Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Kejujuran Dino


__ADS_3

Sekar mendekati ranjang sang nenek. Ia menyentuh lembut selimut yang menutupi tubuh neneknya itu.


"Sehat ya, Mbah," gumam Sekar lirih. Matanya menatap sendu beliau.


"Untuk saat ini biarkan beliau istirahat. Nanti sore baru beliau akan menjalani CT-scan." Pesan seorang perawat yang baru saja selesai menggantung infus Mbah Bhanuwati dan menyuntikan obat ke selang infusnya.


"Baik, Sus." Sekar mengangguk lalu berdeham. "Sus, bolehkah saya dan bude saya menunggui beliau?" tanya gadis itu canggung. Sebab yang ia tahu, keluarga pasien yang menunggu hanya diperbolehkan satu orang saja.


"Boleh, Mbak." Jawab perawat itu ramah. Ruangan VIP keatas memang tidak membatasi keluarga pasien yang ingin ikut menunggui, asal tidak mengganggu kenyamanan pasien dan juga rumah sakit.


"Kalau ada apa-apa dan butuh bantuan kami, silakan tekan tombol ini." Si perawat menunjuk tombol nurse call yang terletak tak jauh dari ranjang pasien.


"Lalu, jika Mbak dan Ibu ingin makan, tidak perlu repot-repot pergi ke luar atau ke bawah. Di sini sudah ada beberapa buku menu yang tersedia. Mbak tinggal memesannya melalui telepon yang ada di sana." Perawat tersebut kembali menunjuk. Kali ini ke sebuah telepon berwarna putih yang diletakan di meja tamu.


"Memangnya tidak bayar, Sus?" tanya Sekar lugu.


Perawat yang sekiranya sebaya dengan Sekar itu tersenyum simpul. "Semua sudah ditanggung Donatur Ibu Bhanuwati, termasuk makanan untuk keluarga pasien yang menunggui di sini."


Sekar tidak dapat berkata apa-apa lagi selain, "Tolong, Sus, sampaikan rasa terima kasih kami pada beliau, karena sudah berbaik hati menolong orang kecil seperti kami," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Sang perawat menganggukan kepalanya dan pamit undur diri.


...***...


Kantor mendadak heboh karena kedatangan Erlina yang begitu tiba-tiba.


Seolah derajatnya lebih tinggi, dengan gaya congkak wanita itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung kantor, hendak menuju lantai 30.


Suara kasak-kusuk para karyawan mengiringi tiap langkahnya. Beberapa dari mereka bahkan berani terang-terangan memandangi Erlina dengan tatapan tidak suka.


"Bu Erlina apa tidak malu, setelah diusir oleh Pak Daniel dan Pak Arion tempo hari, tetapi masih nekat datang kemari?" bisik salah seorang karyawan. Bisikan yang cukup terdengar hingga ke telinga wanita paruh baya itu.


"Mentang-mentang Bapak Arion sedang cuti." Cibir karyawan lainnya.


"Dia beraninya kalau tidak ada Pak Arion doang, deh!" suara tawa kecil keluar dari mulut karyawan wanita yang berdiri tak jauh dari Erlina


Tak tahan dengan sikap dan perkataan para karyawan, Erlina segera berhenti dan menghardik mereka semua. Ia berteriak, dan menghina mereka yang terang-terangan mengejeknya. Erlina juga mengancam akan memecat siapa saja yang berani membicarakan dirinya lagi.


"Ingat! Aku adalah istri mendiang Tuan Dewandaru. Jadi, kalian harus tunduk juga padaku. Jika tidak, akan kupastikan kalian tinggal di kolong jembatan! MENGERTI?" Erlina menatap nyalang orang-orang di sekelilingnya yang mulai ketakutan. Mereka mengangguk kaku, enggan bersuara.


Erlina kembali melanjutkan langkahnya. Tujuan wanita itu adalah ruangan Daniel, keponakan tirinya.

__ADS_1


Daniel yang terkejut tetap menyambut kedatangan tantenya tersebut. "Ada perlu apa, Tan?" tanya Daniel ramah. Sepertinya Daniel akan bersiap untuk pergi.


Erlina memasang wajah tak suka. "Memangnya aku harus punya alasan terlebih dahulu, jika ingin mengunjungi kantor suamiku sendiri?"


"Tidak. Hanya saja, sepertinya Tante sedang tidak memiliki keperluan, mengingat Arion sedang cuti. Atau Tante belum mengetahui jika Arion cuti selama beberapa hari?" Daniel mengangkat sebelah alisnya.


"Aku baru tahu tadi. Maka dari itu aku ke sini untuk menemui calon menantuku. Aku tidak ingin bersinggungan dengan bocah itu dulu," cetus Erlina judes.


"Baiklah, tapi kuharap Tante tidak melakukan hal-hal seperti kemarin. Maaf, jika aku mengatakan hal ini," tutur Daniel jujur.


"Cih! Kau pikir aku orang bodoh!" Erlina melangkah pergi. Ia membanting pintu ruangan Daniel keras.


