Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Gibran Baahir


__ADS_3

Tangan kecil sedang menggerakkan jari mungilnya di dalam inkubator. Matanya yang terpejam dengan bulu mata yang panjang, sesekali mengeluarkan tangisnya yang kecil.


Tangis itu menggugah hati Tomy. Beberapa kali Tomy menghapus air matanya melihat bayinya yang berada di dalam sana. Tangis haru bahagia setelah penantian 12 tahun, akhirnya terbayar tidak sia-sia.


Kehadiran bayi kecilnya membuat Tomy merasakan sesuatu yang luar biasa. Karunia yang tiada tara yang tidak bisa di ukur dengan emas maupun permata.


Siapa yang tidak ingin memiliki keturunan, begitu pula Tomy. Namun karena Nia yang sakit, Tomy tidak ingin memaksakan keinginannya. Lelaki yang sangat mencintai isterinya itu lebih mau melakukan apapun yang membuat isterinya bahagia.


Tomy sangat bersyukur pada Yang Maha Kuasa, terima kasih pula ia pada istrinya yang telah berjuang melahirkan anaknya. Ia juga tidak melupakan Nia, isteri yang selalu mendukung dan memberikan motivasi kepadanya untuk memiliki isteri lain agar ia memiliki keturunan.


Kondisi Humaira yang masih lemah, memaksanya untuk tinggal dirumah sakit sedikit lama. Tomy memberi penjagaan ketat untuk Humaira. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, lelaki itu tidak mau terjadi apa-apa lagi pada keluarganya. Maka dari itu, ia pun menugaskan 2 penjaga di pintu ruangan Humaira. Kedepannya ia juga akan menugaskan 4 orang pengawal untuk mendampingi isteri dan anaknya kemana pun mereka pergi.


Perlahan Humaira membuka matanya, dan melihat Tomy yang tertidur menunggunya. Wanita itu membelai lembut kepala suaminya, hingga akhirnya lelaki itu tersadar dari tidurnya.


"Hmm... oh, sayang? Kau sudah sadar?"


Tomy segera lebih mendekat lagi ke arah isterinya.


"Iya mas..."


Humaira memperhatikan sekeliling, la lalu mengelus perutnya yang rata. Terlihat ia sedikit terkejut dan langsung menatap Tomy dengan wajah cemas.


"Anak kita mas?"


Humaira mulai menangis ketika melihat perut nya tidak lagi membuncit. Pikirannya kalut membayangkan sesuatu telah terjadi pada bayinya.


Tomy membelai pucuk kepala Humaira dan mendaratkan ciumannya disana.


"Tenanglah sayang, dia sangat tampan, rambutnya mirip dengan mu. Dia di inkubator karena prematur"


"Hiks...."


Humaira menangis.


"Sstt... jangan menangis sayang. Hei.. lihat aku?! Anak kita sehat, dia baik-baik saja di dalam sana"


Beralih dari tangisan sedih menjadi tangis haru bahagia. Humaira mengambil tangan suaminya yang mengelus pipinya, lalu mencium tangan itu dengan penuh perasaan.


Tomy membalas isterinya dengan memeluk penuh perasaan pula.


"Terima kasih karena kau sudah bertahan sekuatmu dan melahirkan anak kita dengan segenap jiwa dan ragamu..."


"Iya mas, terlma kasih untuk cinta dan kasih sayang mas pada ku dan bayi kita"


"Gibran... Gibran Baahir, yang berarti pandai dan cemerlang"


"Bagus sekali mas..., aku suka. Gibran terdengar gagah di telingaku..."


"Kita akan sukuran jika kalian sudah sehat nanti"


"Iya mas..."


Mereka saling memandangi penuh rasa sayang satu sama lain.

__ADS_1


"Boleh aku tanya sesuatu?"


Wajah Tomy terlihat serius meski tatapan matanya teduh memandangi isterinya.


"Iya mas, kenapa?"


"Siapa wanita yang telah menyakitimu?"


Humaira terlihat ragu untuk mengatakannya pada Tomy. Membahas wanita itu sama saja membuka luka masa lalunya.


"Kau dan anak kita hampir saja tidak selamat karenanya"


Humaira tersentak mendengar penuturan suaminya. Ia terlihat berpikir antara ingin bercerita atau tidak tetang masa lalunya.


Benar, wanita itu telah banyak menyakitiku.


"Dia kekasih mantan suamiku"


"Hmm... sudah aku duga"


Tomy tampak menahan amarahnya.


