
Jemari lentik Sekar menyentuh lembut tiap lembaran foto yang tertempel pada sebuah album lawas milik keluarganya. Titik-titik usang yang mulai menutupi beberapa bagian foto tak menghalangi Sekar untuk tetap mengenali siapa-siapa saja yang berada di sana.
Ada foto dirinya saat masih berusia 5 tahun tengah duduk di sepeda ontel milik sang ayah. Ia tampak ceria, sebab di tangannya tergenggam sebuah piala mainan kecil yang baru saja didapatkan dari lomba tujuh belasan. Memang hanya lomba antar RT, tetapi tetap amat berkesan bagi Sekar kecil.
Ia ingat, bagaimana dirinya memekik kegirangan begitu namanya disebut sebagai juara pertama. Dengan langkah riang, Sekar menaiki panggung kecil nan sederhana yang terbuat dari susunan bambu dan kayu.
Sang ayah yang menanti di barisan penonton memandang bangga ke arahnya. Pria pekerja keras itu bahkan bertepuk tangan paling keras, sesaat setelah Sekar memegang piala kemenangan tersebut.
Momen sederhana yang kini sangat ia rindukan.
Mata gadis itu kemudian beralih pada foto lain. Foto ibunya yang sedang berdiri di pinggir sawah dengan memakai caping. Jika ditelisik lebih jeli, ada seorang gadis yang mengintip dari balik tubuhnya. Tangan mungil gadis itu tengah mencengkram erat pakaian sang ibu.
Itu adalah dirinya sendiri.
Ia masih mengingat jelas, itu adalah momen dimana dirinya menangis karena mencari keberadaan sang ibu yang tak kunjung pulang ke rumah. Demi meredakan tangisannya, sang ayah mengajak Sekar kecil menghampiri tempat kerja beliau.
Sekar tersenyum. Sekuat tenaga ia menahan isak tangisnya agar tidak mengalir keluar.
Arion masuk ke dalam kamar Sekar yang pintunya memang terbuka sedikit. Di tangan pria itu terdapat nampan berisi sepiring bubur ayam dan segelas teh hangat.
"Makan dulu, ya?" kata Arion sembari meletakkan nampan tersebut di hadapan Sekar.
"Aku tidak lapar." Jawab Sekar datar.
"Tubuhmu butuh tenaga." Arion mengambil album foto tersebut, melihatnya sebentar, lalu meletakkannya di samping tempat tidur Sekar.
Saat Arion hendak menyuapi gadis itu, Aiden tiba-tiba datang menghampiri mereka. "Ada tamu, Pak," ujar Aiden pada Arion.
Arion menaruh sendok makan ke dalam genggaman tangan Sekar. "Makanlah. Aku ke depan dulu,"
Tamu yang datang ke rumah Sekar adalah dua orang polisi yang sedang menangani kasus Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri. Arion mempersilakan mereka duduk di atas karpet tebal yang beberapa hari lalu ia beli untuk tahlilan.
Kedua polisi bernama Bas dan Anton itu ternyata telah mengantongi ciri-ciri mobil yang menabrak Bude Gayatri dan Mbah Bhanuwati. Bas juga menunjukkan selembar foto yang ia miliki kepada Arion. "Ini adalah Mobil SUV keluaran lama yang tertangkap kamera dasboard sebuah truk. Kebetulan di hari kejadian truk tersebut tengah parkir tak jauh dari sana. Karena kualitas videonya tidak begitu baik, saat ini kami sedang meminta Ahli Digital Forensik untuk memperbaikinya."
__ADS_1
Arion memicingkan mata guna melihat lebih jelas apa yang ada di dalam foto. Sekar yang mendengar pembicaraan mereka bergegas keluar dari kamar. Ia turut melihat foto yang ditunjukkan oleh polisi.
Raut terkejut seketika terpatri di wajah pucat Sekar. Dengan suara tercekat ia mengatakan, bahwa mobil yang ada di dalam foto sudah beberapa kali terlihat olehnya.
"Sekitar dua minggu terakhir, aku memang seperti merasa diikuti. Dan baru-baru ini aku melihat mobil tersebut lewat di depan rumah," ungkap Sekar. Sejurus kemudian sorot mata gadis itu berubah ketakutan. Ia menjambak rambutnya sendiri dan mulai menangis. Perasaan bersalah menghantam telak batinnya. Andai saja ia menyadari hal tersebut, mungkin kedua orang tercintanya tidak akan mengalami hal tragis seperti itu.
Arion menarik Sekar ke dalam pelukannya. Ia pun meminta ijin pada kedua polisi tersebut untuk membawa Sekar ke dalam kamar. Sementara Anton segera mencatat keterangan penting yang didapatkannya ke dalam buku kecil yang ia bawa.
...***...
"Nyonya, kami sudah menghancurkan mobil itu," ujar seorang pria bertubuh tinggi besar pada Erlina yang sedang duduk di kursi makan.
