
"Hum, buatkan minum untuk Yunita"
Pinta Juan pada isterinya.
"Loh... sudah jam 8 yaang, kamu sudah terlambat ini?"
"Ck! Kalau aku bilang buatin yang buatin?!"
Humaira tersentak Juan membentaknya. Lelaki itu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dengan perasaan sedih Humaira membuatkan minuman hangat untuk tamu mereka pagi itu.
Ketika hendak memberikan minuman diruang tamu, Humaira bingung karena Yunita tidak ada di sana. Humaira pun mencari kesana kemari, namun langkahnya terhenti ketika melihat ruang kerja Juan terbuka dan terdengar suara tawa manja milik seorang wanita.
Deg, Feeling Humaira merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Perlahan pun ia mencoba melihat apa yang terjadi di dalam ruang kerja itu.
"Oh... kita sudah terlambat, sebaiknya kita langsung pergi sekarang"
Ujar Juan ketika melihat bayangan Humaira di ambang pintu.
"Ehem... yuk?!"
Yunita pun mengiyakan.
Humaira yakin samar-samar tadi ia melihat Yunita duduk dipangkuan suaminya. Namun begitu ia hampir masuk ke dalam ruang itu, terlihat Yunita mengibaskan roknya pelan dan sambil tersenyum.
Juan dan Yunita lalu berlalu begitu saja melintasi Humaira. Deg, Humaira tertegun melihat sikap suaminya.
Apa ini hanya perasaan ku saja? Dan sepertinya ada yang terlewati.
Humaira baru mengingat kebiasaannya menyalami tangan suaminya sebelum pergi, dan itu terlewat begitu saja. Wanita itu melangkah cepat mengejar suaminya dan hendak menyalaminya.
Namun, sesuatu yang menyakiti hatinya terlihat tanpa sengaja. Dibalik jendela ia melihat Yunita menggandeng mesra lengan suaminya sambil tersenyum manja.
Apa benar dia hanya teman kerja suamiku?!
Humaira mencoba mencari tahu kebenaran feelingnya dengan menelpon rekan kerjanya dulu. Karena seingatnya, Juan pernah mengatakan kalau temannya itu masih bekerja disana.
Rumi, orang yang paling ingin tahu urusan orang lain. Aku yakin Rumi pasti tahu sesuatu.
Humaira mencoba menguhubungi Rumi, dan panggilan itu segera tersambung.
"Halo Rumi, ini aku Humaira.."
"Loh, Hum? Apa kabar? Dih ngilang gitu aja setelah menikah. Eh... maaf, aku turut prihatin ya kamu udah cerai sama Juan.."
"Haaah?! Cerai!!"
Bagai disambar petir kalimat cerai yang diucapkan Rumi langsung membuat luka lebar dihati Humaira.
__ADS_1
"Iya cerai?! Kok kaget gitu sih?"
Humaira tidak menjawab pertanyaan Rumi. Karena baginya berbicara lebih lama dengan Rumi sama saja menyebarkan aibnya yang harus ia tutupi.
Wanita itu sudah merasa cukup dengan info dari Rumi yang mengatakan dirinya sudah cerai dari Juan. Karena Rumi tidak pernah menyebarkan gosip yang berdasarkan pemikirannya sendiri.
Dengan tubuh gemetar Humaira mencoba bertahan setenang mungkin berbicara dengan Rumi.
"Aku cuma mau mastiin nomermu masih aktif apa nggak. Kamu pasti sibuk, maaf ya aku ganggu. Lain waktu kalau ada kesempatan kita ketemuan oke?"
"Ia deh, see you..."
"Kluk"
Humaira langsung menutup teleponnya. Kakinya mendadak lemas hingga ia terduduk dilantai.
Jadi kau sudah bilang ke orang-orang kalau kita sudah cerai?!
Air mata Humaira menetes, semakin lama semakin banyak dan akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Seketika ia teringat bau parfum Yunita yang ia cium dipakaian kotor suaminya. Wanita itu akhirnya menangis sejadi-jadinya.
Jadi selama ini kau keluar kota bersamanya? Dan kau membohongiku?! Hiks...
Rasa sesak begitu menghimpit dadanya. Hatinya sakit dan terluka seperti tergores pisau yang menyayat hati.
Humaira baru mengetahui kalau suaminya berselingkuh setelah perlahan ingatan ganjil satu persatu muncul membenarkan perkiraannya saat ini.
Humaira menangis dan terus menangis, hingga menjelang sore ia baru beranjak karena perutnya yang terasa mual.
Matanya bengkak, semangatnya sudah hilang ketika ia menyambut Juan pulang. Tanpa mengulurkan tangannya untuk di salami Juan langsung memberikan tas kerjanya pada Humaira. Bahkan lelaki itu tidak memperhatikan perubahan ekspresi serta wajah isterinya.
