
Sekar hanya mampu mematung saat mengetahui siapa pelaku utama dalam insiden tragis yang menimpa Bude Gayatri dan Mbah Bhanuwati. Perasaan lega yang semula hinggap dalam dadanya kini berganti dengan kabut kesedihan nyaris tak berujung.
Batinnya meronta, napasnya tercekat bagai kehilangan udara untuk dihirup.
Arion memegang tangannya lembut, guna menguatkan gadis itu. Kendati demikian, sorot matanya terlihat jelas sedang diliputi perasaan bersalah. Sebab karena dialah, Davina tega melakukan hal keji terhadap keluarga Sekar.
Tak sanggup menahan kesedihan lagi, Sekar tumbang saat itu juga.
Dirinya baru siuman dua jam kemudian, di salah satu rumah sakit yang berada dekat dengan kantor polisi. Arion dengan setia menemani Sekar selama berada di sana. Menungguinya tepat di sebelah sampai tertidur pulas.
Sekar menatap sendu wajah Arion yang masih terpejam. Ia tahu betul betapa melelahkannya mengurus hal ini. Pria itu pasti memangkas jam tidurnya hanya demi membantu polisi menemukan pelaku. Semua yang dia lakukan adalah bukti ketulusan cintanya untuk Sekar.
Namun, mengetahui kenyataan bahwa ada seorang wanita yang rela melakukan hal keji untuk menyingkirkannya, membuat Sekar mundur puluhan langkah. Rasa trauma yang bersemayam dalam diri rupanya telah melekat kuat. Ia takut kejadian serupa menimpa orang-orang terdekatnya, apa bila masih berdekatan dengan Arion. Sebab Sekar yakin, bukan hanya Davina saja yang menaruh perasaan pada pria itu.
Perlahan Sekar mengangkat tangannya dan mengelus rambut Arion. Setelah ini, haruskah dia menghilang dari hidup pria yang dicintainya itu?
...***...
Adhisty tidak dapat memejamkan matanya barang sedetikpun. Perkataan Erlina terakhir kali benar-benar mengusik benak wanita 34 tahun itu.
Sekuat apapun dirinya berusaha mencoba, ia sama sekali tak dapat mengerti akan maksud dari perkataan sang ibu. Adhisty bahkan berusaha mengingat-ingat, kapan sekiranya ia pernah berurusan langsung dengan polisi. Tetapi tak satu pun dari seluruh ingatannya yang berkaitan dengan hal tersebut.
Kalaupun sampai berurusan dengan polisi, itu murni karena menolong Abiyan.
Buru-buru Adhisty mengenyahkan pikiran-pikiran anehnya atas perkataan Erlina. Rasanya percuma saja mengambil cuti tahunan dan menjauh dari sang ibu, lalu sengaja memilih tinggal di salah satu vila seorang diri, jika pikirannya masih saja dipenuhi oleh wanita paruh baya itu.
Saat ini ia hanya berharap Erlina dapat menyadari perbuatannya sebelum semua terlambat.
...***...
Lastri dan Ningsih bergegas menghampiri Sekar dan Arion yang baru sampai di rumah. Sekar bersikeras untuk pulang dari pada harus menginap di rumah sakit, seperti yang diminta dokter.
"Sudah malam, sebaiknya Bapak tidur di sini saja," tawar Lastri setelah membantu Arion membaringkan Sekar di dalam kamar.
"Tempat tinggalku dekat dari sini, jadi aku akan pulang saja." Arion membenahi selimut yang dipakai Sekar, lalu mencium lembut keningnya. Ia tak peduli Lastri dan Ningsih masih ada di sana.
"Tolong, titip dia," pinta Arion.
Lastri dan Ningsih mengangguk mantap, mereka pun mengantar Arion sampai ke gerbang.
Setelah Arion pergi, Lastri dan Ningsih masuk ke dalam kamar Sekar. Gadis itu rupanya tengah menangis tersedu-sedu di atas kasur sembari memeluk kedua lututnya.
"Ar," panggil Lastri.
Sekar mengangkat wajahnya dan langsung memeluk mereka.
__ADS_1
"Budeee! Mbaaah!" dalam pelukan mereka, Sekar tak henti-hentinya menyebut nama mendiang keluarganya.
...***...
Tak sampai 48 jam status tersangka yang semula disematkan untuk Davina dan para komplotannya, kini naik menjadi terdakwa. Sidang akan dimulai dalam satu minggu kedepan, sembari menunggu polisi berhasil meringkus satu nama lagi yang wanita itu sebutkan saat proses interogasi. Menurut keterangan Davina, wanita itu adalah dalang yang memfasilitasi mobil dan membayar komplotan itu. Ia bahkan membiayai tiket pesawat mereka untuk melarikan diri dari kejaran polisi.
Tak ingin kehilangan jejak, pihak kepolisian setempat segera menerjunkan personilnya, untuk bekerja sama dengan pihak Kepolisian Polda Metro Jaya Jakarta dalam meringkus pelaku.
Davina terduduk lesu di dalam jeruji besi. Tatapan buas dari para wanita penghuni sel sama sekali tidak diindahkan olehnya. Pikiran Davina saat ini hanya tertuju pada satu orang.
