
Arion baru saja sampai di rumah Sekar ketika gadis itu hendak pergi bersama Dino. Duda tanpa anak itu berencana mengajak Sekar ke pasar malam yang berada di desa sebelah.
"Kita pergi bersama saja," usul Sekar. Ia tidak mungkin membatalkan ajakan Dino, atau meninggalkan Arion di rumahnya. Meski ia tahu hubungan mereka tidak begitu baik, tetapi itu lebih baik dari pada harus mengalahkan salah satunya.
"Kita bertiga?" tanya Dino. Pria itu terang-terangan menunjukan gestur tak nyamannya pada Sekar.
"Tidak. Terima kasih!" Arion menimpali gelagat Dino. "aku akan menunggu di sini saja," sambungnya.
Sekar bergeming. Hatinya pasti tidak akan tenang memikirkan Arion, jika pria itu tidak ikut pergi.
"Ikut saja. Tidak apa-apa ya, Mas?" pinta Sekar pada Dino.
"Tapi aku hanya ingin berdua denganmu," jawaban Dino yang tanpa basa-basi menimbulkan guratan kekesalan di wajah tampan Arion.
"Dia tak ingin pergi berdua denganmu!" sahut Arion dingin.
"Itu sebelum kau datang mengacaukan rencana yang kubuat!" timpal Dino tak mau kalah.
Mereka berdebat selama beberapa saat, sebelum Sekar yang tidak tahan akan kelakuan keduanya, menginterupsi. "Kalau kalian hanya ingin menghabiskan waktu dengan perdebatan tak penting ini, lebih baik aku tidur saja!" ketus gadis itu.
Dino dan Arion kontan terdiam. Kedua pria itu akhirnya menuruti permintaan Sekar untuk jalan ke pasar malam bertiga.
Di sepanjang perjalanan menuju pasar malam ada saja yang mereka perdebatan, dari mulai siapa yang berjalan di sisi Sekar, hingga siapa yang akan membelikannya makanan.
Pusing akan tingkah mereka, Sekar memilih meninggalkan keduanya dan berjalan seorang diri di depan
Sesampainya di pintu masuk pasar malam, Sekar tak sengaja berpapasan dengan Nimas. Selama bertetangga dengan Nimas, baru kali ini gadis itu merasakan kebahagiaan bertemu dengannya. Sebab, suasana di antara mereka bertiga pasti akan lebih hidup.
"Kau curang sekali mengajak dua pria tampan ini tanpaku!" tuding Nimas begitu berhadapan dengan Sekar.
"Mana aku tahu Mbak mau ke sini juga!" jawab Sekar sembari mendelik sinis. Senyum samar tapi tak lepas dari wajah gadis itu.
Nimas baru saja hendak membalas perkataan Sekar, tetapi sapaan Arion langsung mengalihkan fokusnya. Dengan gaya centil, gadis berusia 35 tahun itu menyandarkan kepalanya di lengan Arion.
"Mas Rion, dari pada jadi obat nyamuk, mending sama aku aja, yuk!" ajak Nimas.
"Eh! Kalau mau jalan berempat, Mbak sama aku. Biar adil!" protes Sekar.
__ADS_1
"Ihh, tidak sudi!" tanpa mengindahkan protes Sekar, Nimas menggandeng Arion masuk ke dalam pasar malam. Dino dan Sekar mau tak mau mengikuti mereka.
Sekar menghela napas pasrah. Biarlah Arion berdua-duaan dengan Nimas, yang penting ia tidak mendengar lagi celotehan pria itu dengan Dino. Kendari begitu, perasaan kesal tidak bisa Sekar hindari. Matanya tak luput menatap Arion yang tengah digoda oleh Nimas. Ia bahkan tak rela berpaling ke mana pun, demi memastikan keselamatan pria itu.
"Kau cemburu?" bisik Dino tiba-tiba.
Sekar yang menyadari tingkah kekanak-kanakannya sontak menjawab, "tidak. Aku hanya kesal pada Mbak Nimas yang selalu tak mau kalah!" seru gadis itu.
"Memang begitulah dia," tutur Dino sembari menatap Nimas dari belakang. Meski hatinya tertaut pada Sekar, bukan berarti ia membenci Nimas. Bagi Dino, Nimas adalah teman yang baik, dan ia akan selalu menganggapnya seperti itu. Soal kepribadian, gadis ceria itu hanya kelebihan energi saja.
"Entah mengapa, walau tingkahnya menyebalkan, aku tetap tak bisa membenci Mbak Nimas." Sekar tersenyum geli ketika melihat Nimas menarik tangan Arion masuk ke dalam stand permainan lempar bola Keduanya pun mengikuti mereka.
Dino tertawa. Ia merasa Sekar seperti baru saja membaca pikirannya.
"Kok, Mas tertawa?" tanya Sekar heran.
"Tidak apa-apa. Ayo, kita susul mereka," ajak Dino yang langsung mempercepat langkah kakinya.