"Apa kau bahagia sudah berselingkuh di belakangku?"
Ucap Humaira sambil mengeratkan pegangannya pada tas kerja Juan. Tubuhnya gemetar karena menahan emosi yang menyesakkan dadanya.
Juan menghentikan langkah kakinya. Terdengar sekilas lelaki itu nyengir mendengar ucapan Humaira.
" Jadi kau baru tahu? "
Juan tersenyum seringai membalas ucapan isterinya.
Mata Humaira berkaca-kaca. Wanita yang sangat mencintai lelaki itu tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
"Kenapa? Hiks...."
"Kenapa? Kau tanya kenapa? Lihat dirimu di cermin!"
Ucap Juan dengan pandangan hina kepada Humaira.
__ADS_1
"Karena aku jelek dari dia? Aku begini karena mu?!"
"Hahaha... karena ku? Kau wanita mandul, apa itu juga karena ku?! Aku ingin wanita yang bisa memberikan keturunan. Apa kau bisa?!"
Humaira menggelengkan kepala tak percaya suaminya berubah seperti itu. Kata-kata yang tak pernah di ucapkan Juan membuat Humaira tak percaya, benarkah lelaki yang di hadapannya ini adalah Juan suaminya.
"Kita pernah periksa bersama, dan kau tahu tak ada masalah pada rahimku"
"Aaaahhh!! Persetan!! Aku sudah muak! Sebaiknya kita bercerai?!"
Humaira terkejut bukan main. Wanita itu syok dan terpaku tak bergeming. Kata keramat yang sangat ia hindari akhirnya terucap jelas di bibir suaminya. Sesuatu yang sangat ia takutkan dan berusaha ia hindari terjadi juga.
Juan melangkah begitu saja meninggalkan Humaira yang terududuk lemah di lantai. Lelaki itu tanpa rasa bersalah mengeluarkan smartphonenya dan menelpon Yunita selingkuhannya.
"Halo sayang, aku baru sampai nih? Iya capek banget. Kangen dong..."
"Hiks... hiks..."
"Duk... duk.. duk..."
Humaira menangis sambil menepuk-nepuk dadanya. Hingga larut malam, Juan sama sekali tak peduli dengan isterinya. Humaira meringkuh dikamar yang biasanya digunakan untuk tamu. Mulai malam itu Juan mengajaknya pisah ranjang. Tak sebiji nasi pun masuk kedalam perutnya, Humaira terus muntah tiada henti. Pucat, lemah dan tak berdaya. Tak ada teman untuk curhat, tak ada keluarga untuk ia datangi.
Lalu di pagi itu, ketika Humaira membuka pintu kamarnya, secarik kertas dari Pengadilan Agama di tujukan atas namanya. Ternyata Juan telah memasukan gugat cerainya ke pengadilan Agama jauh sebelum Humaira tahu yang sebenarnya.
Kembali lagi wanita itu menangis, dan semakin terkejut karena Juan membawa koper besar berisi pakaian miliknya.
"Segera angkat kaki dari rumah ini. Karena rumah ini sudah milikku sekarang. Dan kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi"
Humaira syok tak percaya. Bagaimana mungkin ia meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya terlebih lagi rumah itu atas nama dirinya.
"Tidak! Kau yang harusnya pergi?! Ini rumah ku!"
Bentak Humaira pada Juan yang tersenyum tipis menanggapi kenaifan isterinya.
Lelaki itu melemparkan selembar kertas berbentuk foto copyan kehadapan isterinya. Disana jelas tertulis kalau Humaira memberikan seluruh hartanya beserta rumah peninggalan orang tuanya kepada Juan Pratama, suaminya. Tanda tangan Humaira di atas materai terlihat sangat jelas di kertas itu. Dan hal itupun telah di sahkan oleh seorang pengacara yang terdapat tanda tangannya di sana.
"Kau bohong!! Kau penipu!! Aku tidak pernah menandatangani apapun?!"
Setelah berbicara seperti itu Humaira terdiam. Dia baru ingat pernah menandatangani beberapa lembar kertas yang Juan berikan dengan dalih investasi.
Seketika wajah Humaira memucat. Tubuhnya gemetar karena baru menyadari kesalahannya yang terlalu percaya pada Juan dan tidak membaca lebaran kertas itu dulu.
"Baru ingat? Jadi sekarang sudah jelaskan. Dan segera angkat kaki dari rumah ini!!"
Flash Back Off
**✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗
__ADS_1
✨Baca juga Dream Destiny, bagi kalian yang menyukai kisah romansa istana. Terima kasih 😊**