Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Tragedi (Bude Gayatri dan Mbah Bhanuwati)


__ADS_3

Sepanjang pagi hingga siang ini, Sekar tampak sangat tidak bersemangat. Wajah gadis itu pun terlihat sedikit pucat. Teman-teman kerja Sekar yang berada di sana kerap menanyakan keadaannya. Banyu bahkan mengijinkan Sekar pulang, jika memang ia sedang sakit. Namun Sekar menolak. Ia memang tidak merasa sakit. Hatinya hanya merasa tidak nyaman saja.


"Kau yakin tidak apa-apa, Sekar? Kalau memang tidak ingin pulang, kau bisa istirahat saja siang ini. Biar aku dan Tyas yang memegang kendali." Tyas menatap Sekar khawatir. Gendis yang berada di sebelahnya menyetujui usulan Tyas.


"Tidak apa-apa. Aku benar baik-baik saja. Mungkin hanya butuh duduk sejenak." Gadis itu memghampiri sofa yang tersedia di depan dapur lalu duduk bersandar di sana.


Gendis hanya bisa saling bertatapan dengan Tyas. Mereka berharap Sekar memang sedang tidak sakit.


Drrt ... Drrt ...


Sekar mengambil ponselnya yang berada di kantong celana. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar ponsel.


"Siapa?" batin gadis itu.


"Halo," sapa Sekar begitu ia mengangkat teleponnya.


"Halo, selamat siang," suara berat seorang pria menjawab sapaan Sekar.


"Siang, Pak," Sekar dapat menebak, bahwa si penelepon merupakan pria dewasa.


"Apa benar ini keluarga dari Ibu Gayatri dan Ibu Bhanuwati?" tanya pria tersebut.


"Iya, benar." Jawab Sekar. Entah mengapa, jantungnya kini berdetak tiga kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.


Pria itu lalu kembali berbicara. Sekar mendengarkan dengan seksama, setiap kata yang keluar dari mulut si penelepon asing yang tidak dikenalnya itu.


Sedetik kemudian air mata sudah membanjiri wajah pucat Sekar. Ponsel yang berada di tangannya bahkan terlepas begitu saja ke lantai. Tanpa berkata apapun, Sekar berlari secepat mungkin keluar kedai. Teman-teman kerjanya yang melihat Sekar, berusaha mengejar gadis itu guna menanyakan hal yang terjadi.


Sekar tak memperdulikan mereka. Ia hanya terus berlari dan berlari. Tangisannya yang semula sesenggukan kini berubah histeris.


"Mbaaah! Budeee!" teriak gadis itu.


Arion yang baru datang ke kedai bersama Aiden dan beberapa karyawannya kontan terkejut, saat mendapati keributan kecil di depan sana.


Arion mengikuti arah pandang mereka. Dari kejauhan ia dapat melihat Sekar sedang berlarian hanya dengan satu alas kaki.


Belum sempat Arion bertanya, seseorang sudah menghampirinya. "Pak, Sekar, Pak!" dengan tangan gemetaran, Gendis memberikan ponsel Sekar yang terjatuh pada Arion. Lelehan air mata juga keluar dari netra gadis itu.


Arion lantas menerima ponsel tersebut. Sambungan telepon ternyata belum terputus.


"Halo,"

__ADS_1


Bak orang kesetanan, Sekar terus berlari sembari memberhentikan taksi-taksi yang lewat.


Setelah mendapatkan taksi dan mengatakan tujuannya, Sekar segera masuk ke dalam taksi tersebut.


"Mereka pasti baik-baik saja! Mereka pasti baik-baik saja! Mereka pasti baik-baik saja!" gumam Sekar. Pandangan mata gadis itu terlihat kosong.


"Kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan, bahwa Ibu Gayatri dan Ibu Bhanuwati mengalami kecelakaan. Saat ini mereka berdua sedang berada dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Harapan Bangsa."


Mendapat informasi demikian, Arion segera pergi menyusul Sekar.


Di dalam taksi, tangisan gadis itu kembali pecah. Ia berteriak-teriak histeris sembari menyebut nama kedua orang tercintanya. Rasa sesak yang mendera, membuat Sekar kontan memukul-mukul dadanya sendiri.


Sesampainya di rumah sakit, Sekar berlari masuk ke UGD demi menanyakan keberadaan keluarganya.


Seorang perawat menilik penampilan Sekar yang sangat berantakan dengan tatapan khawatir. Ia pun meminta Sekar untuk ikut dengannya.


Mereka berjalan menelusuri lorong sepi di bagian belakang rumah sakit, hingga sampai di depan sebuah ruangan. Sudah ada dua orang polisi yang menunggu Sekar di sana.


Jantung Sekar nyaris berhenti, begitu membaca papan nama ruangan yang ada di hadapannya. Ia pun segera dipapah masuk oleh salah seorang polisi.


Darah seakan terkuras habis dari wajah gadis itu, ketika dokter menunjukkan tempat di mana Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri terbaring.


"TIDAK MUNGKIN!" teriak Sekar histeris. Ia mengguncang keras kedua brankar tempat pembaringan kedua orang tercintanya, sembari memanggil-manggil nama mereka.


Arion sampai di UGD beberapa saat kemudian. Pria itu tak kalah terkejut, ketika perawat memberitahukan, bahwa Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia pun segera menyusul Sekar menuju Kamar Jenaz4h.


Dari jauh saja, Arion sudah dapat mendengar lolongan histeris Sekar. Matanya menatap sendu keadaan di dalam ruangan tersebut. Sekar nyaris saja tersungkur di lantai jika ia tidak buru-buru menangkapnya.


