Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Move On


__ADS_3

✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗


*****


Beberapa hari di lalui Humaira dengan keadaan lemah dan tidak berselera. Sejak kemarin ia terus muntah setiap memasukan makanan ke dalam mulutnya. Melihat keadaan isterinya yang seperti itu, Tomy melarang Humaira untuk datang ke kantor dan meminta isterinya itu untuk beristirahat di rumah saja. Humaira yang tidak kuat dengan kondisi seperti itu pun menuruti apa kata sang suami.


Melihat Humaira yang lemah begitu Umi merasa iba. Umi yang telah kembali ke rumah besar beberapa hari lalu, menyibukkan dirinya dengan mengurus adik angkatnya itu.


"Hum, kenapa masuk anginmu nggak hilang-hilang sih. Obat dan jamu apapun udah nggak ngefek sama sekali. Apa lebih baik kamu ke dokter Hum atau ke RS?"


Saran Umi sambil mengerok punggung Humaira yang tidak terlihat merah.


Humaira yang di kerok sambil melamun, tidak begitu mendengar saran Umi.


"Hum, kamu dengar nggak? Haaah, Hum... jangan bersedih berlarut-larut, nggak baik untuk kesehatan mu dan juga mereka yang sudah tenang disana akan tersiksa oleh air mata dan kesedihanmu Hum. Sudah lah..."


Menetes tanpa ekspresi dan suara. Kali ini apa yang di ucap Umi terdengar di telinga Humaira hingga ia teringat kembali Danu dan Nia.


"Hum... kapan kamu terakhir datang bulan?"


Umi mencoba menanyakan hal itu, kali saja Humaira bukanlah sedang masuk angin, melainkan adiknya itu sedang mengandung pikir Umi.


Ucapan Umi kali ini menghentikan air mata Humaira hingga wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap Umi.


"Tanggal berapa sekarang kak?"


Tanya Humaira bingung.


"Kamu sudah mulai lupa tanggal Hum? Sekarang tanggal 29 februari Hum..."


Tanya Umi sambil menggelengkan kepala.


"Bukannya Februari hanya sampai 28 aja kak?"


"4 tahun sekali tanggal itu muncul Hum, dan tahun ini ada. Itu lagi banyak yang bahasa di Tv. Makanya Hum, jangan melamun aja kerjanya. Lihat sekitarmu..., banyak kok yang ngalamin hal yang sama dengan mu bahkan lebih dari dirimu. Lihat di Gaza, mereka lebih memperihatinkan. Bahkan ada yang sebatang kara dari kecil. Hidup itu harus di sukuri, Umi ingin Humaira yang dulu, yang nggak mengenal kata nyerah dan selalu kuat dalam menghadapi cobaan. Kamu sudah bersuami dan memiliki keluarga yang baru. Apa nggak sedih mereka melihat kamu seperti ini? Terlebih suamimu itu, dia berusaha bahagiakan kamu Hum. Kamu sendiri apa udah buat dia bahagia?"


Penuturan panjang Umi perlahan tapi membuka hati dan pikiran Humaira meski wanita itu hanya diam saja.


Umi benar. Maaf mas... aku terlalu terlena akan kesedihanku hingga melupakan janji kita untuk bahagia bersama.


"Sepertinya aku belum datang bulan kak"


Ucap Humaira yang langsung di tatap Umi dengan wajah yang berbinar.


"Sungguh?"


"Tapi jangan terlalu berharap kak, aku ingin memastikannya dulu"


"Kalau begitu bagaimana jika kamu coba hubungi pak Tomy dan meminta dokter pribadi memeriksamu?"


"Aku sudah sering menyita waktu kerja mas Tomy. Nanti saja kak, setelah dia pulang kerja aku coba bicarakan"


"Baiklah jika itu mau mu"


Umi tidak kecewa, setidaknya Humaira sedikit lebih terbuka kini hati dan pikirannya.


*****


Ada yang lain dari Tomy selama 2 hari ini. Ia merasa aneh dan tidak menyukai bau parfum para karyawannya yang bertemu dengannya. Bahkan ia harus sedikit menjauh dari klien yang baru saja ia temui.


Di dalam mobil ketika mereka dalam perjalanan menuju pulang kerumah. Tomy memijit kepalanya dan hal itu di perhatikan Romi sang asisten dari kursi depan mobil.


"Apa kau mengganti parfum mu Rom?"

__ADS_1


"Apa?! Tidak pak"


Jawab Romi yang kebingungan melihat sikap tuannya yang tiba-tiba menanyakan wangi parfumnya.


"Apa ada sesuatu pak?"


"Aku tidak begitu menyukai bau parfummu"


"Ya pak? Tapi saya selalu memakai parfum ini dan tidak pernah menggantinya pak"


"Aku sedikit merasa pusing. Ini tidak seperti biasanya. Panggil dokter Ardi, minta untuk datang memeriksa ku"


"Baik pak"


Tomy pun segera mengirimkan pesan kepada dokter Ardi yang merupakan dokter pribadi Tomy itu.


"Oh.. berhenti!"


"Ckiiiit...!"


Mobil direm secara mendadak oleh supir Tomy.


"Ada apa pak?"


Tanya Romi penasaran kenapa tuannya meminta berhenti dilokasi yang tidak jauh dari kafe Exsy tempat dimana Humaira bekerja dulu.


"Rom turunlah?! Beli mie ayam di gerobak itu 3 bungkus. Dan beli juga untuk kalian jika mau"


"Baik pak"


Romi segera melaksanakan perintah tuannya.


