Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Kebakaran


__ADS_3

# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘


Malam itu acara tak terduga di adakan oleh Nia. Ia mengajak Humaira dan Yasmin serta Dika untuk makan malam bersama. Berbagai aneka makanan di siapkan untuk makan malam yang mempertemukan Tomy, Humaira, Yasmin serta Dika dalam waktu bersamaan untuk pertama kali.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Ucap Tomy dan Nia serempak menjawab salam dari Humaira.


"Loh... udah siap kak? Aku telat ya..."


Ucap Humaira ketika melihat hidangan sudah penuh di meja makan. Ia langsung menyalami mencium tangan Tomy dan cipika-cipiki pada Nia.


"Nggak, kamu duduk manis aja..."


Jawab Nia yang senang melihat kedekatan Humaira dan suaminya sudah semakin lancar.


Ada rasa sedikit cemburu yang di tekan Nia dalam hatinya ketika melihat langsung sikap mesra Tomy pada Humaira. Namun ia segera menepis perasaan itu demi kebaikan bersama dan demi terwujudnya keinginannya.


"Danu baik-baik aja?"


Tanya Tomy lembut pada Humaira.


"Iya mas, baru juga sehari mas nggak ke rumah..."


Jawab Humaira.


Mendengar percakapan Humaira dan Tomy, apa lagi dengan panggilan mas pada lelaki itu, terdengar sedikit menyayat hati di dada Nia. Wanita itu mencoba menepis lagi semua pikiran negatif yang melanda hatinya.


Sudah sejauh ini Nia, demi kebaikan dan kebahagiaan bersama. Hidup mu pun sudah tidak lama lagi.. dan beruntung wanita itu adalah Humaira yang tidak seperti wanita lainnya... (batin Nia)


Nia mencoba mengambil sisi positif meski hatinya sedang pro dan kontra.


Nia tahu suaminya dan Humaira sudah mulai saling jatuh cinta. Terlihat jelas dari tatapan mata mereka yang saling memandang lekat dan penuh cinta. Sikap Humaira yang mulai santai dan terbuka juga menandakan keduanya telah menerima satu sama lain.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Jawab serempak semuanya.


"Yasmin... ayo sini?!"


Ajak Nia agar Yasmin segera mendekat pada mereka yang sudah duduk di meja makan.


Yasmin pun lalu menyalami Tomy, kemudian Nia cipika-cipiki.


"Ini Humaira..."


Ujar Nia memperkenalkan Yasmin pada madunya itu.


"Yasmin..."


Yasmin mengulurkan tangannya.


"Aku Humaira, panggil saja senyamannya..."


Jawab Humaira menjabat tangan Yasmin lalu cipika-cipiki.


"Baik kak..."


Jawab Yasmin sambil tersenyum.


Lalu padangan Humaira tertuju pada Dika yang sudah lama tidak pernah ia lihat. Pemuda itu menyalami abang dan kakaknya. Setelah itu padangan mereka bertemu. Dengan sedikit canggung Dika mendekati Humaira dan mengulurkan tangan pada wanita.


"Sudah lama ya Jane, kamu apa kabar?"


"Alhamdulillah... aku baik"


Jawab Humaira santai sambil menjabat tangan Dika.


"Dika... panggil Humaira kakak?!"


Ujar Nia menegaskan.


Dika hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal karena canggung.


Mereka semua lalu duduk di meja makan. Tomy berada di kursi tengah atas sebagai kepala keluarga. Sedang kan Nia berada di samping suaminya. Setelah itu, Humaira yang duduk di samping Nia, sedangkan Dika dan Yasmin duduk berdampingan di seberang Nia dan Humaira.


Mereka lalu menyantap makanan sambil mengobrol santai. Humaira tidak banyak berbicara, ia hanya mendengarkan Nia dan Yasmin yang mengobrol santai. Sesekali Humaira akan berbicara jika Nia atau Yasmin bertanya padanya.


Baik Tomy maupun Dika terkadang mencuri pandang pada Humaira. Tomy melirik antara Dika dan Humaira, sedangkan Dika hanya melirik Humaira sesekali, ingin mengetahui dengan matanya, kabar wanita yang dulu ia kejar.


Humaira yang tidak terlalu memperhatikan para lelaki itu terlihat tersenyum dengan santai mendengar dan menanggapi obrolan Yasmin dan Nia.


Baik Nia dan Yasmin keduanya pun sama. Terkadang mereka melirik Dika, Tomy, dan Humaira. Benar-benar situasi yang canggung dan menegangkan dalam sikap tenang mereka.


Hanya Humaira yang benar-benar santai tanpa beban dalam situasi kebersamaan itu. Dirinya pasrah dan siap bila semua yang sudah ia miliki sejauh ini harus di lepas saat semua tidak menginginkan dirinya. Karena Humaira tahu dengan jelas siapa dia dan apa posisinya dalam keluarga yang harmonis itu.


