
Arion mendadak gusar. Pasalnya, ia baru saja mendapat telepon dari Daniel yang menyuruhnya agar segera datang ke kantor, karena Rapat Umum Pemegang Saham akan diadakan setengah jam lagi.
"Apa lagi ini?" batin Arion kebingungan. Bagaimana tidak! Rapat ini selalu rutin diadakan enam bulan sekali. Dan mereka baru saja mengadakannya dua bulan yang lalu. Memang, terkadang ada situasi yang mengharuskan para pemegang saham mengadakan rapat dadakan. Namun sebagai CEO, ia pasti selalu diberitahu terlebih dahulu.
Arion memijit keningnya yang mulai terasa sakit. Entah mengapa, perasaannya kali ini benar-benar tidak enak. Padahal, baru saja ia memiliki rencana untuk menghilang selama beberapa hari dulu dari kantor, demi menenangkan diri.
"Ei, kantor dalam keadaan baik-baik saja, kan?" tanya Arion pada Aiden yang duduk di sebelah Lucas, supir pribadinya.
"Baik, Pak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Aiden yakin. Dia sendiri sebenarnya merasa heran dengan hal ini. Berbagai macam spekulasi mulai hadir memenuhi isi kepala pria itu.
"Lantas, mengapa para orang tua itu mengadakan rapat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?" Arion mengacak rambutnya kasar.
Aiden terdiam. Dia tidak berani mengutarakan spekulasinya agar tidak semakin membebani Arion. Pria itu hanya berharap, bahwa tebakannya salah.
Sedan mewah Arion kemudian memasuki gedung utama Umbara Corporation. Tanpa menunggu Lucas dan Aiden, Arion bergegas turun dari mobil dan pergi ke ruang rapat yang terletak di lantai 28. Pria itu sedikit terperanjat, ketika mendapati seluruh anggota rapat hadir di sana, termasuk Erlina. Kendati saham yang diberikan mendiang Dewandaru belum resmi jatuh ke tangannya, wanita itu kerap diminta ikut menghadiri rapat oleh para kubunya.
Arion membungkukkan badannya di hadapan para pemegang saham, yang rata-rata berusia 50 tahun ke atas. Setelah dipersilakan duduk, tanpa basa-basi ia langsung membuka suaranya. "Ada hal mendesak apa hingga mengharuskan rapat dadakan ini dilaksanakan, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?"
Dari awal kedatangannya, Arion menyadari bahwa suasana di dalam ruangan terasa sangat pekat dan tidak bersahabat.
Seorang pria berusia 60 tahunan, bernama Charles, menanggapi dingin pertanyaan Arion. "Kami memang sengaja tidak mengabari Anda, sebab rapat ini diadakan guna membahas masalah yang tengah terjadi di kantor ini."
Arion mengerutkan keningnya. "Masalah? Masalah apa? Setahuku kantor dalam keadaan baik-baik saja." Arion melirik Daniel yang duduk di sisi lain meja. Kakak sepupunya itu hanya membalas lirikan Arion dengan tatapan iba.
Para pemegang saham yang hadir di sana berdeham dan saling berkasak-kusuk. Salah satu di antara mereka kemudian mempersilakan Erlina untuk berbicara.
Arion mencegah hal tersebut. Erlina tidak mempunyai hak bicara di sini. Wanita itu belum resmi menerima saham hak waris dari sang ayah. Oleh sebab itu, kehadirannya di ruangan ini tidak lebih dari sekedar penonton saja.
__ADS_1
"Kami meminta Nyonya Erlina bicara, karena beliau adalah Ibu sambung Anda," ucap Charles.
"Memang, apa hubungannya dengan rapat ini?" Arion memicing sinis ke arah Erlina, yang kini sedang menatapnya lembut.
Arion menahan diri untuk tidak mencibir. Wanita itu rupanya sedang memainkan peran sebagai ibu tiri berhati malaikat.
"Akting yang sangat buruk!" batin Arion.
Erlina berdiri dari tempat duduk dan membungkuk hormat. "Terima kasih atas kesediaan Bapak dan Ibu terhormat,"
Wanita itu kemudian menatap Arion dengan penuh kasih sayang. "Nak, Mama sudah mendengar perihal rumor jelek yang tersebar ke seluruh pelosok Umbara Corporation."
"Rumor apa?" tanya Arion. Aiden yang berdiri di belakang Arion, sontak ikut menatap Erlina dingin.
"Tentang kau dan salah seorang office girl bernama Sekar," jawab Erlina dengan raut wajah sendu.
Jantung Arion berdetak tak karuan. Sebenarnya, dia sempat menduga hal ini sebelumnya. Akan tetapi Arion buru-buru menepisnya, sebab rumor tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan rapat ini.
