
Hari itu, Humaira melakukan aktifitas seperti biasanya. Pagi hari setelah sarapan bersama dan menitip Gibran pada Umi, wanita itu berangkat bekerja di antar oleh Tomy sang suami.
"Mau pulang bareng?"
"Emangnya hari ini mas bisa pulang awal?"
"Kau lupa ini hari sabtu? Sore nanti kita akan menginap di rumah kecil"
"Hehehe, aku lupa mas"
"Nanti aku jemput ya?"
"Iya mas"
Setelah mencium tangan Tomy dan Tomy mencium kening Humaira, mereka berpisah di depan swalayan untuk bekerja.
Begitu turun dari mobil, Humaira di sambut Dewi sang asisten lalu segera masuk menuju kantornya di lantai paling atas.
Swalayan milik Humaira memiliki 4 lantai. Baseman untuk area parkir, lantai dasar dan lantai 1 tempat penjualan dan lantai 2 paling atas adalah kantornya.
Saat hendak memasuki lift, Humaira di cegat oleh Juan yang menyamar sebagai pengunjung.
"Kita harus bicara sebentar?! Danu siapa dia?
Ujar Juan menahan tangan Humaira.
Dewi dan penjaga yang hendak menyeret Juan terpaksa menghentikan geraknya karena Humaira mengangkat tangannya untuk tidak mengambil tindakan.
"Lepaskan tanganku! Kita bicara di kantor"
Ujar Humaira sambil menarik paksa tangannya dari Juan.
Lelaki itu melepaskan genggamannya dan mengikuti perintah Humaira. Di dalam lift, Juan di awasi oleh Dewi dan dua penjaga yang sengaja mengawal Humaira demi keselamatannya.
Sesampai di ruangan Humaira mereka duduk berhadapan. Humaira masih enggan memulai pembicaraan. Sehingga mereka saling diam untuk beberapa saat.
"Katakan?"
Pinta Juan dengan wajah yang mulai tampak sedih.
Melihat Juan menyebutkan nama Danu, Humaira merasa Juan mungkin sudah tahu kebenarannya dan memastikan kepadanya siapa Danu.
Wanita itu menghela napas yang terasa berat sebelum menjawab pertanyaan mantan suaminya itu.
"Dia anakku"
Jawab Humaira singkat yang direspon Juan dengan mengerutkan dahinya.
"Aku tahu. Tapi siapa ayahnya?"
Tanya Juan yang tampak penuh harap Humaira tidak menjawab pertanyaannya dengan berbelit-belit.
"Danu.... dia anakmu"
Juan tersandar lemah begitu mendengar pengakuan Humaira walau dirinya sudah menerka kebenaran itu. Lelaki itu mengusap wajahnya dan memandang Humaira dengan ratapan kesedihan.
"Kenapa kau nggak mengatakannya padaku sebelum anak itu tiada?!"
Suara Juan mulai bergetar menahan antara kesedihan dan emosinya. Lelaki berkali-kali menghela napas smbil mengusap wajahnya.
Humaira tak mampu berkata karena saat ini pun berat baginya. Masa lalu yang sangat ia benci mulia memenuhi hati dan pikirannya kembali. Kepergian Danu yang memberikan pukulan berat untuknya terkenang kembali.
__ADS_1
"Sekarang aku sudah mengatakannya kan kalau Danu anakmu? Dan jangan sok menjadi ayah yang bertanggung jawab karena semua sudah percuma"
"Aku tahu, aku ayah yang nggak berguna. Aku tahu aku telah menyia-nyiakan dirimu dan anak kita. Aku menyesal..."
Dan akhirnya Juan mengakuinya.
"Maafkan aku Humaira, aku sungguh menyesal..."
"Disaat kita bercerai ternyata Danu ada dalam rahimku. Tapi aku terlalu sakit hati untuk menemuimu dan mengatakan kalau aku hamil. Tapi itu masa lalu, dan ingin aku kubur dalam-dalam. Kau boleh pergi sekarang, kau sudah dapatkan apa yang mau kau ketahui"
Ujar Humaira yang langsung berdiri dan berlalu dari hadapan Juan. Wanita itu duduk di kursi kerjanya dan mulai memeriksa beberapa berkas yang menumpuk di meja itu.
"Silahkan tuan"
Pinta Dewi dengan tegas agar Juan meninggalkan ruangan itu.
Mau tidak mau Juan pun meninggalkan ruangan itu dan Humaira yang tidak sekali pun mau melihat ke arahnya.
Padahal dulu mereka begitu saling mencintai, mereka pernah bahagia bersama dan saling melindungi satu sama lain. Namun kehidupan yang penuh godaan dengan sekejap membalikkan keadaaan, mengubah cinta menjadi kebencian.
Setelah Juan meninggalkan ruangan itu, Humaira menangis. Tetes demi tetes air matanya jatuh tanpa mampu ia tahan. Kebenaran yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terungkap juga. Mendengar kata penyesalan yang Juan ucapkan tidak mampu mengubah perasaannya yang terlajur luka.
