Cinta Tulus Mantan Office Girl

Cinta Tulus Mantan Office Girl
Titik terang


__ADS_3

Arion yang beru saja kembali dari ruang rapat, sontak mengernyitkan dahinya ketika mendapati Adhisty, sang kakak tiri, tiba-tiba menelepon.


Pria itu menunggu cukup lama sampai ia benar-benar yakin mengangkat telepon dari Adhisty.


Jantung Adhisty berdetak tak karuan saat teleponnya diangkat dan Arion menyapanya duluan. Hatinya yang semula yakin mendadak ciut mendengar suara sang adik.


"Kalau kau tak mau bicara, aku tutup!" seru Arion yang jengkel tatkala Adhisty tak kunjung menjawab sapaannya. Ia merasa aneh dengan tingkah wanita itu. Jelas-jelas dia yang menelepon tetapi tidak mau bicara.


"T–tunggu, Rion!" cegah Adhisty. Kalau sampai Arion menutup telepon ini, ia tak yakin apa masih sanggup meneleponnya kembali. Peduli setan dengan sang ibu, ia sudah muak melihat semua kejahatan yang dilakukan wanita itu.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Adhisty kemudian.


"Apa?" tanya Arion tak sabaran.


"Ini soal office girl itu," kata Adhisty. Ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum kemudian memberitahu Arion perihal pembicaraan Erlina dan Davina. Namun, Adhisty sengaja tidak memberitahukan semuanya agar Arion tidak kalap dan main hakim sendiri. Harus ada campur tangan pihak kepolisian demi menghindari boomerang pada dirinya sendiri.


Mendengar petunjuk dari Adhisty, Arion sontak saja terkejut. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa Davina langsung menemui Erlina selepas dari sini? Terlebih, apa maksud wanita itu soal ketakutannya masuk penjara. Belum lagi janji Erlina yang mengatakan, bahwa ia akan melindungi Davina dari jeratan jeruji besi.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Arion menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Ia hendak bergegas ke kantor polisi untuk memberi keterangan perihal apa yang dibicarakan Adhisty. Namun satu yang pasti, Sekar tidak boleh mengetahui hal ini dulu.


Ponsel Arion kembali berbunyi saat ia tengah berada di dalam mobil. Anton, salah seorang polisi, mengabari Arion bahwa Ahli Digital Forensik berhasil menjernihkan rekaman dashcam milik mobil truk yang terparkir tak jauh dari TKP.


Sesampainya di kantor polisi, ia diperlihatkan isi rekaman tersebut. Di dalam rekaman itu terlihat jelas ada dua orang pria berbadan tegap yang duduk di kursi kemudi dan sebelahnya. Mereka sepertinya memang tengah mengintai Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri dari jauh, karena saat kedua korban turun dari becak dan berdiri menunggu angkutan umum di pinggir jalan, mobil SUV yang mereka kemudikan tiba-tiba bergerak ke arah kedua korban dengan kecepatan sedang. Bukan hanya itu saja, rekaman juga memperlihatkan fakta bahwa seorang wanita muncul tiba-tiba dari kursi belakang dan mengendalikan pria yang duduk di kursi kemudi tersebut.


Jelas sekali terlihat, jika wanita itu tengah diliputi kemarahan. Ia memukul-mukul sandaran kepala si pengemudi sembari berteriak. Sesaat setelah si wanita melakukan hal tersebut, mobil pun melesat dengan kecepatan tinggi dan menabrak kedua korban hingga terpental, kemudian melarikan diri.


Arion memejamkan kedua matanya. Semula ia memiliki sedikit keraguan akan apa yang dikatakan Adhisty tadi. Namun setelah melihat rekaman ini, ia percaya bahwa apa yang dikatakan kakak tirinya itu adalah sebuah kebenaran.


"Anda kenal dengan wanita ini?" tanya Bas dengan hati-hati.


Arion mengepalkan kedua tangannya dan mengangguk. Bersamaan dengan itu, Aiden menelepon dirinya dan mengatakan bahwa mereka menemukan mobil yang dipakai para tersangka untuk menabrak keluarga Sekar.


Mobil tersebut ternyata telah dihancurkan menggunakan shredding machine di sebuah tempat penampungan kendaraan bekas yang jaraknya 70 km dari tempat kejadian.


Berbekal informasi yang didapatkan, rencananya mereka akan meminta kerjasama pihak kepolisian yang berada di Jakarta untuk menangkap pelaku beserta komplotannya.


...***...

__ADS_1


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Arion pada Sekar yang sedang duduk di sebelahnya. Setelah makan malam Arion mengajak Sekar duduk di atas bale untuk menghabiskan waktu berdua. Pria itu sengaja tidak membicarakan perkembangan kasusnya pada gadis itu, sebab ia baru saja memulihkan kondisinya.


Sekar mengangguk. "Terima kasih sudah repot-repot menghubungi saudara dan sahabatku, Mas," ucapnya.


