Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Kebohongan


__ADS_3

Undangan telah di sebar, persiapan pernikahan sudah hampir selesai. Mendekati hari pernikahan, Dika dan Yasmin merasa deg degan seakan tidak nyata mereka akan bersama dalam ikatan sakral setelah nyaris berpisah.


Di kejauhan Rima hanya mampu memandang dengan tangan mengepal melihat kemesraan Dika dan Yasmin. Berita pernikahan Dika tentu telah sampai pula ke telinga Rima hingga gadis itu bertekad melabrak Yasmin.


Ia yang telah lama menunggu akhirnya mendatangi Yasmin ketika Dika telah meninggalkan butik malam itu. Yasmin yang baru saja akan menutup pintu rukonya di halangi oleh Rima yang datang tiba-tiba.


"Kamu?!"


Kening Yasmin berkerut ketika tangan Rima menahan pintu itu. Ia ingat jelas wajah Rima yang meluluh lantakkan perasaannya kepada Dika.


"Tega ya?! Padahal aku sudah bilang sama kakak kalau bang Dika sudah janji mau nikahin aku!"


Rima terlihat sangat sedih dan nyaris menangis.


"Kamu jangan mengusik ku, aku tidak percaya padamu!"


Yasmin tak kuasa berdebat, ia pun mencoba untuk menanggapi gadis itu dengan tenang.


Rima berdecih pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada mendengar ucapan Yasmin.


"Heh, mengusik?! Aku bukan mengusik kak, tapi aku berusaha mempertahankan milikku?!"


"Gila ya! Dika sendiri nggak kenal sama kamu, dan jangan mengada-ngada?! Lagi pula jangan panggil aku kakak, aku bukan kakak mu?!"


Yasmin mulai kesal, apalagi Rima semakin memperlihatkan sisinya yang buruk


"Oh, udah mulai sombong rupanya. Heh, lu tu nggak ada apa-apanya! Gue yang lebih berhak bersama Dika!"


Ucap Rima dengan yakin dan terlihat mulai emosi menatap Yasmin penuh kebencian.


Yasmin merinding melihat gadis muda itu begitu terobsesi terhadap Dika. Ia pun tak ingin meladeni lebih lama hingga ia berusaha menutup kembali pintu rukonya. Namun Rima tidak begitu saja membiarkan dirinya di abaikan. Gadis itu menahan sekuat tenaga hingga Yasmin kewalahan menutup pintu itu. Dan akhirnya Rima menerobos masuk kedalam.


"Kita nggak ada urusan, jadi tolong keluar?!"


Pinta Yasmin dengan rasa kesal dan menahan emosinya.


Tingkah Rima yang tidak sopan membuat Yasmin jengkel.


"Enak aja nggak ada urusan. Lu harus ninggalin Dika!"


Yasmin mengerutkan dahinya sambil melengos. Ucapan Rima rasanya tak masuk akal buatnya.


"Gila ya?! Lucu banget kamu?!"


"Lu yang gila!"

__ADS_1


"PLAKK!!"


Emosi Rima mulai mengusai hati dan pikirannya. Ia pun dengan ringan melayangkan tangannya ke arah pipi Yasmin. Tamparan keras mendarat di pipi putih mulus itu


Yasmin terkejut dan memegang pipinya. Darahnya mendidih namun ia berusaha untuk tetap menjaga emosi mengingat gadis itu lebih muda darinya.


"Cukup!! Aku udah sabar ya?! Jangan cuma ngomong doang, buktikan jika benar Dika berjanji sama kamu! Dan lagi pula, jika Dika memang berjanji tentu dia nggak akan mengajakku untuk menikah dengannya. Apa jangan-jangan ini cuma akal-akalan mu aja?!"


"Hah! Bukti?! Apa perlu gue bawa lu ke kuburan anak gue?! Dasar ja*la*ng!!"


Yasmin mulai mendidih mendengar perkataan Rima, Apalagi bekas tamparan Rima masih terasa nyeri dan panas di pipinya. Dengan sekuat tenaga Yasmin mendorong Rima hingga gadis itu jatuh terduduk.


"AARRGHH!!"


Rima marah, lalu bangkit dan secepatnya mendekati Yasmin dan menarik rambutnya yang panjang. Dengan cepat dan berusaha mencari celah, Rima memukuli kepala dan wajah gadis Yasmin.


Yasmin terkejut namun tak bisa mengelak dan ia pun berusaha melindungi kepala dan wajahnya sambil mendorong dan sesekali mencoba memberikan balasan terhadap Rima.