Sejak hari itu, setelah Humaira dan dirinya makan mie ayam gerobak di dekat kafe Exsy, Tomy merasa ketagihan dengan mie ayam itu. Entah kenapa ia seperti orang ngidam yang hanya ingin makan saat dirinya ingin.


Aroma mie ayam pun menyeruak memenuhi ruang mobil. Tomy tersenyum, ia sudah dapat memastikan isterinya akan senang melihat apa yang ia bawa pulang kerumah malam ini.


"Mas kok tahu aku lagi ingin makan ini?"


"Bukan cuma kamu sayang..., mas juga ingin. Mie ayamnya bikin nagih"


"Hehehe... bener kan enak..."


"Kita makan bareng ya, buat yang lain Romi sudah membelikannya"


"Iya mas, yuk..!"


"Mandi dulu apa makan dulu?"


"Kali ini makan dulu aja mas, terlalu dingin ntar nggak enak"


"Hmm.."


Makan malam sederhana, hanya dengan mie ayam sudah membuat Humaira dan Tomy tampak sangat menikmati.


Umi yang melihat kebersamaan sederhana itu pun tampak tersenyum bahagia.


Setelah Tomy makan dan membersihkan diri, dokter pribadinya pun datang atas permintaannya. Humaira yang bingung dengan ke datangan dokter Ardi melihat ke arah Umi, kalau-kalau wanita itu telah memberitahukan Tomy lebih dulu. Umi yang paham arti tatapan Humaira hanya mengangkat bahu yang berarti ia sendiri tidak tahu kenapa dokter Ardi datang kerumah itu.


"Masuk dok"


Ujar Humaira mempersilakan dokter itu untuk masuk.


"Oh sudah datang?"

__ADS_1


Ujar Tomy menyapa dokter Ardi.


"Siapa yang akan saya periksa hari ini?"


"Aku!"


Jawab serempak Tomy dan Humaira.


Adegan itu membuat dokter tersenyum begitu juga Umi yang tidak berada jauh dari ruang tamu.


"Kamu kenapa sayang... masih muntah-muntah masuk angin?"


"Iya mas, walau nggak terlalu sering tapi hari ini udah 2 kali. Mas kenapa? Apa yang sakit?"


Humaira menjadi khawatir pada Tomy yang sangat jarang merasakan sakit itu.


"Tidak apa-apa sayang, hanya ada sedikit yang kurang enak. Periksa saja dulu isteriku"


"Baiklah. Ada keluhan apa bu?"


Tanya dokter Ardi dengan ramah.


"Beberapa ini aku sering muntah, mual dan kurang berselera untuk makan. Kadang-kadang juga pusing seperti masuk angin. Tapi ini sudah beberapa hari belum sembuh juga meski sudah di obati"


"Maaf bisa ulurkan tangannya? Saya periksa ya.."


Dokter yang hampir sebaya dengan Tomy itu mengeluarkan Stetoskop dan alat tensi darah miliknya. Dengan seksama ia memeriksa denyut nadi serta detak jantung Humaira. Mata serta lidah tidak luput dari pemeriksaan dokter Ardi.


"Kapan terakhir ibu datang bulan?"


Pertanyaan itu langsung di lontarkan oleh sang dokter.


Tomy yang mendengarnya langsung berubah serius menunggu jawaban Humaira isterinya.


"Sepertinya aku sudah telat 3 hari dok"


Tutur Humaira yang langsung mendapat senyuman lebar oleh Tomy.


"Sudah dengar pak? Tapi ada baiknya bapak membawa ibu ke spesialis dokter kandungan untuk lebih memastikannya. Dan disana dokter akan menjelaskan lebih detail bagaimana dan apa yang harus di lakukan oleh ibu hamil. Untuk saat ini saya juga menduga bahwa ibu sedang hamil. Walau masih dugaan awal, tapi selamat pak?"


"Terima kasih"


Tomy meraih uluran tangan dokter Ardi yang memberikan ucapan selamat padanya.


Senyum bahagia tak lepas dari wajah Tomy. Tanpa malu lelaki itu berulang kali mencium pucuk kepala Humaira yang sedang di rangkulnya.


"Lalu keluhan bapak sendiri?"


"Aku akhir-akhir ini tidak begitu menyukai bau parfum"


"Hehehe... itu, ngidam pak. Apa yang isteri bapak rasakan juga bapak alami. Ini memang jarang terjadi tetapi ada"


Humaira ikut terkekeh mendengar ucapan dokter mengenai suaminya yang ikut merasakan ngidam bersama dirinya.


Setelah melakukan tugasnya, Dokter Ardi pun pamit pulang.


"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia. Besok kita akan mengecek kandunganmu ke RS. Sudah ada buah hati di dalam sini, jangan lagi kau bersedih lagi"


Ujar Tomy sambil mengelus perut Humaira yang masih rata.


"Iya mas..."


Ya Allah... semoga aku benar-benar hamil. Dan terima kasih jika aku dipercaya lagi untuk merawat titipan yang sangat berharga dan berarti dari-Mu. Akan aku jaga dan aku rawat berkah dari-Mu yang tiada tara ini...

__ADS_1


Begitulah akhirnya Humaira mencoba untuk bangkit dari rasa sedihnya atas kehilangan Danu dan juga Nia.


✨Baca juga Dream Destiny, bagi kalian yang menyukai kisah romansa istana. Terima kasih 😊


__ADS_2