
Sekar baru sampai di klinik pukul lima pagi. Gadis itu meminta supir travel untuk mengantarnya langsung ke sana agar tidak memakan waktu. Lagi pula, jika dia pulang ke rumah terlebih dahulu, pasti tak akan ada siapa pun di sana, mengingat Bude Gayatri sedang menemani Mbah Bhanuwati. Dengan langkah tergesa-gesa Sekar masuk ke dalam klinik menuju ruangan Melati, tempat mbahnya dirawat. Sudah ada Dino yang menunggu di depan kamar beliau.
"Mas," panggil Sekar. Suara gadis itu sedikit serak karena terlalu banyak menangis. Dino yang sedang bersandar di dinding seraya melipat tangannya kontan menoleh dan menghampiri Sekar.
Sekar mencium tangan Dino dan bertanya, "Mbah mana?"
"Di dalam. Ada Bude juga yang menemani." Jawab Dino.
"Keadaan Mbah gimana, Mas?" tanya Sekar. Mata gadis itu kembali basah. Raut wajahnya jelas menyiratkan kekhawatiran.
"Sudah lebih baik. Mbah mengalami stroke ringan di wajah dan tubuh bagian kirinya, tetapi karena Mbah sudah tua, meski ringan tetap harus diwaspadai." Dino mulai menjelaskan. "Dokter bilang, Mbah harus dibawa ke rumah sakit besar agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih intensif." Sambung duda tanpa anak itu.
"Ya sudah, temani mereka sana. Aku akan pulang dulu sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Kabari aku kalau ada apa-apa, ya?" Dino menepuk kepala Sekar guna menenangkan gadis itu. "Kau harus kuat. Ingat, sudah saatnya kau yang harus meletakan mereka di pundakmu." Dino menatap Sekar dalam-dalam. Sejumput kerinduan hadir kala matanya menelisik wajah teman kecilnya, yang kini menempati relung hati pria itu.
Entah karena sudah lama tidak bertemu atau bukan, Sekar terlihat semakin cantik.
Sekar mengangguk patuh. Tak lupa ia berterima kasih pada Dino dan berpesan agar jangan terlalu merepotkan diri. Biar bagaimanapun gadis itu tidak mau orang tua Dino sampai berpikiran macam-macam terhadapnya.
Setelah Dino pergi, Sekar masuk ke dalam ruangan Mbah Bhanuwati.
"Ya Allah, Sekar!" seru sang bude dengan suara tertahan. Wanita paruh baya itu sontak memeluk keponakan satu-satunya seerat mungkin. Tangis keduanya langsung pecah. Maklum, selama bekerja Sekar sama sekali belum pernah pulang ke rumah. Ia mengakui kesalahannya yang terlalu fokus mencari uang.
"Maaf, Bude, Sekar baru bisa pulang." Gadis itu menangis tersedu-sedu.
Bude Gayatri melepas pelukannya dan menghapus air mata Sekar. "Tidak apa-apa, Nduk, tidak apa-apa."
"Aku sudah mendengar semuanya dari Mas Dino. Jadi Mbah kapan dipindahkan, Bude?" tanya Sekar kemudian. Matanya menoleh ke arah sang nenek yang tampak terlelap di ranjang.
Gadis itu kemudian menghampiri sang nenek dan mencium keningnya lembut. "Sekar pulang, Mbah," bisiknya lembut.
Bude Gayatri terdiam.
__ADS_1
Mendengar tak ada sahutan sama sekali dari budenya, Sekar berdiri. "Kenapa, Bude?"
"Sebaiknya kita bawa pulang Mbah dulu, Nduk." Bude Gayatri menatap sang keponakan sendu. "Bude kemarin sore sudah bertemu Pak RT untuk meminta tolong dibuatkan KIS, katanya waktu yang dibutuhkan paling cepat lima hari. Maka dari itu, selagi menunggu kartunya selesai dibuat, lebih baik Mbah kita bawa pulang saja agar sedikit mengurangi biaya." Terang budenya panjang lebar.
Sekar otomatis menggeleng keras. Sudah cukup pengobatan alzheimer sang nenek dihentikan, Sekar tidak ingin mengulangi hal yang sama untuk stroke-nya.
"Aku membawa semua tabunganku, Bude. Bahkan kalau kurang pun, aku akan berusaha mencari pinjaman. Yang penting kita akan menunggu di sini. Mbah tidak boleh dibawa pulang!" serunya tegas.