"Maafkan ibu Danu...., maafkan ibu nak..."
Humaira terus menangis. Perasaannya bercampur aduk dan sangat sulit untuk ia pahami.
"Bu...?"
Dewi yang melihat Humaira menangis seperti itu mencoba untuk menghibur.
"Nggak apa-apa, biar kan aku sendiri"
"Baik bu"
Tidak lama Tomy datang dan langsung menuju kantor Humaira. Saat membuka pintu Humaira tampak tertidur diatas meja kerjanya dengan lelehan air mata yang masih terlihat jelas di pipi.
"Maafkan aku sayang, ini pasti berat untukmu. Seharusnya aku menemanimu disaat kau menghadapinya"
Tomy mengusap lembut pipi Humaira. Ia pun mengangkat tubuh ramping itu untuk di baringkan di sofa.
Humaira terbangun saat Tomy sedang menggendongnya.
"Mas? Kenapa ada disini?"
Tomy perlahan meletakkan Humaira.
"Berbaring lah...,kau terlihat kelelahan. Tadi aku hanya lewat dan ingin mampir saja melihatmu sebentar. Mata mu sembab, ada apa?"
Humaira meraba pipinya, menghapus sisa air mata yang masih tersisa.
"Aku sudah nggak apa-apa mas. Tadi Juan kesini, dan aku sudah mengatakan padanya siapa Danu"
Perlahan Tomy memeluk tubuh Humaira dan mendekapnya erat.
"Kita akan bahagia selamanya sayang, aku tidak akan menyakitimu dan anak kita"
Humaira mengangkat tangannya dan membalas dekapan hangat suaminya.
"Aku tahu mas, aku bersyukur memilikimu dan Gibran"
Mereka pun saling memberikan pelukan hangat.
__ADS_1
Tomy memutuskan untuk menemani Humaira sampai jam makan siang. Mereka pun makan siang bersama di sebuah kafe di dekat swalayan.
"Tomy kan?"
Sapa seorang wanita sambil menepuk pelan bahu Tomy.
"Wah, ternyata benar. Apa kabar? Udah sukses ya sekarang"
Ujar wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Oh, Naima"
Sapa Tomy yang mengingat siapa wanita itu. Ia pun menjabar tangan wanita yang bernama Naima itu.
"Wah, masih ingat rupamya. Sukur deh, aku jadi nggak malu kan takut salah orang"
"Tidak aku masih ingat sedikit walau kau terlihat jauh berbeda. Oh ya, ini isteriku"
Ujar Tomy memperkenalkan Humaira yang sejak tadi mengamati mereka.
"Oh, hai. Lalu tinggal dimana sekarang?"
Apa maksudnya hanya hai?! Dia mengabaikan aku?!
"Aku tinggal di jalan XXX"
"Oh, kalau begitu deket dong dengan tempat aku menginap. Maaf mbak apa aku boleh duduk disini?"
"Eng, oh... Silahkan?!"
Wah, apa ini?! Semakin menjadi. Dia siapa sih?!
Dengan ratapan sinis ke arah Tomy dan wanita itu, Humaira tampak kesal sambil menusuk makanannya dengan garpu.
"Mas, aku ke toilet dulu"
"Oh, ya sayang..."
Tomy menyadari perubahan sikap Humaira dan mulai merasa tidak nyaman dengan situasi itu.
"Siapa sih wanita itu, bikin badmood aja. Nggak lihat apa lagi privat time main duduk seenaknya. Mas Tomy juga tumben nggak galak. Biasanya langsung ngusir kalau merasa terganggu"
Humaira yang sangat kesal, ngedumel sambil mencuci tangannya di wastafel. Dengan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, Humaira mencoba untuk bersabar dan mengontrol emosinya. Ia pun kembali ke meja makannya.
Hah?! Masih disini?!
Humaira kecewa karena ternyata wanita itu masih duduk di tempatnya. Ia pun langsung duduk, lalu tak berapa lama ia mengambil tas nya bersiap untuk meninggalkan mereka.
"Sudah selesai sayang? Aku antar ya?"
Ujar Tomy yang merasa isterinya sedang dalam mood yang kurang baik.
"Nggak usah mas, sepertinya mas sibuk"
Jawab Humaira yang sangat kesal dan langsung pergi tanpa berpamitan dengan Naima.
Naima langsung menahan lengan Tomy ketika lelaki itu hendak mengejar isterinya.
"Pa ini Tomy, mahasiswa kebanggaan papa dulu"
Ujar Naima yang ternyata melakukan video call dengan ayahnya yang merupakan dosen pembimbing yang sangat Tomy kagumi. Mau tidak mau Tomy menyapa dosennya itu dan membiarkan isterinya pergi dengan membawa rasa kecewa, kesal dan sakit hati.
__ADS_1
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
✨Baca juga Dream Destiny bagi yang suka kisah romansa istana. Terima Kasih🙏🤗