Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Kunjungan


__ADS_3

Cuaca siang ini tidak begitu terik saat Arion dan Sekar tiba di tempat pemakaman kedua orang tua Arion. Sekar memang meminta Arion untuk menemaninya ke sana, sebelum ia pulang ke kampung halamannya.


Ia tahu dari Bu Ida dan Dini, bahwa kunjungan Arion ke makam kedua orang tuanya hanya bisa dihitung oleh jari saja. Walau mengerti akan hal tersebut, Sekar tetap tidak bisa membiarkan pria itu terus-terusan merasa trauma atas kematian mereka. Terlebih, dokter pribadinya sendiri meminta Arion untuk mulai berdamai dengan segala keadaan, sebab itulah salah satu pemicu yang memperparah kondisi kesehatannya.


Sekar meletakkan sebuket bunga Lily di atas makam kedua orang tua Arion. Ia pun duduk di atas kursi kecil yang terbuat dari marmer, dan mulai berdo'a. Arion turut melakukan hal yang sama dengan Sekar.


Dalam do'anya, pria itu tersadar bahwa selama ini dia jarang sekali bersujud di atas sajadah. Kesuksesan yang diraihnya, kebaikan orang-orang yang ada di sekelilingnya, sampai kehadiran Sekar dalam hidup pria itu, tak lain merupakan campur tangan atas kebaikan Sang Pencipta.


Meski terkadang ada saja hal pahit yang datang menerpa hidupnya, itu tak lebih dari sekedar ujian kecil di antara besarnya kebaikan yang telah ia dapatkan selama ini.


Arion menangis dalam setiap untaian do'a yang ia panjatkan pada Sang Khalik. Pria itu berjanji, mulai sekarang akan belajar untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Pria itu tersentak kala kedua tangan halus Sekar tiba-tiba mengusap lembut air mata yang mengalir di pipinya. Senyum tulus yang tersungging di wajah cantik gadis itu, memberikan kesejukan tersendiri pada diri Arion.


Ia mengambil tangan Sekar dan mengecupnya ringan. Pria itu kemudian memperkenalkan Sekar pada mendiang kedua orang tuanya.


"Ini adalah gadis yang aku cintai. Kuharap, kalian sama menyukainya, seperti aku," ujar Arion seraya memasang senyum simpul.


Sekar merasa terharu dan canggung. Ia lalu turut memperkenalkan dirinya sendiri. Mereka kemudian berbincang sedikit mengenai keseharian yang dilakukan Arion, dan bagaimana perkembangan perusahaan di bawah kepemimpinannya.


"Kalian tak perlu mengkhawatirkanku di sana. Aku akan selalu baik-baik saja," kata Arion saat mereka hendak pamit pulang.


Arion mengusap lembut batu nisan kedua orang tuanya sebelum pergi dari sana. Begitu pula dengan Sekar. Mereka kemudian bergandengan tangan menuju ke mobil.


"Aku ingin kau tetap di sini," pinta Arion tiba-tiba, saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Maksudmu?" tanya Sekar yang tidak mengerti arah pembicaraan Arion.

__ADS_1


"Sudah kubilang, kan, kalau tujuanku menyusulmu adalah untuk menjemputmu pulang ke sini? Ketika kau mengatakan, bahwa tempatmu di sana, tetapi mengapa kau malah menyetujui ajakan Mas Bayu untuk ikut ke Melbourne?" Arion menatap Sekar dalam-dalam. Nadanya yang semula lembut, kini terdengar sangat kesal di telinga Sekar.


"Kupikir, kita sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya. Aku ikut Mas Bayu karena beliau adalah satu-satunya keluarga terdekat yang aku miliki." Sekar mencoba memberi sedikit pengertian pada Arion.


"Sedangkan, Mas? Aku bukannya menganggapmu orang lain, bukan! Seharusnya kau paham maksudku, kan? Aku tak mungkin tinggal bersama seseorang yang bukan merupakan keluargaku," sambungnya cepat.


Arion menarik napasnya gusar. Pria itu sakit hati. Ia bahkan terang-terangan memperlihatkan raut kekesalannya pada Sekar.


Meski begitu, di lain sisi Arion merasa sangat gregetan. Gadis itu benar-benar tidak peka atau bagaimana, sih? Masa iya, dia mengajak Sekar untuk tinggal bersama tanpa adanya ikatan!


"Kakak sepupumu itu tidak akan kemari," ujar Arion kemudian.


"Sok tahu! Mas Bayu sudah menghubungiku, dan bilang kalau ia akan mengambil penerbangan besok siang." Sekar menyeringai, seolah tengah mengejek ketidaktahuan Arion.


"Tidak akan! Dia sudah membatalkan penerbangannya!" seru Arion tegas.


Sekar mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Ha?"


Sekar kontan terbelalak, begitu mendengar penuturan pria di sebelahnya itu.


"MAS!" raungan gadis itu terdengar sampai keluar mobil.


...***...


"Maaf, Mbak, Ibu Erlina tidak bersedia menerima tamu," ujar salah seorang sipir wanita pada Adhisty.


Adhisty mengangguk paham. Ia pun pergi meninggalkan rutan tempat Erlina mendekam, tanpa meninggalkan pesan atau apapun untuk sang ibu.

__ADS_1


Adhisty sama sekali tidak menyesali perbuatannya, meski kini ia harus dibenci oleh ibu kandungnya sendiri. Wanita itu justru seperti telah menemukan ketenangan, yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.


"Sehat-sehat, Ma. Aku mungkin tidak akan menemuimu dalam waktu yang lama," gumam Adhisty sembari terus melangkah pergi.


Berbekal sisa uang yang dimilikinya, Adhisty berniat untuk menghabiskan sisa hidupnya di tempat yang jauh dari sana. Baginya, Jakarta terlalu banyak menyimpan kenangan buruk, dan ia tak ingin memulai hidup barunya di kota itu


...***...


"Mbak Sekar kenapa, Mas?" tanya Dini saat mendapati raut wajah Sekar yang sepertinya sedang marah. Gadis itu langsung melangkah pergi menuju dapur, setelah menyapa Dini singkat.


"Ngambek." Jawab Arion tersenyum.


"Jahil banget, sih!" seru Dini terkikik.


Arion mengendikkan bahunya. "Mana, Ibu?" tanya pria itu.


"Baru mau otw," jawab Dini.


Sementara di dapur, Bu Ida menemui Sekar dan mengajak gadis itu untuk ikut berbelanja bahan makanan. Wanita paruh baya itu berdalih, kalau ada beberapa bahan makanan yang sudah habis.


Tanpa pikir panjang Sekar menerima ajakan Bu Ida. Dari pada harus di rumah seharian bersama Arion, lebih baik ia ikut ibunya saja.


"Mau ke mana, Bu?" tanya Arion yang sedang duduk santai di ruang tamu sembari menonton televisi. Matanya melirik Sekar yang berdiri di sebelah sang ibu. Gadis itu sama sekali enggan menatap Arion.


"Ibu dan Sekar mau berbelanja bahan makanan dulu, ya?"


Arion menganggukkan kepalanya. "Hati-hati,"

__ADS_1


Sekar sama sekali tidak menanggapi Arion. Gadis itu berjalan begitu saja tanpa berkata, apa-apa.


Keduanya pun pergi bersama dengan Lucas.


__ADS_2