Rupanya Nimas tengah meminta Arion agar dimenangkan sebuah boneka sebesar anak kecil di stand lempar bola.
Berbekal sepuluh buah bola berbagai macam warna, Arion mulai melempar satu persatu ke arah target yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Hadiah dapat dimenangkan jika bola tersebut sukses menjatuhkan target yang diinginkan.
Kali ini, gantian Arion yang tertawa sinis. Sebab tak ada satu pun dari lemparan Dino yang bahkan menyentuh benda bergerak itu.
"Aiihh, kalian sama saja!" cetus Sekar. Nimas mengangguk setuju. Keduanya malah kompak pergi meninggalkan pria-pria itu setelah menghabiskan dua sesi.
Keempatnya kemudian menghampiri stand lain sembari berburu camilan.
"Bukan seperti itu cara memegangnya," ujar Arion pada Dino yang sudah berkali-kali gagal menembak target.
Pria itu lalu menghampiri Dino dan mengajarkannya memegang senjata laras panjang mainan tersebut dengan benar.
"Sok tahu sekali kau!" Dino menepis tangan Arion yang hendak meraih senjatanya.
"Asal kau tahu saja, aku sering ikut kelas menembak. Jadi pengetahuanku bukan sok-sok'an, seperti yang kau maksud!" kata Arion menyombongkan diri.
"Cih!" ketus Dino. Kendati begitu, ia akhirnya mengalah dan membiarkan Arion mengarahkan senjatanya.
__ADS_1
Bang! Bang!
Nimas memekik kegirangan saat Dino berhasil menembak dua buah boneka berukuran lima puluh centimeter secara berurutan.
Kedua gadis itu menerima masing-masing boneka tersebut dengan senang hati.
"Terima kasih," ucap Sekar tulus. Matanya menatap kedua pria itu bergantian. Keempatnya pun kemudian makan malam di rumah makan padang sederhana, sebelum pulang ke rumah.
Dino yang rumahnya searah dengan Nimas, terpaksa harus berpisah di tengah jalan. Semula, pria itu ngotot ingin mengantar Sekar sampai rumah. Tetapi Nimas bersikeras mengajaknya langsung pulang karena waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Gadis itu mengaku takut jika harus pulang sendirian, dan terlalu lelah jika ikut mengantar Sekar terlebih dahulu.
"Terima kasih sudah mengajakku ke sana," ucap Arion seraya menggandeng tangan Sekar.
"Sama-sama. Kupikir kau tidak menyukai tempat-tempat seperti itu. Mall mewah pastinya jauh lebih menyenangkan, bukan?" ujar Sekar tersenyum.
"Dulu Bi Ida beberapa pernah mengajakku ke pasar malam. Meski tidak sama persis dengan tempat ini, tetapi rasanya sama menyenangkan." Terang Arion. Sekilas ia jadi membayangkan kenangan masa lalu
Sekar mengeratkan pelukannya pada boneka kelinci pemberian Dino dan Arion. Boneka tersebut memang bisa dibilang pemberian kedua pria itu, sebab, meski Dino yang menembak, tetapi Arion lah yang membayar pelurunya.
Lampu rumah Sekar sudah berubah temaram ketika mereka sampai di sana. Arion memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen, agar tidak mengganggu istirahat Bude Gayatri dan Mbah Bhanuwati.
"Lusa, aku akan ke sini pagi-pagi sekali. Jadi jangan pergi dengan Dino. Mengerti?" titah Arion. Pria itu tidak ingin kecolongan oleh Dino.
Sekar tersenyum kecil. "Iya." Jawabnya. Gadis itu lantas mencium tangan Arion dan berpesan padanya agar berhati-hati di jalan.
"Kabari juga kalau sudah sampai di rumah," sambungnya.
Arion mengangguk. Ia mengeratkan genggaman tangan Sekar dan dengan cepat mendaratkan bibirnya di kening gadis itu.
Bukannya mengelak, Sekar malah memejamkan matanya sejenak. Ada desir aneh yang hadir di relung hatinya. Namun Sekar lagi-lagi berusaha menampik. Ia hanya menganggap perasaan ini timbul karena kehadiran Arion saja, tidak lebih.
Sreek!
Suara daun yang bergesekan membuat Arion melepaskan ciumannya. Sekar lalu memandangi sebuah pohon besar yang berada di pinggir jalan. Sekilas, ia seperti melihat sekelebat bayangan di sana.
"Ada apa?" tanya Arion.
Sekar menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya perasaanku saja."
__ADS_1
Arion pun pamit dan masuk ke dalam mobil. Sekar tetap berada di sana sampai mobil Arion benar-benar menghilang dari pandangannya.
Seorang pria berjubah hitam dengan sigap menyembunyikan dirinya kembali, begitu mobil Arion lewat. Pria itu lalu mengeluarkan ponselnya dari saku jaket kulit yang ia kenakan, guna menelepon seseorang.