
# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘
*****
Saat ini, senyuman selalu terukir di wajah Humaira. Kesehatan Danu mengalami sedikit peningkatan walau tidak bisa sembuh secara maksimal. Kebahagian yang ia rasakan bersama Tomy dan keluarganya saat ini terasa tidak nyata baginya. Seolah-olah semua itu hanya mimpi yang akan sirna ketika matanya kembali terbuka.
Pernikahan keduanya sudah di depan mata. Para keluarga satu persatu mulai mendatangi kediaman Tomy untuk bersilahturahmi dan berkenalan dengan Humaira sebagai calon isteri keduanya.
Nia, adalah wanita yang paling sibuk memperkenalkan madunya itu. Ia membuat setiap orang heran, betapa terbukanya hati wanita itu menerima Humaira sebagai madunya.
Humaira sibuk di dapur mempersiapkan jamuan untuk keluarga Tomy. Sebagian dari mereka kagum akan sifat Humaira yang tenang dan ramah yang sepadan dengan paras cantiknya.
"Wah, lihat ini?! Rubah betina sedang menyembunyikan keburukannya!"
Salah seorang wanita paruh baya mengambil gelas yang terletak di dekat Humaira. Wanita itu berkata tetapi wajahnya hanya fokus pada botol minuman yang sedang ia tuang ke gelasnya.
Deg, hati Humaira sedikit berdegub. Maksud dari perkataan wanita itu tentunya di tujukan pada dirinya, yang hanya dia satu-satunya orang yang berada di dekat wanita itu.
"Yah, mau dipoles bagaimana pun lumpur tetap mengeluarkan baunya yang tidak sedap"
Kata wanita itu sambil meneguk minuman.
"Bahkan air minum juga terasa seperti lumpur karena berada di dekat sesuatu yang berbau lumpur, cuueeh...!!"
Wanita itu meludah, membuang air dari mulutnya ke wastafel lalu meninggalkan gelasnya begitu saja.
Tubuh Humaira bergetar hebat menahan sesak yang menghimpit di dada. Dirinya tak menyangka hatinya akan terluka mendengar perkataan wanita paruh baya itu.
Apa yang di katakan wanita tua itu memang benar jika di lihat dari pekerjaan yang di lakukan Humaira sebelum mengenal Tomy. Namun entah mengapa kata-kata wanita itu begitu sakit di dengar ketimbang cacian dan hinaan yang dikatakan oleh puluhan orang yang dulu kerap mengatainya.
Humaira menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mencoba menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi yang mulai menguasai dirinya.
"Kak, apa semua sudah siap?"
Yasmin menghampiri Humaira yang terdiam menatap jamuan yang siap di hidangkan.
"Oh...,iya kamu mau membawakannya?"
"Iya, aku bantu sajikan ya kak...?"
"Tentu..., makasih ya Yas"
Yasmin menjawab Humaira dengan senyumannya.
Keluarga berkumpul di meja makan mulai mencicipi satu persatu hidangan yang tersaji. Beberapa orang manggut-manggut setelah mencicipi masakan Humaira. Namun ada juga yang bersikap biasa saja.
"Enakkan tante, paman, mbakyu.... ini loh yang masak?!"
Puji Nia pada Humaira di depan seluruh keluarga yang hadir.
__ADS_1
Humaira merasa sungkan di puji Nia seperti itu. Ia merasa dirinya masih banyak kekurangan dalam hal memasak.
"Jadi kapan acaranya?"
Tanya wanita yang menyindir Humaira tadi.
"Bulan depan di Bali. Acaranya tertutup, hanya keluarga dan beberapa relasi besar saja yang akan hadir"
Jawab Tomy.
"Lalu setelahnya kalian akan tinggal bersama? Serumah bertiga?"
Kembali wanita itu mempertanyakan sesuatu yang membuat orang-orang merasa tidak nyaman.
"Tentu saja, aku berencana memboyong keluarga kecilnya ke rumah ini. Aku menyukai keramaian"
Nia menjawab pertanyaan itu sambil menggenggam tangan Humaira untuk memperlihatkan betapa ia sangat mendukung pernikahan suaminya.
"Keluarga? Anak cacat dan wanita tuna wisma itu?"
Raut wajah orang-orang berubah mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Terlebih Nia, Tomy dan tentunya Humaira. Mereka terkejut mendengar ucapan itu keluar begitu saja dari bibir bibi mereka.
Humaira begitu terluka ketika seseorang menghina keluarganya. Keluarga kecilnya yang menyemangatinya selama ini, ketika ia benar-benar dalam masa jatuh dan terpuruk.
Tubuh Humaira yang gemetar di rasakan oleh Nia yang masing menggenggam tangannya. Wanita itu lalu memberi kode ke Tomy dengan tatapannya bahwa Humaira tidak baik- baik saja mendengar perkataan bibinya itu.
