Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Surat Pemutusan Kontrak Kerja


__ADS_3

Sekar berdiri mematung di hadapan kepala koordinatornya. Tangannya yang sedang memegang sebuah kertas, kini tengah gemetaran hebat. Telinganya pun sedikit berdenging, kala Anita memberitahu kabar soal pemindahan yang ia ajukan beberapa waktu lalu. Semula Sekar pikir, beliau akan memberikan kabar baik soal gedung baru yang akan dia tempati. Tetapi ternyata, Anita dengan berat hati malah memberikan surat pemutusan kontrak kerja, yang telah ditandatangani langsung oleh Arion.


Berkali-kali Sekar menanyakan alasan, mengapa pihak perusahaan tiba-tiba tega memecat dirinya. Padahal selama ini ia selalu bekerja dengan baik, dan juga mematuhi segala peraturan yang sudah ditetapkan. Mendengar pertanyaan Sekar, Anita bergeming. Wanita cantik itu sebenarnya diberikan kebebasan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun Anita lebih memilih diam. Karena baginya, diam merupakan langkah yang tepat demi menghindari ketegangan di antara gadis itu dan Arion.


"Maafkan saya karena tidak memiliki kuasa untuk membantumu, Sekar." Anita menatap Sekar dengan raut penyesalan. Rasanya, ia seperti telah mengkhianati sahabat baiknya sendiri.


Sekar tersenyum kecut. "Tidak apa-apa, Bu. Saya masih bisa mencari pekerjaan lain." Sekar melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong celana. "Saya rasa ini memang keputusan yang terbaik." Sambungnya.


Sekar berjalan mendekati Anita, lalu membungkukkan badannya dalam-dalam. "Saya berterima kasih sebesar-besarnya, karena Ibu telah sudi membimbing saya selama ini. Maafkan saya juga ya, Bu, jika saya sudah melakukan banyak kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja, selama bekerja di sini."


Anita kontan menghampiri Sekar dan memeluk gadis itu erat-erat. "Maafkan saya, Sekar," ucapnya lirih. Sekar menganggukan kepalanya berkali-kali di dekapan Anita. Gadis itu berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis.


...***...


Sekar berjalan gontai saat keluar dari ruangan Anita. Ningsih, Lastri dan Rani yang sudah menunggunya di depan pintu, segera menghampiri Sekar.


"Bagaimana, Ar? Di gedung mana kamu dipindahkan?" tanya Ningsih tak sabar.


Sekar terdiam sejenak lalu tersenyum kecil. Mereka terbelalak, saat melihat butiran air mata mengalir membasahi pipinya.


"Loh, ada apa, Ar?" tanya Rani dan Lastri berbarengan. Raut wajah mereka berubah khawatir.


Sekar menggeleng lemah, ia lalu mengajak ketiganya pergi dari sana. Gadis itu tidak ingin Anita mendengar tangisannya. Lagi pula, ia butuh tempat yang sepi. Ada terlalu banyak mata dan telinga yang jadi saksi di sini.


Keempatnya sampai di salah satu ruang penyimpanan alat kebersihan. Menurut Sekar, tempat itu lah yang paling sepi dan jauh dari jangkauan orang-orang. Ia lalu menceritakan soal pemecatan tersebut pada mereka dengan raut wajah penuh ketegaran, meskipun air mata sudah deras mengalir membasahi pipinya.


Mereka yang mendengar tentu saja terkejut. Suasana mendadak sunyi sejenak, begitu Sekar selesai bicara.


"Bagaimana bisa mereka memecatmu tanpa alasan? Ini tidak bisa dibiarkan. Kau harus protes, Sekar!" Ningsih yang pertama kali mengeluarkan suaranya.


Sekar menggeleng. "Aku tidak ingin menambah masalah baru, Ning. Lagi pula, jika aku tetap bertahan di sini, itu hanya akan membuatku merasa tidak nyaman."


Ningsih menunduk lesu. Benar juga apa yang dikatakan Sekar. Justru, jika ia tetap bertahan karena menolak dipecat, pasti kedepannya akan banyak menemui kesulitan, mengingat dirinya sudah dicap jelek oleh sebagian besar para penghuni kantor ini.

__ADS_1


"Apa tidak ada cara lain? Aku tahu kalian sudah putus, tapi kau bisa membicarakan hal ini pada Pak Arion," Lastri memberi usul yang langsung disetujui kedua temannya.


"Justru beliau yang menandatangi surat pemecatanku." Sekar tersenyum. Ketiganya tidak dapat berkata apa-apa lagi.


Sekar menghela napas pasrah. "Terima kasih, kalian sudah mau menjadi sahabatku. Maafkan aku karena selama ini sudah terlalu banyak merepotkan kalian. Kuharap, kita masih bisa berteman, dan tetap menjaga komunikasi," ujar Sekar parau.


Sekar mengajak ketiga sahabatnya itu berpelukan erat. "Aku menyayangi kalian!" serunya lantang. Ketiganya sontak mengatakan hal yang sama. Mereka berempat menangis tersedu-sedu setelahnya.


...***...


Tepat pukul tiga sore, Sekar membereskan seluruh barang-barangnya. Dia mengosongkan lokernya dan memasukan semua barang-barang miliknya ke dalam kardus. Gadis itu kemudian keluar dari gedung kantor melalui pintu darurat belakang menuju basement, di mana Rani sudah menunggu. Ia memang berniat pergi sebelum jam pulang kantor, agar tidak perlu berpamitan dengan siapa pun.


