Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Memutus ekor


__ADS_3

Pagi harinya, Davina terbangun seorang diri di ranjang. Setelah mandi dan berganti pakaian menggunakan kaos dan celana Arion, wanita itu bergegas turun ke lantai bawah. Matanya menjelajahi ke seluruh penjuru apartemen guna mencari Arion. Tetapi hanya ada Aiden yang tengah bersiap berangkat ke kantor.


"Pagi, Nona," sapa Aiden. "Sarapan Anda sudah saya siapkan di meja makan." Pria itu mengerling pada meja makan yang berada tak jauh dari sana. Sepiring sandwich tuna dengan segelas susu hangat telah tersedia untuk Davina.


"Loh, mana Arion?" tanya Davina sembari menghampiri meja makan dan duduk di sana. Wanita itu mulai mengunyah sandwich buatan Aiden.


"Bapak sudah berangkat sejak tadi. Beliau berpesan agar Anda segera pergi dari sini dan mencari tempat tinggal sendiri, atau ia tidak akan pulang kemari." Pria itu menyampaikan pesan persis seperti yang Arion katakan.


"Cih! Berani sekali dia mengusirku!" gumam Davina ketus. "Aku habiskan dulu sarapan ini, baru pergi! Kau pergi saja duluan, sana!" seru Davina pada Aiden.


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi." Aiden membungkukkan badannya dan pergi melangkah menuju pintu depan.


"Dasar pria tampan brengsek! Tetapi tidak mengapa, yang penting aku sudah berpelukan dengannya semalaman tadi," gumam Davina sembari terkikik genit.


Aiden menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap wanita itu. "Nona, sekedar informasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Semalam, sesaat setelah Anda tertidur pulas, Bapak pergi dan tidur dengan saya di sofa." Setelah mengatakan hal tersebut, ia pun segera keluar dari apartemen.


Davina kontan tertohok mengetahui kenyataan itu. Ia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Diremasnya sandwich buatan Aiden kuat-kuat hingga nyaris tak berbentuk.


"Bedeb4h si4lan!" umpat wanita itu.


...***...


Jam sudah menunjukan pukul sebelas siang. Cuaca yang sangat terik membuat Sekar berkali-kali harus menghapus peluhnya dengan sapu tangan yang ia bawa. Sudah sejak pagi gadis itu berkeliling kota demi mencari pekerjaan. Sekar yang sadar diri akan status pendidikannya, memilih melamar pekerjaan di tempat-tempat kecil, seperti laundry kiloan, rumah makan sederhana atau salon-salon kelas menengah.


Gadis itu duduk di kursi pedestrian untuk mengistirahatkan diri sejenak. Ia lalu mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tas dan meneguknya hingga tandas.


"Mudah-mudahan saja ada yang nyangkut. Aamiin," harapan sederhana terlontar dari mulut Sekar. Di tangannya masih terdapat tiga buah berkas lamaran kerja yang masih tersisa, dari tujuh yang ia buat.


Tak ingin ada yang tersisa, Sekar memutuskan melanjutkan pencariannya kembali. Kali ini ia menyasar sebuah kedai-kedai pinggir jalan yang letaknya bersebrangan dengan gedung-gedung kantor. Salah satunya gedung kantor Umbara Corporation.


Matanya menilik kedai satu persatu, sampai sebuah papan kecil yang tertempel di salah satu pintu kedai terbaca olehnya.


Lowongan Pekerjaan.


Dibutuhkan dua orang waitress perempuan:


• Usia max. 25 tahun.


• Ijazah min. SMP.

__ADS_1


Tidak dibutuhkan pengalaman, asal sanggup bekerja dalam tim, jujur, disiplin dan bertanggung jawab.


Tertanda,


Kedai Mon Amour.


Usai membaca papan pengumuman singkat tersebut, tanpa pikir panjang Sekar langsung masuk ke dalam kedai.


Di sana ia bertemu dengan Tristan, pria pemilik kedai berusia 41 tahun yang telah menjalankan bisnisnya selama hampir lima tahun. Dengan ramah pria bertubuh tambun itu mewawancarai Sekar dengan mengajukan beberapa pertanyaan umum, seperti alamat tempat tinggalnya dan apa pekerjaan gadis itu sebelumnya.


Tristan sempat khawatir saat mengetahui jarak rumah Sekar ke tempat kerja membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Sedangkan kedai mereka harus buka pukul delapan pagi dan tutup pukul delapan malam. Tetapi Sekar meyakinkan Tristan, bahwa jarak dan waktu tidak akan jadi masalah. Dulu, ia bahkan sering berangkat jam empat pagi saat bekerja menjadi buruh cuci di luar desa.


Setelah berpikir sejenak, Tristan pun akhirnya menerima Sekar sebagai karyawannya. Sebab dilihat dari cara gadis itu bersikap dan berbicara, ia yakin sekali Sekar memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi dengan para pelanggannya.


Pria itu pun menjelaskan beberapa peraturan kedai dan cara kerja waitress secara singkat padanya. Ia juga memberitahu Sekar berapa gaji yang akan diterima oleh gadis itu.


"Bagaimana?" tanya Tristan setelah selesai menjelaskan semuanya.


