Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Kehilangan Dika Dan Yasmin


__ADS_3

Di dalam mobil, Tomy yang sedang meluncur ke kantor masih mencoba menghubungi Dika namun tidak berhasil juga.


"Romi, coba hubungi asisten Dika, tanyakan keberadaan anak itu?! Siang ini ada rapat, dan dia harus hadir"


"Baik pak"


Beberapa menit kemudian.


"Maaf pak, bahkan Wandi juga mencari tahu keberadaan pak Dika. Isterinya juga tidak datang ke butik"


"Ck, kemana anak itu?! Sudahlah, jika siang ini Dika masih juga belum datang kekantor, suruh Wandi mempersiapkan diri untuk menggantikan Dika menghadiri rapat"


"Baik pak"


"Lalu Rom, cari informasi Dika?! Tidak biasa dia menghilang tanpa jejak seperti ini"


"Baik pak"


*****


Salmah mondar-mandir menunggu ke datangan Juan putranya. Wanita paruh baya itu khawatir akan terjadi sesuatu pada putrinya.


Pihak rumah sakit mengabarkan bahwa Rima telah kabur setelah melukai perawat rumah sakit. Hal itu membuat Salmah takut Rima melakukan sesuatu yang tak terduga.


"Ibu, apa kata pihak rumah sakit?"


Tanya Juan ketika tiba di rumahnya dan menemui ibunya.


"Oh, Juan...adikmu?! Rima kabur dari rumah sakit. Dia memukul perawat yang hendak memberinya obat sampai pingsan, lalu dia kabur. Ibu takut Juan..., setelah kabur di belum ada kemari. Ibu takut dia menemui lelaki itu?!"


Juan tampak berpikir.


Bisa jadi Rima pergi langsung menemui lelaki itu. Tapi aku tidak tahu di mana rumahnya. Apa aku tanya Humaira saja?


"Ibu jangan cemas, aku akan mencari Rima. Ibu tunggu saja di rumah, siapa tahu Rima kembali ke rumah ini"


"Baiklah nak, hati-hati dan temukan adikmu"


Juan mengangguk menjawab permintaan sang ibu. Ia pun bergegas menuju swalayan dimana Humaira bekerja.


Sampai di kantor Humaira, Juan tidak di ijinkan masuk. Ia lalu meminta petugas keamanan di situ untuk menyampaikan pesannya untuk Humaira.


Secarik kertas tulisan tangan Juan telah sampai di tangan Humaira. Ia lalu membaca apa yang di tuliskan Juan disana.


Humaira lalu bergegas menemui Juan setengah berlari.


"Apa maksud mu Rima kabur?!"

__ADS_1


"Kamu pasti tahu Hum, adik ku mengalami OLD dan itu sangat parah. Saat itu mungkin dia berusaha menemui Dika. Dan terakhir kali adikku melakukan penyerangan. Aku berpikir mungkin saja dia menemui Dika saat ini"


"Tapi bagaimana dia bisa tahu alamat Dika yang baru. Mereka sudah tidak tinggal di apartemen sejak adikmu pernah kesana"


"Aku nggak tahu pasti. Aku hanya mengira mungkin saja saat ini ia mencoba menemui Dika. Karena sejak kabur kemarin dia belum ada pulang ke rumah. Bisa saja dia sudah mencari tahu alamat Dika yang baru"


Humaira tampak berpikir. Dika dan Yasmin yang sangat kebetulan tidak bisa di hubungi membuat Humaira juga mencurigai kalau ucapan Juan bisa saja benar.


"Baiklah, tapi aku akan ikut melihat kesana. Kau bisa mengikuti ku. Dewi ikut lah dengan ku, kita akan pergi ke kediaman Dika"


"Baik bu"


*****


Sementara itu di rumah Dika.


Dika telah berhasil memutuskan tali yang mengikat tangannya. Lakban di mulutny Ia lepaskan, ia pun segera memutuskan tali yang juga mengikat di tubuhnya. Setelah itu Dika berlari kembali untuk menolong isterinya.


"Kau senang sudah bebas?!"


Dika terkejut Rima sudah memeluk Yasmin dari belakang sambil menodongkan pisau di leher isterinya ketika ia memasuki ruangan itu.


Dari mana dia mendapatkan pisau itu?!


"Kenapa? Kau terkejut?! Kenapa buru-buru? Bahkan dia belum sempat mengisi perutnya"


"Ayo kita lakukan apa mau mu,tapi lepaskan dia?!"


