Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Terlalu Baik, Part 2


__ADS_3

Dua minggu berlalu, kediaman rumah Tomy tampak tenang seperti biasanya, tetapi tidak di kantornya. Para karyawan kantornya sedang bergosip setiap ada kesempatan. Dari bisikkan-bisikkan hingga menyebar menjadi rumor yang terus berlanjut hari demi hari.


Penyebabnya adalah, kedatangan Sela yang menangis tersedu-sedu meminta pertanggung jawaban Tomy atas anaknya. Rumor Tomy selingkuh dan membuang anak serta selingkuhannya pun menyebar.


Fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan. Gosip-gosip yang tak masuk akal itu lebih di minati sejumlah orang yang hidupnya kurang lengkap tanpa nyinyir. Namun hal itu tidak menggoyahkan Tomy. Ia yang merasa tidak melakukan seperti rumor yang tersebar itu, baginya itu hanyalah angin lalu.


Lalu suatu hari ketika Humaira datang ke kantor untuk makan siang bersama suaminya, wanita itu bertemu Sela yang menangis di lobi memaksa untuk bertemu Tomy.


Tomy datang memenuhi permintaan Sela, terjadilah perdebatan yang di saksikan Humaira tanpa sepengetahuan mereka berdua.


"Untuk apa kau datang kemari?"


"Kau tanya untuk apa? Aku minta pertanggung jawabanmu atas anakku hiks...hiks...!"


"Bukankan dokter sudah menjelaskan, situasi saat itu sangat sulit. Seharusnya kau paham itu?!"


Adegan itu disaksikan banyak karyawan dan tamu yang kebetulan berada di lobi kantor. Mereka pun mulai berbisik-bisik membicarakan apa yang mereka lihat dan dengar.


"Tidak! Aku tidak mau paham. Pokoknya kau harus tanggung jawab!"


"Tanggung jawab yang bagaimana yang kau maksud?"


Tanya Tomy bingung.


"Nikahi aku?!"


"Hahaha...,nikah? Apa kau dan aku cukup dekat?"


Jawab Tomy dengan santainya.


"Masa bos kita kayak gitu sih, nggak bertanggung jawab banget?!"


"Iya, udah buang anak sekarang malah nggak mau tanggung jawab?!"


"Iya cuma mau bagian enaknya aja?!"


Bisikan beberapa karyawan terdengar nyaring hingga terdengar ke telinga Tomy. Humaira yang mendengar perdebatan serta bisikan-bisikan itu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya geram. Wanita itu masih menahan diri untuk maju. Ia percaya akan ucapan suaminya yang memintanya untuk percaya padanya.

__ADS_1


"Lalu jika saat itu aku memilih anakmu apa kau bisa berdiri saat ini di tempat ini? Harusnya ayah dari anak itu yang bertanggung jawab padamu. Lalu dimana dia?!"


Ucapan Tomy menambah argumen baru bagi para pendengarnya.


Sela menggigit bibir bawahnya kesal sambil menangis.


"Akibat dari operasi itu rahimku di angkat karena terluka. Dan aku tidak bisa memiliki anak lagi. Lalu buat apa aku hidup?! Semua ini karena kau yang mengambil keputusan itu!"


"Baiklah, seharusnya waktu itu aku tidak menolongmu. Jadi kalian bisa mati bersama"


Ucapan Tomy membuat Sela jadi merasa ragu. Wanita itu hanya diam tak bisa berkata apa-apa.


"Aku akan memberi kompensasi atas keputusanku yang tanpa pertimbangan keluargamu. Dan ingat setelah ini aku ingin kita tidak memiliki urusan lagi. Seharusnya kau paham atas keinginanmu. Benarkah kau ingin mati atau kau tak ingin kehilangan kesempatanmu atas ayah dari bayi mu"


Jleb. Sela terdiam dan memucat. Wanita itu tak bisa berkata-kata. Bahkan untuk mencari alasan pun pikirannya kosong.


Ucapan Tomy membuat spekulasi baru mereka yang suka bergosip. Rumor yang merugikan Tomy perlahan di ragukan kenyataan. Setelah melihat perdebatan diantara kedua pihak yang terkait, mereka berasumsi jika wanita itu hanyalah mencari kesempatan dan mencoba menjebak Tomy.


Perlahan Humaira berjalan mendekati mereka. Kehadiran Humaira yang baru terlihat itu membuat tegang suasana.


"Mas..."


"Loh, sayang? Kapan datang? Kenapa tidak nelpon dulu?"


Tanya Tomy yang langsung tersenyum lebar menyambut sapaan Humaira. Lelaki itu merasa senang isterinya datang karena Humaira jarang sekali mau di ajak ketemuan di kantornya.


