
Pagi-pagi sekali Adhisty melajukan mobilnya secepat mungkin. Wanita itu sudah sangat tidak sabar untuk sampai ke tempat yang ia tuju. Adhisty sangat yakin, benda itu adalah satu-satunya bukti yang dapat menjerat Erlina, atas pembunuhan yang telah dilakukannya belasan tahun silam. Meski berarti, Adhisty juga harus mengorbankan diri sendiri, ia sama sekali tidak peduli, selama kebenaran dapat terungkap. Entah apa yang akan Erlina lakukan lagi, jika wanita itu berhasil lolos pada kasus Davina.
Adhisty memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah gedung berlantai tiga. Dia pun bergegas keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung. Beruntung, karena masih pagi suasana terlihat sangat sepi. Jadi Adhisty bisa langsung menghampiri petugas khusus yang bertanggung jawab.
Setelah mengikuti beberapa prosedur, petugas tersebut kemudian mengantar Adhisty ke dalam suatu ruangan.
"Silakan, Ibu." Setelah membantu membukakan kunci, petugas wanita berpenampilan rapi itu mempersilakan Adhisty mengambil alih, dan segera meninggalkan ruangan guna memberikan privasi padanya.
Sepeninggal sang petugas, Adhisty bergegas mengeluarkan sebuah kotak berukuran besar dan pipih lalu meletakkannya di lantai.
Kotak tersebut adalah safe deposit box miliknya. Wanita itu selalu menyimpan barang-barang berharganya di sana agar lebih aman dan terjaga. Ia langsung mengeluarkan semua surat-surat penting yang tersimpan di sana, sampai kotak tersebut kosong. Setelah kosong, ia mencoba mengetuk-ngetuk pelan dasar kotak SDB itu, kemudian menarik pengait kecil yang ada di ujung kotak dan mengangkatnya.
Benar saja apa yang ada diingatannya! Sebuah memory card kecil dan alat perekam suara tipe lama tersimpan apik di sana.
Kebiasaan Erlina yang selalu membawa bermacam-macam pria membuat Adhisty geram. Maka dari itu, ia menaruh alat perekam suara di mobil sang ibu hampir setiap hari, tak terkecuali pada hari nahas tersebut.
Ia ingat, setelah Erlina menabrak mobil Rossane, dalam keadaan syok Adhisty masih sempat mengambil memory card yang ada di dashcam mobil Erlina dan juga alat perekam suara miliknya.
Erlina memang sempat menanyakan keberadaan memory card tersebut, tetapi Adhisty lupa apa yang ia katakan pada sang ibu, hingga Erlina tidak mempermasalahkannya.
Adhisty mengambil kedua benda penting tersebut, lalu merapikan kembali semua barang-barang berharganya. Ia sudah bertekad untuk menyerahkan diri ke polisi. Namun, sebelum itu ia harus menemui Arion terlebih dahulu, karena setelah ia pergi ke kantor polisi, kesempatan untuk berbicara dengan Arion pasti tidak akan ada lagi.
Adhisty melihat jam tangannya. Masih ada waktu sampai jam keberangkatan tiba. Adhisty memasang senyum simpul. Beban berat yang selama ini dia pikul secara tak sadar, akhirnya bisa terangkat juga.
...***...
"Mbak," panggil Dini ketika melihat Sekar lagi-lagi melamun. Gadis itu pasti sedang memikirkan Arion. Kemarin Arion mengatakan bahwa Adhisty akan datang menemui pria itu di apartemennya.
Tadinya, Adhisty berniat ingin menemui Sekar juga. Namun, ia mengurungkan niat tersebut. Entah mengapa, Adhisty merasa tidak memiliki muka, berhadapan dengan Sekar.
Bu ida menghampiri Sekar dan mengambil pisau dari tangannya. Beliau khawatir Sekar tak sengaja melukai tangannya jika terus-terusan melamun.
"Lebih baik, kau tunggu di meja makan saja, ya? Biar Ibu yang masak. Dini dan Amanda sudah cukup membantu di dapur," titah Bi Ida sembari merangkul Sekar dan mendudukkannya di kursi makan.
__ADS_1
"Maaf ya, Bu," cicit Sekar sembari tertunduk malu. Sudah lebih dari dua kali ia kedapatan melamun.
"Tidak apa-apa, Sayang." Bu Ida tersenyum simpul. Ia mengelus lembut kepala Sekar sebelum kembali ke dapur.
Beberapa saat kemudian, berbagai macam hidangan telah siap di meja makan. Bayu dan Aiden ikut bergabung bersama mereka.
Melihat kegelisahan yang tergambar jelas di wajah gadis Arion itu, Aiden lantas berkata, "Anda tidak perlu khawatir, Nona."
Sekar terkesiap mendengar Aiden mengajaknya bicara. Gadis itu kemudian melempar senyum kecil. Benar juga kata Aiden, ia tak perlu mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti itu. Arion bukan tipe pria yang mudah tersulut emosi. Lagi pula, Adhisty tidak ada hubungannya sama sekali dengan perbuatan Davina, maupun Erlina. Namun, tetap saja ia tidak bisa menghilangkan perasaan gelisahnya.