"Tapi, Nduk ...,"
Sekar menggenggam tangan budenya. "Bude tidak usah khawatir, ada Sekar di sini. Biar Sekar yang mengurus semuanya, ya?" ucap gadis itu penuh keyakinan.
Bude Gayatri menghapus air matanya yang kembali mengalir. Sekar menghapus air mata sang bude. Ia berjanji dalam hati, bahwa kali ini mbahnya harus mendapatkan perawatan yang seharusnya.
...***...
"Beliau dirawat di salah satu klinik kecil. Dokter sudah merujuknya ke rumah sakit besar, namun karena terkendala biaya, Nona Sekar akan memindahkan Beliau begitu Kartu Jaminan Kesehatan selesai dibuat." Aiden menerangkan semua informasi yang ia dapat dari orang suruhannya, kepada Arion.
...***...
Menjelang siang hari Sekar mendapat kabar bahwa Mbah Bhanuwati akan segera dipindahkan ke rumah sakit di Kota, hari ini juga.
Pihak rumah sakit menjelaskan jika Mbah Bhanuwati telah mendapatkan donatur. Kebetulan Kepala rumah sakit yang akan dijadikan rujukan, mengenal baik salah satu dokter di klinik ini. Beliau menawarkan bantuan untuk mengajukan proposal Mbah Bhanuwati ke salah seorang donatur tetap di rumah sakit tersebut.
Beruntung, tidak sampai sehari proposal tersebut disetujui.
Sekar berkali-kali menanyakan kebenarannya. Ia masih belum mempercayai sepenuhnya kabar mendadak ini.
"Benar, Mbak. Kalian tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Kalian hanya butuh mempersiapkan diri saja. Semua pengobatan akan ditanggung oleh sang donatur, termasuk penyakit alzheimer Mbah Bhanuwati."
Sekar kontan mengucap syukur. Mulut gadis itu tak henti-hentinya memuji sang Pencipta. Padahal ia baru saja ingin mengajukan pinjaman di tempat kerjanya untuk berjaga-jaga, namun Allah menunjukan Kemurahan hati-Nya.
__ADS_1
Sayang, Sekar tidak bisa menemui donatur mbahnya secara langsung karena terikat peraturan. Ia hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk donatur tersebut.
Tak ingin menunggu lama, Sekar segera mengurus administrasi di sini dan mengurus kepindahan beliau. Tak lupa ia menelepon Dino untuk memberitahukan kabar tersebut.
Beberapa saat kemudian, Mbah Bhanuwati dipindahkan ke dalam ambulance. Tepat ketika ambulance akan berangkat, Arion tiba di klinik seorang diri menggunakan taksi. Arion menyuruh Aiden untuk singgah di hotel agar Sekar tidak menaruh curiga. Gadis itu pasti akan bertanya-tanya jika melihat CEO-nya ikut datang bersamanya.
"Mbah bagaimana? Ini mau dibawa ke mana?" tanya Arion tatkala melihat Sekar bersiap pergi dengan ambulance.
"Mbah mau dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, Mas. Syukur alhamdulillah, ada donatur yang mau menanggung penuh biaya pengobatan Mbah di rumah sakit." Sekar menerangkan singkat pada Arion.
"Syukurlah," ucap Arion lega.
Melihat ada seorang pria asing datang, Bude Gayatri berjalan menghampiri keduanya.
Sekar yang melihat sang bude segera memperkenalkan Arion. "Bude, ini Mas Rion," ujar Sekar. Arion mencium tangan Bude Gayatri dan turut memperkenalkan diri.
"Kalau boleh tahu, kamu siapanya Sekar, cah bagus?" tanya Bude Gayatri sembari mematri senyum simpul. Dari tampangnya, terlihat sekali Arion bukan berasal dari sini. Penampilannya pun terlihat mentereng, kendati hanya memakai kemeja biru yang di gulung hingga siku dan celana bahan berwarna hitam.
"Saya ke–"
"Atasan Sekar, Bude," potong Sekar cepat. Arion menoleh dan memelototi dirinya.
Sekar memandang wajah Arion tajam, seolah mengancam akan mencakar-cakar wajah tampannya, jika Arion berani mengatakan hal sebenarnya.
Arion berdeham. "Saya atasan Sekar di kantor." Untuk saat ini lebih baik ia mengalah.
Bude menganggukan kepalanya. "Sudah waktunya berangkat, Bu," seorang perawat menginterupsi obrolan singkat mereka.
"Aku ikut Mbah ya, Mas?"
Arion mengangguk. "Aku akan mengikuti dari belakang."
__ADS_1