
Kedatangan Yasmin membuat suasana rumah besar itu menjadi hidup. Yasmin yang kerap kali datang menemui Nia membuat Dika juga datang menemui kakaknya. Hingga akhirnya berdampak pada Tomy, lelaki itu di paksa Nia untuk sering mengunjungi rumah Humaira.
Tomy sendiri belum bisa merasakan getaran apapun terhadap Humaira. Perlakuan baiknya selama ini juga karena permintaan sang isteri dan tentunya rasa iba nya pada Humaira. Hari itu Tomy datang kerumah Humaira lebih awal karena Nia menolaknya pulang kerumah jika belum berhasil menaklukkan wanita itu.
Tomy mandi dan berganti pakaian yang telah di siapkan oleh Humaira. Saat ia mengenakan pakaiannya, sayu-sayu ia mendengar suara orang sedang membaca ayat-ayat suci Alqur'an. Suara yang begitu indah hingga tanpa sadar Tomy melangkahkan kakinya mencari pemilik suara begitu ia telah selesai berpakaian.
Di ruang tengah pojokan ada ruang kecil terbuka dengan sajadah yang mengarah ke kiblat. Seorang wanita dengan mukena tampak khusyuk membaca ayat-ayat suci itu. Wajah nya tidak begitu terlihat apakah dia Umi atau Humaira, karena hanya dua orang wanita itu saja yang berada di rumah itu.
"Sadaqallahul azim..."
Tomy yang duduk manis di kursi tengah itu menunggu wanita itu menghampiri dirinya.
"Tuan..."
Sapa Humaira saat melihat tuan pendiamnya duduk tidak jauh dari keberadaannya.
Deg, jantung Tomy berdebar saat melihat wajah Humaira dengan mukena yang masih ia gunakan. Tidak dapat ia pungkiri dirinya terpesona dengan Humaira yang seperti itu. Umurnya yang sudah matang pasti sudah bisa menilai perasaannya sendiri.
"Ehem, sudah selesai?"
"Ya? Mengaji? Sudah tuan. Apa tuan mau makan sekarang?"
"Tidak, nanti saja di jam biasanya"
"Kalau begitu, aku permisi sebentar untuk menyimpan mukena ku tuan..."
"Hm.. baiklah"
Humaira lalu masuk ke kamarnya dan membuka mukenanya. Ia kini memilih pakaian yang lebih tertutup dari biasanya. Pakaian-pakaian minim nya telah lama ia singkirkan semenjak berhubungan dengan Tomy. Ia mencoba menggunakan daster berlengan pendek dan panjang hingga ke betis kakinya malam itu.
Humaira berjalan mendekati Tomy dan duduk di samping lelaki itu.
Apa dari dulu dia memang secantik ini? (batin Tomy)
Tomy terus menatap Humaira hingga wanita itu merasa malu dan canggung.
"Aku suka melihat mu berpakaian seperti ini, Humaira..."
Jantung Humaira seketika berdebar, wajahnya perlahan merona saat mendengar ucapan Tomy sambil menatap mata lelaki itu. Baru kali ini sang tuan memanggil namanya dan itupun nama aslinya. Entah mengapa namanya yang terucap di bibir Tomy seakan-akan nama itu kembali dalam pelukannya setelah berpisah jauh. Seakan-akan nama itu ingin kembali pada pemiliknya.
Humaira langsung mengalihkan pandangannya ke lain dan menyelipkan rambutnya ke balik telinganya. Terlihat sekali kalau wanita itu sangat tersipu malu.
"Apa kau sudah memikirkan apa yang aku katakan waktu itu?"
Tanya Tomy tanpa melepaskan pandangnya dari Humaira. Entah kenapa malam itu Humaira begitu terlihat cantik dan mempesona di matanya.
__ADS_1
Humaira hanya bisa menunduk diam tanpa menjawab pertanyaan Tomy sambil memainkan kukunya. Terlihat ia berpikir dan sangat gugup.
"Baiklah... pelan-pelan saja. Aku akan memberikan waktu untukmu agar bisa percaya padaku"
"Maaf tuan...."
"Pelan-pelan saja, aku juga tidak ingin memaksa. Tapi kau harus berusaha membuka hatimu untuk tahu seberapa besar ketulusanku"
Kali ini Tomy mengatakan nasehat itu untuk Humaira dan dirinya sendiri. Setelah merasakan debaran yang tidak biasa, Tomy mencoba untuk menerima permintaan sang isteri untuk mencoba mencintai Humaira.
Tomy sendiri sebenarnya tidak ingin berbagi hati. Lelaki yang setia pada isterinya itu mencoba untuk bertahan hingga akhir. Namun kenyataan yang ada tidak berpihak padanya. Keturunan yang belum ia miliki, serta dorongan kuat dari sang isteri untuk menikah lagi, membuat lelaki itu mau tidak mau menyerah setelah berusaha untuk bertahan selama ini.
Mungkin ini sudah jalannya (batin Tomy)
Ia pun mencoba menerima perasaannya yang mulai tumbuh untuk Humaira.
