Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Penyekapan


__ADS_3

"Lain kali kita kaburan ke pantai lagi yuk?"


"Jangan sering-sering yank, ntar kamu di pecat sama bang Tomy"


"Iya... iya, bawel banget sih cintaku?!"


"Loh kok pintunya ke buka sayang? Bukannya tadi bu Tuti bilang di udah di kunci ya?"


Dika dan Yasmin baru saja pulang dari liburan semalam mereka di pantai. Namun mereka heran karena pintu rumah tidak terkunci. Padahal bu Tuti baru saja memberi kabar lewat pesan singkat kalau rumah mereka sudah di bersihkan dan pintu sudah terkunci rapat.


"Lupa kali yank"


"Ya udah yuk masuk!"


Dika dan Yasmin perlahan membuka pintu lebar-lebar untuk masuk bersama-sama. Dan...


"BUGH!! BUGH!!"


Sebuah kayu menghantam kepala Dika serta tubuh Yasmin hingga keduanya tergeletak di lantai.


Darah segar mengalir di pelipis Dika. Sang pelaku segera menyeka darah itu dengan pakaiannya di bagian bawah. Wajah Dika di usap dengan penuh rasa sayang meski dalam keadaan tidak sadarkan diri karena di hantam oleh benda keras.


"Akhirnya, impianku akan segera terwujud. Hihihi..."


Pintu segera di tutup dan di kunci rapat. Kedua tangan Yasmin di ikat beserta kakinya. Mulutnya di plester agar tidak mengeluarkan suara ketika ia sadar nantinya. Dan ia di biarkan terbaring begitu saja di lantai yang dingin.


Sementara Dika di seret karena tubuhnya yang berat. Ia di dudukkan di  kursi sofa dengan tangan di ikat ke belakang. Kaki dan tubuhnya juga di ikat, mulutnya diplester sama seperti isterinya.


Pelaku lalu mengambil hape Dika dan menonaktifkan ponsel itu. Kemudian dia juga membongkar tas Yasmin dan mencari hape milik wanita itu. Smartphone itu sedang berdering ketika pelaku meraihnya. Ia lalu menggeser ke arah bulatan merah untuk mengakhirinya.


Ternyata telpon itu dari bu Tuti yang menanyakan soal pintu yang terbuka. Yasmin sempat mengiriminya pesan menanyakan hal itu. Pelaku lalu membalas pesan itu, dan mengatakan pada bu Tuti untuk libur bekerja sementara.


Bu Tuti mengira tuan dan nyonya nya akan berlibur ke luar negeri. Tetapi, pertanyaannya lewat pesan singkat itu tidak mendapat balasan. Kemudian hape Yasmin juga di nonaktifkan oleh sang pelaku.

__ADS_1


"Oh sayang ku, akhirnya kita bisa bersama lagi"


Ujar pelaku yang tak lain tak bukan adalah Rima.


Ya, Rima berhasil kabur dari rumah sakit dimana dia sedang dalam masa pengobatan.  Dia berhasil meloloskan diri setelah melukai perawat dan seorang pengunjung wanita yang berada dalam toilet, serta melucuti pakaiannya untuk penyamaran.


Rima duduk di dekat Dika, pemuda itu di rebahankan kepalanya di pangkuan Rima meski dalam keadaan terikat. Gadis itu mengusap lembut kepala Dika dan sesekali menciumi pucuk kepala pemuda itu.


"Oh, kepala mu masih berdarah sayang, sebentar ya?"


Ujar Rima ketika melihat ada noda darah di pahanya oleh luka di kepala Dika. Ia pun lalu meletakkan kepala Dika di sofa dan mencari kotak P3K untuk mengobati luka pemuda itu.


"Miaaaw... miaaw.... miaww...."


Yuna dan Nayu, kedua kucing peliharaan Dika dan Yasmin bersuara ketika Rima melintasi kadang mereka. Rima yang merasa kucing itu terlalu berisik lalu memindahkan mereka ke belakang rumah.


Gadis itu lalu kembali ke ruang tamu dimana kedua pemilik rumah masih tidak sadarkan diri.  Ia pun membersihkan luka Dika lalu memberinya obat dan menutupi luka itu dengan plester luka.


