
Juan tidak menyerah setelah sekali menemui Humaira, kali ini dia mengulang lagi menemui wanita itu. Keamanan di perketat hingga lelaki itu tidak bisa lagi memasuki swalayan dan menemui Humaira. Namun, bukan Juan namanya jika lelaki itu menyerah begitu saja. Ia terus berteriak-teriak memanggil Humaira hingga wanita itu malu dan akhirnya mendatangi dirinya.
Humaira menarik Juan dan membawanya ketempat yang lebih sepi untuk memperingatkan lelaki itu.
"Mau mu apa sih?! Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi, jadi jangan berteriak seperti itu!"
"Humaira dengarkan aku, aku bersalah... Aku minta maaf padamu? Aku baru sadar kalau aku begitu mencintaimu. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Aku mohon maafkan aku..."
Tak membuang kesempatan, Juan segera mengutarakan isi hatinya tanpa ragu. Wajahnya terlihat begitu serius dengan penuh harap. Namun tidak dengan Humaira. Wanita itu memutar bola matanya jengah. Kalimat-kalimat yang di utarakan Juan terasa menjijikkan di telinganya.
"Jangan mimpi! Kau pikir semudah itu aku mau kembali padamu?! Jangan lupa aku sudah bersuami!"
"Aku yakin di hati mu masih ada aku. Aku tahu kau sangat mencintaiku seperti aku yang sangat mencintaimu..."
Ujar Juan yang menatap Humaira dengan percaya diri. Seakan-akan mereka hanya putus hubungan ketika pacaran dan ingin menyambung lagi ketika ingin.
Humaira mendidih, rasanya ia ingin menyumpal mulut lelaki itu dengan kotoran.
Cinta? Enak saja setelah membuangku kau bilang sangat mencintaiku!
"Cinta? Kau lupa apa yang sudah kau perbuat padaku?!"
"Aku salah, dulu aku khilaf. Tapi sekarang aku sadar, hanya kamu yang terbaik untukku. Bahkan ibu pun ikut memuji dirimu"
Rasanya telinga Humaira semakin panas setelah Juan menyebut ibunya. Bayangan penyiksaan mantan ibu mertuanya itu kembali terlintas di ingatan Humaira hingga membuat wanita itu mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan mantan suaminya itu.
"Cukup!! Kita sudah lama berpisah dan aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama. Dan cintaku padamu sudah lama mati!"
Humaira berkata dengan sorot mata tajam penuh kebencian. Bahkan melihat wajah Juan yang sangat mengharapkan dirinya pun ia merasa muak.
"Nggak, sampai kapan pun aku akan terus menunggu mu kembali"
Juan tetap kekeh, ia masih yakin kalau Humaira masih mencintainya.
"Hentikan!! Aku nggak ingin lagi bicara apa pun. Aku harap kita nggak akan bertemu lagi!"
"Humaira... maafkan aku, tolong maafkan aku. Aku nggak akan menduakan mu lagi. Hanya kamu... Aku mencintaimu..."
"Dasar gila!"
Gumam Humaira pelan dengan kesal, lalu berpaling dan mulai melangkahkan kaki meninggalkan Juan.
__ADS_1
"Panggil keamanan, jangan biarkan lelaki itu masuk. Lalu jika dia masih berteriak, hubungi kantor polisi"
Perintah Humaira pada beberapa karyawan yang berada di dekatnya.
"Baik bu"
Juan yang berusaha mengejar Humaira segera ditahan oleh petugas keamanan. Keributan pun terjadi hingga akhirnya lelaki itu di seret paksa keluar swalayan.
Para pengunjung yang bergerumul menyaksikan adegan itu pun satu persatu bubar kembali ke aktifitas masing-masing.
*****
Seminggu pun berlalu. Setelah pengusiran yang di lakukan Humaira pada Juan, lelaki itu tak pernah lagi datang mencari dirinya sejak hari itu. Humaira merasa sedikit lega dengan keamanan yang di berikan oleh suaminya. Namun beberapa hari ini, Humaira sering mendapatkan hadiah-hadiah kecil serta kiriman bunga dengan kartu ucapan tanpa nama yang bertuliskan kata-kata cinta. Namun semua hadiah itu ia buang ke tempat sampah.
Humaira tahu bahwa pemberian hadiah-hadiah itu pastilah dari Juan. Apa lagi barang-barang yang diberikan adalah barang-barang kesukaan Humaira. Siapa lagi yang tahu jika bukan orang yang sudah mengenal dekat dengannya.