Daniel menghela napas. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang dan berat. Ia jadi bimbang untuk menghadiri undangan salah satu kolega mereka demi menggantikan sang adik yang sedang cuti.


...***...


Benar saja apa yang Daniel pikirkan. Belum sampai satu jam di sana, kantor yang biasanya tenang dan damai mendadak ricuh oleh suara-suara Erlina. Terlebih ketika wanita itu mengetahui jika Daniel sedang keluar guna menemui koleganya. Erlina merasa leluasa dan berkuasa.


Setelah bertemu dengan Abiyan dan berbincang sesaat, Erlina langsung sibuk berkeliling dan memeriksa pekerjaan karyawan-karyawan kecil di sana. Tak jarang, ia menghardik dan menghina para karyawan tersebut menggunakan kata-kata kasar.


"Demi Tuhan, penampilanmu sangat menjijikan!" semprot Erlina sembari memasang raut wajah jijik kala mendapati salah seorang satpam bertubuh subur sedang memakan kudapan.


Di lain sisi Erlina juga dengan tega membentak cleaning service wanita yang sedang hamil tua karena terduduk sesaat di tangga akibat kelelahan.


"A–ampun, Bu. Saya akan kembali bekerja. Tolong, jangan pecat saya," pinta wanita itu.


"Jangan banyak omong, sudah bagus aku membantumu agar tidak kelelahan. Sekarang bereskan semua barang-barangmu dan pergi dari sini!" Erlina mengusir cleaning service itu seraya menunjuk tangga menuju lantai bawah.


Wanita tersebut sontak menangis tersedu-sedu. Perlahan ia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Erlina.


Tepat saat ia melewatinya, Erlina berkata, "sok manja, menjijikan sekali!"


...***...


Arion berjalan santai di lorong rumah sakit menuju kamar rawat Mbah Bhanuwati. Sepertinya ia baru saja kembali dari suatu tempat.


Saat Arion hendak masuk ke dalam ruangan Mbah Bhanuwati, Dino yang kebetulan tengah duduk kursi depan mengajaknya berbincang.


"Boleh tanya sesuatu, Mas?" tanya Dino setelah Arion duduk di sebelahnya.


"Panggil Rion saja. Usia saya sepertinya di bawah Mas Dino," pinta Arion sopan.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku juga ingin dipanggil nama saja."


"Oke." Jawab Arion santai.


Dion menghembuskan napasnya terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan. "Kau tahu, Sekar adalah gadis terlugu yang pernah aku kenal?"


Walau terdengar seperti pertanyaan, Arion bisa menebak kalau ia tidak perlu menjawabnya.


"Saking lugunya, ia sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat buruk. Salah satu contohnya, saat ia pernah dimintai tolong untuk mengantar berkarung-karung hasil panen dengan jarak yang lumayan jauh."


Arion mengerutkan keningnya. Ia belum mengerti arah pembicaraan Dino.


"Karena bayaran yang dijanjikan lebih besar dari pada modal menyewa mobil, maka dengan susah payah Sekar mencari pinjaman dan berhasil mengantarnya sampai tujuan. Namun tak disangka, sesampainya di sana mereka hanya membayar Sekar tak sampai tigapuluh ribu rupiah. Padahal modal yang keluar sebesar seratus limapuluh ribu untuk menyewa mobil." Dino menghela napasnya. "Ia juga pernah diminta menjaga bayi tanpa dibayar sepeser pun." Sambungnya lirih.


Arion terdiam. Ia tidak pernah tahu bahwa hidup Sekar sedemikian menyedihkan.


"Seumur hidup, Sekar tidak pernah mengenal lawan jenis lebih dekat kecuali aku. Oleh sebab itu, aku cukup terkejut mengetahui dia ternyata bisa mengenal pria lain di Jakarta." Dino menatap Arion serius. "Dan kau tidak mungkin datang hanya karena dia bawahanmu, bukan?" tanyanya kemudian.


Arion terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Ya, aku memang memiliki alasan tersendiri." Wajah pria itu terlihat sungguh-sungguh saat mengatakan hal demikian.


"Sudah kuduga." Dino tersenyum. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melipat kedua tangannya di dada. "Bisa lepaskan dia?" tanya Dino enteng.


"Maaf, maksudnya?" Arion mengangkat sebelah alisnya.


Dino menoleh dan tersenyum sinis. "Setelah Neneknya sembuh, aku berniat akan melamar Sekar. Dia lebih pantas bersanding denganku. Dilihat dari luarnya saja, aku bisa tahu kau bukan orang sembarangan. Jika kau memang dekat dengannya, kau pasti tahu Sekar tidak nyaman dengan orang-orang macam kalian."


Dada Arion tiba-tiba terasa sesak. Dino tengah menghajarnya melalui kata-kata.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah sudi membaca sampai sini. Jangan lupa jejaknya, like, komen dan vote ya, Kakak-kakak😁


Seperti biasa, ada rekomendasi cerita punya teman aku nih, selagi nunggu Sekar update lagi. Yuk, diintip-intip🤗

__ADS_1



__ADS_2