"Saya bersedia, Pak," jawab Sekar yakin. Gajinya mungkin tidak sebesar di Umbara, tetapi setidaknya, ia tak perlu lagi merasa khawatir akan biaya hidup keluarganya. Biaya hidup di desa tidak lah sebesar di kota, apa lagi Jakarta.


Tristan mengulurkan tangannya ramah. "Selamat datang di kedai Mon Amour, Sekar," ucap pria itu.


"Sama-sama, Sekar," jawab Tristan. "Sampai bertemu besok ,ya? Aku harap kau tidak terlambat karena kita akan briefing terlebih dahulu, sekalian mengurus kontrak kerjamu."


"Pasti, Pak. Kalau begitu, saya permisi pamit dulu." Sekar membungkukkan badannya dalam-dalam. "Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan, Sekar," pesan Tristan.


"Baik, Pak," jawab Sekar sumringah. Gadis itu kemudian keluar dari kedai dan berjalan kaki menuju halte bus yang jaraknya hanya seratus meter dari sana. Beruntung kedai tidak tutup sampai larut malam dan ia tak perlu berjalan jauh ke halte.


"Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih," gumam Sekar penuh syukur. Satu beban pikiran terbesar yang menghantui dirinya sudah teratasi.


...***...


Arion hanya bisa tertawa garing ketika Ben meneleponnya dan mengatakan bahwa Abiyan dan para suruhannya telah berhasil ditangkap. Meski kesal karena Ben telah bertindak tanpa berdiskusi dengannya terlebih dahulu, ia tak dapat berbuat apa-apa.


"Kau mau protes?" tanya Ben dengan suara menggelegar.


"Tidak." Jawab Arion tertawa.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa?" tanya Ben lagi.


"Hanya lucu saja mengingat sifat terburu-burumu. Aku sebenarnya sudah mengetahui keberadaan komplotannya. Beberapa bukti juga sudah aku pegang. Memang Daniel tidak memberitahu Mas, kalau aku sedang berusaha mencari bukti akan keterkaitan mereka dengan Erlina?" tanyanya penasaran.


"Sepertinya, sudah." Jawab Ben enteng. "Masa bodoh! Aku tak tahan melihatmu terlalu lama bertindak. Bukti lain bisa kita dapatkan seiring berjalannya waktu, yang penting mereka tidak lolos dari cengkraman kita!" serunya tak ingin kalah.


Arion tersenyum kecil. Menghadapi sifat pamannya yang tidak sabaran ini, mau tak mau membuatnya harus mengalah. "Baiklah. Aku akan menghubungi Jack. Dia adalah teman Aiden yang telah membantu kami. Bukti-bukti yang sudah kami temukan ada di tangannya."


"Ok. Tetapi kau harus bersiap-siap, Erlina pasti akan menggunakan segenap kekuatannya untuk membebaskan diri dan menumbalkan calon menantunya itu!" seru Ben memperingatinya. "Omong-omong, boleh juga tindakanmu menendang wanita itu dari rumah utama."


"Kau memang paling senang melihat keributan," ujar Arion jenaka.


"Hanya pada orang-orang seperti Erlina dan antek-anteknya!"


Suara Estiana yang menyuruh Ben untuk segera pergi menuju ruang rapat tiba-tiba terdengar.


"Nanti aku akan menghubungimu lagi,"


"Terima kasih ya, Mas," ucap Arion tulus. Walau rencananya tidak berjalan sesuai keinginan, Arion tetap berterima kasih atas bantuan sepupu ayahnya itu.


"Masalahmu, masalahku juga." Setelah mengatakan demikian, Ben menutup teleponnya.


...***...


Erlina dengan tergopoh-gopoh datang ke kantor polisi setelah mendapat telepon dari Adhisty. Sesampainya di sana, ia dimintai keterangan oleh polisi terlebih dahulu tentang hubungannya dengan Abiyan.


Setelah melewati waktu yang cukup lama, Adhisty pun diperbolehkan pulang bersama Erlina.


"Putuskan hubunganmu dengan pria tol0l itu!" seru Erlina tiba-tiba. Dari nada bicaranya, sudah dipastikan ia tak ingin dibantah.


Adhisty terkejut mendengar perkataan sang ibu. Wanita itu tengah berusaha memotong ekornya agar tidak terseret dalam kasus Abiyan.


"Ma, tidak bisakah kita bebaskan saja Abiyan dengan uang jaminan, seperti biasa?" tanya Adhisty dengan raut wajah memelas.


Tanpa mengalihkan pandangannya, Erlina menjawab, "sampai kapan kau harus terus menjadi wanita b0doh, demi pria tak berguna seperti dirinya? Ingat Dhis, jika kita ingin terbebas dari dosa masa lalu, kau harus menumbalkan Abiyan. Polisi tidak akan berhenti begitu saja jika kita terus berada di pihaknya."


Adhisty mengerutkan dahinya. "Dosa? Dosa masa lalu apa, Ma?" tanya wanita itu keheranan. Pasalnya, Erlina tak pernah sekalipun menyebut-nyebut tentang dosa masa lalu, seperti yang ia katakan sekarang. Apa lagi Erlina mengatakan bahwa itu merupakan 'dosa kita', yang berarti dirinya ikut terlibat di dalamnya.


Erlina enggan menjawab pertanyaan Adhisty. Ia tampak melamun, seperti sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat serius.

__ADS_1


__ADS_2