Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Hujan Masih Berlanjut


__ADS_3

Rintik hujan masih menemani awan di warna keabuannya. Keranda di usung di bawah langit yang sedang menangis membasahi tanah di ibu kota. Tomy selaku kepala keluarga meminta untuk segera melakukan proses pemakaman mengingat lamanya waktu yang telah di lewati setelah meninggalnya Danu. Prosesi pemakaman Danu pun di lakukan tanpa kehadiran Humaira yang masih tergeletak pingsan di kamarnya, dan Nia yang langsung mengalami kondisi drop akan kesehatannya.


"Apa tidak apa-apa proses ini tanpa Humaira, bagaimana jika ia sangat terpukul dan bersedih tidak dapat mengantar jasad Danu hingga ke peristirahatan terakhirnya?"


Tanya Umi pada Tomy.


"Aku lebih mengkhawatirkan kesehatan Humaira jika ia pingsan lagi di pemakaman ini. Yang sudah pergi biarlah pergi, yang masih hidup harus bertahan untuk hidup"


Ujar Tomy yang terus menatap proses pemakaman Danu putra isterinya Humaira.


Maafkan aku sayang, tapi ini demi kesehatanmu..


Flash Back On


Wajah gembira Danu, Nia, dan Umi terlihat begitu bahagia ketika Humaira dan Tomy melakukan panggilan video pada mereka.


Danu yang berada di dalam kereta bayi sedang asik bermain mobil-mobilan di dalam kereta. Umi dua hari sekali memang mengajak Danu bermain di luar seperti di taman agar bocah itu tidak merasa jenuh dan merasa fresh dengan menghirup udara segar di pagi hari.


Ya, saat itu di pagi hari, ketika matahari menampakkan sinarnya. Umi membawa Danu untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi di taman bunga yang mulai bermekaran.


Ketika Umi memberikan ponsel milik Nia setelah berbicara pada Humaira, Danu tiba-tiba menangis dengan keras. Tubuhnya tiba-tiba mengejang dan dalam proses singkat kulitnya mulai terlihat berbintik-bintik.


Umi yang panik langsung teriak pada para penjaga rumah dan pelayan yang ada disana. Ia berusaha untuk segera membawa Danu kerumah sakit.


Nia yang panik melihat Danu seperti itu segera menghubungi suaminya kembali. Namun sayang, ponsel Tomy tidak aktif padahal mereka baru saja saling berkomunikasi. Nia terus mencoba menghubungi hingga akhirnya ponselnya terjatuh ketika melihat Umi menangis histeris sambil menggendong Danu.


Tangis terdengar hampir keseluruhan ruangan di rumah itu. Para penjaga sibuk menghubungi para kerabat tuan rumah mereka untuk menginformasikan apa yang terjadi.


Dika dan Yasmin datang dengan tergesa-gesa dan langsung menghampiri Danu yang sudah terbujur kaku. Tangis Yasmin pecah melihat jenazah anak kecil itu sambil memeluk Nia yang sedari tadi tak berhenti menangis.


"Bagaimana kejadiannya?"


Tanya Dika setelah melihat Danu.


Umi pun menceritakan kalau tiba-tiba Danu berteriak dan menangis keras, tidak lama kemudian dia mengejang dan seperti orang yang kesulitan bernapas.


"Lalu setelah itu... hiks... hiks... ia menghembus napas terakhirnya"


Ujar Umi sambil terisak tangis.


Dika lalu mengamati sekujur tubuh Danu. Ternyata ada dua titik merah di tumit sebelah kaki kirinya. Pemuda itu menerka jika Danu telah tergigit sesuatu. Ia lalu menelpon dokter pribadi yang biasa Tomy hubungi. Selang setengah jam Dokter pun datang untuk memastikan penyebab meninggalnya Danu.


"Ini sepertinya bekas gigitan ular"

__ADS_1


Terisak kembali Nia, Yasmin, maupun Umi mendengar ucapan sang dokter.


Terlebih Umi, wanita itu merasa bersalah telah membawa Danu ke taman pagi itu.


Hati Umi tidak kalah sedihnya dari Humaira. Walau ia bukan yang melahirkan Danu, tapi dialah yang sedikit banyak merawat Danu dari bayi hingga bocah itu berusia 5 tahun sekarang.


Kasih sayang yang tulus Umi berikan dengan menganggap Danu bagai anaknya sendiri.


"Ini salah saya yang membawa Danu ke taman hiks..., ini salah saya...."


Ujar Umi menyalahkan dirinya.


"Umi... Umi..., tidak ini bukan salah siapa-siapa. Ini adalah musibah, ini adalah cobaan untuk kita semua. Sudah ditentukan oleh Allah... kita hanya bisa bertawakal dan menerima dengan ikhlas"


Ujar Nia mencoba menguatkan kakak angkat dari Humaira itu walau dirinya sendiri sedih bukan main.