"Jadi... nggak lama lagi abangmu akan menikah dengan Humaira"


"Uhuuk... uhukk...?!"


Humaira tersedak mendengar ucapan Nia yang tiba-tiba.


Nia langsung memberikan air minum dan mengusap pelan punggung Humaira.


"Aku dan abangmu sedang mempersiapkannya bulan depan. Tapi mungkin ini nggak mewah, hanya mengundang orang terdekat dan beberapa kerabat saja. Nggak apa-apa kan Hum...?"


"Iya kak, aku nggak apa-apa..."


Jawab Humaira.


"Dika bagaimana dengan mu?"


Tanya Nia dengan serius.

__ADS_1


"Aku akan menyusul setelah pernikahan abang"


Jawab Dika dengan pasti.


"Bukan itu...?! Tapi perasaan mu dengan Humaira?"


Jleb, pertanyaan Nia menusuk jantung semua orang yang mendengarnya. Nia yang sudah mengamati Dika dan Tomy serta Yasmin dan Humaira sengaja melontarkan pertanyaan itu untuk memperjelas hubungan mereka semua.


Dika bagai kebakaran jenggot mendengar pertanyaan itu. Terlebih di hadapan semua orang yang berkaitan dengan situasi itu.


"Apa aku harus jujur?"


Jawab Dika sekenanya yang mulai pusing dengan keadaan itu.


"Jawab aja..."


Ujar Yasmin sambil mencomot buah di depannya dengan sikap tenang yang coba pertahankan.


Tegang, semua terlihat tidak nyaman meski mereka mencoba untuk sesantai mungkin.


"Jane, kamu baik-baik aja selama ini?"


Dika melontarkan pertanyaan pada Humaira. Seketika suasana sunyi hingga Humaira merasa canggung menjawab pertanyaan Dika.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik aja..."


Humaira mencoba menjawabnya dengan santai.


Yasmin hanya bisa menekan rasa cemburunya di depan semua orang melihat sikap Dika pada Humaira. Yasmin tahu hubungan mereka dari kak Nia. Walau dulu Humaira melakukan itu karena pekerjaannya, tapi tidak menutupi fakta bawah mereka sudah tidur bersama apalagi Dika mencintai Humaira. Hati Yasmin langsung sakit membayangkan itu semua.


"Syukur lah kalau gitu. Semoga kamu bahagia sama abang. Perasaan ku untukmu aku akhiri sampai disini. Selamat ya..."


Dika mengulurkan tangannya untuk di jabat.


Sedikit ragu namun akhirnya Humaira berdiri menjabat tangan Dika.


"Makasih, semoga kau juga bahagia bersama Yasmin..."


Ucap Humaira dan tersenyum.


Mereka lalu kembali duduk.


"Alhamdulilah... semoga kita semua berbahagia"


Ucap Nia sambil tersenyum.


Di bawah meja Nia dengan lembut menggenggam tangan Humaira sesaat sambil tersenyum menatap wanita itu sekilas.


"Oke... yuk kita makan lagi..."


Ajak Nia.


Suasana tegang pun perlahan mulai mencair.


Setelah mereka makan bersama dan mengobrol santai, waktunya mereka pamit karena malam telah larut.


"Aku nggak apa-apa mas. Sepertinya kak Nia sangat kelelahan, mas temani kak Nia saja"


"Baik lah.. kalau begitu. Kabari mas kalau kau sudah sampai"


"Iya mas"


Humaira lalu memasuki mobil dan melambaikan tangan pada semuanya.


"Kak aku pamit ya, kakak terlihat lelah..."


Ujar Yasmin.


"Baiklah..., iya aku sedikit lelah"


Jawab Nia sambil tersenyum.


Yasmin pun menyalami Nia dan Tomy lalu masuk ke mobil Dika. Begitu pula Dika langsung masuk mobilnya setelah berpamitan dengan abang dan kakaknya.


*****


Di dalam mobil Yasmin diam tanpa banyak bicara. Tiba-tiba rasa cemburu yang ia tahan tadi langsung lepas dan menguasai dirinya.


Dika yang mulai paham dengan kebiasaan dan sikap Yasmin tahu kalau gadis itu sedang marah.


"Kenapa yank... kok diem aja dari tadi?"


Tanya Dika sambil melirik Yasmin.


"Aku benci sama kamu?!"


Ujar Yasmin yang terlihat hampir menangis.


"Loh.... hei? Kamu kenapa?"


Dika langsung menepikan mobilnya dan fokus melihat Yasmin.


"Aku benci sama kamu...?!"


"Kenapa?"


Dika meraih tangan Yasmin dan menggenggamnya.


Yasmin menampik tangan Dika. Amarah dalam hatinya tak mampu ia bendung lagi.