Menurut keterangan saksi mata di tempat kejadian, Bude Gayatri dan Mbah Bhanuwati baru saja turun dari becak, ketika sebuah mobil SUV keluaran lama menghantam keduanya dengan kecepatan tinggi. Mbah Bhanuwati ditemukan tak jauh dari tepi jalan, sedangkan Bude Gayatri terpental hingga sepuluh meter ke badan jalan.


Arion terhenyak setelah mendengar penjelasan tersebut, sebab setahu dirinya, Bude Gayatri dan Mbah Bhanuwati tidak pernah berani keluar dari pintu desa jika tidak didampingi Sekar.


"Kami akan segera menindaklanjuti laporan saudara. Ciri-ciri mobil tersangka juga sudah kami dapatkan, dan saat ini sedang dalam pengejaran."


Kabar duka cita tentang Bude Gayatri dan Mbah Bhanuwati kontan menggegerkan desa.


Dino yang mengetahui hal tersebut langsung datang ke rumah sakit tempat Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri disemayamkan.


Dokter menjelaskan penyebab kematian Bude Gayatri dan Mbah Bhanuwati, yaitu pecahnya t3ngkorak kepala akibat benturan keras di aspal. Bude Gayatri juga mengalami patah tulang leher.


Pihak kepolisian dan rumah sakit juga meminta ijin Sekar untuk melakukan otopsi guna memastikan lebih lanjut penyebab kematian mereka, sekaligus mencari petunjuk agar memudahkan pencarian pelaku. Tetapi Sekar tidak berkenan melakukannya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mereka merasakan sakit lagi," gumam Sekar pada Arion.


Arion mengangguk paham. Ia pun menawarkan diri untuk membantu para polisi dengan mengerahkan orang-orang suruhannya.


...***...


Davina masuk ke dalam kamar hotel dengan tubuh luar biasa gemetar. Wanita itu bergegas lari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya yang tampak pucat pasi.


"Aku tidak salah! Aku tidak salah! Aku tidak salah!" gumam wanita itu sembari terus mengosok-gosok kedua tangannya di bawah air mengalir hingga lecet.


Davina menatap pantulan dirinya di cermin. "Ini semua karena tingkah gadis itu. Jika saja dia tidak menggoda Arion, hal tersebut pasti tidak akan pernah menimpanya!" serunya meyakinkan diri.


"Ya, ini semua murni karena kesalahanmu sendiri, gadis kampung tak tahu diri!" tawa lantang tiba-tiba keluar dari mulut Davina. Ingatan akan kebersamaan Arion dan Sekar berseliweran memenuhi kepala wanita itu.


"Aarrrgghhh!" sejurus kemudian teriakan keras Davina bergema memenuhi seisi ruangan.


...***...


Keesokan harinya Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri dikebumikan tepat di sebelah makam kedua orang tua Sekar. Tak kuat menahan kesedihan, Sekar pingsan hingga tiga kali di dekapan Arion.


Arion pun akhirnya membopong Sekar kembali ke rumah, meski pemakaman belum selesai.


Para tetangga yang melihat kedatangan Arion bergegas membantunya meletakkan Sekar di kamar. Mereka sebenarnya menaruh perhatian pada Arion juga. Pria itu tampak sangat setia mendampingi Sekar. Ia bahkan mengurus semuanya dengan baik. Mulai dari pemulangan jenaz4h Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri, mengurus pemakaman, sampai menggelar tahlilan yang persiapannya dibantu oleh tetangga sekitar. Beberapa dari mereka bahkan menanyakan langsung hubungan keduanya pada Arion.


Arion hanya menganggukan kepalanya saja, saat beberapa ibu-ibu di sana berspekulasi, bahwa Arion adalah calon suami Sekar. Baginya, urusan itu tidak perlu terlalu dipusingkan, sebab fokusnya kini hanya pada Sekar.


Sementara itu, Aiden sibuk bekerja sama dengan pihak kepolisian guna mencari keberadaan pelaku.


...***...


Davina memeluk Erlina begitu tiba di apartemen wanita itu. Ia mengambil penerbangan pertama ke Jakarta demi menemui Erlina. Baginya kini, hanya Erlina yang dapat dipercaya.


"Aku sudah kehilangan akal, Ma! Ini semua salah Arion!" teriak Davina frustrasi, setelah selesai menceritakan semuanya.


Erlina berusaha menenangkan Davina yang tengah kalut. "Tenang, Sayang. Mama yakin kau tidak akan tertangkap. Kalaupun harus ada tersangka yang ditangkap, kita akan menumbalkan orang-orang bodoh itu!" janji Erlina merujuk pada anak buah bayarannya.


Sejujurnya, ia sangat terkejut begitu mengetahui tindakan Davina. Terlebih, ia melakukan hal tersebut tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu. Tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Fokus mereka sekarang adalah, bagaimana Davina bisa lolos dari kejaran polisi. Bila perlu, ia akan menumbalkan seluruh anak buahnya yang terlibat.


"Aku tidak mau masuk penjara, Ma!" seru Davina lantang. Sorot matanya diliputi ketakutan. Bayang-bayang akan jeruji besi setiap detik memenuhi isi kepalanya.


"Tidak, Sayang! Kau tidak akan masuk penjara! Mama berjanji!"

__ADS_1


Adhisty hanya bisa bersembunyi di balik pintu kamar. Matanya terbelalak lebar saat mendengar semua percakapan antara Davina dan sang ibu.


__ADS_2