Cintai Aku Seikhlasmu

Cintai Aku Seikhlasmu
Berbagi Suami


__ADS_3

# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘


*****


Humaira sekarang sudah seperti nyonya rumah kaya yang menikmati kehidupan tanpa mendengar comoohan dari tetangga. Daerah perumahan elit yang di pilih Tomy jauh dari tetangga yang usil akan kehidupan orang lain, membuat kehidupan wanita itu lebih tenang dan nyaman.


Seminggu berlalu setelah Tomy mengatakan akan membawa Humaira untuk menemui isterinya. Wanita itu bingung memilih baju apa yang akan ia kenakan untuk menemui nyonya dari tuan yang bersamanya beberapa bulan ini. Akhirnya, dres panjang sederhana menjadi pilihan Humaira malam itu.


Malam pun tiba, Tomy telah datang menjemput Humaira untuk pergi ke rumah besarnya. Hati Humaira berdebar seakan-akan ia merasa seperti akan bertemu calon ibu mertua. Selama dalam perjalanan Humaira lebih banyak diam. Jantungnya terus berdebar, dan tangannya mulai terasa dingin di setiap ujung jarinya. Wajahnya yang sedikit memucat mencuri perhatian Tomy. Lelaki itu lalu meraih tangan Humaira dan menggenggamnya perlahan.


"Kau gugup?"


Jantung Humaira semakin menjadi. Kali ini karena genggaman hangat tangan Tomy yang membuatnya berdebar.


"Sedikit tuan..."


Wajah yang tadinya pucat kini malah menjadi merona. Tomy tersenyum sekilas melihat perubahan yang drastis itu. Kentara sekali jika wanita itu tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Menurut Tomy sifat Humaira yang seperti ini sangat mengemaskan baginya.


"Kita sudah sampai"


Humaira langsung memandang kedepan setelah mendengar ucapan Tomy. Sebuah rumah megah yang sangat indah membuat wanita itu ternganga. Ditambah lagi sederet pelayan berbaris rapi menyambut kedatangan mereka. Mereka semua menunduk hormat begitu melihat Tomy keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Humaira.


"Kau sudah datang sayang? Oh.. dia kah Humaira? Selamat datang di rumah kami Humaira?"


Nia di bantu sang bibi mendorong kursi rodanya menyambut kedatangan calon madunya, calon isteri muda suaminya dengan senyum ramah.


Humaira melihat si pemilik suara. Betapa terkejutnya dia melihat keadaan wanita yang menyambutnya itu.


Apa dia isterinya tuan? Apa dia sedang sakit?


"Assalamualaikum.. sayang"


Sapa Tomy langsung mencium kening isterinya.


"Waalaikumsalam..."


Jawab Nia dan juga Humaira pelan.


"Humaira, dia isteriku.. mendekatlah..."


Ujar Tomy memperkenalkan Nia.


Langkah kaki Humaira terasa berat senyumnya yang tadi ia pertahanankan perlahan mulai memudar. Tanpa sadar air mata Humaira menetes melihat Nia yang menyambutnya dengan tersenyum ramah dalam kondisinya yang seperti itu. wanita itu terenyuh, entah kenapa dia merasa terluka dan hatinya menjadi sakit.


Ya Allah... apa yang sudah aku lakukan? Aku berbahagia di atas penderitaan wanita yang sedang sakit seperti ini. Betapa kejam dan hinanya aku, mengapa aku bisa berdebar terhadap lelaki yang beristerikan wanita sebaik ini. Tubuhnya terlihat rapuh, tapi dia tetap tersenyum pada ku yang menemani suaminya setiap malam. Betapa kesepiannya pasti dia karena tuan selalu bersamaku. Ya Allah... kejam nya aku. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ini...,maafkan aku... maafkan aku..


Hati Humaira sedih bukan main, rasa pilu yang menyayat hati dirasakannya dengan perasaan bersalah yang kian menjadi. Ia teringat bagaimana perasaannya dulu ketika suaminya di ambil oleh wanita lain. Dan kini ia merasa seperti wanita itu, wanita yang merampas suami milik orang lain. Ia membayangkan betapa hancur dan sakitnya perasaan wanita yang ada di depannya kini seperti perasaannya dulu.


Semakin lama tangisan Humaira semakin terdengar hingga akhirnya ia sesugukan dan berjongkok bersimpuh di hadapan Nia sambil meraih tangan yang kurus itu.

__ADS_1


"Maafkan aku... maafkan aku..., hiks... hiks... hiks..."


Hanya kata-kata itu yang lolos dari bibir Humaira. Ia terus berlutut sambil menggenggam tangan Nia. Tomy dan Nia bingung dengan Humaira yang terus menangis tanpa henti sambil mengucapkan kata maaf.


Perlahan Tomy dan Nia mulai mengerti mengapa Humaira sampai menangis seperti itu. Nia tersenyum bahagia, ia tidak salah memilih wanita untuk suaminya pikirnya.


"Sudahlah... aku tidak apa-apa. Jangan menangis... mari kita bicara di dalam ya...?"


Ajak Nia lembut sambil membelai punggung Humaira yang masih menunduk di pangkuannya.


"Sayang... bawalah dia kedalam. Kakinya pasti sakit berlutut lama seperti ini"


Ujar Nia pada Tomy.