Satu orang yang telah berjanji akan sigap melindunginya, jika polisi berhasil mengendus jejak mereka. Tetapi nyatanya, ia sama sekali tidak muncul juga. Davina dibiarkan menghadapi semua sendiri, disaat sang ayah enggan turun tangan. Baskoro hanya membantu Davina menyiapkan pengacara ternama untuk menangani kasus putrinya itu.
"Aku tak akan membiarkan dirimu lolos sendirian, wanita tua. Akan kupastikan kau juga jatuh bersamaku ke dalam neraka!" batin Davina.
...***...
"Kau bisa melakukannya, Dhis," ujar Erlina. "Ingat ini Dhis, jika kita berhasil melakukannya, kau tak perlu lagi tinggal di rumah tua itu. Hutang-hutang kita bisa lunas dan kita akan hidup enak. Kau pasti sudah muak dengan kehidupan kita yang terus begini, kan? Maka dari itu, kau harus bisa melakukannya. Mama janji, Mama akan melindungimu!"
Erlina menatap Adhisty penuh keyakinan. Ia berusaha meyakinkan sang anak, bahwa apa yang mereka lakukan demi kebaikan mereka sendiri.
Adhisty gamang, di satu sisi ia membenarkan perkataan Erlina. Hidup didampingi ancaman-ancaman dari para rentenir sungguh membuat wanita itu hampir gila. Belum lagi ia juga muak melihat kelakuan sang ibu yang senang membawa pria-pria berbeda ke rumahnya. Berkali-kali janji yang diikrarkan Erlina sama sekali tidak dapat dipercaya.
Namun, kalau sampai harus berbuat sejauh ini, Adhisty tentu saja menolak. Otaknya masih berfungsi dengan sangat normal. Dari pada harus di penjara bertahun-tahun, lebih baik ia tetap hidup di bawah bayang-bayang para rentenir yang kejam.
"Tambah kecepatannya, Dhis, nanti mobil itu keburu hilang!" seru Erlina.
"Tidak, Ma!" tukas Adhisty lantang. "Lebih baik kita pulang saja." Baru saja Adhisty hendak memutar kemudinya, Erlina dengan cepat menahan tangan sang anak.
"Jangan gila kamu, kita sudah sejauh ini!"
"Apa-apan sih, Ma?" Adhisty berusaha menahan kakinya yang berada di pedal gas, saat ujung sepatu Erlina dengan kejam menginjak kaki wanita itu, agar mau menekan lebih dalam pedal gasnya.
Adhisty sama sekali tidak peduli pada rasa sakit yang diterimanya, akibat ujung sepatu Erlina.
"Dhis!" teriak Erlina marah.
"Ma, kita bisa mati!" sahut Adhisty lantang.
"Peduli setan!" Erlina mengontrol setir mobil Adhisty. Kondisi yang sepi membuat mobil melesat dengan cepat, hingga berhasil menyusul sebuah mobil sedan hitam yang memang sedang mereka incar sejak tadi.
Erlina melihat ke depan, sedikit lagi mereka akan keluar dari terowongan. Tepat di ujung terowongan terdapat jalan menikung yang tidak dilindungi Guard Rail.
Adhisty tetap berusaha mengendalikan mobilnya. Ia memukul tangan Erlina keras, tetapi wanita itu malah menampar Adhisty hingga terluka.
Mobil hitam yang mereka incar akhirnya tiba di ujung terowongan gelap itu. Tanpa pikir panjang Erlina langsung menginjak sekeras mungkin pedal gasnya, sampai Adhisty berteriak kesakitan, dan menubruk mobil sedan itu dari belakang. Ia mendorong mobil itu sampai keluar dari terowongan dan jatuh terguling ke dalam sebuah jurang kecil, sebelum akhirnya melarikan diri.
__ADS_1
...*...
"TIDAK!" teriak Adhisty yang kontan terbangun dari tidurnya. Keringat dingin mengucur deras dari kening wanita itu. Ia baru saja mengalami bermimpi buruk. Tetapi anehnya terasa begitu nyata, sampai-sampai punggung kaki kanannya terasa sangat sakit.
Refleks Adhisty memegang kakinya. "Mimpi apa itu? Menyeramkan sekali!" seru wanita itu ketakutan.
Mata Adhisty kontan terbelalak saat mendapati punggung kakinya terdapat bekas luka. Adhisty masih mengingat betul, kalau bekas luka yang ada pada kakinya itu diperoleh saat sedang bermain ski.
Bulu kuduk Adhisty tiba-tiba meremang.
Apa arti mimpi yang barusan ia alami? Dan lagi, mengapa luka saat bermain ski, sama letaknya dengan luka yang dilihat Adhisty dalam mimpinya barusan?
"Ya Tuhan, apa maksud semua ini?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NOTE:
Seseorang yang awalnya menjadi tersangka, bisa berubah statusnya menjadi terdakwa. Syaratnya, ada bukti lebih lanjut yang memberatkan dirinya. Selain itu, perkaranya sudah mulai disidangkan di Pengadilan.
Menurut Pasal 1 angka 15 KUHAP, terdakwa adalah “seorang tersangka yang dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan”. Untuk bisa ditetapkan sebagai terdakwa, menurut Komariah harus ada cukup bukti sebagai dasar alasan pemeriksaan di pengadilan. Artinya, orang yang sudah menyandang predikat sebagai terdakwa telah diduga kuat melakukan tindak pidana.
(Sumber: HukumOnline.com)
__ADS_1