
Arion mengalihkan pandangannya pada sebuah papan warning sign berwarna kuning yang terletak di lift sebelahnya.
"Saat kau datang, di mana papan ini berada?" tanya Arion pada si teknisi bernama Ando. Bisa jadi ini penyebab Sekar salah masuk lift.
"Sudah ada di sana sejak saya datang, Pak. Mungkin tergeser oleh seseorang," jawab Ando seraya mengeluarkan perkakas-perkakas yang diperlukan untuk membuka paksa pintu lift.
Arion menatap Aiden yang sama bingungnya. Hal itu memang bisa saja terjadi, tetapi bagi Arion tetap saja janggal. "Coba kau periksa CCTV," titah pria itu.
"Baik, Pak." Aiden beranjak dari tempat itu, sementara Arion masih tetap di sana. "Bapak mau ke mana?" tanya Ando yang heran melihat Arion malah menungguinya. Canggung juga rasanya dilihat pemimpin perusahaan saat bekerja.
"Saya akan menunggu di sini, tetapi jangan sampai gadis itu tahu." Ando menganggukan kepalanya dan kembali fokus membuka pintu lift. Dia tidak mau berspekulasi tentang seberapa pentingnya OG itu bagi sang CEO.
Ando kembali fokus.
Sekar hanya bisa menunggu sembari duduk di lantai. Gadis itu berusaha tidak panik guna menghindari hal yang tidak diinginkannya terjadi. Apa lagi tenaganya baru saja terkuras habis dan kini perutnya tengah kelaparan. Kepalanya juga mulai terasa pusing. Setidaknya, ia harus tetap sadar sampai berhasil keluar dari sana.
...***...
"Mbak Ningrum, Sekar ke mana, ya? Kok, dari tadi belum kelihatan." Ningsih yang sedang makan siang dengan karyawan lainnya, bertanya pada Ningrum, begitu melihat gadis itu tiba di ruang istirahat.
"Lah, mana aku tahu! Tadi dia turun duluan saat aku ke toilet." Jawab Ningrum cuek. Gadis itu melipir duduk bersama teman sekelompoknya di sisi lain ruangan.
"Dih, amit-amit!" seru Rani dengan raut wajah jijik.
Ningsih memandang Ningrum curiga. "Jangan-jangan Sekar habis dilabrak, dan sekarang dia sedang menangis seorang diri!" celetuknya tiba-tiba.
Raut wajah teman-teman Sekar yang mendengar celetukan Ningsih berubah khawatir. Bisa jadi yang ia katakan benar, mengingat Ningrum begitu membenci Sekar dan sering memberinya tugas-tugas rumit.
"Telepon saja, Ning," usul Jalu, salah seorang OB, yang juga teman Sekar.
"Sekar pasti meninggalkan ponselnya di loker. Dia tuh, melarang kita semua bawa ponsel sambil kerja! " ungkap Ningsih ketus seraya melirik Ningrum yang sedang memakan bekalnya sembari tertawa terbahak-bahak.
"Aku sumpahin keselek kamu!" geram Ningsih.
...***...
Beberapa karyawan kantor sudah mulai berhamburan keluar untuk istirahat makan siang. Mereka yang berpapasan dengan Arion kontan menundukan kepala, menyapa pria itu.
__ADS_1
Arion memilih memejamkan mata dan menulikan telinganya, saat beberapa di antara mereka mulai berbisik-bisik, perihal keberadaannya di depan lift bersama seorang teknisi. Tidak biasanya pemimpin mereka itu sampai ikut mengawasi.
Aiden datang beberapa saat kemudian. Pria itu membisikan sesuatu di telinga Arion, soal rekaman CCTV yang ada di tempat ini. Dari raut wajahnya, kentara sekali Aiden sangat berhati-hati menyampaikan hal tersebut.
Wajah Arion berubah dingin setelah mendengar penjelasan Aiden. "Cari tahu tentang orang itu," perintahnya kemudian.
"Baik, Pak." Aiden mengangguk. "Sudah waktunya makan siang, Anda ingin makan siang dulu atau tetap di sini?" tanyanya.
"Kau duluan saja, aku akan tetap di sini sampai pintu itu terbuka!" kata Arion tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu lift.
Aiden undur diri dari tempat itu. Rencananya setelah makan siang, ia akan langsung memeriksa file salah seorang karyawan yang sengaja menjebak Sekar.
Ando berusaha membuka pintu lift sembari berkomunikasi melalui HT dengan seniornya yang memperbaiki lift di lantai satu.
