
Hari selanjutnya Sekar terlihat lebih tabah menghadapi sikap Ningrum yang kian arogan. Kendati Ningrum terang-terangan memperlakukannya bagai seorang budak, Sekar tetap menjalani tugasnya dengan sangat baik, tanpa mengeluh sama sekali.
Selepas menangis waktu itu, Sekar sadar bahwa Ningrum memang sengaja merundung dirinya. Dia sangat yakin Ningrum akan semakin menindasnya, jika ia terlihat lemah.
Mengetahui ketabahan Sekar, tentu Ningrum tidak senang hati. Tujuan gadis itu jelas agar Sekar tersingkir dan memilih resign dari pekerjaannya, seperti yang diharapkan Erlina, wanita yang memerintahkan dan membayarnya dengan nominal yang sangat fantastis.
Sebenarnya Ningrum akan tetap melakukan hal serupa meski tanpa perintah Erlina. Sebab jika Sekar tidak ada, gelar Office Girl Junior terbaik di kantor ini pasti akan kembali pada sahabatnya, Dara.
Bisa dibilang, Erlina hanya sebuah jembatan demi memuluskan jalan Ningrum agar bisa satu tim dengan Sekar.
Jujur, bagi Ningrum tidak mengherankan, mengapa Erlina memerintahkan semua ini padanya. Karena berita soal diusirnya wanita itu dari kantor oleh Arion dan Daniel beberapa waktu lalu, sudah menjadi rahasia umum di sini. Jadi wajar saja, jikalau saat ini Erlina menaruh dendam pada Sekar.
Lalu, mengapa bukan Dara sendiri yang diberi perintah oleh Erlina untuk menyingkirkan Sekar? Karena gadis itu tidak bisa dipindah tugaskan dari tempatnya, di lantai 14, dengan alasan tertentu. Jadi Ningrum dengan senang hati menggantikan posisi Dara. Siapa juga yang bisa menolak uang sebanyak itu, bukan?
Toh, semakin mengenal Sekar, Ningrum malah semakin membencinya. Di mata gadis yang terkenal bermulut pedas itu, Sekar hanyalah seorang gadis sok ramah dan tukang cari perhatian. Belum lagi rumor soal dirinya yang sedang dekat dengan salah seorang karyawan kelas atas, membuat Ningrum benar-benar muak!
...***...
Sekar baru sampai di rumah selepas isya. Ia terpaksa lembur karena harus menemani salah seorang karyawan perempuan menyusun proposal. Gadis itu tidak tega menolak permintaan karyawan tersebut untuk menemaninya di sana.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Sekar memutuskan untuk langsung tidur. Gadis itu sengaja melewatkan makan malam karena hanya sendirian di rumah. Bi Ida dan Dini menginap di tempat kerja mereka sampai esok hari. Toh, Sekar juga sudah tidak sanggup menggerakan tubuhnya lagi. Rasa lapar bahkan tak mampu mengalahkan kelelahan yang tengah ia dera saat ini.
Baru saja Sekar hendak memejamkan mata, suara dering telepon terdengar memekakan telinga.
Sekar mengambil ponsel jadulnya di atas nakas kecil. Nama 'Mas Dino' tertera di layar ponsel.
"Assalamualaikum, Mas,"
"Wa'alaikumsalam, syukurlah akhirnya kau mengangkat teleponku." Dino terdengar menghembuskan napas lega.
"Aku baru saja memegang ponsel. Ada apa, Mas?" tanya Sekar.
"Sekar, setelah aku memberitahukan ini, berjanjilah untuk tidak panik, oke?" bukannya menjawab, Dino malah meminta Sekar berjanji. Dia tahu betul bagaimana sifat Sekar yang gampang panikan jika menyangkut soal keluarganya.
"Ha? Memang ada apa, Mas?" perkataan Dino malah membuat Sekar gusar. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
__ADS_1
Suara helaan napas terdengar dari mulut Dino. "Mbah sejak tadi pagi dirawat di Klinik. Beliau kena stroke."
Selepas mendengar penuturan Dino, Sekar kontan mematung. Matanya seketika mengembun.
"Sekar," panggil Dino. "Hei! Sekar," ulangnya.
"Kenapa tidak meneleponku dari tadi sih, Mas? Mbah dirawat dari pagi dan kau baru mengabariku malam ini!" Sekar meninggikan suaranya. Gadis itu mulai menangis sesenggukan.