Hal itu di ketahui Tomy melalui laporan yang di berikan oleh Dewi asisten Humaira yang merupakan bawahan Tomy. Lelaki itu hanya mengamati, menunggu sampai waktu yang pasti untuk memberi pukulan telak pada mantan suami Humaira.
Sore itu Humaira bersiap pulang kerumah bertemu anak dan keluarga setelah lelah bekerja. Namun tiba-tiba mobil yang di tumpanginya mendadak berhenti seketika saat seorang laki-laki menghadang jalannya.
"Ck! Mau apa lagi sih dia?!"
"Mau saya urus bu?"
Tanya Dewi dengan tenang.
"Hmm..., ya urus saja"
"Baik bu"
Dewi mengeluarkan handphonenya lalu memanggil seseorang disana.
"Singkirkan orang yang menghalangi mobil ibu!"
"Kluk"
Hanya beberapa kata saja yang di ucapkan Dewi, tidak lama kemudian datang sebuah sedan hitam dengan beberapa orang keluar dari mobil itu. Mereka menarik paksa Juan untuk menyingkir dari mobil yang di tumpangi nyonya besar mereka.
"Humaira dengarkan aku, aku mencintaimu... Aku mencintaimu...!! Kalian siapa? Lepaskan aku!!"
Humaira tidak peduli dengan teriakan-teriakan Juan. Ia yang telah lama mengubur perasaannya dan menyisakan kebencian itu berlalu dengan santainya dari hadapan lelaki itu.
__ADS_1
"Dewi, aku ingin ke makan Danu. Tapi sebelumnya kita singgah ke toko bunga dulu"
"Baik bu"
Supir membawa mereka ke makam Danu. Dewi segera memberi laporan pada Tomy bahwa mereka ke makam sebelum pulang ke rumah.
Selama dalam perjalanan Humaira melamun. Begitu sampai disana Humaira berjongkok dan mencium batu nisan milik Danu. Ia menangis sambil mengusap batu nisan milik anaknya itu.
"Maafkan ibu nak..., maafkan ibu yang nggak ingin ayahmu tahu dengan kehadiranmu. Ibu belum siap, hati ibu masih sakit dengan apa yang ia perbuat pada ibu"
Humaira terus mengusap batu nisan itu sambil meneteskan air mata. Kemudian perlahan ia mengusap air matanya Dan mulai berdoa untuk anaknya.
Dari kejauhan seseorang yang memperhatikan Humaira tampak bingung. Namun ia tidak mau mendekat karena usahanya pasti gagal. Juan hanya bisa menunggu orang-orang itu pergi baru akan menghampiri makam yang ditangisi oleh Humaira.
Ya, lelaki itu masih berusaha mendekati Humaira walau ia telah di usir beberapa kali. Ia terus membuntuti Humaira hingga ke makam Danu yang tak lain adalah putranya sendiri tanpa ia ketahui.
Perlahan Juan mendekat ketika Humaira dan para pengawalnya pergi. Ia mencari posisi makam yang di dituju Humaira tadi. Tampak disana sebuket bunga yang tadi diletakkan Humaira. Juan pun berjongkok mengamati batu nisan atas nama Danu serta tanggal lahir dan wafatnya.
"Ini sepertinya makam anak-anak, tapi siapa?"
Gumam Juan sambil menghitung tahun kehidupan sang pemilik makam. Lelah berpikir akhirnya Juan pun menyerah. Ia pun kembali mengikuti jejak Humaira hingga kerumah wanita itu. Melihat mobil yang di tumpangi Humaira ada dirumahnya, Juan memutuskan kembali kerumah ibunya.
Sang ibu menyambut Juan ketika melihat lelaki itu memasuki pintu rumahnya.
"Bagaimana?"
Tanya sang ibu dengan penuh harap. Namun pertanyaan itu hanya di jawab Juan dengan gelengan kepala.
"Ck, apa ibu yang harus menemuinya langsung untuk membujuknya?"
Tanya sang ibu sambil melihat ke arah Juan.
"Dia sepertinya memang sudah nggak mencintai aku lagi bu..."
Ujar Juan yang tampak pasrah menatap ke arah ibunya.
Rima yang sedari tadi mendengar percakapan mereka tidak ambil peduli. Ia sibuk sendiri mengumpulkan foto-foto Dika yang tersebar di internet dengan pemberitaannya.
✨LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗
__ADS_1