Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Kecurigaan Aiden


__ADS_3

Sekar memasang wajah masam ketika sampai di depan rumah Bi Ida. Beberapa orang bodyguard suruhan Arion langsung memasukan semua barang-barang miliknya ke dalam rumah Bi Ida.


"Mbak, jangan manyun gitu, donk," ujar Dini seraya memasang tampang jenaka.


"Mana Masmu?" tanya Sekar jengkel.


"Lagi di jalan, Mbak, sebentar lagi juga sampai. Yuk, dari pada menunggu di luar, mending di dalam saja," ajak Dini sembari merangkul tangan Sekar dan menggiringnya masuk ke rumah.


Dini sebenarnya mengerti akan kekesalan Sekar. Yah, siapa juga yang tidak kesal kalau tiba-tiba harus dipaksa pindah ke rumah orang yang baru saja dikenal? Tetapi Dini juga tidak bisa menolak perintah Arion. Sebab bagaimanapun juga Arion adalah bosnya. Jadi, bila ia disuruh memihak, Dini tentu memilih berpihak pada Arion.


Toh, Dini pun merasa sangat senang Sekar bisa tinggal bersama mereka. Karena rumah begitu sepi semenjak kepergian sang Ayah beberapa tahun silam.


"Nona, kami sudah memindahkan seluruh barang-barang Nona Sekar ke kamar. Sekarang, kami permisi undur diri," salah seorang pria bertubuh atletis menghampiri kedua gadis itu.


"Terima kasih, Pak," ucap Dini.


"Sama-sama, Nona,"


Sepeninggal mereka, Sekar yang penasaran memberanikan diri bertanya pada Dini. "Mereka itu siapa sih, Din? Kok, pakaian bagus, tapi disuruh-suruh begitu?" tanya Sekar.


Dini bergeming. Gadis itu menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia sibuk memilah-milih perkataan yang tepat untuk dilontarkan.


"Aku merayu Pak Arion agar sudi meminjamkan bodyguard-bodyguardnya itu. Lumayan 'kan, kita jadi tidak perlu membayar tukang angkut," sahut Arion yang baru saja datang dan masuk ke dalam rumah.


Dini diam-diam bernapas lega. Setidaknya, ia tak harus menjawab pertanyaan Sekar.


Sekar menatap sinis Arion. Bukannya takut atau merasa bersalah, pria itu malah tertawa kecil.


"Kau ini menyalahgunakan kebaikan atasanmu, Mas! Aku tidak suka!" seru Sekar marah.


"Hanya kali ini. Tidak akan lagi. Aku janji," jawab Arion seraya berjalan melewati kedua gadis itu l, menuju kamar yang akan ditempati Sekar. Sekar dan Dini reflek mengikuti langkahnya.


Mata pria itu memandangi sekeliling kamar Sekar yang tampak sedikit kotor. Ia lalu membuka hordeng kamar tersebut agar sinar matahari dapat masuk. "Ayo," ucapnya begitu berbalik menatap kedua gadis itu.


"Ayo? Ayo apa?" tanya Dini.

__ADS_1


"Beres-beres." Jawab Arion yang langsung menggulung lengan kemejanya.


...***...


Dini benar-benar terperangah pada Arion hari ini. Bagaimana tidak! Pria itu dengan suka rela membantu dirinya dan Sekar merapikan kamar. Mulai dari menyapu, mengepel, membersihkan debu, mengganti hordeng, dan juga mengganti lampu. Bahkan, ia juga dengan senang hati memasang kawat nyamuk guna menutup ventilasi jendela kamar Sekar, agar gadis itu terbebas dari nyamuk pada malam hari.


Arion juga ngotot mengganti seluruh dinding kamar dengan wallpaper dinding berwarna pastel yang ia pasang sendiri


Dini tahu, Arion adalah anak yang mandiri. Meski ia terlahir di keluarga konglomerat, Arion tidak pernah keberatan membersihkan kamar atau kebun belakang rumahnya. Tetapi tetap saja Dini tidak terbiasa melihat itu. Terlebih, ia melakukannya bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk gadis yang dicintainya.


"Kekuatan cinta," kelakar Dini. Matanya melirik Arion yang sedang menandaskan minuman dinginnya.


Arion yang menyadari keisengan sang adik hanya bisa terdiam, pura-pura tidak mendengar.


Tak berapa lama, Bi Ida pulang ke rumah. Wanita itu membeli beberapa porsi sate ayam dan sop kambing untuk makan malam mereka. Sekar bergegas membawa makan tersebut ke dapur untuk dihidangkan.


