Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Ngidam


__ADS_3

Ada-ada saja pastinya kelakuan ibu hamil yang sedang mengalami masa ngidam. Tapi lebih parah lagi adalah kelakuan Tomy yang mengalami hal itu.


Tomy berubah menjadi sensitif terhadap bau, makanan, bahkan sikap dingin dan pendiamnya berubah menjadi cerewet, mirip ibu-ibu yang kalut tidak kebagian antrian minyak goreng.


Kadang kala Humaira melengos di buatnya. Apa yang sedang di makan wanita itu, Tomy juga sangat menginginkannya. Belum lagi bau parfum orang-orang yang membuatnya sakit kepala, bikin Tomy menjadi mudah marah dan menjadi lebih menakutkan bagi para bawahannya.


Namun berbeda dengan aroma isterinya. Humaira tidak mandi pun bagi Tomy wanita itu tetap saja wangi. (🙄)


Mau tidak mau Humaira harus selalu berada di dekat Tomy, sebagai pereda sakit kepala lelaki itu karena parfum orang lain.


"Jangan terlalu lelah sayang..., istirahatlah. Di ruang itu ada tempat tidur yang bisa kau gunakan untuk istirahat atau tidur"


"Aku nggak mau bawahanmu pucat mas, karena nggak ada aku di sampingmu. Kenapa nggak pakai masker aja mas, jadi biar bau-bau yang mas nggak suka nggak keciuman?"


"Entahlah..kalau bersamamu aku jadi lebih tenang"


Tomy memeluk Humaira dan mencium ceruk leher wanita itu.


"Maas...di kantor loh ini"


Ujar Humaira mengingatkan. Ia merasa tidak nyaman bila nanti seseorang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.


"Tidak akan ada yang berani langsung masuk tanpa mengetuk pintu"


Ujar Tomy sambil memejamkan matanya memeluk Humaira yang duduk di sofa.


"Ceklek!!"


"Wah... lihat dua orang ini?! Anda terciduk"


Mata Tomy langsung terbuka setelah hitungan 3 detik ia selesai bicara pada Humaira.


"Kata mas nggak ada yang berani masuk?"


Bisik Humaira menahan tawa melihat ekspresi suaminya.


Tomy membenarkan posisi duduknya dan menatap Dika seperti tidak senang akan kehadiran lelaki itu.


"Sepertinya aku mengganggu"


Ujar Dika dengan wajah tak bersalah.


"Ada apa?"


Tanya Tomy sedikit kesal.


"Aku datang hanya ingin mengucapkan selamat buat abang. Alhamdulillah akhirnya aku punya calon ponakan"


Ujar Dika tersenyum senang.


"Ya.. terima kasih"


Jawab Tomy.


"Yasmin sudah jarang terlihat datang kerumah. Kemana dia?"


Tanya Humaira pada Dika.


"Dia sedikit sibuk untuk pembukaan butik barunya"


"Oh.. sudah jadi?"


"Tinggal merapikan barang. Ini undangan dari Yasmin, dia minta maaf tidak bisa memberikan langsung pada kalian"


Dika menyodorkan undangan launcing butik barunya Yasmin.


"Mas... aku ingin pergi"


"Ya tentu, pergi lah..."


"Oh ya Jane, Yasmin juga bilang sesekali ia ingin mengajakmu belanja bareng"

__ADS_1


"Panggil dia kakak, dia lebih tua darimu"


Tegas Tomy pada Dika.


"Iya..."


Jawab Dika sekenanya.


"Kalau begitu aku permisi dulu bang, dan em... kak..."


"Hmm..."


Dika pun pamit dan meninggalkan ruangan itu.


Sikap Tomy yang dingin terhadap Dika membuat Humaira merasa tidak nyaman pada pemuda itu.


"Mas masih cemburu pada Dika?"


"Tidak"


"Lalu kenapa mas jutek gitu sama dia?"


"Bau parfumnya aku tidak suka"


Ujar Tomy yang langsung meletakkan wajahnya di ceruk leher Humaira.


"Haaah? Hahaha..."


Humaira terkekeh. Untung saja soal ngidam sensitif bau hanya Tomy yang mengalaminya.


*****


Jam istirahat kantor.


Beberapa karyawan berkumpul di depan meja Yuni menunggu Humaira keluar dari dalam ruang kerja Tomy.


Begitu melihat Humaira hendak menuju lift, Yuni memberanikan diri mendekati Humaira.


Tanya Yuni sekretaris Tomy pada Humaira.


"Ada apa?"


"Itu bu, maaf bu.. apa boleh kami tahu ibu pakai parfum apa? Kami hanya ingin aman saja kok bu, nggak ada maksud lain"


Tampak takut Yuni menanyakan mewakili teman-temannya yang lain, termasuk Romi yang setiap saat selalu berada di dekat Tomy.


