
Pagi hari aktifitas berjalan seperti biasanya. Tomy sedari tadi berusaha menghubungi Dika sembari menikmati sarapan paginya.
"Ck, kemana anak itu?!"
Gumam Tomy menggerutu.
"Kenapa mas?"
"Dika, dari kemarin dia susah di hubungi"
"Sebentar, biar aku coba tanyakan ke Yasmin"
Humaira lalu mengambil hapenya dan mencoba menghubungi Yasmin dan nihil.
"Nggak aktif mas"
"Sepertinya Dika menyuruh mematikan hape isterinya juga"
"Memangnya kenapa mas?"
Tanya Humaira bingung.
"Mungkin dia kesal karena aku memberinya pekerjaan yang menumpuk"
"Hehehe, mas sih... bercandanya kelewatan"
"Tapi aku salut sama anak itu, seberat dan sebanyak apapun pekerjaan yang aku berikan, dia mampu menyelesaikannya dengan hasil yang cukup memuaskan"
"Itu bukti bahwa Dika sangat menyayangi mas. Dia nggak mau mas kecewa. Meski kadang tingkahnya ke kanak-kanakan seperti ini, tapi dia masih termasuk anak yang baik"
"Yah, kau benar sayang. Kemari lah..., biar aku hadiahi mu kecupan sayang"
Tomy membentangkan sebelah tangannya untuk meraih Humaira.
"Hehehehe, maaf mas kali ini aku menolak. Karena mas pasti minta lanjut lagi ketempat tidur"
Ujar Humaira sambil memberikan tanda silang dengan tangannya.
"Hehehe, kemari lah..."
Tomy terkekeh. Tingkah isterinya sangat mengemaskan baginya.
"Hanya kecupan oke? Aku nggak mau mas selalu menunda pekerjaan. Kasihan Romi, aku lihat kepalanya mulai botak mas, pasti banyak yang ia pikirkan"
Humaira mencoba untuk memastikan.
__ADS_1
"Hahahaha, baiklah... baiklah. Jika nyonya ku sudah meminta, aku bisa apa"
Humaira lalu mendekati kepada suaminya. Dan sarapan pagi itu di mulai dengan sebuah kecupan hangat.
*****
Sementara itu di kediaman Dika. Suasana rumah tampak seperti biasanya, sunyi dan tenang.
Rumah Dika memang tidak mempekerjakan satpam untuk keamanan rumahnya. Ia hanya mememasang CCTV dirumah nya untuk keamanan.
Lingkungan tempat tinggal Dika termasuk aman dari perampok atau maling karena ada petugas yang menjaga keamanan di pintu utama dan di ujung komplek.
Lalu hari itu, bu Tuti tidak datang seperti biasanya karena di kirimi pesan lewat hape Yasmin. Mereka mengatakan akan berlibur beberapa hari ke luar negeri.
Namun kenyataannya di dalam rumah itu, Yasmin dan Dika telah di pindahkan ke kamar Yuna dan Nayu kucing peliharaan mereka. Dalam ruangan itu tidak ada apa-apa selain lantai yang dingin.
Rima membuka kunci dari luar membawakan beberapa Roti untuk tawanannya.
"Ckckckck... dasar pemalas, matahari sudah beranjak naik tapi kalian belum bangun juga?!!"
Ujar Rima kesal sambil meletakkan sepiring roti di lantai.
Dika dan Yasmin bukan tertidur karena ngantuk, tapi kelelahan karena kondisi fisik mereka yang terluka. Terlebih Yasmin, dia lah yang paling banyak mendapat penganiayaan oleh Rima.
Dika yang lebih dulu bangun tampak lemah. Ia melihat ke arah Yasmin yang masih belum bangun dan meringkuk kedinginan.
"Sayang duduklah yang benar, dan makanlah! Ingat, tanpa suara?! Sedikit saja kau berteriak minta tolong atau kau berani menyakiti ku, maka 5 sayatan aku pastikan berada di tubuh wanita ja*lang ini!!"
Dika melihat Rima sangat jijik dan benci.
Baiklah, aku akan makan dan tenang seperti katamu! Dan setelah tenaga ku terkumpul aku pastikan kau mendapat balasanmu!!
