Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Pembalasan Humaira


__ADS_3

Weekend yang seharusnya di nikmati berdua saja oleh Tomy dan Humaira menjadi batal. Bahkan malam itu Humaira membalik badannya memunggungi suaminya.


Tomy tidak merasa marah di perlakukan Humaira demikian karena dirinya pun merasa bersalah atas kejadian tadi siang.


"Sayang, aku minta maaf..."


"Ada salah apa mas?"


Tanya Humaira pura-pura tidak tahu dengan posisi masih memunggungi Tomy.


"Maaf sayang, aku tahu kau marah"


Ujar Tomy yang duduk di pinggiran tempat tidur dan tidak berani menyentuh tubuh isterinya.


"Aku tidak marah mas, hanya kecewa"


Menyapa kenalan lama tidak lah membuat Humaira cemburu karena Tomy pasti memiliki banyak teman di masa lalunya. Namun yang membuat Humaira kecewa, Tomy tidak dapat bertindak tegas pada wanita kenalannya yang jelas-jelas mengabaikan status mereka sebagai suami isteri.


"Iya aku tahu kau kecewa, karena itu aku minta maaf"


"Kemana sikap tegas mas yang selalu menolak bila ada wanita yang berusaha mendekati mas?!"


Tanya Humaira yang bangun dari rebahnya dan duduk menghadap Tomy. Terlihat sekali Humaira kecewa bahkan tidak mau memandang wajah Tomy.


"Maaf sayang, tadi itu dia menelpon ayahnya lewat video call, aku tidak dapat menolaknya. Ayahnya dosen panutan ku saat kuliah dulu. Beliau banyak membantu, memberikan ilmu wawasan yang luas hingga aku bisa mancapai kemajuan seperti sekarang ini"


"Janji mas belum lewat dari lima jam mas. Tapi mas membuat aku sedih dan kecewa"


"Maaf sayang, maafkan aku menyakiti mu dan membuatmu kecewa"


Ucap Tomy sambil membelai pipi isterinya.


Humaira tidak berkata apa-apa. Tidak pula memaafkan dan juga menjawab ucapan Tomy dengan penolakan. Ia kembali merebahkan dirinya dan memunggungi Tomy.


Tomy hanya bisa bersabar menghadapi isterinya. Lelaki itu menghela napas dan berakhir dengan tidur memeluk bantal guling.


Keesokan harinya, Naima mendatangi kantor Tomy bersama ayahnya yang seorang dosen itu. Tomy hanya bisa menyambut mereka dan membatalkan semua jadwalnya menerima tamu yang jarang ia jumpai itu.


"Wah, sukses sekarang ya Tom"


"Alhamdulillah pak, berkat ilmu yang bapak bagikan"


"Hahaha, tidak.. tidak. Semua itu karena kerja keras mu. Ilmu yang dimiliki jika tidak di gunakan dengan sebaik-baiknya maka ilmu itu tidak lah berguna. Hanya memiliki ilmu tapi tidak di barengi kerja keras tidak akan ada hasilnya"


"Setuju pak"


"Waah, kalau udah ngomongin filosofis hidup bakal lupa deh sama sekitarnya"


"Tok... tok...!"


Ketukan pintu mengalihkan perhatian semua orang.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...." (serempak menjawab)


"Oh maaf, saya kira sedang nggak ada tamu"


"Oh, sayang, tidak apa. Masuklah... Aku perkenalkan pada pak Budiman dosen ku waktu masih kuliah. pak, ini isteri saya Humaira"


Ujar Tomy menyambut kedatangan isterinya yang berusaha tetap tenang meski hatinya was-was karena Humaira bertemu lagi dengan Naima. Lelaki itu tahu isterinya tidak menyukai Naima.


Hah! Dia lagi?! Dan apa itu kenapa harus duduk di samping mas Tomy?!!

__ADS_1


Humaira melangkahkan kaki secara anggun mendekati mereka dan menyalami dengan rasa hormat.


"Saya Humaira"


Humaira memperkenalkan diri dengan senyum seramah mungkin.


"Waah, kamu pandai memilih ya Tom. Sudah ada anak kalian?"


"Sudah pak tapi baru satu anak laki-laki"


Jawab Tomy yang tampak bahagia.


"Wah...wah...sungguh bapak bahagia mendengar dan melihat kalian. Muda dan sukses serta memiliki keluarga yang bahagia. Bapak kira kamu belum menikah, Naima tidak menceritakan kalau kamu sudah menikah"


"Ehem, Naima lupa pa. Hehehe..."


"Naima mungkin sepantaran dengan mu Humaira, tampaknya kalian bisa berteman"


"Oh, dengan senang hati pak"


Jawab Humaira sambil tersenyum.


