
Dari ambang pintu pagar, Sekar memandangi rumah yang akan ia tempati sementara. Rumah tersebut merupakan rumah tak bertingkat yang sangat luas. Lima buah mobil bahkan dapat dengan mudah terparkir di dalamnya.
Arion segera mengajak Sekar dan yang lainnya masuk ke dalam untuk menata barang-barang pribadi yang mereka bawa.
"Semoga kalian nyaman tinggal di sini," tutur Arion.
"Kami sudah banyak merepotkanmu, Rion," ujar Bayu.
"Ini benar-benar tidak merepotkan, Mas," balas Arion tersenyum. Ia pun mempersilakan Bayu dan sang istri untuk lebih dulu masuk ke dalam.
Setelah melihat-lihat, Sekar akhirnya meminta Bayu dan Amanda untuk menempati kamar utama yang memiliki kamar mandi pribadi. Sedangkan Jalu dan Dimas menempati kamar lain yang letaknya ada di tengah, begitu pula dengan Rani dan Ningsih di kamar sebelahnya. Sementara Sekar tidur bersama Lastri di seberang kamar sang sepupu.
"Rumah ini terlalu besar. Masih ada banyak kamar yang tersisa," kata Sekar setelah selesai menaruh kopernya di kamar. Rumah tersebut memiliki tujuh kamar tidur dan tiga kamar mandi, jika dihitung dengan kamar mandi pribadi yang ada di kamar utama. Belum lagi dapurnya yang terdiri dari dapur bersih dan dapur kotor. Sekar merasa sangat mubazir menempatinya.
"Hanya ini rumah sewaan yang dekat dengan kantor dan kedai." Jawab Arion. "Sudah kubilang untuk tidak memikirkan hal-hal seperti ini, kan?" sambungnya.
Sekar menarik napasnya. Berbagai pengalaman di masa lalu membuat gadis itu enggan berdebat sengit dengan Arion.
Ponsel milik Arion tiba-tiba berbunyi. Setelah melihat identitas si penelepon, ia pun bergegas menjauhkan diri dari Sekar.
Raut wajah kelegaan terpatri di wajah pria tampan itu ketika Anton memberitahu, bahwa Davina berhasil ditangkap di kediamannya dan akan diterbangkan ke sini esok hari. Ucapan syukur tak henti-hentinya dilafalkan Arion dalam hati.
Sedikit lagi masalah hampir selesai. Tinggal bagaimana caranya ia harus menenangkan Seka,r jika gadis itu tahu siapa tersangka pembunuhan keluarganya.
"Kenapa, Mas?" tanya Sekar yang ternyata menyusul Arion ke luar rumah.
Arion berbalik lalu menghampiri Sekar. Tangannya kemudian memegang kedua bahu gadis itu. "Polisi berhasil menangkap pelaku yang melarikan diri ke Jakarta."
Mata Sekar seketika itu juga basah. "Mas tidak bohong, kan?" tanya gadis itu dengan suara parau, guna memastikan kembali apa yang baru saja ia dengar.
Arion mengangguk mantap. Ia pun memeluk Sekar seerat mungkin sembari menenangkannya yang mulai menangis. "Kalau kau tidak sanggup, kau tak perlu datang ke kantor polisi. Semua biar aku yang urus," ujar Arion.
Sekar menggelengkan kepalanya di pelukan Arion. "Aku sangat ingin melihat orang itu. Siapa tahu aku pernah melihat atau bahkan mengenalnya."
Arion sontak menahan napasnya setelah mendengar jawaban Sekar. Entah apa yang akan terjadi, ketika Sekar mengetahui siapa yang telah membunuh kedua orang tercintanya.
__ADS_1
"Kumohon untuk tetap berada di sampingku apapun yang terjadi." Hanya itu yang dapat Arion katakan pada Sekar.
Sekar kembali mengangguk.
Arion melepas pelukannya dan menatap Sekar dalam-dalam. Entah apa yang melandasi keberaniannya, pria itu tiba-tiba merapatkan diri dan memagut mesra bibir ranum Sekar.
Sekar berusaha memberontak. Ia mendorong keras-keras tubuh pria itu, tetapi dengan sigap Arion menahan kedua tangan Sekar untuk tetap diam di samping tubuhnya, sembari memperdalam pagutannya pada bibir gadis itu.
Apa yang Arion lakukan membuat pertahanan diri yang Sekar bangun setinggi langit, runtuh seketika. Semakin dalam ciuman yang diberikan pria itu, semakin membuat Sekar tak mampu lagi berontak. Gadis itu malah melepaskan tautan tangan mereka dan mengalungkan tangannya pada leher Arion. Sejenak ia lupa akan fakta, bahwa mereka bukan lagi kekasih.
Mereka baru melepaskan ciuman setelah masing-masing nyaris kehabisan oksigen.
Arion tersenyum simpul saat mendapati wajah Sekar sudah semerah tomat masak. Ia pun mendekati telinga Sekar dan berkata, "aku mencintaimu," sembari mengecup ringan pipinya.
