
Semua pasang mata melihat bagaimana Arion mengkhawatirkan Sekar yang terluka. Mereka bahkan terperangah, saat Sekar tiba-tiba terjatuh di luar kedai, dan Arion dengan sigap menopangnya. Pria itu berteriak pada Aiden yang berada di dalam kedai untuk segera membawa mobilnya keluar.
Tanpa memperdulikan Davina, teman-teman dan beberapa pengunjung menghampiri Arion guna menanyakan keadaan Sekar.
"Sekar," panggil Arion seraya mengelus lembut pipinya.
"M–mas," respon Sekar lemah. Matanya masih senantiasa terpejam. Rasa sakit di kepalanya benar-benar membuat gadis itu tak berdaya.
"Iya, ini aku," ujar Arion. Ia mengambil sapu tangan yang ada di kantong celananya, kemudian membersihkan darah yang mengalir di kening Sekar.
Tak sampai lima menit, Aiden datang membawa mobil Arion.
"Urus wanita gila itu!" ujarnya pada Aiden, seraya membawa Sekar ke dalam gendongannya. Dari dalam kedai, ia masih dapat mendengar teriakan Davina dan beberapa orang yang mencoba menenangkannya.
"Baik, Pak," jawab Aiden. Pria itu kemudian meminta orang-orang yang berkerumun di sana untuk membubarkan diri.
...***...
"Karena pasien memiliki gegar otak ringan, kita akan melakukan CT-scan untuk mengetahui kondisi keseluruhan."
"Baik, dok. Terima kasih,"
Samar-samar, Sekar mendengar percakapan dua orang, saat membuka matanya.
Begitu melihat Sekar sadar, Arion bergegas menghampiri gadis itu. "Kau sudah sadar? Ada yang sakit?" tanyanya khawatir.
Sekar meraba kepalanya yang sudah diperban. "Hanya sedikit pusing." Jawab Sekar. "Aku mau pulang saja," pinta gadis itu sembari mencoba bangun dari tidurnya.
Arion menahan tubuh Sekar. "Kita akan pulang setelah kau melakukan pemeriksaan CT-scan. Tidak akan lama, hanya sebentar."
"Aku baik-baik saja," kilah Sekar.
"Kau tidak baik-baik saja. Kepalamu sudah pernah terbentur sebelumnya. Setidaknya, kau harus memikirkan kondisimu sendiri." Arion duduk di kursi dan menggenggam tangan Sekar. "Turuti kataku sekali ini saja. Bisa?"
Sekar terdiam, lalu mengangguk patuh.
Setelah melakukan CT-scan yang hanya memerlukan waktu sekitar satu jam, dokter menyarankan Sekar untuk beristirahat selama dua hari di rumah sakit. Sebab kondisinya juga sedikit menurut karena kelelahan. Tetapi Sekar bersikeras meminta pulang ke rumah, karena tidak ingin membuat budenya khawatir.
Tak ingin berdebat, Arion akhirnya menuruti kemauan Sekar. Keduanya pun kini sudah berada di dalam mobil Arion untuk pulang.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Arion.
Sekar mengangguk.
"Tidurlah. Nanti akan aku bangunkan jika sudah sampai rumah." Arion memakaikan Sekar seatbelt.
"Maaf," ucap Sekar tiba-tiba.
"Maaf, kenapa?" tanya Arion.
"Atas keributan yang terjadi hari ini. Secara tidak langsung aku sudah mempermalukan kekasihmu itu." Jawab Sekar. Matanya terlihat sendu saat mengatakan hal demikian.
Arion menghela napasnya lalu tersenyum kecil. "Wanita itu bukan kekasihku. Dia memang sudah menaruh hati sejak lama, tetapi aku tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman biasa." Jawab Arion jujur.
"Mustahil kau tidak menyukai wanita secantik dia," tutur Sekar.
__ADS_1
"Cantik saja tidak cukup membuat seorang pria menyukai wanita."
Sekar terdiam selama beberapa saat.
"Maaf," ucap gadis itu lagi.
"Tidak perlu minta maaf, wani–"
Sekar memotong perkataan Arion, lalu berkata, "atas perkataanku tempo hari, yang mungkin telah membuatmu sakit hati."