"Hentikan bi?! Dia wanita pilihan ku dan Nia. Artinya dia yang terbaik walau memiliki beberapa hal yang mungkin tidak bisa di terima oleh orang banyak"
"Hah, omong kosong?!"
"Aku tidak peduli latar belakang yang seperti apa dan keluarga yang bagaimana. Aku hanya peduli dengan wanita berakhlak, yang akan mendidik dan menjaga anak-anakku kelak"
"Hahaha, harapanmu terlalu tinggi untuk seorang lumpur seperti dia?!"
"Cukup bi?!"
Ucapan Tomy yang sedikit meninggikan nadanya membuat semua orang di sana terdiam dan tegang.
Dalam keluarga besar itu, Tomy di pandang sebagai seseorang yang tinggi dari mereka. Kepintaran Tomy dalam berbisnis, kerja kerasnya yang menunjukkan kesuksesan serta wibawa dan kebijaksanaannya dengan sikapnya yang tenang dan dingin membuat orang-orang dalam keluarga itu segan padanya.
"Sayang, cukup! Kita sedang berkumpul untuk menyambut hari bahagia bagi Nia, Tomy dan calon isterinya"
Ujar suami dari bibinya Tomy.
"Benar apa yang di katakan bibi. Aku bukan dari keluarga kaya yang berstatus tinggi, tapi aku..."
"Bibi... siapa yang kau panggil bibi? Siapa bibimu? Aku tak sudi?!"
Perkataan Humaira langsung di potong dan di bantah tanpa mengindahkan ucapan Tomy yang meminta untuk mengakhiri pembicaraan yang melewati batas.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan mereka yang masih tercengang atas perdebatan yang baru saja mereka saksikan.
"Ck... sayang... kau mau kemana? Kau tidak boleh seperti itu?!"
Sang suami pun akhirnya menyusul isterinya.
Humaira tertunduk, ia sangat merasa malu. Wajahnya memerah, dan perlahan air matanya pun mulai menggenangi pelupuk matanya.
"Yas, bawa Humaira ke kamarnya..."
Ujar Nia pada Yasmin.
"Baik kak"
Yasmin lalu beranjak dari duduknya dan mendekati Humaira. Gadis itu menggandeng lengan Humaira untuk mengajaknya ke kamar.
Humaira yang merasa begitu sedih menuruti ajakan Yasmin.
Setelah Humaira menghilang dari pandangan, Tomy berdiri memperhatikan satu persatu keluarganya yang ada disitu.
"Orang tuaku sudah tiada, aku tidak butuh restu, atau penilaian siapapun. Aku hanya memperkenalkan ibu dari calon anakku kelak"
Ucapan Tomy membuat semua tertunduk. Mereka tidak menyalahkan pilihan Tomy atau tidak terima jika Tomy bersikap tegas seperti itu. Karena kebaikan Tomy yang selama ini turut andil dalam menaikkan taraf hidup mereka, menjadikan mereka segan terhadap lelaki itu.
*****
Di dalam kamar, Humaira menangis tak bersuara. Hatinya begitu sedih atas ucapan bibi Tomy yang menghina Umi yang selama ini menjaga Danu dan dirinya. Apalagi perkataan yang mengatakan anaknya yang cacat.
Apa salah kami pada kalian? Kami tidak pernah sekali pun menghina kalian, mulut kami selalu terkatup masalah kehidupan kalian. Tapi kenapa selalu kami? Kenapa kehidupan kami yang menjadi masalah bagi kalian. Bukan inginku memiliki kehidupan yang buruk menurut kalian. Kenapa kalian terus dan terus mengusik kami...hiks...
Humaira menangis, ingatan-ingatan cemoohan orang-orang yang selama ini menghina dirinya dan keluarganya mulai terlintas satu persatu. Cibiran yang selama ini ia abaikan, cacian yang selama ini ia acuhkan, perlahan mulai mengikis perasaannya, melukai hatinya yang ia lindungi dengan kekebalan perasaan.
Hatinya sakit, begitu sakit sampai-sampai ia menepuk dadanya yang terasa perih dan sesak bagai pisau yang menancap di dada. Seakan-akan dunia tidak mau menerimanya, seakan-akan hidupnya hanyalah tempat sampah bagi mulut orang-orang yang hidupnya senang dengan menghujat hidup orang lain.
✨Beri dukungan untuk aku dong😘
* Like 👍
* Komen
* favorit ❤️
*Rate⭐⭐⭐⭐⭐
*Hadiah
*Vote, Terima kasih 🤗
✨Baca juga Dream Destiny, bagi yang suka kisah romansa istana 😂. Terima kasih 🙏
__ADS_1