...***...
Erlina tengah dilanda kepanikan setelah mendengar kabar bahwa polisi telah berhasil menangkap Davina kemarin. Disusul kelima anak buahnya yang hendak pergi melalui Bandara Soekarno Hatta. Polisi berhasil mengidentifikasi para tersangka dan meminta bantuan pihak Bandara untuk menahan mereka.
"Awas saja kalau sampai para bedebah itu buka mulut!" gumam Erlina sembari menatap horor ponselnya. Wanita itu tak mampu menutupi kegelisahan yang datang menyergap.
Mengetahui sang anak telah pulang, Erlina segera menghampirinya. "Kau lembur lagi?" tanya wanita paruh baya itu.
"Iya." Jawab Adhisty tanpa ekspresi.
"Akhir-akhir ini kau selalu lembur, seperti sedang menghindari Mama saja," tukas Erlina.
"Pekerjaan memang sedang banyak-banyaknya, Ma." Adhisty melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil minum.
"Dhis, kamu tahu berita soal Davina?" tanya Erlina sembari mengikuti anaknya ke dapur.
"Berita apa?" Adhisty balik bertanya. Ia meletakkan gelas bekas pakainya ke tempat cucian piring.
Wanita itu pun memberitahu Adhisty perihal penangkapan Davina kemarin.
"Memang apa yang telah Davina lakukan sampai harus berurusan dengan polisi? Dan mengapa Mama terlihat sangat gusar?" tanya Adhisty datar.
__ADS_1
"Siapa yang gusar?" Erlina meninggikan suaranya. "Dan, bohong sekali jika kau tidak mengetahui perbuatan Davina! Kau ada di rumah ini saat wanita itu bertandang kemari," sambungnya.
"Aku bukan orang yang hobi menguping. Dan lagi, aku sedang fokus-fokusnya bekerja." Adhisty dengan santai melenggang pergi melewati sang ibu, yang berdiri di hadapannya.
"Davina sudah membunuh keluarga gadis OG itu!" seruan Erlina membuat Adhisty menghentikan langkahnya saat itu juga. "Mama membayar beberapa orang untuk membantu Davina membuntuti gadis itu selama beberapa hari. Tetapi wanita tolol itu malah melakukan hal sembrono tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu pada Mama."
Pernyataan Erlina yang seolah-olah tidak ingin disalahkan membuat tangan Adhisty terkepal kuat.
Erlina memicing sinis. Bukannya terkejut dengan pengakuannya barusan, Adhisty malah berdiam diri sejenak, sebelum akhirnya kembali melangkah menuju ke kamar. Hal itu sontak saja membangkitkan rasa curiga Erlina.
"Jangan-jangan, kau memang sudah mengetahui hal ini ya, Dhis?" Erlina berusaha menebak.
Tanpa mengindahkan pertanyaan Erlina, Adhisty masuk ke dalam kamar dan kembali ke luar sambil membawa sebuah koper besar, yang memang telah ia siapkan sejak kemarin.
"Mau ke mana kau, hah?" Erlina kontan saja berang melihat hal tersebut.
"Ma," panggil Adhisty. Ia berhenti tepat di hadapan Erlina. Aura kemarahan yang terpancar jelas dari wanita itu, terasa begitu kental mengusik batin Adhisty.
Adhisty menguatkan hati. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi takut pada sang ibu.
"sampai kapan Mama hidup seperti ini? Apa Mama benar-benar tidak menginginkan hidup tenang, seperti yang aku inginkan?"
Meski Adhisty sudah melembutkan suaranya, hati Erlina tetap saja tidak tergugah. Ia malah menghampiri sang anak dan menarik paksa kopernya. "Tidak usah sok menggurui orang tua! Kau bisa hidup enak, semua karena Mama turun tangan!" bentaknya.
" ... atau jangan-jangan, kau yang telah melaporkan perbuatan Davina pada pihak kepolisian?" tebaknya sembari memicing sinis.
Adhisty lagi-lagi tidak menjawab. Ia hanya merebut kembali kopernya dari tangan Erlina dan bergegas pergi menuju pintu apartemen.
Erlina berteriak menyuruh Adhisty berhenti. Ia bahkan melempar gelas yang ada di dekatnya hingga hancur berkeping-keping.
"Kau tega melakukan hal ini pada Mama, padahal Mama pernah melindungimu dari kejaran polisi bertahun-tahun silam!"
Perkataan Erlina sontak membuat Adhisty tertegun di ambang pintu apartemen.
Seperti biasa, kebohongan memang selalu menjadi trik andalan Erlina. Dan kali ini Adhisty tidak akan pernah mempercayainya lagi. Wanita itu telah membulatkan tekadnya untuk pergi meninggalkan sang ibu seorang diri.
__ADS_1
"ADHISTYYY!" teriakan memekakkan telinga mengiri kepergiannya.