Arion terdiam sejenak guna mengingat-ingat perkataan apa yang dimaksud gadis itu. Setelah ingat, Arion kontan tertawa kecil. "Aku memang sakit hati, tapi itu justru membuatku sadar diri untuk tidak lagi terlalu berharap padamu."
Arion menghembuskan napasnya. "Kupikir, aku bisa melakukannya, tetapi ternyata sangat sulit." Matanya menatap Sekar intens. "Kau tahu, apa alasanku pindah ke sini?" tanya pria itu.
Sekar menggelengkan kepalanya. Meski ia memiliki spekulasi, tetapi ia enggan mengutarakannya.
Arion memegang tangan Sekar dan meremasnya lembut. "Ini semua kulakukan untukmu. Aku tak ingin kehilangan dirimu. Bahkan, saat dua minggu kemarin aku berusaha menjauh, itu malah membuatku semakin tidak bisa melepaskanmu,"
Tangan Sekar sedikit bergetar setelah mendengar pengakuan Arion. "Aku minta maaf atas semua yang telah kulakukan, termasuk kebohonganku soal donatur Mbah Bhanuwati."
"Aku tidak pernah memiliki maksud merendahkanmu. Aku juga tidak sedang berusaha mengambil hatimu menggunakan hartaku. Ini semua murni kulakukan sebagai bentuk rasa cintaku padamu, Sekar,"
Sekar menarik tangannya dari genggaman Arion. Gadis itu kemudian *******-***** kedua tangannya sendiri.
"Tetap saja, aku merasa terbebani dengan semua hal itu. Aku tak ingin mempunyai hutang budi pada siapa pun."
Arion tersenyum lembut. "Kau tidak berhutang budi apapun padaku. Salahkah jika aku melakukan hal tersebut pada kekasihku sendiri?" tanyanya.
Sekar terdiam.
...***...
Semula Davina berontak saat Aiden membawanya paksa, tetapi saat Aiden mengancam akan menelepon Baskoro, sang ayah, wanita itu mau tak mau menuruti ajakan pulang Aiden.
"Lebih baik Anda kembali ke Jakarta, Nona," ujar Aiden begitu sampai di dalam lobby.
"Aku tidak akan kembali ke sana, sebelum berhasil membawa Arion. Jadi kau tidak perlu repot-repot mengaturku!" tolak Davina keras.
"Aku hanya mengkhawatirkan kenyamanan Pak Arion di sini."
"Jadi, ini semua karena aku? Seharusnya gadis miskin itu yang sadar diri!" teriakan Davina sontak membuat para pengunjung hotel yang berada di lobby segera menatap keduanya.
Tak ingin berurusan lebih jauh dengan wanita itu, Aiden memilih pamit undur diri dan kembali ke mobilnya. Ia tak memperdulikan teriakan wanita itu yang menyuruhnya kembali.
...***...
Desa kecil tempat tinggal Sekar mendadak gempar dengan kedatangan mereka. Pasalnya, Arion datang menggunakan mobil mewah yang biasa dikendarainya ke kantor. Selama ini, ia memang selalu memakai mobil sewaan ketika bertandang ke rumah Sekar.
"Tuh, kan, Mas! Parkir dekat-dekat sini saja. Aku malu!" pekik Sekar seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan dashboard.
"Kalau parkir di sini malah terlihat lebih mencolok." Jawab Arion. Wajah pria itu sama sekali tidak menunjukan ketidaknyamanan. Dia malah dengan ramah menganggukkan kepalanya dari dalam mobil, sebagai jawaban dari sapaan orang-orang yang dilewati mereka.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di depan rumah Sekar. Arion memarkirkan mobilnya tepat di halaman depan rumah Sekar yang waktu itu ditumbuhi rumput-rumput liar.
"Rumahku ini turunan, nanti susah naiknya kalau parkir di sini, loh!" cegah Sekar.
__ADS_1
"Kau pikir, aku baru bisa bawa mobil kemarin sore!" seru Arion jengkel. Kendati begitu, ia tertawa kecil melihat kepanikan gadisnya itu.