"Mas... boleh aku bercerita saat kita sudah di rumah saja?"


Pinta Humaira yang masih enggan untuk membuka luka lamanya.


"Kapanpun kau siap sayang"


"Tok...tok... tok...!"


Ketukan pintu oleh Umi mengalihkan perhatian mereka. Humaira tersenyum menyambut kedatangan Umi.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar Hum..."


Ujar Umi sambil memeluk Humaira.


"Sukurlah kamu dan bayi mu nggak kenapa-kenapa"


"Iya kak, alhamdulilah..."


"Aku bisa meninggalkanmu dengan Umi kan sayang? Ada hal yang harus aku kerjakan"


Ujar Tomy pada Humaira yang tampak senang bertemu dengan Umi.


"Iya mas..."


"Aku titip Humaira ya Um"


"Iya pak"


Setelah mencium kening isterinya, Tomy pun meninggalkan Humaira bersama Umi.


Umi menggenggam tangan Humaira dengan hangat, dan memandang wanita itu dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Sukurlah Hum kamu nggak apa-apa. Aku sudah sangat khawatir kalau sampai terjadi sesuatu padamu dengan bayimu"


"Iya kak, alhamdulillah kami baik-baik saja. Kakak sudah melihat bayi ku?"


"Dia tampan Hum, seperti papa nya. Dia hanya mengambil rambut yang mirip denganmu, tebal. Uuh... mengemaskan pokoknya"


Umi terlihat berbinar menceritakan sosok bayi mungil Humaira dan Tomy.


Humaira merasa senang ada Umi bersamanya dan mendengar penuturan kakak angkatnya itu.


"Aku ingin lihat baby G kak"


"Baby G?"


Umi tanya Umi bingung.


"Gibran Baahir, mas Tomy yang memberikan namanya"


"Nama yang bagus Hum..."


"Iya kan kak, aku juga suka.."


Umi kembali meraih tangan Humaira.


"Sudah saatnya kamu bahagia Hum. Kedepannya, kamu hanya cukup fokus pada suami dan anakmu. Pak. Tomy orang kuat dan berada, kamu tidak perlu lagi memikirkan kebutuhanmu karena semua pasti sudah terjamin. Yang harus kamu lakukan hanyalah bersyukur, menjaga dan bahagia"


"Aku tidak pernah membayangkan kehidupan sebaik ini kak. Dikelilingi orang-orang yang menyayangiku, menghormati ku dan menjagaku"


"Setelah kejadian kemarin, kamu harus terus bahagia Hum. Kamu bukan lagi Humaira yang bisa di injak seperti dulu"


"Tapi aku tidak ingin menjadi sombong kak"


"Terhadap orang-orang seperti mereka bukan sombong Hum. Tapi tegas dan menunjukkan kalau kita ini sama-sama manusia yang rendah dihadapan Allah"


Ujar Umi menjelaskan.


"Tadi mas Tomy menanyakannya kak, tapi aku belum siap. Aku butuh waktu untuk menyiapkan hati ku. Jadi aku berjanji sepulang dari RS aku akan bercerita tentang masa lalu ku"


"Beban itu mungkin tidak akan hilang begitu saja. Tapi saat kita bercerita mungkin akan meringankannya sedikit. Tapi aku yakin, jika kamu menceritakan semuanya sama pak Tomy, mungkin masa lalu mu itu tidak lagi menjadi luka yang menyakitkan untukmu. Tapi bisa jadi itu hanyalah sepenggal kisah lama yang hanya perlu di senyumi saja"


Humaira menatap Umi dengan senyum. Apa yang wanita itu katakan pastilah yang terbaik untuknya pikirnya.


Hanya bersama Umi Humaira bisa menceritakan semua masa lalunya. Umi yang berjuang keras menafkahinya dengan Danu setelah melahirkan Danu dulu, telah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya.


"Kakak keluarga ku terbaik yang aku punya. Entah bagaimana aku tanpa kakak.."


"Kamu juga keluarga satu-satunya yang aku punya..."


Percakapan itu pun berlanjut. Humaira menceritakan bagaimana Yunita menyerangnya tanpa sebab. Umi yang mendengar cerita itu sangat geram. Namun wanita itu yakin Tomy tidak akan tinggal diam setelah isterinya disakiti apalagi hampir meregangkan nyawa buah hati mereka.


✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏


✨Baca juga Dream Destiny, bagi kalian yang menyukai kisah romansa istana. Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2