
Lampu blitz dari kamera para awak media memenuhi seisi aula ketika Daniel, CFO Umbara, memberi sambutan dan salam pembuka. Arion memang meminta kakak sepupunya itu turut andil di dalamnya. Sementara para jajaran petinggi Umbara Corporation yang lain berbaur dengan tamu-tamu undangan.
"Tanpa berlama-lama lagi, mari kita sambut Tuan Arion Raditya Umbara, selaku CEO sekaligus Pemimpin proyek Earlene ini." Tepuk tangan para tamu dan awak media kontan bergema.
Arion berjalan keluar dari belakang panggung dengan gagah. Ia berhenti tepat di sebelah Daniel. Begitu mereka bersalaman dan saling berpelukan, Daniel meninggalkan panggung.
Arion berdeham guna meminimalisir kegugupannya. Maklum, ini adalah kali pertama ia tampil secara langsung di televisi. Jadi semaksimal mungkin ia harus bisa menguasai acara ini dengan baik hingga selesai.
"Tanpa berlama-lama lagi, sekarang mari kita sambut sebuah terobosan baru dari Umbara Corporation. Mobil pintar keluaran terbaru dengan teknologi self rescue." Layar raksasa yang berada di belakang Arion membelah dua, memperlihatkan satu buah unit mobil SUV dengan nama Earlene Fe, terparkir di atas panggung.
Arion sengaja menamai mobil tersebut sama dengan AI-nya, sebagai bentuk penghargaan secara pribadi terhadap mendiang istri Danu.
Arion berjalan menghampiri mobil tersebut dan mengelusnya ringan. "Ini adalah mobil SUV pertama yang memiliki teknologi self rescue," kata Arion sembari menjentikan jarinya.
Sebuah tabung seukuran manusia keluar dari bawah panggung. Di dalam tabung tersebut terdapat sesosok robot hologram, Earlene, yang sedang 'tertidur'.
Arion mengambil remote kecil dari dalam saku jasnya dan menekan salah satu tombol di sana.
Earlene segera membuka matanya. "Halo, perkenalkan saya adalah Earlene, yang akan memandu perjalanan Anda dan keluarga agar tetap aman dan terkendali. Adakah yang bisa saya bantu?"
Tepuk tangan para tamu kontan memenuhi aula.
"Earlene adalah sebuah teknologi kecerdasan buatan yang disematkan pada mobil keluaran terbaru kami, guna meminimalisir kecelakaan. Dia bisa mendeteksi getaran tidak normal yang terjadi pada mobil, beberapa saat sebelum kecelakaan terjadi." Kata Arion mengawali pembicaraan. "Namun, jikalau kecelakaan tidak dapat dihindari, sistem Earlene tanpa membuang-buang waktu akan langsung memindai kondisi tubuh para penumpang dengan sangat akurat. Jika mobil masih dalam keadaan baik, tetapi kondisi penumpang harus segera mendapatkan tindakan, maka Earlene otomatis akan langsung mengambil alih kemudi dan pergi ke rumah sakit terdekat. Bersamaan dengan itu, ia juga akan menghubungi kantor polisi terdekat."
"Lalu bagaimana dengan olah TKP jika mobil pergi begitu saja? Dan apa yang bisa mobil itu lakukan ketika sampai di rumah sakit, sementara para pengemudi dalam keadaan tidak sadarkan diri?" Arion membuka suaranya lagi, saat melihat para tamu undangan saling berkasak-kusuk.
Arion menekan salah satu tombol lain pada remote yang ia pegang. Gambar ilustrasi saat Earlene memindai kondisi tubuh para penumpang dan mencatatnya ke dalam sistem, terpampang jelas di salah satu layar monitor. "Sesampainya di rumah sakit, para petugas medis, dipandu oleh Earlene, hanya harus menyentuh tombol yang berada di dashboard mobil. Sebuah layar hologram akan keluar dan menampilkan seluruh data perihal kondisi para penumpang." Jelasnya.
"Ini juga sangat berguna bagi pengendara yang memiliki riwayat penyakit dan suka berpergian sendiri." Arion terdiam sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Sementara untuk olah TKP, Earlene akan merekam setiap detail kejadian dengan sangat akurat, lalu mengirimkannya ke dalam databese kepolisian." Arion mengalihkan pandangannya ke para tamu undangan.
"Agar lebih mudah memahami, kami akan mempraktekannya secara langsung." Arion mundur dua langkah dan menekan tombol lagi. Layar besar yang semula membelah kembali tertutup.