"Jangan pegang-pegang aku?! Aku benci sama kamu.. hiks...?!"


Akhirnya Yasmin menangis tak kuasa menahan perasaannya.


"Karena Jane?"


"Jangan sebut dia!!"

__ADS_1


Bentak Yasmin yang sudah tidak tahan lagi.


"Haaah..."


Dika menghela napas memperhatikan Yasmin yang menangis dalam tanpa suara.


"Kan aku udah bilang aku mengakhiri perasaan ku padanya tadi sayank..."


"Tapi kamu pernah tidur dengannya?!"


"Iya aku tahu, aku salah. Kenapa kamu harus membayangkan kalau itu buat kamu sakit hati? Dia bekerja saat itu, hubungan kami hanya sekedar transaksi. Dan aku tahu masa lalu aku buruk. Tapi aku akan berubah demi kamu..., kamu sekarang wanita yang aku cintai. Dia hanya masa lalu"


"Tetap aja kamu pernah tidur dengannya?!"


"Ya udah, kalau gitu kita tidur bersama..."


"Nggak?!"


"Lah terus mau mu apa sih yank..., aku udah jujur loh. Aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia?!"


"Aku lihat kamu terus ngelirik dia ya?!"


"Kamu memperhatikan? Iya aku memang melirik dia. Aku hanya mau tahu dia tanpa aku apa baik-baik aja"


"Itu berarti kamu masih ada rasa sama dia?!"


"Aku nggak bisa ngilangin langsung, apa lagi aku baru ketemu dengannya setelah sekian bulan. Ya wajar pasti ada sedikit rasa ingin tahu yang bagaimana. Tapi rasa untuk bersamanya itu udah nggak ada sayank..."


"Tuh kan...?!"


"Astaga...aku harus jelasin bagaimana lagi coba? Makanya aku mau ciptain kenangan indah bersamamu. Biar kenangannya terkubur dalam-dalam. Dan kamu bukan pelarian bagi ku. Aku benar-benar cinta sama kamu sayank..."


Dika berusaha berbicara dengan tenang dan lembut untuk meredakan amarah Yasmin.


"Kan aku bilang kita akan menikah, aku kurang bukti apa lagi untuk meyakinkan kamu kalau aku benar-benar serius sama kamu.."


Perlahan emosi Yasmin mereda meski gadis itu tidak lagi berbicara. Tangannya sudah mau di genggam lagi oleh Dika. Perlahan Dika menghapus air mata di pipi gadis itu.


"Awas aja kamu buat aku terluka?!"


Ancam Yasmin pada Dika.


"Aku nggak mungkin dong tega ngelukai orang yang aku cinta, maafin masa lalu aku yang buruk ya? Kita kubur dengan kenangan indah kita berdua"


Dika mendekat ke wajah Yasmin dan mencium kening gadis yang kini menguasai hatinya.


Yasmin sudah mulai tenang. Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal gadis itu.


Jalanan macet ketika mereka mencoba memasuki area ruko Yasmin. Beberapa mobil pemadam kebakaran melintas melewati mereka. Asap tebal serta cahaya kobaran api terlihat terang dari tempat merekan berada.


"Ada apa ya? Kok rame begini?"


Tanya Yasmin bingung.


"Kayaknya di depan sana lagi ada kebakaran"


Semakin mendekat kawasan ruko itu semakin sulit terjangkau karena padatnya kendaraan serta orang-orang yang berkumpul menyaksikan kebakaran itu.


"Tok... tok...!"


Seorang petugas pemadam mengetuk jendela mobil Dika.


Dika lalu membuka jendelanya.


"Mau kemana pak, nggak bisa lewat itu depan ada kebakaran pak. Putar balik aja?!"


Perintah pemadam itu.


"Kamu mau pulang pak, rumah kami di depan sana"


Jawab Dika.


"Nggak bisa pak, bapak muter dulu kalau situasinya sudah reda baru bapak kembali lagi?!"


"Itu kebakaran dimananya pak?"


Tanya Yasmin penasaran.


"Itu ruko pakaiannya kayaknya. Butik apa saya lupa?!"


"Apa?!! Butik gue?!"


Yasmin tersentak terkejut. Satu-satunya butik di area itu hanyalah miliknya. Gadis itu terlihat panik dan cemas sambil memegang lengan Dika.


"Butik ku yank... butik ku... hiks... hiks..."


Lagi-lagi Yasmin menangis atas tragedi yang menimpa dirinya.


Notes : Ini episode terpanjang selama aku nulis. Sampe gegar otak rasanya 🤧


✨Beri dukungan untuk aku dong😘


* Like 👍


* Komen


* favorit ❤️


*Rate⭐⭐⭐⭐⭐


*Hadiah


*Vote, Terima kasih 🤗


✨Baca juga Dream Destiny, bagi yang suka kisah romansa istana 😂.


Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2