"Duduk lah sayang"


Ujar Tomy yang melihat isterinya masih berdiri.


Humaira pun langsung duduk tepat di tengah-tengah antara Tomy dan Naima. Karena terlalu dekat, mau tidak mau pun Naima akhirnya menggeser duduknya.


"Kamu kerja juga ya Humaira?"


Tanya Naima ramah melihat cara berpakaian Humaira yang seperti wanita karir.


"Hanya bisnis kecil"


"Bisnis apa?"


Kembali Naima mengajukan pertanyaan.


"Oh ya pak, apa mas Tomy dulu itu anak yang bagaimana, saya sangat penasaran? Biasanya tipe seperti mas Tomy ini kutu buku"


Humaira sengaja tidak menjawab pertanyaan Naima. Ia sengaja pura-pura tidak mendengar dan segera melontarkan pertanyaan pada Dosen itu untuk menutupinya.


"Hahaha, ada-ada saja isterimu ini Tomy. Tapi itu benar, suami mu ini memang kutu buku. Dia tidak pernah absen ke perpustakaan dan selalu mendatangi saya jika ada buku yang dia inginkan tapi tidak ada disana"


"Hehehe, sudah saya kira. Kelihatan sekali sampai sekarang pun dia masih membaca sebelum tidur pak"


"Hahahaha, baiklah kalau begitu. Ternyata ini sudah siang sekali, bapak mau permisi dulu ada janji lagi sama temen bapak"


Ujar pak Budiman sambil melihat alrojinya.


"Pa, kita nggak makan siang dulu? Udah jam makan siang juga kan. Sekalian aja ajak Tomy juga"


Ujar Naima penuh antusias.


"Papa janjinya makan siang sama temen papa itu. Tom lain kali kita makan siang sama-sama ya?"


"Baik pak, dengan senang hati"


Jawab Tomy tersenyum ramah.


Alhamdulillah nggak jadi. Bagus deh...


Naima melirik sekilas Humaira lalu segera mengalihkan lagi pandangannya ke arah papanya dan juga Tomy.

__ADS_1


Mereka pun beranjak dari duduknya dan menuju ambang pintu.


"Terima kasih untuk waktu luangmu ya Tom"


Ujar pak Budiman sambil menjabat tangan Tomy.


"Saya yang terima kasih, bapak meluangkan waktu berkunjung ke sini"


"Baiklah kami permisi ya Tom, dan Humaira... Assalamualaikum"


" Iya pak. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..."


Jawab Humaira dan Tomy serempak.


Setelah menutup pintu, Tomy langsung meraih tangan isterinya dan menggenggamnya.


"Udah nggak marah lagi kan sayang? Makasih ya..."


Humaira memang memaafkan Tomy, tapi dirinya kembali kesal melihat suaminya tadi duduk dekat dengan Naima sebelum ia datang. Namun Humaira mencoba untuk berada di posisi suaminya. Dan wanita itu pun mencoba memaklumi dan sabar.


"Mas mau lanjut kerja lagi?"


"Nggak, aku mau makan siang dengan mu. Jadwal ku hari ini sudah ku mundurkan tadi"


"Mas aku pengen di kaki lima, ada bakso yang enak banget. Mas mau coba?"


"Boleh, tapi sebentar aku ke toilet dulu"


"Iya mas"


Tomy lalu meninggalkan Humaira menuju toilet yang ada di pojokan dalam ruangan itu.


"Tok... tok"


Siapa ya?


Tanya Humaira dalam hati mendengar ketukan pintu ruangan kerja itu. Ia lalu membuka perlahan dan melihat Naima berdiri di depan pintu itu.


"Tomy mana?"


Tanya Naima langsung menoleh kesana kemari mencari keberadaan Tomy.


"Ada perlu apa, katakan saja padaku biar aku sampaikan?! Mas Tomy sedang di toilet"


Tanya Humaira yang berdiri menghadang pintu agar wanita itu tidak bisa masuk ke dalam.


"Aku hanya ingin menyampaikan sendiri langsung ke Tomy. Karena kamu juga nggak akan tahu apa yang kami bicarakan"


Naima masih bersikekeh untuk tetap menyampaikan sendiri pada Tomy.


"Apa itu masalah pekerjaan?"


"Bukan, tapi..."


"Kalau begitu itu nggak penting. Maaf kami sedikit sibuk. Lain kali saja"


Ujar Humaira yang tidak memberikan kesempatan Naima untuk menyelesaikan pembicaraannya. Begitu mendengar kata "bukan", wanita itu langsung menutup pintu tanpa segan membiarkan Naima terpaku karena merasa di abaikan.


Tanpa mereka ketahui, seseorang yang mendengar percakapan mereka dari toilet terkekeh menanggapi apa yang terjadi.


✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊


✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2