"Aku sudah meneleponmu berkali-kali, tapi kau tidak pernah mengangkatnya." Jawab Dino kalem. Ia paham Sekar tak bermaksud memarahinya. "Sudah, jangan nangis dan panik. Mbah sudah tidak apa-apa, aku akan terus–"
"Aku akan berangkat malam ini juga!" seru Sekar kemudian.
"Jangan terburu-buru, Mbahmu juga suda–" belum selesai Dino berbicara, Sekar sudah memutuskan sambungan teleponnya. Dino hanya bisa menghela napas pasrah.
"Gadis sembrono itu," batinnya.
Setelah menutup teleponnya, Sekar segera memeriksa log panggilan tak terjawab. Dan benar apa yang dikatakan Dino, sudah ada 17 panggilan tak terjawab di sana. Sejak Ningrum melarang mereka membawa ponsel, Sekar jadi suka lupa memeriksa ponselnya.
Buru-buru ia segera membereskan beberapa perlengkapan ke dalam tas selempang besar miliknya. Sekar hanya membawa dua setel pakaian demi meringankan barang bawaannya.
Sekar juga baru menghubungi Dini dan Bi Ida saat ia sudah berada di dalam mobil travel. Soal urusan pekerjaan, Sekar bisa menelepon Bu Anita, kepala koordinatornya, besok.
...***...
Dini memandang cemas ponselnya. Baru saja Sekar menelepon dan memberitahu perihal kepulangannya ke kampung halaman malam ini. Gadis itu semula melarang Sekar dan menyuruhnya untuk menunggu hingga esok pagi, tetapi ternyata Sekar sudah berangkat menggunakan mobil travel.
Dini tidak bisa berbuat apa-apa, selain berpesan agar Sekar berhati-hati dan langsung mengabarinya begitu sampai di kampung.
Sementara itu, Arion yang sedang menuruni tangga juga mendapat telepon dari Sekar. Sekar sengaja menghubunginya paling akhir.
"Apa!" pekik Arion begitu Sekar memberitahunya, bahwa ia tengah berada di perjalanan menuju ke kampung.
"Kalau begitu, besok aku akan menyusulmu. Kirimkan alamat rumahmu dan Kliniknya, sekarang juga!" titah Arion. Ia menekankan dua kata diakhir kalimatnya.
"Tidak perlu, Mas, aku hanya sehari dua hari di–"
__ADS_1
"Aku sedang tidak ingin dibantah!" mendengar nada suara Arion berubah, membuat nyali Sekar ciut seketika. Ia pun mengiyakan perintah pria itu.
Arion turun ke bawah dan menghampiri Aiden yang hendak bersiap pulang ke rumah.
"Ei, cancel semua schedule-ku beberapa hari kedepan. Limpahkan semua berkas pada Estiana. Suruh dia menghandle dua meeting penting yang tidak bisa dibatalkan. Kau ikut aku, kita akan terbang ke kampung halaman Sekar besok pagi!"
Melihat sorot mata atasannya yang dingin, Aiden tahu, Arion tidak ingin Aiden menjawab apapun selain, "baik, Pak." Pria itu segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Estiana.
...***...
Hari sudah semakin larut dan perjalanan yang ditempuh masih cukup jauh. Sekar beberapa kali menyeka matanya yang basah. Penumpang lain yang berjumlah delapan orang sudah terlelap semua.
Hatinya sangat gelisah. Tak sedetikpun gadis itu berhenti memikirkan kondisi Mbah Bhanuwati. Wajar saja, setelah kepergian kedua orang tuanya, hanya Mbah Bhanuwati dan Bude Gayatri yang Sekar miliki saat ini. Mereka berdua bisa dibilang, menghabiskan hidup hanya untuk membesarkan dirinya.
Itulah mengapa Sekar begitu mencintai keduanya. Satu hal yang menjadi ambisi gadis itu sejak dulu adalah, memberikan kehidupan yang layak untuk kedua orang tua tercintanya tersebut.
Sekar menghapus air matanya yang lagi-lagi keluar. Tangan gadis itu menggenggam ponselnya seerat mungkin. Ia enggan menaruh ponsel di dalam tas, takut-takut kalau Dino kembali menghubunginya nanti.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk Kakak yang setia membaca karyaku. Semoga berkenan ya.
Seperti biasa, selagi menunggu Sekar up bab berikutnya, boleh intip-intip dulu karya salah satu temanku. Dijamin suka deh.
Terima kasih, 🤗
__ADS_1