Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Mencari keberadaan Sekar


__ADS_3

Aiden menyerahkan sebuah buku catatan miliknya pada Arion. Buku itu merupakan catatan pribadi yang berisi tentang hal-hal penting, seperti jadwal meeting Arion dan sebagainya. Di sana juga lah Aiden mencatat nomor telepon para karyawan yang dikenal dekat dengan Sekar.


"Ini sudah semua?" tanya Arion memastikan. Matanya memicing, menatap sederetan nama yang di tulis Aiden, lalu membolak-balikkan kertasnya.


Aiden menganggukan kepalanya. "Sudah, Pak. Nona Sekar memang tidak memiliki banyak teman dekat."


"Baiklah, kau boleh pergi," Arion mengusir halus asisten pribadinya itu. Tanpa diminta dua kali Aiden membungkukkan badannya dan pergi dari kamar Arion.


Sepeninggal Aiden, pria itu langsung beringsut duduk di lantai kamarnya yang dilapisi permadani. Menggunakan telepon rumah yang terletak di atas nakas, Arion mulai menghubungi teman Sekar satu persatu, untuk menanyakan keberadaan gadis itu.


Pertama-tama ia menelepon Dimas, seorang office boy, yang merupakan satu-satunya pria di antara teman dekat Sekar.


Suara riuh langsung menyapa telinga Arion, begitu Dimas mengangkat teleponnya.


"Halo? Siapa nih?" tanya Dimas agak ketus. Pria itu sepertinya tengah kelelahan. Terdengar jelas dari suara napasnya yang tersengal-sengal.


Arion berdeham. "Ini benar dengan Dimas Satya?" tanyanya.


"Kan situ yang nelepon, masa situ juga yang nanya nama saya!" seru Dimas. Suara barang-barang jatuh disusul umpatan dari mulut pria itu, terdengar sampai ke telinga Arion.


Arion kontan menjauhkan teleponnya. "Sedang apa sih, ini anak?" batin pria itu jengkel.


"Dimas, saya tahu Sekar ada di situ. Iya, kan?" ujar Arion retoris. Dia sengaja memancing Dimas dengan kalimat tersebut. Sebab jika dia melontarkan pertanyaan biasa, bisa-bisa Dimas akan langsung menjawab, 'tidak ada'.


"Ha? Maksudnya?" tanya Dimas keheranan.


Arion mengernyitkan dahinya. "Sekar Ayu. Anda kenal, bukan?" Arion mencoba memastikan.


"Iya, kenal."


"Sekar di sana, kan?" tanya Arion sekali lagi.


Dimas bergeming sesaat. Dia tampaknya sedang mencerna baik-baik maksud dari perkataan orang asing tersebut.


Butuh waktu beberapa saat bagi Dimas untuk menyadari maksud orang itu. "Lah, ngapain Sekar di sini, Mas? Saya laki-laki, dia perempuan. Lagian saya tidak tahu dia tinggal di mana. Coba Masnya cari di rumah Sekar, sana!" Dimas buru-buru menepis tuduhan si penelepon.


"Baiklah. Terima kasih," tanpa menunggu jawaban dari Dimas, Arion segera menutup teleponnya.


Dimas menatap ponselnya kesal. Ia yang sedang sibuk membetulkan pipa tempat cuci piring, terpaksa mengangkat teleponnya, karena mengira itu merupakan telepon penting.

__ADS_1


"Nggak jelas!"


Arion melanjutkan pencariannya dengan menelepon Lastri, dan Ningsih. Namun tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Sekar. Bahkan Lastri malah balik bertanya. Karena setahu gadis itu, Sekar tinggal bersama ibu angkatnya (tidak seperti dengan Dimas, kali ini Arion menyebutkan identitasnya).


Kini hanya tersisa satu panggilan saja. Jika Arion masih tidak mendapatkan jawaban, maka dia akan langsung mendatangi kediaman mereka satu persatu dan memeriksanya sendiri. Ia yakin sekali, salah satu di antara mereka telah berani berbohong.


...***...


Rani tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar semua cerita Sekar perihal masalahnya dengan Arion. Sekar memang tidak menceritakan semua, hanya poin-poin pentingnya saja, termasuk soal kebohongan yang Arion lakukan selama ini.


Hanya pada Lastri lah, Sekar terbuka mengenai hubungannya dengan Arion, sesaat setelah gadis itu melihat langsung kedekatan mereka di Klinik.


Pantas saja, kalau diingat-ingat kantor tidak lagi menampilkan wajah Arion semenjak kehadiran Sekar. Jadi, wajar rasanya jika Sekar sampai tidak mengetahui bagaimana wajah pemimpin Umbara Corporation itu.


"Aku tidak bermaksud membela Pak Arion, tapi aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama, jika berada di posisinya," tukas Rani hati-hati.