Perkelahian dua gadis itu pun tak terelakkan dan tampak sengit karena tak ada orang lain dalam ruko itu kecuali mereka. Rasa sakit di kepala akibat jam akan dan beberapa pukulan membuat Yasmin mulai pusing hingga ia pun mendekatkan kepalanya dan menggigit bahu Rima.


Seketika Rima menggeliat kesakitan dan melepaskan cengkeraman tangannya di rambut Yasmin, lalu sekuat tenaga ia mendorong kepala Yasmin menjauh dari tubuhnya.


Yasmin mengusap mulutnya dan berludah sambil melihat Rima yang mengerang kesakitan memegang bahunya. Ia yakin sekali kalau bahu gadis itu terluka.


Rima memucat, ia pun melihat ke segala arah mencari cctv yang di maksud Yasmin. Gadis itu perlahan mundur, setelah keluar dari pintu ia pun berlari meninggalkan Yasmin.


Yasmin segera menutup pintu rukonya dan langsung terduduk lemas di lantai. Perlahan ia mengusap kepalanya yang nyeri akibat di jambak. Ia pun mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Dika. Namun niatnya itu ia urungkan, mengingat malam yang sudah larut. Dan akhirnya, Yasmin memutuskan untuk beristirahat di kamarnya.


*****


Keesokan harinya, seperti biasa sebelum kekantor Dika singgah ke ruko Yasmin untuk sarapan bersama. Namun pemuda itu terkejut mendapati wajah kekasihnya dengan memar di beberapa tempat. Yasmin tidak bisa menghadapi konsumennya dengan keadaan seperti itu.


"Kenapa bisa begini? Kamu jatuh?"


Yasmin menggeleng dan terlihat kesal.


"Setelah kamu lihat cctv, ntar kamu juga tahu"


Tanpa menunda, Dika langsung bergerak ke layar Tv untuk memeriksa apa penyebab wajah Yasmin seperti itu.


"Loh kamu berkelahi? Siapa dia? Tunggu, kayaknya aku pernah lihat cewek ini?"


Deg, jantung Yasmin berdetak keras mendengar pengakuan Dika bahwa dia mengenal Rima.


Jadi itu benar, mereka saling kenal. Apa yang dikatakan gadis itu benar, jika Dika berjanji untuk menikahinya?

__ADS_1


Yasmin terlihat sedih dan kecewa.


"Kenapa adik mantan suami Humaira melabrak mu?"


Ujar Dika sambil mengamati layar cctv itu.


"Apa? Siapa?"


Yasmin memandang Dika terkejut mendengar siapa Rima sebenarnya.


"Ini kan cewek yang aku bilang terpesona sama aku di acara pembukaan kantor waktu itu?! Kamu ada masalah apa sama dia?"


"Bukannya dia mantan kekasihmu?"


"Mantan? Gadis jelek ini?!"


Dika mengerutkan dahi kebingungan dengan tuduhan Yasmin sambil menunjuk Rima layar cctv itu.


"Kamu pernah menghalimi dia kan? Dan berjanji buat nikahin dia?"


Yasmin semakin memberanikan diri menanyakan apa semua yang ada dalam hatinya.


"Kamu ngomong apa sih yank?! Tunggu...., oh jadi dia yang jadi biang kerok buat kita berantem?!"


Yasmin tidak menjawab, gadis itu menatap Dika kesal dengan air mata yang mulai menggenang.


Melihat Yasmin hanya diam Dika yakin apa yang ia pikirkan adalah benar. Pemuda mengusap wajah nya, ia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Yasmin.


"Aku nggak ada apa-apa sama dia. Ketemu dia aja cuma sekali di hari itu. Aku yakin dia cuma mengada-ada karena terpesona sama aku. Kamu tahu kan calon suami mu ini gantengnya kayak apa?"


"PAKK! "


"Aww....! Waah... yank, KDRT ini?!"


Ucap Dika ketika Yasmin memukul bahunya.


"Kamu tenang aja, masalah ini akan segera aku beresin. Video ini aku bawa ya?"


Ujar Dika tampak serius sambil mengusap pipi Yasmin dengan rasa sayang.


Dalam hati Yasmin sebenarnya sudah lega karena ia tahu Dika tak memiliki hubungan apapun terhadap Rima. Rima hanya lah seorang gadis yang terobsesi ingin memiliki Dika. Yasmin teringat ngingat kembali semua kebohongan yang di ucapkan oleh gadis itu yang ternyata hanyalah kebohongan semata. Kini Yasmin bisa tersenyum dan bernapas lega meski tubuhnya patah seribu.


NOTES : Selamat Hari Raya IDUL FITRI 1443 H. Minal aidin walfaizin ya readers... 🙏🤗


__ADS_1


__ADS_2