"Ayo Humaira ... bangunlah, kita duduk bersama di dalam..."


Ajak Tomy sambil memapah Humaira agar wanita itu bangkit dari tempatnya bersimpuh.


Perlahan Humaira pun bangun dari tempatnya. Matanya sudah bengkak, pipinya memerah karena banyaknya air mata yang keluar. Berjalan perlahan Humaira mengikuti Nia ke sebuah ruangan. Mereka pun duduk di ruang keluarga.


"Sayang... bisakah tinggalkan kami?"


Pinta Nia lembut pada sang suami.


"Baiklah sayang..."


Tomy mencium lembut kening Nia sebelum meninggalkan mereka berdua.


"Aku yang meminta suamiku untuk mendekatimu..."


Satu kalimat itu mampu membuat Humaira mengangkat wajahnya. Wanita itu bingung dengan pikiran Nia yang tidak bisa di tebak.


"Kamu mengenal Dika bukan? Dia adik kandungku..."


Humaira terkejut bukan main.


Jadi selama ini aku bersama dua kakak beradik itu?!


Humaira gugup dan semakin merasa bersalah mendengar ucapan Nia.


"Iya, Dika adalah adik ku, dan Tomy adalah suami ku. Dua lelaki yang kamu kenal ketika masih bekerja di kafe Exsy. Mau mendengarkan cerita ku?"


Humaira hanya diam sambil menatap teduh Nia dengan perasaan bersalahnya.


"Kamu tahu nggak, kamu itu membuat kami penasaran. Mengapa Dika sampai sebegitunya ingin bersamamu. Sampai akhirnya aku meminta suamiku untuk mencari tahu tentangmu. Dan mencari tahu bagaimana dirimu sebenarnya. Kami sering membicarakan mu disetiap obrolan kami. Aku yakin telinga mu mungkin sering berdenging karena kami. Maaf ya... "


Ujar Nia sambil tersenyum.


Entah mengapa mendengar Nia berbicara santai sambil tersenyum padanya, Humaira merasa tidak terlalu gugup lagi seperti tadi.

__ADS_1


"Usia ku mungkin nggak lama lagi. Seperti yang kamu lihat, aku sedang sakit dan aku membutuhkanmu..."


"Ma... mak.. maksud nyonya?"


"Jangan takut begitu, aku nggak pernah menyalahkanmu atas kedekatanmu selama ini dengan suami maupun adikku. Aku lah yang meminta suamiku untuk dekat denganmu..."


Perlahan Humaira mencoba untuk tenang agar bisa berpikir dan memahami semua yang terjadi.


"Maafkan aku nyonya, tapi aku masih nggak bisa mengerti. Ini terlalu tiba-tiba meski aku sudah lama mengenal tuan. Tapi kami nggak pernah menanyakan hal privasi masing-masing, jadi aku nggak tahu apa maksud dari semua ini..."


Humaira terlihat masih bingung. Nia pun perlahan meraih tangan Humaira seakan- akan mereka sudah sangat dekat dan mengenal satu sama lainnya.


"Jadi lah isteri kedua untuk suamiku, cintai lah dia seikhlasmu, jika kamu masih terbayang akan masa lalumu.."


Pinta Nia setengah memohon dengan tatapan penuh harap pada Humaira.


"Nyonya bahkan tahu semua masa lalu ku?"


"Iya aku tahu semua, juga putra kecilmu Danu..."


Kembali air mata Humaira menetes begitu saja. Hatinya bercampur dengan semua perasaan yang ada. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana.


Perlahan Nia mulai bercerita tentang penyakitnya dan sisa umurnya yang entah sampai kapan. Polemik keluarga besar suaminya mengenai penerus perusahaan, serta keinginan hatinya untuk memiliki anak, membuat Nia memiliki pikiran untuk menikahkan suaminya pada wanita pilihannya. Baginya anak suaminya dari wanita lain juga merupakan anaknya sendiri. Dan kesempatan itu datang ketika Dika membuat ulah hingga mereka mengenal Humaira.


Nia menangis dengan tubuhnya yang ringkih...


"Impian seorang isteri adalah membahagiakan suaminya dengan memberikannya keturunan. Tapi aku wanita pesakitan yang nggak dapat mewujudkan mimpi itu... hiks...."


Hati Humaira terasa pilu mendengar penuturan Nia.


"Nyonyaa...."


Perlahan Humaira memberanikan diri memeluk tubuh ringkih Nia. Ia tidak sanggup lagi mendengarkan penderitaan yang wanita itu alami. Tangis Nia semakin menjadi begitu pula Humaira yang mengerti betul perasaan yang seperti itu. Berpelukan mereka menangis bersama, tanpa memperdulikan seseorang yang sedari tadi mengamati dan menyimak pembicaraan mereka.


Setangguh dan sejantannya lelaki akan lemah disaat kelemahannya terusik. Tomy meneteskan air mata dalam diam seribu bahasa.


✨Beri dukungan untuk aku dong😘


* Like 👍


* Komen


* favorit ❤️


*Rate⭐⭐⭐⭐⭐


*Hadiah


*Vote, Terima kasih 🤗

__ADS_1


✨Baca juga Dream Destiny, bagi yang suka kisah romansa istana 😂.


Terima kasih 🙏


__ADS_2