Perhatian yang Tomy berikan malam itu mulai sedikit hangat. Bagai gunung es yang perlahan mulai mencair Tomy pun mulai tersenyum beberapa kali saat bicara dengan Humaira. Cara bicaranya tidak lagi terlalu dingin seperti dulu. Bahkan Umi yang melihat sikap tidak biasa itu langsung tahu kalau Tomy mulai mencinta Humaira.
"Hum, yakin kamu nggak mau mencoba lagi membuka hatimu?"
Tanya Umi ketika beras-pasan dengan Humaira di dapur.
Humaira melihat ke arah kakaknya itu sambil menghela napas.
"Kakak tahu kan kisah ku dulu ketika aku berumah tangga..."
Umi langsung memotong pembicaraan Humaira.
"Tapi apa masih kurang dengan pengorbanannya selama ini untuk pembuktiannya padamu? Bahkan Danu sudah mulai menjalani pengobatan. Dan Tuan itu dengan sabar mendampingi mu bolak balik kerumah sakit. Bukan kah dia orang yang sangat sibuk tapi untukmu dan Danu selalu ada waktu untuk kalian"
Jelas Umi mencoba untuk meyakinkan.
"Entah lah kak..."
Mendengar ucapan Umi memang ada benarnya. Dan itu membuat hati Humaira sedikit melemah.
Humaira kembali mendampingi Tomy dan memberikannya segelas kopi panas. Humaira yang tidak dapat menahan rasa ngantuknya menguap di depan Tomy.
"Kau sudah ngantuk? Tidur lah lebih dulu"
"Tapi tuan belum tidur"
"Bawakan kopi ku ke kamar, aku akan menyelesaikan ini di dalam"
Tomy melangkahkan kaki memasuki kamarnya sambil membawa laptopnya, di ikuti oleh Humaira di belakangnya yang membawa secangkir kopi. Humaira meletakkan kopinya di atas meja santai di dalam kamar Itu. Lalu pamit kembali ke kekamarnya sendiri.
__ADS_1
Tomy memandang wajah cantik itu saat Humaira menutup pintu kamar itu. Tomy baru tersadar kalau handphonenya masih tertinggal di ruangan tengah. Ketika ia mencari, benda itu tidak ada di saku celananya. Ia pun membuka pintu kamarnya hendak kembali ke ruang tengah. Alangkah terkejutnya Tomy mendapati tubuhnya telah bertemu tubuh Humaira. Ketika lelaki itu meraih gagang pintu, ternyata Humaira dari luar juga melakukan hal yang sama hingga wanita itu tertarik masuk seketika.
Jarak yang begitu dekat membuat jantung mereka berdebar dengan kuat. Hembusan napas karena pacuan jantung keluar memburu ketika terhembus di wajah Humaira yang bertatap dengan Tomy. Keduanya terlena akan tatapan mata yang mendalam. Baik Tomy maupun Humaira merasakan getaran-getaran dalam tubuh yang tidak biasanya. Apa lagi Tomy yang sudah lama haus akan belaian kasih sayang, entah mengapa malam itu Humaira begitu memikat hatinya. Perlahan Tomy mulai mendekati wajah Humaira, hembusan napasnya yang menggebu dirasakan Humaira semakin panas. Wajah wanita itu mulai merona ketika Tomy semakin mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Humaira.
"A.. aku kemari ingin mengantarkan ini"
Sebuah smartphone memberi jarak antara wajah Tomy dan Humaira yang segera berpaling menghindar.
Humaira yang sudah biasa menerima ciuman dari tamunya dulu, entah sejak kapan menjadi wanita yang mulai menjaga untuk bersentuhan fisik.
Tomy terkekeh, lalu perlahan menjauhkan wajahnya dari Humaira.
Bisa-bisanya aku terlena seperti ini. Yah, kamu memang pantas untuk di kejar. Wajar saja bila Dika sampai tergila-gila padamu (batin Tomy)
"Ehem, maafkan aku, mungkin kau jadi terkejut tadi"
Ucap Tomy sambil mengambil smartphone dari tangan Humaira.
"Tidur lah..."
"Kalau begitu selamat malam tuan..."
"Cup..."
Dengan cepat tangan Tomy menyambar kepala Humaira dan membawanya lebih dekat ke wajahnya. Tomy dengan santainya mendaratkan ciumannya di kening Humaira. Seketika tubuh wanita itu menjadi kaku lalu berbalik dan menutup pintu tanpa ekspresi.
Notes : Itu di atas visual Tomy dan Humaira ya, cuma untuk melengkapi imajinasi aja bukan kenyataan, oke😉
✨Beri dukungan untuk aku dong😘
* Like 👍
* Komen
* favorit ❤️
*Rate⭐⭐⭐⭐⭐
*Hadiah
*Vote, Terima kasih 🤗
__ADS_1
✨Baca juga Dream Destiny, bagi yang suka kisah romansa istana 😂.
Terima kasih 🙏