Arion dan Sekar kemudian turun dari mobil. Saat hendak masuk ke dalam. Seorang wanita yang sangat Sekar kenal tiba-tiba menghampiri mereka.
"Mbak Nimas? Tumben ke sini," sahut Sekar.
"Aku ke sini bukan buat ketemu kamu!" ketus Nimas. Wanita itu melengos melewati Sekar, demi menghampiri pria tampan yang sedang bersamanya.
"Hei, boleh kita kenalan?" sembari mengerling genit, Nimas mengangkat tangannya ke hadapan Arion.
Arion meringis kecil, sebelum akhirnya menyambut tangan gadis itu.
Namun, Nimas malah dengan sengaja menyodorkan paksa tangannya hingga menyentuh bibir Arion. Melihat itu Sekar terkejut. Buru-buru ia menarik Arion agar menjauh dari Nimas.
"Nggak usah genit deh, Mbak! Sana, cari Mas Dino-mu saja!" usir Sekar tanpa basa-basi.
"Ihh, belagu banget sih kamu, mentang-mentang kenalannya bibit unggul! Kamu itu kan suka godain Mas Dino-ku, jadi boleh dong aku balik godain Mas ...," Nimas melirik Arion. "Rion-mu ini," sambung gadis itu setelah Arion menyebut namanya.
Nimas perlahan mendekati Sekar. "Dia itu siapa kamu, sih? Kalau modelan seperti ini, nggak jadi karo Mas Dino, aku rela deh!" Nimas mengakhiri perkataannya dengan tawa centil.
Sekar memicing sinis. "Ndak usah aneh-aneh!" ketusnya.
"Cih, sombongnya!" sahut Nimas tak kalah ketus.
"Omong-omong, kepalamu kenapa?" tanya Nimas. Ia yang sedari tadi fokus pada Arion, baru menyadari kondisi kepala Sekar yang tengah diperban.
"Jatuh dari tangga." Jawab Sekar asal.
"Aneh-aneh wae," sahut Nimas. "Yo wis, aku pergi dulu, ahh. Dah, Mas Rion, kapan-kapan kita ketemu lagi, ya?" ucap wanita itu seraya melambaikan tangan padanya.
Selepas kepergian Nimas, Arion tertawa kecil. Entah mengapa, meski wanita itu terlihat genit dan ketus, tetapi Arion tidak merasa risih. Kedua gadis itu juga tidak terlihat benar-benar bermusuhan.
"Temanmu lucu," kata Arion.
"Dia bukan temanku. Kami lebih banyak bertengkar dari pada haha hihi bersama. Maklum, dia pemuja Mas Dino!" terangnya.
"Tapi sepertinya, dia orang yang baik."
"Di luar itu, dia memang tetangga yang baik. Mbak Nimas sering sekali membantuku mencari Mbah saat tersasar, dan mengantarnya pulang." Sekar tersenyum kecil.
"Nduk," panggilan Bude Gayatri mengalihkan obrolan mereka. Sepertinya, beliau baru saja pulang mengaji bersama Mbah Bhanuwati. Bergegas Sekar menghampiri bude dan neneknya untuk mencium tangan. Hal yang sama dilakukan oleh Arion.
"Ya Allah, ini kepalamu kenapa, Nduk?" tanya sang bude khawatir, begitu melihat kepala Sekar.
"Jatuh dari tangga, Bude," jawab Sekar. Gadis itu tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya pada beliau.
"Kok bisa toh, Nduk?" Bude Gayatri memegang kening Sekar lembut. "Sakit, ndak?" tanyanya.
"Ndak, Bude. Sebaiknya kita masuk dulu," ajak Sekar. Bude Gayatri mengangguk dan merangkul Sekar, sementara Arion memapah Mbah Bhanuwati.
...***...
Di dalam kamar hotel Davina menelepon Erlina dan menceritakan semuanya pada wanita itu.
Erlina yang mendengar semua cerita Davina ikut terbawa emosi. Ia pun berjanji pada Davina akan membantunya membuat perhitungan pada Sekar.
__ADS_1
"Memenjarakan Abiyan tidak akan membuatku berhenti, anak sialan! Kita lihat, sampai mana kau akan terus berdiri angkuh di depanku!" gumam Erlina.