasang badan bila Ibu mencoba melukaimu lagi!" seru Dino lantang.
__ADS_1
Sekar tersenyum kecil. "Kita bahas nanti lagi ya, Mas?" pintanya dengan wajah memelas.
"Ketahuilah, aku memang merasa bersalah karena sempat mengatakan hal-hal egois padamu waktu itu. Tetapi lain urusannya dengan Rion. Aku tak akan pernah tinggal diam, jika dia terbukti menyakitimu, Sekar!" tegas Dino.
Bibir Sekar kontan terkunci. Gadis itu tidak mampu membalas perkataan Dino.
...***...
Arion fokus membaca laporan perihal perkembangan lima pabrik yang tengah dibangun perusahaannya, di lima Kota besar. Salah satunya berada di wilayah tempat tinggal Sekar. Pabriknya bahkan hanya berjarak belasan kilometer dari rumah sakit tempat Mbah Bhanuwati dirawat.
Pria itu menyunggingkan senyumnya, kala mengingat perkataan dokter yang menangani Mbah Bhanuwati, bahwa beliau sudah diperbolehkan pulang besok. Dokter tersebut memang rutin mengabari kondisi Mbah Bhanuwati padanya hampir setiap hari. Tak lupa, Aiden pun turut membantu mengurus administrasi beliau.
Selesai memeriksa, Arion meletakkan kembali tabletnya di atas meja, lalu berdiri menghadap jendela kamar hotel yang terbuka. Kendati matanya fokus menatap hamparan Kota, tetapi pikirannya kini hanya tertuju pada seorang gadis.
Ia sama sekali belum mendapatkan kabar terbaru soal Sekar, selain kenyataan bahwa gadis itu benar-benar tidak kembali ke kantor.
Kalau saja para petinggi tidak sedang mengawasinya saat ini, ia pasti sudah pergi meninggalkan Aiden untuk mencari Sekar.
Arion mengambil ponselnya dan mencari kontak Sekar. Sekali lagi ia mencoba menghubungi gadis itu, walau tahu tidak akan pernah diangkat olehnya.
...***...
Sekar baru saja kembali dari kamar mandi dan bersiap untuk tidur. Namun ponselnya yang masih berada di dalam tas tiba-tiba berdering. Sekar baru ingat, seharian ini ponselnya sama sekali tidak tersentuh.
Sekar mengambil ponselnya dan memeriksa satu persatu panggilan dan pesan masuk. Ada banyak pesan masuk dari sahabat-sahabatnya, dan juga Dini. Ada juga beberapa panggilan masuk, termasuk dari Arion.
Sekar bergeming. Sudah beberapa hari ini Arion memang selalu meneleponnya.
Sebuah pesan baru dari Rani mengalihkan perhatian Sekar.
📩 Rani
Sudah dibuka belum kotaknya?
Ahh, ia hampir melupakan kotak yang diberikan Rani dan yang lain. Tanpa membalas pesannya terlebih dahulu, Sekar langsung mengambil benda itu di dalam tasnya.
Sekar membuka kotak tersebut dengan sangat hati-hati menggunakan gunting. Dibutuhkan sedikit perjuangan, sebab kotak tersebut dibungkus bubblewrap berlapis-lapis.
"Ya Allah!" pekik Sekar ketika mengetahui, bahwa isi dari kotak tersebut adalah sebuah ponsel pintar keluaran terbaru. Di antara mereka, memang hanya Sekar saja yang masih memiliki ponsel jenis lama. Itu pun pemberian dari Dino. Sekar bahkan tidak ikut masuk ke dalam group chat karena ponselnya tidak memadai.
Gadis itu menangis sesenggukan sekaligus marah pada sahabat-sahabatnya. Dengan cepat ia menelepon Rani menggunakan ponsel lamanya hanya untuk memaki-maki gadis itu.
Bukannya marah, Rani malah tertawa kecil. Dia berkata bahwa itu bukanlah idenya, melainkan ide Lastri. Ia juga meminta Sekar untuk tidak tersinggung atas pemberian mereka.
"Kami tahu, kau pun mampu membeli ponsel tersebut dari gajimu selama ini. Tetapi akan lebih baik, jika uang tersebut digunakan untuk hal yang lebih penting." Kata Rani. "Sudah, jangan menangis, ya? Jangan lupa, pindahkan kartu simcard milikmu, agar kita bisa melakukan video call," sambungnya dengan nada riang.
Sekar mengiyakan perkataan Rani sembari mengucapkan terima kasih berulang kali.
__ADS_1
Setelah selesai menelepon, Sekar terdiam sejenak. Ia masih nampak terkejut dengan kebaikan para sahabatnya. Dalam hati Sekar berjanji akan membalas kebaikan mereka berkali-kali lipat kelak.