Sela mengepalkan tangannya melihat adegan mesra itu. Para karyawan yang menyaksikan itu tampak perlahan membuang pemikiran negatif mereka tentang atasan mereka.


"Mbak Sela, sebagai sesama wanita saya juga tahu betul apa yang mbak rasakan. Tapi saat itu saya pikir keputusan yang di ambil mas Tomy sudah benar. Sebaiknya mbak membuka lebaran baru yang lebih baik. Saya yakin orang baik akan bertemu yang baik, begitu pula sebaliknya. Semasih di berikan kesempatan hidup, berusahalah mengisinya dengan kebaikan. Dan jangan lupa selalu ingat yang di atas, itu yang utama"


Semua mata menatap Sela menunggu apa jawaban wanita itu. Sela yang merasa tersudutkan mau tidak mau menerima apa yang telah di tawarkan Tomy.


"Baiklah... 10 M, aku rasa jumlah segitu sedikit bagimu?!"


Ujar Sela tak tanggung-tanggung.


"Waah... Itu menawar apa merampok?!"

__ADS_1


Bisik salah seorang karyawan.


Tomy menghela napas dan tetap santai menanggapi permintaan Sela barusan. Sedangkan Humaira terkejut karena jumlah itu tidaklah sedikit baginya.


"Romi, siapkan uangnya serta hitam di atas putih. Semua harus jelas tanpa kendala kedepannya nanti"


Perintah Tomy pada asistennya dan menatap serius Sela agar wanita itu paham bahwa ia tak main-main untuk tidak memiliki urusan lagi pada wanita itu.


"Baik pak, bu Sela silahkan ikut saya?"


Ujar Romi mengarahkan agar mengikutinya.


Mau tidak mau Sela pun akhirnya mengikuti Romi dan menatap benci ke arah Humaira lalu membuang pandangannya.


Tomy dan Humaira pun beranjak meninggalkan lobi menuju ruang kerja Tomy. Sesampai di sana, Humaira langsung duduk di sofa dan menatap suaminya menunggu penjelasan atas uang 10 M yang sebentar lagi akan berpindah kepemilikan.


"Mungkin ini bukan rejeki kita, ikhlaskan saja. Aku merasa ikut bertanggung jawab karena keputusan itu. Walau itu juga demi kabaikannya. Sabar ya..."


Humaira menghela napas, lalu memberikan pelukan untuk suaminya. Bukan uang 10 M yang memberatkan, tapi mungkin keputusan menghilangkan nyawa bayi untuk menghidupkan Sela yang membuat Tomy mengambil tidakan kompensasi itulah yang berat pikirnya.


Dan bagi Tomy sendiri, kompensasi itu bukanlah hal yang dapat memberikannya kelegaan seperti menghapus kesalahannya atas keputusannya. Andai bisa menyelamatkan keduanya, berapa biayanya pun pasti Tomy berikan. Namun Tuhan berkendak lain, dan memberikan Tomy serta Humaira ujian ini agar mereka tetap bertawakal kepada-Nya.


"Ssstt, pak Tomy apa nggak terlalu baik tuh. Gila ya 10M gitu?! Kalau gue udah sukur di tolongin juga"


"Itulah bedanya pak Tomy sama elu?!"


"Etdah, kenapa jadi gue?"


"Elu harusnya bersyukur dapet bos baik kayak pak Tomy. Meski menyeramkan dan tegas tapi pak Tomy selalu komitmen untuk membuat kesejahteraan karyawannya yang bekerja dengan giat dan rajin. Coba di tempat lain? Bisa lu beli tas bermerek kayak gini?"


"Iya juga sih, tapi tu cewek apa nggak kebangetan sampe minta 10M, kan kasian pak Tomy. Lagian pak Tomy kan nolong bukan juga keinginannya"


"Udahlah, ngapain juga susah-susah mikirin. Pak Tomy aja nggak keberatan kok. Pastinya pak Tomy memiliki keputusan sendiri dan sudah memikirkan yang terbaik buat semua. Dah ah, ayo kerja! Nggak selesai-selesai ini?!"


Gosip pun berakhir dengan kembali kepekerjaan masing-masing.


Cara pikir dan pandang orang tentunya berbeda-beda mengenai konsep dari kata" terlalu baik" itu . Mungkin ada yang memandang tidakan Tomy terlalu baik, namun ada juga yang tidak sependapat dengan itu. Semua kembali diri pribadi masing-masing, seperti apa konsep "baik" mau pun "terlalu baik" menurut mereka.

__ADS_1


✨LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊


✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗


__ADS_2