"Hah?"


Humaira ingin tertawa rasanya melihat karyawan Tomy sampai segitunya takut pada atasannya. Namun ia juga merasa kasihan, sedikit banyak ini juga karena dirinya Tomy berubah demikian.


"Baiklah, aku hargai usaha kalian. Sini pulpen dan kertasnya, aku akan menuliskan apa saja yang aku pakai"


Humaira pun menulis apa saja yang ia pakai, dari sabun mandi, dan lain-lain yang mengeluarkan bau wangi hingga parfum yang ia kenakan.


"Nah semoga berhasil"


"Makasih bu"


Tampak senang mereka segera membaca sederet catatan yang di berikan Humaira.


Keesokan harinya, perlahan karyawan yang sering bertemu Tomy satu persatu sudah mirip dengan bau Humaira. Tomy merasa heran, namun ia sedikit lega karena tidak perlu lagi menahan napasnya ketika berdekatan dengan para karyawannya itu.


Hari ke hari hampir seluruh ruangan mengeluarkan aroma wangi yang mirip Humaira. Tomy tidak lagi memijit kepala nya tiap kali berpaspasan dengan karyawannya. Walau bingung, namun Tomy tidak ingin mencari tahu mengapa dan bagaimana bisa hampir satu kantor wangi Humaira. Baginya kini hari-hari di kantor tampak kembali seperti sedia kala.


Para karyawan menunduk hormat pada Tomy dan Humaira. Terlebih pada nyonya besar mereka. Para karyawan merasa sangat berterima kasih berkat bantuan dari Humaira, mereka tidak lagi sering mendapat amukan dari bos mereka.


*****


Malam hari tiba, saat perjalanan menuju pulang kerumah. Humaira dan Tomy tampak sedang asik mengobrol santai tanpa peduli Romi yang mendengar pembicaraan mereka.


Saat sedang menunggu lampu merah, Humaira tiba-tiba membuka jendela mobil melihat deretan jajanan yang mengiurkan lidahnya.

__ADS_1


Aroma panggangan sate menggelitik hidung Humaira dan juga Tomy, mereka pun saling menatap satu sama lain.


"Romi pinggirkan mobil"


Perintah Tomy pada asistennya.


"Baik pak"


Begitu lampu hijau menyala, Romi pun mencari tempat untuk menepikan mobil yang mereka tumpangi.


"Ayo..."


Ajak Tomy pada isterinya.


"Mas kok tahu?"


"Karena aku juga sama sepertimu, kau lupa?"


"Hehehe, ayo..."


Romi menggelengkan kepala melihat tingkah ngidam suami isteri itu. Ia hanya menyaksikan dari dalam mobil sambil menelpon isterinya.


Humaira dan Tomy tampak sangat menikmati aneka jajanan kuliner di sepanjang jalan itu.


"Aku kira mas nggak suka jajanan beginian"


"Dulu semasa pacaran dengan Nia, kami sering makan jajanan seperti ini. Nia yang mengenalkan ku akan kesederhanaan"


"Kak Nia wanita yang kuat dan hebat"


"Kau juga sayang, kau wanita tangguh, kuat dan sabar menghadapi cobaan kehidupan"


Tersenyum bahagia Humaira mendengar ucapan Tomy.


"Boleh aku tanya mas?"


"Apa"


"Kenapa mas memilih aku dari sekian banyak wanita"


"Nia yang memilihmu untukku. Aku percaya atas pilihannya. Karena dia wanita, tentu instingnya lebih baik dari ku"


"Dan mas menerima aku begitu saja?"


"Proses sayang. Malam-malam yang kita lalui bersama dulu, adalah saat aku menilai wanita pilihan isteriku"


"Lalu kapan mas mulai mencintaiku?"


"Entahlah... perasaan itu hanya mengalir begitu saja. Aku tidak tahu sejak kapan. Mulai dari rasa nyaman dan tenang bersamamu mungkin"


Humaira memeluk lengan suaminya.


"Aku pun nggak tahu sejak kapan perasaan ini hadir. Karena aku selalu menekan perasaanku agar nggak mudah jatuh cinta"


"Karena mantan suamimu?"


Humaira mengangguk.


"Dia lelaki bodoh yang membuang wanita sebaik dirimu sayang"


Tomy meraih tangan Humaira dan menciumnya.


"Aku tidak akan menyia-nyiakanmu hingga maut memisahkan kita"


Ucap Tomy sungguh-sungguh.


Humaira tersenyum. Tentu saja ia percaya dengan ucapan Tomy karena telah menyaksikan sendiri betapa ia mencintai isterinya Nia meski wanita itu sakit-sakitan dan tidak dapat melakukan tugasnya sebagai seorang isteri.


✨Baca juga Dream Destiny, bagi kalian yang menyukai kisah romansa istana. Terima kasih 😊


✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2