Dika mengangguk mengiyakan perintah Rima hingga gadis itu tersenyum puas.
Rima tidak menyadari bahwa semalaman Dika berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya di belakang punggungnya. Tali itu nyaris kendur jika saja Dika tidak kehabisan tenaga.
"Duduk yang benar, tekukkan kakimu, nah... jepit roti ini di antara kedua lutut mu, dan makan! Ingat, tanpa suara!!"
Rima meletakkan roti di antara lutut Dika, lalu membuka lakban di mulut pemuda itu.
Sesaat Dika merasa perih, lakban itu di buka dari kulit wajahnya. Namun begitu melihat Yasmin yang di todongi gunting kuku, hatinya lebih sakit dari kulit wajahnya.
Dika lalu makan dengan tenang seperti binatang yang di beri makan. Ia makan dengan mulutnya dan lutut sebagai pengganti tangannya.
Rima tersenyum sambil memainkan gunting kuku di wajah Yasmin.
__ADS_1
Begitu roti ke dua habis, Rima tidak lagi memberi Dika makan. Ia lalu memberikan laki-laki itu segelas air.
"Satu gelas air untuk berdua, jika kau habiskan maka si ja*lang ini tidak akan bisa minum?! Kikikikik...."
Mendadak Dika berhenti minum setelah mendengar ucapan Rima. Untunglah air di gelas kecil itu masih bersisa setengah.
Lalu Rima kembali menutup mulut Dika dengan lakban.
"Tunggu aku mau buang air?!"
Pinta Dika yang sedari tadi menahan diri.
Rima menatap Dika tajam dan penuh selidik.
"Jika kau macam-macam kau tahu akibatnya?!"
Rima melakban kembali mulut Dika, lalu membuka pintu ikatan di kaki Dika untuk berjalan. Ia pun mengikuti Dika dari belakang menuju toilet.
Di toilet Rima masuk ke dalam bersama Dika. Dika tampak bingung melihat ke arah Rima.
Psikopat kepa*rat!! Bagaimana bisa aku buang air dengan tangan terikat begini?!
Rima membuka closet duduk di hadapan Dika. Lalu membuka reslesting celana pemuda itu dan dengan santai memegang dan mengeluarkan burung puyuh yang tidur itu.
"Kikikiki, santai saja. Aku hanya melihat dan tidak akan mengganggu waktu privatmu?!"
Aaarrgghhh, dasar breng*sek, wanita kepa*rat!!
Dika menggerutu dan mengumpat dalam hatinya. Ia tidak peduli lagi jika Rima menyaksikan aibnya. Dika pun mengeluarkan air mancurnya tanpa ia tahan lagi.
*****
"Ugh..."
Yasmin perlahan sadar. Perlahan ia membuka matanya dan melihat keadaan sekitar.
Dimana aku? Ugh... sakit, tubuhku sakit sekali?! Hiks... hiks...
Yasmin berusaha mengumpulkan tenaga bergerak untuk melihat keadaan sekitar. Sayangnya dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan itu, ia tak mampu mengerakkan tubuhnya.
"Wah, kau lihat. Dia masih bernapas?!"
Rima yang datang bersama Dika langsung menutup kembali pintu kamar rapat-rapat. Kemudian ia berjongkok, mencoba mengikat kali Dika yang masih dalam keadaan posisi berdiri.
Melihat adanya peluang untuk kabur, dengan sekuat tenaga Dika menendang kepala Rima hingga gadis itu terjatuh dan kepalanya terbentur ke dinding.
__ADS_1
Rima masih setengah sadar dan berusaha bangun meski kepalanya sakit oleh hantaman kaki Dika dan juga dinding. Dengan cepat kembali kaki Dika langsung menerjang tubuh Rima bertubi-tubi dan menendang kembali kepalanya hingga membentur dinding.
Rima pun tergeletak tak sadarkan diri. Dika langsung mengambil gunting kuku yang ada di tangan dan menyembunyikannya. Dengan cepat berlari, ia menuju dapur dan mencari pisau untuk memutuskan tali yang mengikat tangannya.