DUGGH!


Seseorang baru saja menabrak bahu Sekar, hingga menyebabkan kardus yang ia bawa terjatuh.


"Maafkan saya," ucap Sekar sembari mengambil kembali kardus miliknya yang jatuh.


"Pak Aiden. M–maaf, saya tidak melihat jalan." Sekar menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa." Jawab Aiden sembari memperhatikan barang bawaan Sekar. Fokus pria itu tertuju pada kardus besar yang dibawa olehnya. Belum lagi, tas selempang yang ada di bahu gadis itu. Pasalnya, ini belum jam pulang kerja.


"Kau mau ke mana? Dan, apa itu?" tanya Aiden tanpa basa-basi.


Sekar memasang wajah heran. Mungkinkah Arion tidak memberitahu pria itu, soal pemecatan dirinya?


"Ini barang-barang milik saya yang ada di loker." Jawab Sekar. "Saya permisi, Pak," sambungnya seraya melangkah pergi.


Baru beberapa langkah berjalan meninggalkan Aiden, gadis itu tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadapnya. Ia meletakkan kardusnya di lantai dan berkata, "tolong, sampaikan ucapan terima kasih saya pada Bapak Arion ya, Pak. Dan sampaikan juga permintaan maaf saya pada beliau, jika selama bekerja di sini, saya telah melakukan banyak kesalahan." Sekar membungkukkan badannya dalam-dalam.


Aiden mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?"


"Saya baru saja diberhentikan oleh beliau." Sekar menegakkan tubuhnya dan memasang senyum terbaik yang ia miliki. "Kalau begitu, saya permisi," gadis itu pergi setelahnya.

__ADS_1


Pria itu menatap kepergian Sekar dengan wajah kebingungan. Pasalnya, Arion tidak pernah menyetujui pemecatan Sekar. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil ponselnya di saku jas untuk menghubungi Arion.


...***...


Hari ini Erlina begitu bersemangat mengajak Adhisty keluar rumah untuk berbelanja. Wanita itu bahkan tidak segan-segan menghabiskan uang ratusan juta dalam sehari, hanya untuk membeli barang-barang yang tidak penting. Erlina memang tipikal wanita boros. Tetapi mengingat beberapa hari belakangan ini sang ibu seperti tidak memiliki semangat hidup, membuat Adhisty kontan keheranan saat mendapati tingkah beliau tiba-tiba berubah.


"Baguslah kalau Mama sudah kembali bersemangat," ucap Adhisty saat mereka telah berada di dalam mobil.


"Iya, sayang. Bagaimana Mama tidak senang, rencana Mama kali ini berhasil." Erlina tertawa kecil.


"Rencana yang mana, Ma?" tanya Adhisty.


"Soal Rapat Umum waktu itu. Memang sih, hasilnya tidak terlalu memuaskan. Tetapi setidaknya, Mama berhasil membuang gadis itu," jawab Erlina seraya tersenyum licik.


Adhisty terdiam. Ia tahu apa maksud perkataan sang ibu. Rencana beliau kali ini untuk menghasut para pemegang saham ternyata membuahkan hasil. Namun, ia sangat yakin adik tirinya itu tidak akan tinggal diam.


Melihat sang anak tidak bereaksi, Erlina menyentaknya. "Kenapa diam? Kau tidak suka dengan rencana Mama, hah? Sebagai anak seharusnya kau membantu Mama, bukannya malah berdiam diri seperti orang tol0l!"


Diam-diam Adhisty menghela napasnya. Meski sudah kebal dan terbiasa dengan mulut sang ibu, tetap saja dia harus tetap mengontrol emosinya agar tidak terpancing. Memang, Adhisty terkadang ikut merasakan sakit hati, ketika ibunya diperlakukan semena-mena oleh Arion. Namun melihat Arion berani mengambil tindakan tegas, membuat wanita itu berpikir ratusan kali jika ingin membantu sang ibu. Bisa-bisa dia ikut ditendang keluar dari posisinya di Bank milik keluarga Umbara. Niscaya, begitu dia keluar dari sana, mereka akan hidup luntang-lantung di jalanan.


"Mama tahu alasanku, bukan?" Adhisty menatap ibunya serius.


"Alaaaah, nyalimu saja yang pengecut! Mama pasti tidak akan tinggal diam jika dia sampai mengusik posisimu!" Erlina mencibir Adhisty seraya menatapnya sinis.


"Terserah Mama mau bilang apa. Aku hanya tidak ingin posisi yang telah kuraih dengan susah payah, hancur begitu saja! Lagi pula, dari sekian banyak rencana Mama, hanya ini yang berhasil dengan baik. Itu pun tidak seratus persen!" kata wanita itu tanpa ekspresi.


"Berani sekali, kau!" Erlina menghardiknya.


"Aku bukannya ingin mengajak Mama bertengkar. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Adhisty kemudian keluar dan pindah ke mobil belakang, yang semula dipakai hanya untuk mengangkut barang-barang belanjaan Erlina.


Begitu pintu mobil tertutup, Erlina melempar gelas yang ada di sana ke arah jendela mobil hingga pecah.


"Dasar, anak si4lan!"

__ADS_1


__ADS_2