"Aku nggak mau wajah tampan kekasih ku terlihat jelek di pandang mata. Tidurlah yang nyenyak sayang, aku ada di samping mu. Muuaach"


Ia pun kembali memangku kepala Dika dan terlelap disana.


"Ugh!"


Kenapa tubuhku sakit sekali dan sulit di gerakan? Oh, kenapa aku terikat dan tidur di lantai begini? Mulut ku, mulut ku juga di plester!


Yasmin perlahan mulai tersadar setelah 4 jam tergeletak di lantai. Ia bingung dan masih berusaha memahami apa yang terjadi. Ia pun berusaha meronta untuk melepaskan dari dari tali yang mengikat kuat dirinya.


"Ugh...!"


Apa yang terjadi?!


Perlahan Yasmin mencoba mengingat apa yang terjadi dari mulai pintu yang tidak terkunci. Ia teringat kalau ada orang yang memukul Dika dan dirinya dalam waktu yang hampir bersama. Kejadian itu begitu cepat hingga ia tak sempat berteriak untuk meminta tolong.

__ADS_1


Yasmin menggeliat dengan susah payah melihat keadaan di sekitar. Matanya terbuka lebar saat mendapati Dika dengan keadaan yang sama dengan dirinya pingsan di pangkuan Rima.


Rima!! Ya... Allah, cewek gila itu bisa melakukan apa pun tanpa pikir panjang. Aku harus tenang, sebelum dia bangun, aku harus bisa melepaskan diri dan menolong Dika.


Yasmin melihat sekitar dirinya, mencari cara agar bisa terlepas dari ikatan tali yang menjerat dirinya.


Aku harus bergeser ke dapur. Disana ada pisau, pasti bisa memutuskan tali ini. Tapi itu terlalu jauh, bagaimana jika dia bangun sebelum aku sampai ke dapur?


Yasmin berpikir dengan keras untuk bisa menolong dirinya. Ia kembali melihat keadaan sekitar.


Oh, gunting kuku! Aku yakin menaruhnya didalam tasku.


Dengan perlahan tanpa menimbulkan suara, Yasmin mendekati tasnya yang berserakan di lantai. Ia bergeser seperti ulat untuk mencapai dimana tasnya berada. Begitu dapat dengan susah payah ia berusaha merogoh kedalam isi tas dengan tangan terikat ke belakang.


Senyumnya perlahan terukir ketika ia merasa benda yang ia pegang adalah gunting kuku. Ia pun mencoba membuka bagian yang tajam dan menggesekannya ke tali ikatan di tangannya.


Sangan sulit, bahkan Yasmin hampir saja menyerah. Ia hampir menangis karena sangat susah menggesekan gunting kecil itu ke tali yang cukup tebal terikat di tangannya.


"Coba lihat, apa yang tikus ini sedang lakukan?!"


"Mmmggghhhh...."


Yasmin mengerang kesakitan ketika Rima tiba-tiba sudah ada di belakangnya dan menjabak rambutnya dengan kasar ke belakang.


Mulutnya yang masih di plester membuat suara rintihan Yasmin nyaris tak terdengar. Ia pun menangis karena jambakan Rima begitu kuat serasa rambutnya akan tercabut dari kulit kepalanya.


"Kenapa? Nggak bisa bicara ya? Kikikiki kasihan, emang gue peduli?!"


"Mmmggghhhh.... Mmghhh!!"


Sekali lagi Rima menghentakkan tangannya menarik rambut Yasmin dengan keras hingga wanita itu menjerit dalam mulut di plester.


Gunting kuku di tangan Yasmin di sita, ia pun di seret dengan cara di tarik rambutnya, hingga mau mau tidak mau kaki dan tubuh Yasmin berusaha mengimbangi mengikuti kemauan Rima agar kepalanya tidak begitu sakit di seret paksa.

__ADS_1


Yasmin pun di ikat di pilar penyangga rumah dekat sofa. Kini ia tak bisa bergerak kemana-mana. Hanya bisa menangis dan berdoa, semoga ada yang datang menyelamatkan mereka.


✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊


__ADS_2