__ADS_1
Layar kini menampilkan rekaman siaran langsung di luar gedung Umbara Corporation. Danu, sang penggagas proyek Earlene, dari sana menjelaskan sekali lagi secara singkat mengenai cara kerja mobil pintar tersebut, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil untuk uji coba.
Perlahan-lahan Danu menjalankan mobilnya keluar dari gedung utama. Pria itu berniat mengelilingi komplek perkantoran.
Semua mata memperhatikan dengan seksama, bagaimana mobil Earlene memberi peringatan dan melakukan pengereman sendiri, ketika pria itu mencoba mendekati salah satu tembok gedung. Tepuk tangan para tamu undangan kembali bergemuruh.
"Kali ini saya akan menguji coba cara kerja Earlene ketika terjadi tabrakan." Danu menghubungi seseorang melalui HT yang ia bawa. Rencananya, Danu akan ditabrak oleh mobil lain dari belakang. Hanya sebuah tabrakan kecil.
Layar monitor berubah hitam sejenak, sebelum akhirnya mobil yang Danu kendarai terlihat muncul di tikungan. Tetapi, tak seperti yang mereka rencanakan, mobil tiba-tiba saja oleng ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan tinggi.
Semua tamu undangan kontan berteriak ketakutan saat mobil kemudian menabrak trotoar, dan terus melaju menabrak beberapa tiang listrik hingga terguling di tengah jalan.
Suasana hening seketika. Arion yang turut menyaksikan kejadian tersebut segera menghubungi Danu melalui HT yang diberikan salah satu kru.
"Apa yang terjadi?" tanya salah seorang wartawan. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
Salah seorang anggota dewan berdiri dari kursinya. "Apa ini uji coba yang kalian maksud? Kalau iya, kalian sungguh membahayakan nyawa seseorang!" hardiknya.
"Apa ini kesalahan? Kalau tidak, mengapa harus mengambil resiko sebesar ini? Kalian bisa menggunakan boneka, alih-alih manusia hidup!" sahut tamu undangan lainnya, seorang artis senior wanita, yang kini juga menjadi salah satu anggota dewan.
Beberapa tamu undangan bahkan sudah mulai beranjak dari tempat duduk mereka menuju pintu keluar. Para karyawan dan anggota tim Earlene segera memblokir pintu.
"Minggir! Saya datang jauh-jauh kemari bukan untuk melihat acara berbahaya seperti ini!" hardik Wakil Gubernur Daerah yang langsung disetujui tamu lainnya.
"Bapak, Ibu, tolong lihat dulu sampai akhir," pinta Grace, anggota tim Earlene.
"Apanya yang harus kami lihat lagi? Cara Earlene memindai tubuh korban secara nyata? Jangan gila kalian!" kali ini, seorang istri kepala daerah berpenampilan glamour mengeluarkan suaranya.
Melihat kegaduhan di depan pintu keluar, Arion hanya bisa bergeming. Tampaknya, dia sedang menunggu sesuatu.
"Mampus kau!" gumam Erlina sinis. Bayangan akan hujatan-hujatan yang ditujukan oleh masyarakat untuk Umbara Corporation, membuat Erlina tertawa puas. Wanita itu berusaha sekuat tenaga agar tidak terbahak-bahak.
Sementara Adhisty hanya bisa menatap Arion dengan pandangan yang sulit dibaca.
__ADS_1
...***...
Sekar baru saja tiba di depan kantor. Gadis itu segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung kantor, setelah menunjukan id card-nya.
Sekar mendadak berhenti di depan lift, ketika matanya tak sengaja menatap layar monitor kecil yang ada di sana. Raut wajahnya sangat terkejut, melihat Arion benar-benar tampil di layar kaca. Namun, bukan itu penyebab utama Sekar terkejut, melainkan tulisan yang terpampang jelas di layar:
Arion Raditya Umbara (CEO Umbara Corporation).
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk semua kakak-kakak yang sudi membaca sampai bab ini.
Untuk bab ini, saya akui sangat berat, karena saya harus menjabarkan bagaimana proyek Earlene. Tolong jangan terlalu berekspetasi tinggi ya, kakak-kakak. Saya benar-benar buta teknologi, jadi saya harap tidak ada pertanyaan soal proyek Earlene, sebab semua hanyalah karangan belaka dari otak saya yang pas-pasan. 🙏
DAN BAB INI MASIH AKAN SAYA REVISI LAGI. Jadi jika ditemukan kesalahan, harap maklum.😁🙏
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan like, komen, dan gift-giftnya. Satu saja jejak yang ditinggalkan, akan sangat berarti buat saya.
Terima kasih, 🤗