
Setelah Sekar berganti baju dan merasa tenang, Rani mengajaknya makan malam di luar. Akan tetapi Sekar menolak. Gadis itu berdalih tidak lapar, kendati perutnya sudah meronta-ronta minta diisi sejak siang tadi.
"Baiklah, kita pesan makanan saja. Aku tidak menerima penolakan. Tubuhmu butuh tenaga!" seru Rani seraya menatap tajam Sekar. Sekar mau tak mau mengiyakan perkataan sahabatnya itu.
Butuh waktu setengah jam sampai makanan yang mereka pesan datang. "Makanlah, setelah makan, terserah padamu mau bercerita padaku atau tidak." Rani menyodorkan sepiring nasi goreng kambing ekstra pedas untuk Sekar. Ia tahu sahabatnya itu menyukai makanan pedas.
Meski tidak berselera, Sekar tetap menyantap nasi gorengnya perlahan-lahan demi memenuhi perutnya yang kosong. Sembari makan, Rani sesekali melihat gadis itu mengusap matanya yang kembali basah.
Drrt ... Drrt ... Drrt ...
Ponsel Sekar yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar, membuat suasana hening di antara mereka sedikit terganggu. Rani memanjangkan lehernya sedikit. Ia dapat melihat sebuah nama yang sangat familiar tertera di layar ponsel.
'Mas Rion ❤️'
Gadis itu sudah tidak terkejut lagi dengan apa yang ia lihat, sebab kejadian waktu di Klinik tempo hari telah menjelaskan segalanya. Mungkin jika saat itu Rani tidak menyaksikannya sendiri, ia kini akan memberikan reaksi yang super heboh.
Melihat Sekar mengabaikan telepon dari bosnya, Rani tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Kenapa tidak diangkat, Ar?"
Sekar menghentikan makannya sejenak. Tanpa melihat nama si penelepon yang tertera di layar, ia membalik ponselnya. Sekar memang sengaja tidak mematikan ponsel, karena takut sang bude atau Dino sewaktu-waktu menghubungi dirinya.
"Biarkan saja." Jawab Sekar datar sebelum melanjutkan makannya lagi.
Setelah menghabiskan setengah piring, Sekar berdiri dan meminta ijin untuk membawa makanannya ke belakang.
"Biar aku saja," ujar Rani.
Sekar tidak menggubris. Ia tetap berjalan ke belakang menuju dapur Rani. Rumah Rani yang kecil tidak menyulitkan Sekar menemukan di mana letak dapurnya.
__ADS_1
Rani menghembuskan napas tatkala melihat gelagat Sekar yang kini bagaikan sebuah robot hidup. Gadis itu sama sekali berbeda dengan yang ia kenal selama ini. Tidak ada keceriaan di wajah cantiknya. Sorot mata gadis itu bahkan terlihat sangat kosong. Rani tahu, Sekar seperti menyimpan banyak beban di pundaknya.
Jujur, ia penasaran dengan apa yang terjadi pada gadis itu. Akan tetapi Rani tidak berani memulainya duluan. Dari reaksi yang diberikan Sekar saat Arion mencoba menelepon saja, Rani bisa tahu, bahwa yang menyebabkannya berlaku demikian pasti berhubungan dengan sang bos.
Sekembalinya Sekar dari dapur, Rani menyuruh gadis itu untuk beristirahat di kamar miliknya yang memang tidak pernah ditempati. "Tidurlah di kamarku. Aku tidak pernah menggunakannya karena tidur di kamar ibuku." Rani bangkit dari duduknya dan mengantar Sekar menuju ke kamar.
"Terima kasih," ucap Sekar lirih.
Rani mengusap pundak Sekar. "Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara kalian. Tapi aku harap itu bukan lah sesuatu yang besar. Untuk sekarang tenangkan dirimu dulu. Jika setelah tenang kau ingin bercerita, aku siap mendengarkan," kata-kata Rani membuat air mata Sekar menetes. Dia memeluk Rani seerat mungkin.
"Terima kasih," ucapnya sesenggukan. "Maafkan aku karena telah merepotkanmu, Ran,"
Rani membalas pelukan Sekar dan mengusap-usap punggungnya lembut. "Ssstt! Kita sahabat, bukan?" Sekar mengangguk-anggukan kepalanya.
...***...
