
Dika menunggu kehadiran Tomy yang berjanji akan menjemput dirinya setelah menghabiskan waktu 3 bulan di negara kimchi itu.
Alih-alih Tomy yang datang, malah Romi yang muncul dengan wajah kusut dan seperti orang yang putus asa datang menjemput Dika dan Yasmin.
"Apa pak Tomy ada rapat dadakan? Handphonenya nggak bisa di hubungi. Padahal kemarin dia janji akan menjemputku. Dan kau terlambat 1 jam menjemputku Rom?!"
Ujar Dika sembari membantu Romi memasukan kopernya ke mobil.
"Pak Tomy ada di rumah pak, nanti bapak akan tahu alasan pak Tomy nggak bisa datang menjemput"
Dika segera masuk kedalam mobil, ia tidak sabar menemui keluarganya dan mengatakan kalau Yasmin sekarang sedang mengandung.
Sepanjang jalan Dika dan Yasmin tampak selalu tersenyum bahagia sambil bergenggaman tangan. Sebentar-sebentar ia mengusap perut isterinya dengan penuh rasa sayang.
"Kita kerumah pak Tomy dulu ya?"
Tanya Dika ketika melihat arah tujuannya merupakan jalan kerumah Tomy.
"Sebaiknya begitu pak, karena semua sudah berkumpul disana"
Setelah beberapa waktu mereka pun tiba di area rumah Tomy. Dari kejauhan Dika melihat begitu banyak kendaraan serta kerumunan orang yang menanti kedatangan Dika. Namun yang membuatnya heran ada dua buah mobil ambulan disana.
Begitu memasuki halaman rumah, jantung Dika berdegub dengan keras ketika melihat berdera kuning yang berkibar di sudut pagar rumah itu.
Tak kalah dengan Dika, Yasmin pun tampak sangat terkejut. Bahkan ia langsung mencengkeram lengan Dika dengan wajah bingung sekaligus cemas dan sedih.
"Yank?!"
Dika diam sambil memegang tangan dingin Yasmin yang memegang lengannya. Perasaan Dika semakin tak menentu mana kala terdengar isak tangis beberapa orang yang berada di dalam rumah itu.
Jantung Dika nyaris luruh ketika kakinya gemetar melihat dua jenazah terbujur kaku di hadapannya. Apalagi melihat Gibran yang terus menangis di pangkuan Umi sambil meneriakkan kata "mamaa..mamaa..." sambil menjulurkan tangannya hendak meraih salah satu jenazah yang terbujur kaku itu.
Romi yang mengiringi Dika dan Yasmin di belakang tampak tak kuasa menahan air matanya.
"Maaf pak Dika, saya baru berani mengatakannya sekarang. Bapak mengalami kecelakaan bersama ibu di jalan Tol saat akan menjemput bapak di bandara tadi hingga menewaskan nyawanya"
"Brukk!"
Dika terduduk lemah di lantai, sedangkan Yasmin pingsan dan langsung di bawa ke kamar.
__ADS_1
Perlahan Dika mendekati ke dua jenazah itu. Lalu dengan tangan gemetar ia membuka salah satu penutup di salah satu jenazah yang berada di dekatnya.
"Bang Tomyyyyy....!!"
Air mata mengalir dengan deras melewati pipi Dika yang berjahit dan jatuh mengenai bajunya. Tangannya memeluk tubuh dingin yang terdapat beberapa luka dan darah disana.
Dika tidak peduli lagi dirinya menangis di saksikan orang banyak dan di pandang sebagai lelaki yang cengeng karena hatinya begitu hancur dan bersedih.
"Kenapa begitu cepat ninggalin aku bang....? Masih ada yang ingin aku ceritakan ke abang. Bangun bang... hiks... hiks, banguuun.... hiks.. hiks... *
Semua orang kembali menangis melihat Dika yang menangisi kepergian Tomy dan Humaira.
Beralih dari jenazah Tomy, Dika membuka kain penutup jenazah Humaira.
Hatinya perih mana kala wanita yang pernah di cintainya itu terbujur kaku dan membiarkan Gibran menangis tanpa henti.
"Kak, dengarlah anakmu menangis memanggilmu, bangun lah kak..., bangun... hiks... hiks... Kenapa aku pulang tapi kalian malah pergi ninggalin aku selamanya? Kenapaaa... hiks... hiks..."
"Dika, sudah nak...., ikhlaskan kepergian mereka"
Ibu Yasmin memegang bahu Dika mencoba menenangkan hati pemuda itu.
Ucap Dika berlinang air mata melihat ke arah ibu mertuanya.
"Iya nak, ikhlaskan mereka..."
Ujar sang ibu sambil memeluk Dika.