"Selama ini, beliau hanya mengenal wanita yang melihat latar belakangnya saja. Tetapi setelah mengenalmu yang melihatnya sebagai pria biasa, tanpa sengaja dia menikmati itu. Aku yakin, Pak Arion sama sekali tidak menyadari, bahwa tindakan tersebut sebenarnya telah melukai hatimu, Sekar," sambung gadis itu.


Melihat Sekar merengut, Rani buru-buru menambahkan kalimatnya, "yah, walaupun apa yang beliau lakukan merupakan kesalahan. Tak seharusnya dia berbohong demi menyenangkan diri sendiri, tanpa memperdulikan perasaanmu,"


Sekar terdiam. Kendati pun yang dikatakan Rani adalah sebuah kebenaran, tetap saja untuk saat ini dia sulit menerima. Kebencian Sekar pada sebuah kebohongan sudah sangat merekat.


Rani menghela napasnya. Memadamkan emosi seseorang yang tengah membara, sesulit mengarungi samudra. Pikirnya hiperbolis.


Rani menepuk tangan Sekar. Baru saja ia hendak bicara lagi, suara dering ponsel miliknya yang tergeletak di ruang tamu berbunyi keras.


"Aku angkat telepon dulu, ya?" Rani bangkit dari kursi dan masuk ke dalam rumah.


"Siapa ini?" batin gadis itu saat mendapati sebuah nomor asing tertera di layar ponsel. Takut itu adalah panggilan penting, dia segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum," sahut Rani.


"Waalaikumsalam. Ini dengan Rani?" suara seorang pria terdengar dari sana.


"Iya, ini Rani. Maaf, dengan siapa saya bicara?" tanya gadis itu penuh kesopanan.


"Tolong kecilkan suaramu dan jangan sebut nama saya," pinta pria itu. "Saya Arion. Bisa minta waktunya sebentar?" sambungnya.


Mengetahui identitas si penelepon, Rani kontan gemetaran. "Pak A–"

__ADS_1


"Ssst! Jangan sebut nama saya!" seru Arion jengkel.


Rani menggumamkan kata maaf, sebelum akhirnya menenangkan diri dan bertanya dengan suara pelan, "ada apa, Pak? Bapak tahu nomor saya dari mana?"


Menyadari pertanyaannya yang bodoh, Rani langsung menggigit bibirnya. Tentu saja bosnya itu pasti tahu semua identitas para karyawan.


"Aku tahu, Sekar sedang bersamamu," dia menggunakan kalimat yang sama, di awal pembicaraan.


"Kok, Bapak tahu?" ujar Rani tanpa pikir panjang. Ia sama sekali tidak kepikiran, bahwa Sekar, mungkin juga sedang menghindari telepon pria itu.


Arion menghela napas lega. Akhirnya ia tahu keberadaan Sekar. "Jangan katakan padanya soal telepon ini. Dan tolong, jaga dia, aku akan datang nanti,"


Mendengar nada suara Arion yang berubah, membuat Rani kontan mengiyakannya.


Setelah Arion menutup teleponnya, gadis itu bergeming sesaat. "Aku salah ngomong nggak, ya?" gumamnya pelan.


...***...


Erlina yang sedang asyik berkumpul bersama teman-teman sosialitanya, sedikit terganggu dengan kedatangan Jane yang tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Erlina. Jane melirik ke arah teman-teman Erlina terlebih dahulu, sebelum membisikan sesuatu di telinga bosnya itu.


"APA?" teriak Erlina begitu mendengar bisikan Jane. Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung berpamitan pada teman-teman wanitanya.


"Ada apa, Sis?" tanya Danisa, istri seorang Bupati, yang selalu berpenampilan glamour dengan sederet emas di setiap jengkal tubuhnya.


"A–aah tidak apa-apa, Sis, aku hanya harus pulang, karena ada tamu penting yang akan datang," kilah Erlina. "kalau begitu, aku permisi ya, semua," lanjutnya.


Erlina melangkah cepat menuju ke mobil. Sesampainya di dalam mobil, wanita itu berteriak-teriak histeris, mengeluarkan semua kata-kata kasar seraya memukul-mukul jok depan.


"B4jingan kau, Ariooon!"


...***...


"Siapa, Ran?" tanya Sekar saat Rani keluar dari dalam rumah dan kembali duduk bersamanya di teras.


Gadis itu berdeham sejenak demi menghilangkan kegugupannya. "Teman Ibuku. Beliau memang rutin menelepon."


"Oh," jawab Sekar singkat.

__ADS_1


Suara kentungan penjual mie tektek terdengar nyaring di depan rumah Rani. "Kita makan dulu, Sekar," tanpa menunggu jawaban sahabatnya, Rani buru-buru menghampiri si penjual. Rumahnya yang tidak memiliki pagar, memudahkan Rani memanggil setiap penjual makanan yang lewat.


__ADS_2