"Ada kendala tidak, Bang?" tanya Ando.
"Sepertinya, Ndo. Sebentar aku aka–" belum selesai seniornya berbicara, suara gemuruh terdengar dari dalam lift.
Teriakan Sekar sontak terdengar dari dalam sana.
Sekar yang baru saja bangkit dari duduknya seketika berteriak ketakutan, saat lift tiba-tiba bergerak cepat ke bawah. Kepala gadis itu bahkan sampai terbentur pegangan tangan yang terdapat di dalam sana, hingga menyebabkannya terluka.
Menurut Senior Ando, lift berhenti di tengah-tengah lantai satu dan basemen.
"Sekar, kau mendengarku?" Arion yang kini berada di lantai satu, berteriak memanggil Sekar. Pria itu tak peduli pada semua mata karyawan yang kini memandanginya penasaran.
"Sekar!" panggil Arion sekali lagi.
"Mas Rion," gumam Sekar. "Aku tidak apa-apa!" teriaknya.
Arion menghembuskan napas lega begitu mendengar teriakan kekasihnya tersebut.
Kedua teknisi, dibantu Arion dan beberapa karyawan laki-laki di sana berbondong-bondong membuka paksa pintu lift secara manual. Hantaman tadi rupanya membuat pintu itu sedikit terbuka.
Butuh sedikit usaha keras hingga akhirnya mereka berhasil membuka paksa. Dan seperti perkiraan si teknisi, lift yang ditempati Sekar memang sudah turun setengah. Sekar mau tak mau harus keluar dari sana dengan cara memanjat ke atas. Arion bergegas melepaskan jasnya dan merayap masuk ke dalam lift.
"Hei," Arion tersenyum simpul. Setengah tubuhnya berada di dalam lift yang Sekar tempati. Rupanya gadis itu tengah terduduk di lantai. Wajahnya terlihat sangat syok. Wajar saja karena dia baru terhempas sekitar enam meter dari tempatnya semula.
__ADS_1
Mata Arion memicing tajam ketika melihat darah segar mengalir di kening Sekar.
"Pegang tanganku," titah Arion. Sekar berdiri dan menghampiri tangan Arion dengan langkah terhuyung.
Pria itu dengan sigap menarik tangan Sekar guna membantunya naik dan keluar dari sana.
"Terima kasih," ucap Sekar yang berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun suara dan tubuhnya gemetaran.
"Kau berdarah," ujar Arion. Dia hendak menyentuh tangan Sekar, tetapi segera ditepis olehnya. Tatapan aneh para karyawan membuat Sekar canggung setengah mati. Mereka pasti keheranan melihat seorang karyawan level atas bisa begitu peduli pada gadis OG.
"Terima kasih semua," Sekar membungkukan diri pada semua orang yang ada di sana, sebelum berjalan tertatih meninggalkan kerumuman.
BRAK!
"Sekar!"
...***...
Bau obat-obatan menerpa indera penciuman Sekar, ketika ia membuka matanya.
Lastri, Ningsih dan Rani langsung menghampiri Sekar. Ningsih malah sudah menangis sesenggukan, sebab selain khawatir, sebagian dari dirinya juga merasa bersalah karena membiarkan Sekar bersama Ningrum seorang diri.
"Auu!" Sekar meringis saat mencoba menggerakan kakinya yang sudah terbalut gips.
"Berbaring saja dulu, Ar," Lastri membuka suaranya. Sekar menoleh ke sekeliling ruangan. Rupanya ada Arion yang sedang berbicara dengan seseorang di ambang pintu. Pria itu kemudian berterima kasih dan masuk ke dalam.
"Kau sudah bangun? Apa ada yang sakit?" tanyanya khawatir.
"Hanya pusing sedikit." Jawab Sekar.
"Kau mengalami gegar otak ringan. Pergelangan kakimu juga cedera. Kita akan pindah ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Arion berjalan mendekat dan memegang tangannya.
Sekar memelototi Arion. Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan Arion, tetapi tidak bisa. Ia memberi kode pada pria itu, bahwa ketiga temannya kini tengah memperhatikan mereka.
Arion menoleh. Sebuah senyum simpul terpatri di wajah tampannya.
Seolah tahu akan maksud dari tatapan Arion, Lastri lantas membuka suaranya. "Ini akan jadi rahasia kami bertiga. Iya, kan?" security wanita itu menyenggol lengan Ningsih dan Rani. Kedua gadis itu langsung mengangguk kaku.
__ADS_1