Dika membalas pelukan itu. Saat ini dirinya sangat butuh tempat bersandar untuk meluapkan kesedihannya. Kehilangan Tomy sama sedihnya dengan kehilangan Nia sang kakak. Apalagi Tomy adalah sosok pengganti ayah bagi Dika.
Proses pemakaman pun digelar atas perintah Dika setelah jenazah di mandikan. Keranda di usung ke TPU dimana Danu dan Nia di makamkan.
Empat makam orang-orang terdekat berderet di hadapan Dika. Danu, Humaira Tomy dan juga Nia. Mereka kini menjadi keluarga utuh di sana.
*****
Semua saudara dan kerabat berkumpul setelah kembali dari pemakaman Tomy dan Humaira. Bahkan Zulfah pun datang berkumpul atas permintaannya Romi.
Notaris yang sering keluar masuk kantor Tomy hadir di tengah-tengah mereka membacakan wasiat yang selalu di persiapkan dan di ubah Tomy hampir tiap bulannya.
__ADS_1
"Hak asuh Gibran aku serahkan kepada Dika beserta harta yang di wariskan kepada Gibran. Yaitu perusahaan, rumah dan beberapa aset lainnya. Dika akan menjadi wali untuk Gibran mengambil tanggung jawab serta memimpin perusahaan sampai Gibran siap mengambil alih posisi itu. Kemudian pada perusahaan yang sedang di pegang oleh Dika menjadi hak miliknya. Lalu swalayan yang berada di jalan Xxy milik Humaira akan di wariskan kepada Umi dan Asep. Kemudian 10% tabungan dalam bentuk uang yang di miliki Tomy akan, diberikan kepada Kartika (bibi Tomy) dan 5% kepada kerabat lainnya. Lalu keluarga Saripah (ibu Zulfah) juga mendapat 10% tabungan uang dimana 10% itu bernilai sekitar 17 miliyar rupiah. Lalu 10% lagi aku ingin membaginya ke beberapa sekolah pesantren serta masjid yang membutuhkan bantuan. Demikian surat wasiat ini selesai saya bacakan. Untuk perhitungan lebih jelasnya kita diskusikan di kantor saya. Terima kasih"
Notaris menutup catatan bukunya yang baru saja ia baca dengan tertera tanda tangan serta cap milik Tomy. Ternyata Tomy telah mempersiapkan segalanya dari jauh-jauh hari. Bahkan notasi selalu datang kekantornya bila ada perubahan dalam isi wasiat tersebut.
Tiada yang tahu sampai kapan dan berapa lama usia kita di dunia begitu pula Tomy. Harta dan tahta bisa menyebab orang buta dan untuk itu Tomy telah membaginya sedemikian rupa.
Rumah tampak lenggang dan sepi meski beberapa pekerja melintas di hadapan Dika. Yasmin sedang bermain bersama Gibran sembari belajar mengasuh bayi yang tidak lama lagi akan meneriakkan tangisannya di rumah besar itu.
Empat bulan berlalu, semua tampak biasa saja, seolah-olah Tomy dan Humaira dengan berpergian untuk liburan. Dika dan Yasmin menempati rumah besar itu menggantikan Tomy dan Humaira sebagai pengganti orang tua bagi Gibran, sedangkan rumah baru mereka di tempati oleh orang tua Yasmin.
Gibran sudah berusia 3 tahun 2 bulan ,sudah berlarian kesana kemari ketika hendak di ajak mandi oleh Yasmin. Kekehan tawanya tanpa beban saat Yasmin berhasil menangkapnya dan menciumi pipinya yang cubby.
"Papaaa..."
Ucap Gibran memanggil Dika minta di gendong ketika ia melihat lelaki itu memandangi dirinya.
"Kemarilah..."
Ujar Dika berjongkok dan membentangkan kedua tangannya.
Gibran meronta minta turun dari gendongan Yasmin. Yasmin pun lalu melepaskan balita itu sambil menepuk bokongnya gemas.
Gibran terkekeh sambil berlari dan masuk dalam pelukan Dika. Dika memeluk erat tubuh gempal yang masih kecil itu dengan segenap rasa sayangnya.
"Jika kau susah besar nanti dan tahu aku bukan papa kandungmu, tolong cintai aku seikhlasmu nak, dan jangan pernah membenciku...."
END.
Notes : yang selalu setia sampai akhir pada novel ini, author ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknyaπππ. Sampai ketemu lagi di next novel. See u guys π
Baca juga novel DREAM DESTINY bagi yang suka kisah kerjaan, tentang seorang gadis yang reinkarnasi.
Baca juga Pembalasan Istri Yang Teraniaya bagi yang suka cerita drama rumah tangga yang menguras emosi.
Baca juga ARJUNA MENCARI CINTA bagi yang suka kisah Lol seorang pemuda.
Baca juga, Lysaa, Gadis Penakluk, yang suka kisah wanita tangguh, dan penuh Action.
Trimakasih π
__ADS_1