"Bagus!" Wanita itu melempar tiga buah amplop tebal berwarna cokelat ke atas meja. "Di dalamnya juga terdapat tiket pesawat yang sudah kupesan. Kalian sembunyi di sana sampai kondisi kembali kondusif!" perintah wanita itu. Sebisa mungkin mereka harus lepas dari kejaran polisi, jika tetap terendus, Erlina baru akan menumbalkan para anak buahnya itu.
"Terima kasih, Nyonya," ketiga orang suruhan itu mengambil uang yang berada di atas meja dan langsung pergi meninggalkan apartemen Erlina.
...***...
Seorang pria bertubuh tinggi kurus didampingi wanita bermata biru datang ke rumah Sekar pagi ini. Ia adalah Bayu, salah satu sanak saudara Sekar yang bekerja di Australia dan menetap di sana. Sedangkan wanita bermata biru itu adalah istrinya.
"Assalamu'alaikum," beberapa kali salam yang dilontarkan Bayu sama sekali tidak mendapat jawaban dari penghuni rumah.
Bayu naik ke pelataran rumah Sekar. Ia baru menyadari bahwa rumah tersebut dalam keadaan gelap gulita. Tak ada suara apapun yang terdengar dari dalam.
Demi menghilangkan rasa khawatir, Bayu mencoba mendorong pintu depan yang ternyata tidak terkunci.
"Sekar," panggil Bayu sembari membuka lebar pintu dan jendela rumah. Pria itu kemudian menyuruh sang istri untuk membantu mengecek ke dalam setiap kamar.
"Pa!" teriakan sang istri membuat Bayu bergegas datang ke dalam salah satu kamar.
Bayu terkejut mendapati Sekar terduduk di pojok kamar sembari memeluk kedua lututnya. Wajah gadis itu pucat pasi, dan pandangannya pun terasa sangat kosong.
"Sekar," panggil Bayu lembut. Ia mengguncang sedikit bahu Sekar, agar gadis itu tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Sekar menoleh ke arah Bayu. "Mas Bayu?" panggil gadis itu dengan suara lirih.
"Iya, ini aku," jawab Bayu. Ia meminta tolong sang istri untuk mencari air minum di dapur.
"Teman priamu, Arion, berhasil menghubungiku kemarin. Maaf, aku sama sekali tidak tahu tentang kabar Mbah dan Bude Gayatri," sesal Bayu.
"Ini, Pa," wanita cantik yang merupakan istri dari Bayu itu kembali ke dalam kamar dengan membawa segelas air putih.
Bayu memaksa Sekar untuk meminumnya sedikit, lalu memperkenalkan sang istri padanya. "Ini Amanda, istriku,"
Sekar pada Amanda dan tersenyum samar.
"Sudah makan belum?" tanya Bayu khawatir. Adik sepupu jauhnya itu pasti tidak tidur berhari-hari, dilihat dari kantong matanya yang sudah menghitam.
"Mbah dan Bude, Mas," ucap Sekar. Air mata yang sedari tadi ia tahan kembali mengalir keluar. Sekar lagi-lagi menangis sesenggukan.
Bayu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Kondisi sang adik yang sangat rapuh membuat Bayu ikut menitikkan air mata.
Keesokan harinya, atas ijin Arion dan Ben, Rani, Ningsih, Lastri, Dimas dan Jalu datang ke rumah Sekar. Tangis gadis itu pecah begitu melihat kedatangan sahabat-sahabat yang dirindukannya. Arion tahu benar, bahwa Sekar tak hanya butuh dirinya saja, melainkan orang-orang sahabat-sahabat dekatnya juga.
Dua hari setelah kedatangan saudara dan sahabatnya, Sekar mengalami sedikit perubahan. Ia tidak lagi banyak menangis. Gadis itu pun sudah mulai mau makan meski hanya beberapa suap saja.
"Aku pergi dulu," pamit Arion. Sembari menunggu rekaman dashcam dipulihkan, Arion menyuruh anak buahnya untuk menelusuri jejak pelaku.
...***...
Adhisty tampak berjalan mondar-mandir di ruangan kerjanya. Kegelisahan melanda wanita berusia 34 tahun itu. Sesekali ia tampak mantap menekan sebuah nomor di ponselnya, tetapi sedetik kemudian keraguan tiba-tiba datang menyerang.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin wanita itu frustrasi.
Percakapan antara Davina dan sang ibu masih terekam jelas diingatan Adhisty. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia menolak perbuatan keji mereka. Namun jika ia ikut terlibat, Erlina pasti tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
Adhisty bergeming. Matanya menatap sendu pada sebuah foto yang terpampang di hadapannya. Itu merupakan foto keluarga yang diambil sesaat sebelum ayah tirinya meninggal.
Air mata mengalir membasahi pipi Adhisty. "Maaf, Yah," ucapnya lirih.