Perkataan Arion terputus, tatkala Erlina tiba-tiba meneteskan air mata. "Mama tahu, kau adalah pria baik-baik yang selalu menjaga nama keluarga Umbara. Jadi, Mama berusaha mengabaikan berita-berita yang datang. Tetapi rasanya, apa yang Mama dengar bukanlah isapan jempol belaka, saat beberapa bukti yang Mama dapat mengarah pada kebenaran."
"Ha?" mendengar perkataan Erlina, kepala Arion mendadak kosong.
Salah seorang anggota rapat lainnya menenangkan Erlina, dan mempersilakan wanita itu untuk kembali duduk.
"Lihat ini." Charles menyuruh asisten pribadinya untuk menunjukan foto-foto kebersamaan mereka berdua di kantor, mau pun di luar kantor kepada seluruh anggota rapat yang hadir di sana.
Mendadak suasana di ruangan itu pun ricuh. Mereka mengutuk perbuatan Arion yang telah mencoreng nama baik Umbara.
__ADS_1
"Memiliki skandal dengan seorang karyawan rendahan bisa membuat reputasi Anda sebagai seorang CEO jatuh, anak muda!" seru salah seorang petinggi.
"Sebagai seorang pemimpin, kau harus memiliki standar saat memilih pendamping. Tidak boleh sembarangan. Apa lagi kami dengar, wanita ini hanya tamatan SMP!" mendengar hal tersebut, beberapa pasang mata nampak terkejut.
"Berani sekali dia merayu bosnya! Sudah bisa dipastikan, dia hanya mengincar hartanya saja!"
Hati Arion mendadak panas. Mereka telah menghina Sekar. Pria itu hendak berdiri dari kursinya, akan tetapi Aiden dengan sigap memegang pundak bosnya tersebut. Biar bagaimanapun, mereka memiliki wewenang untuk mengangkat atau menjatuhkan siapa pun, termasuk Arion.
Arion mencoba mengontrol emosinya. "Lantas, apa yang kalian inginkan?" tanya pria itu dengan raut wajah tenang. Ia enggan membantah atau membenarkan foto-foto yang entah didapat dari siapa.
"Pecat gadis itu, atau kau terpaksa turun dari posisimu sekarang!" seru salah seorang petinggi yang langsung disetujui semua anggota yang hadir.
Arion membelalakan matanya. Sekar butuh pekerjaan ini. Jika dia dipecat, maka hidup keluarganya akan kembali memburuk seperti dulu. Namun, Arion juga tak ingin turun dari posisinya saat ini. Ia tidak sudi, jika perusahaan yang dibangun dengan keringat dan air mata oleh mendiang sang ayah sampai jatuh ke tangan orang yang salah. Apa lagi, jika orang itu berada di pihak Erlina.
"Aku tidak ingin memilih salah satunya. Aku berencana memindahkan gadis itu ke tempat lain." Sepertinya, Arion mau tak mau harus menyetujui permintaan Sekar, demi menyelamatkan mereka berdua.
"Pilih salah satu, atau kami akan melakukan keduanya sekaligus. Sepertinya akan lebih bagus jika kami bisa memilih CEO baru yang tidak memiliki skandal murahan!" tegas Charles. "Kami beri waktu satu minggu untuk memikirkan hal ini." Pria paruh baya itu kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruangan, begitu pula dengan yang lain.
Arion menopang tubuhnya di meja dengan bertumpu pada kedua tangannya.
Erlina datang menghampiri putra tirinya tersebut, lalu berbisik pelan, "bagaimana rasanya berada di posisi sulit? Ini lah yang aku rasakan, sewaktu kau mengusirku dari rumah, wahai putra tercintaku." Wanita itu tertawa kecil sembari berlalu dari hadapan Arion.
Arion mengepalkan kedua tangannya. Sedetik kemudian, pria itu menghantam meja menggunakan kepalan tangannya.
"Pak, tangan Anda belum sembuh benar!" Aiden menahan tangan Arion yang hendak memukul kembali. Arion menepis dan mengusir Aiden dengan kata-kata kasar. Aiden bergeming. Tak selangkah pun dia pergi dari sana.
Seolah kehabisan tenaga, Arion menjatuhkan dirinya di lantai. Daniel yang sedari tadi belum beranjak dari kursinya, datang menghampiri sang adik.
__ADS_1
"Rion," panggil Daniel lembut. Ketika Arion mengangkat kepalanya, saat itu lah Daniel tahu, bahwa adiknya kini benar-benar sedang rapuh.
"Apa yang harus kulakukan?" batin Daniel.