...***...
Adhisty berdiri canggung di depan pintu apartemen yang ditinggali Arion. Wanita itu menarik napas panjang, sebelum menekan interkom yang ada di sana.
Tak lama kemudian, Arion membuka pintu apartemen. Wajahnya menelisik keadaan Adhisty yang tampak sangat berbeda. Tubuh kakak tirinya itu terlihat jauh lebih kurus. Wajahnya pun tidak sesegar biasanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arion tanpa perlu repot-repot menyembunyikan rasa khawatirnya.
Adhisty mengangguk. "Ya. " Mata wanita itu menatap Arion sendu. "Maaf, jika kedatanganku ke sini mengganggumu," ujarnya.
Begitu sampai di dalam, mata Adhisty langsung tertuju pada dua buah hidangan yang sepertinya baru selesai ditata di atas meja.
"Aku baru selesai memasak. Kau pasti lapar setelah melakukan perjalanan jauh. Jadi, kita makan dulu saja." Arion menarik satu kursi dan meminta Adhisty untuk duduk di sana. Sedangkan Arion duduk di seberangnya.
"Kau tak perlu melakukan ini semua," protes Adhisty dengan nada rendah.
"Sudah kubilang, aku ingin makan bersama denganmu, bukan?" Arion mulai mengambil alat makannya dan memakan hidangan yang baru saja ia masak. Sementara itu, Adhisty hanya terlihat melamun sembari sesekali menatap sendu Arion.
Batinnya bergejolak. Ada keinginan untuk memberitahu pria itu, perihal kecelakaan yang dialami Rossane, ibu kandungnya. Namun, Adhisty takut menghadapi reaksi Arion. Terlebih, Arion memiliki penyakit asma.
Biarlah, Arion mengetahuinya nanti dari pihak ketiga. Dia tidak ingin pertemuan terakhirnya ini membawa luka pada sang adik.
"Ryon," panggil wanita itu.
__ADS_1
Arion mengangkat kepalanya. "Kenapa? Kau tidak suka makanan ini?" tanyanya.
Adhisty menggeleng.
"Lalu? Apa ada makanan lain yang ingin kau makan? Biar aku belikan," tawarnya.
Adhisty kembali menggelengkan kepala. Wanita itu terlihat menggenggam erat sendok yang berada di tangannya. "Walau aku memintamu untuk tidak memaafkan kami, tetapi, demi menghilangkan perasaan ini, aku akan tetap mengatakannya," tukas Adhisty mengawali pembicaraan.
Adhisty lalu menatap sang adik dalam-dalam. "Maafkan kami, Ryon. Semua yang terjadi, kebahagiaan keluargamu yang hilang, kami tidak mungkin dapat menggantinya." Air mata yang sedari tadi dia tahan, akhirnya jatuh juga.
"Tak lupa, sampaikan permintaan maafku yang sebesar-besarnya pada Sekar. Aku akan berusaha menebus kesalahan yang kami perbuat."
Arion mengangkat sebelah alisnya. Ia tak mengerti apa maksud perkataan Adhisty. "Apa maksudmu? Kami? Kami, siapa?"
Adhisty tersenyum simpul. Wanita itu kemudian mengeluarkan sesuatu dalam tasnya.
Sebuah amplop berwarna putih berisi surat pengunduran diri sebagai Manajer, lalu tiga buah buku tabungan dan dua buah kunci apartemen, juga kunci safe deposit box beserta surat kuasanya, diletakkan Adhisty di atas meja.
"Sejak awal aku tidak pantas menerima semua ini," ujar Adhisty.
"Ada apa denganmu?" tanya Arion terkejut.
"Sudah kubilang, aku tak pantas menerima semua ini. Semua yang ada pada diriku adalah kebaikan yang diberikan Ayah dan juga dirimu," jawab Adhisty. Ia lalu berdiri dari kursinya, hendak berpamitan.
"Kau baru saja sampai." Arion ikut berdiri dan menghampiri Adhisty.
"Aku tak bisa berlama-lama di sini." Adhisty lagi-lagi memasang senyum simpul, yang entah mengapa, terlihat sangat memilukan di mata Arion.
Arion berusaha menahan kepergian kakak tirinya itu, tetapi Adhisty bersikeras menolak. Tahu bahwa Adhisty sedang tidak bisa dipaksa. Ia pun mengantar kepergian wanita itu sampai ke depan pintu apartemen.
Sebelum Adhisty benar-benar melangkah pergi, ia meminta Arion untuk mengabulkan satu keinginannya.
"Katakan saja apa yang kau inginkan," ujar Arion.
__ADS_1
Adhisty memasang raut wajah jenaka. "Kita tidak pernah benar-benar mengakrabkan diri. Jadi, bolehkah aku memeluk adik laki-lakiku ini sekali saja?" tanyanya dengan nada gurauan.
Arion tidak menjawab. Dia malah mendekatkan diri pada Adhisty dan memeluk tubuh kecil wanita itu seerat mungkin. Saat itulah, isak tangis Adhisty pecah.