Sambil mendengar penjelasan dokter, Dika tak henti-hentinya mencoba untuk menghubungi Tomy. Pemuda itu meninggalkan berapa pesan disana dan juga email kepada Tomy. Apapun caranya Dika mencoba untuk bisa menghubungi Tomy dan juga Humaira.


Setelah satu jam kemudian baru lah pesan-pesan yang di kirim Dika masuk, dan langsung mendapat panggilan dari Tomy.


"What is the chronology of events?"(Bagaimana kronologi kejadiannya)


Tanya Tomy dengan bahasa asing.


Ujar Dika yang tidak mengerti maksud dari Tomy menggunakan bahasa itu dalam keadaan penting seperti itu.


"She does'nt really understand english. I don't want her to know the sad news firts. I will tell her slowly later "(Dia tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Aku tidak ingin dia tahu dulu kabar duka ini. Aku akan memberitahu dia pelan-pelan nanti)


Ujar Tomy menjelaskan.


Barulah Dika paham setelah mengetahui maksud Tomy dari penjelasannya itu.


Dika lalu menceritakan kronologi kejadiannya pada abang iparnya itu. Terdengar Tomy menghela napas panjang di seberang sana.


Lelaki itu segera menelpon kesana sini untuk segera kembali. Ia menyewa pesawat jet untuk segera tiba ke Indonesia.


Menjelang ashar Tomy pun tiba bersama Humaira yang langsung syok melihat kurumunan orang-orang yang datang melayat.


Flash Back Off


Orang-orang perlahan melangkah pergi meninggalkan makam Danu setelah proses pemakaman selesai. Tinggalah Umi dan juga Tomy beserta beberapa asisten yang menemani mereka.


Tomy mencium batu bisa Danu setelah memanjatkan doa-doa untuknya.

__ADS_1


"Aku akan kembali karena kedua isteriku sedang tidak baik-baik saja di rumah"


Ujar Tomy kepada Umi.


Wanita itu mengangguk, ia pun berpamitan pada nisan Danu sambil meneteskan air mata.


*****


Di waktu yang sama, Nia terbatuk-batuk tiada henti hingga mengeluarkan darah. Pelayan yang menjaganya panik dan mencoba memberitahukan pada orang-orang di rumah itu.


Dokter yang kebetulan masih berada disana langsung masuk ke kamar Nia dan segera memeriksanya.


"Sebaiknya kita segera membawa nyonya kerumah sakit"


Ujar dokter yang melihat Nia sudah di ambang batas.


Dalam keadaan setengah sadar, Nia di angkat dan di masukkan ke mobil. Beberapa keluarga yang masih ada di rumah itu lalu mendampingi Nia ke rumah sakit.


Dalam perjalanan pulang, Tomy dan Dika mendapat telepon yang mengabarkan keadaan Nia. Mereka berdua segera menuju ke RS di dimana Nia di bawa.


Yasmin dan Umi di minta untuk kembali kerumah menjaga Humaira yang masih syok dan belum sadar juga.


Nia masuk UDG dan dalam keadaan kritis. Ia pun langsung masuk ruang ICU untuk melihat perkembangan kondisinya.


Begitu sampai di RS, Tomy menghadap dokter yang menangani isterinya di ruangannya. Dokter itu tampak menghela napas sambil membuka kaca matanya.


"Kami hanya memperkirakan isteri anda hanya mampu bertahan 1-2 hari saja. Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Berdoalah akan ada keajaiban untuk isteri anda"


Penuturan dokter membuat Tomy down dan kakinya menjadi lemah tak berdaya. Ia terduduk di kursi tunggu setelah keluar dari ruangan dokter.


Inikah yang dirasakan Humaira...


Tomy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Perasaan sedih yang tak bisa di lukisan dengan kata-kata langsung menyeruak ke dalam hatinya. Napasnya menjadi berat seakan-akan ada sesuatu yang menghalang di dadanya.


"Bang..."


Dika memanggil Tomy yang sedang duduk tertunduk. Perasaan sedih dan cemas pemuda itu tak kalah dengan apa yang di rasakan Tomy.


Tomy mengangkat wajahnya. Warna mata yang merah dan pasrah sudah memberikan jawaban untuk Dika apa yang dokter sampaikan pada abang iparnya itu. Apalagi ia juga mengetahui kondisi penyakit Nia yang sudah parah.


Pemuda itu tersandar di dinding, lalu perlahan melemah hingga akhirnya terduduk di lantai. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya bersiap untuk turun tanpa diminta.


# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘

__ADS_1


__ADS_2