"Syukurlah kalau kehadiran mereka membuatmu merasa lebih baik," ujar Arion.


Keduanya terdiam sejenak. Sekar mengusap lembut bale yang mereka duduki. Matanya kemudian memandangi rumah yang sekarang menjadi peninggalan keluarga satu-satunya, yang ia miliki. Menyadari hidupnya kini sebatang kara membuat Sekar kembali meneteskan air mata.


Arion yang menyadari hal itu lantas menghapus air mata Sekar yang mengalir membasahi pipinya.


"Tuhan begitu luar biasa," tutur Sekar. "aku tidak dibiarkan hidup seorang diri sampai usiaku hampir menginjak 26 tahun. Selain keluargaku, ternyata Tuhan juga menginginkan aku untuk hidup mandiri," sambungnya disertai tawa sumbang.


"Rasanya, kemalangan tidak pernah luput dari hidupku." Sekar menghapus air matanya lalu tersenyum menatap langit malam yang tidak berbintang.


Arion terdiam. Sedikit banyak ia pernah merasakan berada di posisi Sekar. Kehilangan kedua orang tua membuat semangat untuk hidup tidak lagi sebesar dulu. Namun, begitulah perjalanan manusia demi menjaga keseimbangan.


"Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Arion tiba-tiba.


Sekar menoleh ke arah pria itu. "Apa?" tanya gadis itu.


Arion berdeham sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri mengungkapkan sesuatu, yang memang sudah menjadi niatnya sejak awal menginjakkan kaki di kampung halaman Sekar. "Setelah semua ini selesai, maukah kau ikut denganku ke Jakarta?" Arion memutar tubuhnya dan menatap Sekar dalam-dalam. Tangannya kemudian menggenggam tangan gadis itu.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan rumah ini. Aku akan mencari orang untuk mengurusnya." Arion mencoba meyakinkan Sekar.


"Aku tidak punya siapa-siapa di Jakarta," kata Sekar datar.


"Kau punya aku, kau punya Bi Ida, Dini, Candra dan sahabat-sahabatmu di sana."


Sekar tertunduk lesu. Gadis itu enggan menjawab ajakan Arion. Saat ini, yang dia pikirkan hanyalah keinginannya melihat para tersangka, yang sudah menabrak kedua orang tercintanya hingga tew4s mengenaskan.


Arion yang memahami keadaan Sekar, tidak lagi memaksanya. Ia membiarkan Sekar untuk memikirkannya terlebih dahulu.


Gadis itu tidak menolak saat Arion menariknya ke dalam dekapan pria itu. Ia bahkan memejamkan mata, ketika Arion dengan lembut memberikan kecupan-kecupan ringan di puncak kepalanya.


...***...


"Habis dari mana kamu, Dis?" Erlina menyambut kedatangan Adhisty dengan tatapan tajam khas wanita itu. "Kenapa telepon Mama tidak diangkat?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Pekerjaan hari ini benar-benar menyita waktu, Ma," jawab Adhisty sembari melewati sang ibu yang berdiri menghalangi pintu apartemen.


"Berhenti di sana!" perintah wanita itu.


Adhisty berdecak kesal lalu menghentikan langkahnya.


"Akhir-akhir ini sepertinya kau sedang menghindari Mama. Ada apa?" tanya Erlina begitu sampai di hadapan Adhisty. Wanita itu menelisik wajah sang anak dengan tatapan mencurigakan.


"Aku hanya terlalu lelah bekerja. Aku mau ke kamar dulu." Adhisty kembali melangkah dan melewati sang ibu yang kini berdiri sembari melipat kedua tangannya.


"Apa kau diam-diam mengetahui sesuatu, Dis? Atau di belakang Mama, kau tengah berbuat hal yang tidak Mama inginkan?"


Pertanyaan yang dilontarkan Erlina kemudian, membuat jantung Adhisty seakan-akan nyaris meledak. Mencoba bersikap biasa, wanita itu lantas berhenti dan berbalik menatap sang ibu. "Mama ingat bukan, setelah Abiyan tertangkap aku berikrar untuk tidak pagi ikut campur. Jadi, terserah Mama mau melakukan apapun, asal jangan libatkan aku. Sekarang aku hanya fokus pada pekerjaan saja, agar hidup kita tetap terjamin!" ucap Adhisty tegas. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Kau benar. Jika kau tak ingin mendapatkan kemurkaanku, teruslah menutup mata dan telinga!" teriakan Erlina sama sekali tidak dihiraukan Adhisty. Ia terus melangkah masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu.


Di dalam kamar Adhisty menyandarkan tubuhnya di pintu. Air mata yang sudah ditahan sejak tadi pun langsung tumpah membasahi seluruh wajah wanita itu. Ia mengangkat kedua tangannya yang tengah gemetaran hebat, lalu sekeras mungkin memukul-mukulnya ke paha guna menghentikan getaran tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Shredding Machine:



__ADS_2