Arion memasuki rumah dengan langkah gontai. Sepanjang malam ini, ia sibuk mengelilingi kota Jakarta demi menemukan Sekar. Pria itu tidak memiliki petunjuk sama sekali perihal ke mana perginya gadis itu, jadi hampir seluruh pelosok tempat di kota ini dia singgahi.
Sesampainya di dalam rumah, Aiden yang sudah menunggu sedari tadi dengan gusar, sudah bersiap mengomel. Namun ia langsung mengurungkan niatnya, ketika mendapati kondisi Arion terlihat sedikit memprihatinkan.
"Pak," panggilan dari Aiden tidak membuat Arion menghentikan langkahnya. Pria itu berjalan melewati Aiden menuju tangga.
BRUUK!
Suara dentuman yang lumayan keras membuat Aiden berlari menghampiri Arion yang kini terkapar di anak tangga.
Wajah Arion terlihat sangat pucat. Napasnya juga tersengal-sengal. Mengetahui hal tersebut, Aiden segera merogoh saku jas Arion untuk mengambil inhaler miliknya.
__ADS_1
Aiden bertanya-tanya dalam hati apa yang sudah Arion alami hari ini. Terlebih sampai menyebabkan kondisinya kembali down, sebab selama ini asma Arion tidak pernah kambuh lagi. Kalaupun kambuh, itu masih tergolong ringan.
Aiden mendekatkan wajahnya saat Arion mencoba bicara. Tercium bau tembakau yang lumayan kuat dari mulut bosnya itu. "Anda merokok?" tanya Aiden tanpa memperdulikan suaranya yang meninggi. Semenjak menjalin hubungan dengan Sekar, Arion tidak pernah lagi merokok. Lalu, mengapa kebiasaan jeleknya sekarang kumat lagi?
Arion tidak menghiraukan tatapan galak tangan kanannya tersebut. Dibantu Aiden, ia bangun dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
Sesampainya di kamar, Aiden membantu membaringkan Arion dan melepas jasnya. "Anda pasti belum makan? Saya akan menyiapkan makanan untuk Anda,"
Arion menggeleng. "Aku ingin tidur," tukasnya.
"Wajah Anda sangat pucat. Anda pasti belum makan juga," Aiden bersikeras menyuruh Arion makan.
"Tidak perlu, Ei! aaku hanya butuh tidur. Kau boleh pulang," titah Arion seraya memejamkan matanya.
Aiden tidak menjawab. Ia memilih pergi meninggalkan Arion di sana. Melihat kondisi bosnya yang seperti itu, tentu Aiden tidak mungkin pulang ke rumah. Apa lagi Dini tidak ada. Jadi ia memutuskan untuk menginap.
...***...
Keesokan paginya, Rani yang sudah berpakaian rapi mengetuk pintu kamar yang Sekar tempati.
"Masuk saja, Ran," suara Sekar dari dalam terdengar. Rani masuk bersama seorang anak laki-laki remaja tanggung.
"Sekar, kenalkan ini adikku, Egi," Rani mengenalkan sang adik. "Nah, Egi, ini teman Kakak, Mbak Sekar. Semalam kamu tidur di tempat Uwa, jadi tidak tahu kalau teman Kakak datang," ujarnya pada sang adik.
Egi lantas mencium tangan Sekar. Sekar tersenyum lalu mengelus kepala remaja kelas satu SMP itu. "Maaf kedatanganku sangat mendadak. Pasti sudah merepotkan kalian," ujar Sekar tak enak.
"Tidak apa-apa, Mbak, justru aku yang senang kalau ada orang lain selain Kak Rani. Bosan melihat dia terus setiap hari." Pernyataan nyeleneh Egi kontan membuat Rani menjewer ringan telinga sang adik. Melihat itu Sekar tertawa kecil. Ia yang lahir sebagai anak tunggal merasa sedikit iri pada kehangatan keduanya.
__ADS_1
Setelah berbincang ringan, Egi segera pamit untuk pergi ke sekolah, begitupun dengan Rani. Sedangkan Sekar sendiri masih mengambil cuti kerja, karena kakinya masih belum sembuh benar. Ia juga masih belum siap, jika nanti bertatap muka dengan Arion di kantor.
"Hubungi aku kalau butuh sesuatu ya, Ar?" pinta Rani. Sekar mengangguk. Ia mengantar keduanya keluar rumah dan menunggui mereka hingga menghilang dari sana.