"Bagaimana jika aku ingin kita menikah?"


"Baiklah, ayo kita menikah?!"


"Kikikikik...., kenapa nggak dari dulu kamu penurut seperti itu? Dan apa kamu kira aku bakal percaya dengan kata-kata mu itu heh?!"


"Ting tong...! Ting... Tong!"


Suara bel pintu menghentikan negosiasi mereka.


Rima tampak kesal seseorang telah mengganggu rencananya.


Siapa pun itu aku sangat berterima kasih ya Allah, akhirnya ada orang yang datang menolong kami


Dika tampak menghela napas sejenak.


"Kau pergi lihat siapa yang datang. Dan ingat, aku mengawasi mu! Jika kau berani macam-macam, aku bunuh dia!!"


Dika menelan salivanya mendengar ancaman Rima yang tak lagi menyayat wajah Yasmin melainkan akan membunuh isterinya itu.

__ADS_1


Rima menggerakkan kepalanya kesamping, kode untuk menyuruh Dika segera berjalan dan melihat siapa yang datang.


Perlahan Dika berjalan sambil sesekali membalikkan tubuhnya melihat Rima yang menyeret Yasmin bersembunyi di balik dinding sambil menodongkan pisau di leher isterinya.


Dika cukup tegang, karena jika salah sedikit saja, nyawa isterinya bisa melayang.


"Ceklek"


Dika membuka pintu lebar-lebar dan terkejut sekaligus lega yang datang ternyata Romi, asisten multitalenta kepercayaan abangnya.


"Bang Rom, Enya abdi nuju aya di bumi. Abdi nuju diajar bahasa lemburna bang Romi, Teu nanaon pan?"


(Bang Rom, iya aku di rumah. Aku ingin melatih bahasa kampungnya bang Romi, nggak apa-apa kan?)


Dika mencoba untuk tetap tenang dan berbicara santai.


"Nya teu nanaon pak Dika. Tapi kunaon saur bapak, Pak Dika teu tiasa di hubungan? Siang ieu aya rapat penting"


(Ya nggak apa-apa pak dika. Tapi kenapa bapak nggak bisa menghubungi pak Dika? Siang ini bakal ada rapat penting)


Tanya Romi sambil memperhatikan Dika yang seperti tak biasanya ia bersikap.


"Bejakeun abdi hayang istirahat heula babaraha poe" (Katakan aku ingin istrahat beberapa hari)


Ujar Dika sambil menghelap keringatnya. Sesekali ia berdehem sambil melirik ke arah Rima yang masih mengawasinya dari jarak jauh.


Romi memperhatikan sikap Dika sedikit curiga. Ia mengerutkan keningnya dan melihat sekujur tubuh Dika yang kumuh serta kotor dan tampak di pergelangan tangannya memar berwarna kemerahan.


"Aya naon kitu?" (Apa terjadi sesuatu?)


Tanya Romi memastikan apa yang sedang ia pikirkan.


Dika menatap ke langit luar dengan tatapan sedih . Awan gelap mulai menyelimuti langit yang sebentar lagi akan meluruhkan berkubik-kubik air.


"Geura balik, Sakedeng deui Aya badai" (Kembalilah, sebentar lagi akan ada badai)


Ujar Dika sambil menatap langit.


Romi melihat ke arah langit yang di pandang Dika. Benar hujan lebat mungkin akan segera turun. Tapi entah kenapa Romi merasa tidak tenang dengan tatapan kesedihan itu.


"Baik lah pak. Saya akan menyampaikan pesan pak Dika pada pak Tomy"


Belum selesai Romi untuk mengucapkan kata pamit, Dika terlebih dulu menutup pintu itu.


Lelaki itu marah dan dengan mata yang berkaca-kaca melihat leher Yasmin mengeluarkan darah. Entah apa kesalahan Dika hingga Rima menggores leher isterinya.


Romi tertegun melihat Dika yang secara tidak langsung mengusirnya secara halus. Namun ada yang ganjil di mata Romi. Lelaki itu terus merasa ada yang tidak beres dengan Dika.

__ADS_1


Romi terus berpikir sambil membuka pintu mobilnya bersiap beranjak pergi. Namun ketika ia akan menaiki mobilnya, Humaira tiba-tiba datang di susul Juan di belakangnya.


__ADS_2