"Terima kasih ya, nak Sekar," ujar Bi Ida ketika melihat Sekar dengan cekatan menata makanan-makanan tersebut di atas meja makan.


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena sudah diperbolehkan tinggal di sini, Bu," kata Sekar. "Pasti Mas Rion memaksa, ya? Maaf ya, Bu," sambung gadis itu seraya menunduk malu.


Sekar mengangkat kepalanya. "Kenapa Ibu mau mengajakku untuk tinggal di sini? Padahal kita baru saja kenal. Bagaimana kalau sebenarnya aku ini adalah orang jahat?" tanya Sekar dengan mimik wajah horor.


Bi Ida tersenyum lebar melihat kelucuan Sekar. "Jika kamu orang jahat, Arion tidak akan menyukaimu, Sekar,"


Sekar membelalakan matanya. Terkejut atas pernyataan Bi Ida. "Bagaimana–"


Belum selesai Sekar bertanya, Bi Ida sudah memotong dan berkata, "Tidak ada yang Ibu tidak tahu soal Rion."


Wanita itu merapatkan dirinya dan memeluk Sekar. "Sudah, jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Semoga kau kerasan tinggal di sini, ya?" ucapnya sembari menepuk-nepuk halus punggung Sekar.


Sekar mengangguk haru. Pelukan hangat yang diberikan Bi Ida mengingatkan Sekar pada mendiang kedua orang tuanya.


Sekar benar-benar merasa beruntung nekat merantau ke Jakarta dan mengenal Arion. Tuhan telah mempertemukannya dengan orang-orang sebaik mereka.


...***...

__ADS_1


Seorang pria berkacamata tampak serius mengutak-atik komputernya. Ia terlihat mengetik dan memecahkan beberapa kode rumit yang tertera pada layar komputer miliknya.


Aiden turut menyaksikan kelihaian pria kenalannya tersebut dengan seksama. Matanya enggan berpaling dari layar komputer, seolah akan hilang jika ia lengah sedikit saja.


"Done!" seru Jack, nama pria berkacamata tersebut, ketika mendapati sebuah alamat IP yang berhasil ia lacak.


"Dia mencoba menipuku dengan memakai alamat IP Luar Negeri, padahal di sini lah mereka berada," Jack mengetik sesuatu pada keyboardnya dan menekan enter.


Google earth pada layar komputer lain milik Jack, menampilkan gambar sebuah gudang di dalam pabrik yang sudah tidak terpakai. Letaknya masih berada di kawasan Jakarta. "Mereka pandai mengelabui kita dengan mengganti alamat IP beberapa waktu sekali. Jika tidak ingin kehilangan jejak, kau bisa memeriksanya saat ini juga," ujarnya pada Aiden.


Aiden mencatat baik-baik alamat pabrik tersebut. "Kalau begitu, aku pergi dulu," pamitnya.


"Ingat, Ei, ini bisa saja jebakan. Kau harus membawa beberapa orang bersamamu," Jack memperingatkan pria kaku tersebut.


Aiden mengangguk sebelum akhirnya keluar dari rumah Jack.


Begitu sampai di mobil, Aiden segera menghubungi beberapa orang suruhan Arion untuk menemaninya memeriksa pabrik kosong yang berada di perbatasan Jakarta. Pria itu sengaja tidak memberitahu Arion perihal penyelidikannya. Sebab ia ingin mencari bukti yang kongkret terlebih dahulu. Apa lagi orang yang ia curigai adalah calon keluarga Arion sendiri.


...***...


"B4ngs4t!" salah seorang Pria muda bertampang urakan sontak berdiri dari tempat duduknya. Saking paniknya, kursi yang ia duduki sampai terpelanting ke belakang.


Pria muda itu melempar puntung rokok yang masih menyala ke sembarang arah, lalu berteriak menyuruh teman-temannya untuk membereskan beberapa barang dan kabur dari sana.


"Laptop bawa semua, yang lain hancurin!" teriaknya memberi perintah.


"Bang Biyan ditelepon nggak, nih?" tanya salah seorang pria muda lain yang sibuk mencabut aliran listrik ke komputer mereka.


BRAK! BRAK!


Seorang gadis tomboy segera menghancurkan komputer-komputer yang tidak mereka bawa menggunakan palu hingga hancur berkeping-keping.


"Belakangan t0l0l, yang penting kabur dulu!"


"Si4l4n!"

__ADS_1


__ADS_2